Komunitas
penggemar makanan-sehat sering memandang “rendah” makanan atau snack ranah
Minang. Menyebut beberapa contoh seperti; kripik pedas balado, gulai ikan,
kerupuk kulit, kerupuk kulit ikan dsb merupakan makanan yang taka sing bagi
penikmat kuliner. Umumnya aneka makanan tersebut dipenuhi santan atau campuran
lain yang tidak menyehatkan namun lezat di lidah. Bila kita melahapnya, seketika
tensi kelestoral dan gula darah naik. Kini, sekelompok anak muda membuat terobosan
dengan menggagas makanan khas Minang menyehatkan dan ramah lingkungan. Berikut
ini kisahnya….
Tanggal
20 – 24 Januari 2015 lalu, saya berada di Sumatera Barat. Saya pun resah dengan
menu makanan yang tersedia di sana. Setiap siang dan malam hari, saya santap jenis
makanan berlemak dan bersantan. Sedap nan nikmat. Namun setelah menyantapnya,
terkadang penyesalan datang terlambat (ha…ha….). Badanku terasa ngga enak saat
mau tidur di malam hari. Mungkin gula darahku mulai naik pelan-pelan. Meski
saya belum melakukan “general check-up” atas tubuhku, namun kondisi kolesterol
dan gula darah terus menjadi perhatianku setiap saat menyentuh makanan. Tidak
hanya persoalan makanan besar, snack dan aneka makanan kecil lainnya yang sehat
pun saya sulit mencari di ranah kelahiran M. Natsir dan Buya Hamka tersebut.
Saya pusing mencari oleh-oleh makanan yang tidak biasa (maksudnya yang lebih
menyehatkan dan tentu berharga murah….ha..ha…).
