Rabu, 08 Februari 2017

Tafsir “Kepapaan” Film “Istiratlah Kata Kata”


Saya bukan insan film, dan juga bukan actor, apalagi alumni mahasiswa sematografi atau yg berhubungan dengan film. Detail dunia perfilman, praktis saya buta total. Namun, saya penikmat habis film. Khususnya film bernuansa “sejarah”.

Menonton film “Istirahatlah Kata Kata” (IKK), Jum’at, 19 Januari 2017, di XXI TIM, serasa saya sedang “sinau” dan “bersekolah”. Melalui film IKK, saya terasa terlecut untuk menggali, “mereka-reka” pesan sutradara (Yosef Anggi Noen) melalui adegan, gambar, gerak filmnya. Ada banyak pilihan peristiwa, cerita, gambar dan laku sang tokoh yang bisa diketengahkan sutradara. Wahyu Susilo, adik Widji Tukhul (WT), menuturkan kepada penulis  -- saat sebelum pemutarannya di sudut kafe -- bahwa penggalian cerita film TKK memakan waktu dua tahun. Semua aktor dan peristiwa berhubungan dengan WT tak luput dari wawancara dan penggalian tim kreatif. So pasti, sutradara dan timnya berkuasa penuh atas pilihan adegannya.