Saya bukan insan film, dan juga bukan actor, apalagi
alumni mahasiswa sematografi atau yg berhubungan dengan film. Detail dunia
perfilman, praktis saya buta total. Namun, saya penikmat habis film. Khususnya
film bernuansa “sejarah”.
Menonton film “Istirahatlah Kata Kata” (IKK), Jum’at,
19 Januari 2017, di XXI TIM, serasa saya sedang “sinau” dan “bersekolah”.
Melalui film IKK, saya terasa terlecut untuk menggali, “mereka-reka” pesan
sutradara (Yosef Anggi Noen) melalui adegan, gambar, gerak filmnya. Ada banyak
pilihan peristiwa, cerita, gambar dan laku sang tokoh yang bisa diketengahkan
sutradara. Wahyu Susilo, adik Widji Tukhul (WT), menuturkan kepada penulis -- saat sebelum pemutarannya di sudut kafe --
bahwa penggalian cerita film TKK memakan waktu dua tahun. Semua aktor dan
peristiwa berhubungan dengan WT tak luput dari wawancara dan penggalian tim
kreatif. So pasti, sutradara dan timnya berkuasa penuh atas pilihan adegannya.