Minggu, 14 September 2014

Berenang Sabtu, Bagai Ikan Pepes Dijemur


Sudah menjadi kebiasanku setiap Sabtu pagi, mengantar si bungsu, Naila, ke kolam renang dekat rumah. Istriku juga terkadang mengatarnya ke kolam renang, jika si kecil (adik Rayya) ikutan berenang. Namun telah dua Sabtu istriku berhalangan. Ia kini mengalokasikan ekstra timenya untuk menyelesaikan pekerjaanya yang tidak terselesaikan di hari kerja.

Pukul 07.15, pagi, Sabtu, 27 September 2013, saya mengantar si bungu ke kolam renang. Ia berlokasi 20 meter dari rumahku, dan masih satu perumahan yang berlokasi di desa Bojong Kulur, kec. Gunung putri, kab. Bogor. Setelah semua peralatan renang dikemas istriku, saya dan si bungsi berangkat ke TKP (alias kolam renang) dengan motor. “Tumben, belum ada petugas parkir yang meminta jatah, seperti biasa”, kataku dalam hati, sesampai di sana. Saya langsung memarkir motor sekenanya di halaman.

Meski keamanan kolam renang belum stand by, suasana telah dipenuhi anak kecil (seumuran di bawah 7 tahun) bersama orang tua. Mereka menyemut di depan loket pembayaran kolam renang. Biasanya, saat waktu baru menunjukan pukul 07.15 menit, suasana kolam renang lenggang.

Rabu, 03 September 2014

“Terpanggang” di Musdalifah


Pagi ini, Senin 1 September 2014, saat naik motor melintas pasar Pondok Gede, Jakarta Timur macet total. Ternyata itu imbas dari kemacatan di asraman Haji, Pondok Gede dimana para tamu ilahi (alias jamaah haji) kloter pertama akan berangkat ke tanah suci. Kulihat wajah-wajah putih bersinar dari muka jemaah. Seolah malaikat ikut mengiringi langkahnya dari bumi Indonesia menuju tanah suci.

Bukan kemacetan yang akan saya ceritakan. Namun kenangan 3 tahun, ketika saya berjuang menjadi tamu ilahi yg kubagikan kepada pembaca. Selain memori spiritual yang menjadi guratan sejarah hidupku, kenangan lika-liku “kegeraman” atas layanan terhadap jamaah (khususnya haji reguler ) saat itu masih lekat di ingatan. Mudah-mudahan ini menjadi palajaran bagi generasi berikutnya.

Cerita bermula saat matahari tenggelam di ufuk barat 27 Oktober 2011 silam, di bumi Aram Saudi. Hari itu merupakan inti dari ibadah haji, yaitu pelaksanaan wukuf di padang Arafah. Arafah merupakan daerah terbuka dan luas di sebelah timur luar kota suci umat Islam di Mekkah, Arab Saudi. Di padang yang luas ini, setiap siang hari di tanggal 9 Dzulhijjah pada penanggalan Hijriyah, jemaah haji dari berbagai pelosok dunia berkumpul untuk melaksanakan inti ibadah haji, ibadah Wukuf (Wikipedia). Saya beserta rombongan telah bermukim di Arafah sejak malam tanggal 26 Oktober 2013 di tenda-tenda yang telah disediakan, guna menghindari kemacetan jalan menuju ke arahnya. Di tenda-tenda sederhana yang beralaskan karpet penuh pasir – makanya jamaah melapisinya dengan tikar – jemaah tidur, berdoa, berzikir, sholat lima waktu, dan mendengarkan khotbah haji di siang harinya.