Pagi ini, Senin 1
September 2014, saat naik motor melintas pasar Pondok Gede,
Jakarta Timur macet total. Ternyata itu imbas dari kemacatan di asraman Haji, Pondok Gede dimana para tamu
ilahi (alias jamaah haji) kloter pertama akan berangkat ke tanah suci. Kulihat
wajah-wajah putih bersinar dari muka jemaah. Seolah malaikat ikut mengiringi langkahnya
dari bumi Indonesia menuju tanah suci.
Bukan kemacetan yang akan
saya ceritakan. Namun kenangan 3 tahun, ketika saya berjuang
menjadi tamu ilahi yg kubagikan kepada pembaca. Selain memori spiritual yang
menjadi guratan sejarah hidupku, kenangan lika-liku “kegeraman” atas layanan
terhadap jamaah (khususnya haji reguler ) saat itu masih lekat di ingatan.
Mudah-mudahan ini menjadi palajaran bagi generasi berikutnya.
Cerita bermula saat matahari
tenggelam di ufuk barat 27 Oktober 2011 silam, di bumi Aram Saudi. Hari itu
merupakan inti dari ibadah haji, yaitu pelaksanaan wukuf di padang Arafah. Arafah
merupakan daerah terbuka dan luas di sebelah timur luar kota suci umat Islam di Mekkah, Arab Saudi. Di padang yang
luas ini, setiap siang hari di tanggal 9 Dzulhijjah
pada penanggalan Hijriyah,
jemaah haji dari berbagai pelosok dunia berkumpul untuk melaksanakan inti
ibadah haji, ibadah Wukuf
(Wikipedia).
Saya beserta rombongan telah
bermukim di Arafah sejak malam tanggal 26 Oktober 2013 di tenda-tenda yang
telah disediakan, guna menghindari kemacetan jalan menuju ke arahnya. Di
tenda-tenda sederhana yang beralaskan karpet penuh pasir – makanya jamaah
melapisinya dengan tikar – jemaah tidur, berdoa, berzikir, sholat lima waktu,
dan mendengarkan khotbah haji di siang harinya.
Waktu telah menunjukan 18.00 sore hari (waktu Arab Saudi). Tergelincirnya sinar matahari di
ufuk barat, menandakan berakhirnya waktu “mustajab” (waktu yang menurut hadist
nabi sangat tepat dan insyaalloh, Alloh akan mengabulkan semua doa manusia) manusia
dalam berdoa d bumi Arafah. Perjalanan jamaah haji berikutnya adalah “Mabit”
atau bermukim sebentar di Musdalifah. Kepergian ke Musdalifah – satu tanah
lapang untuk mengambil batu kerikil guna melempar jumrah di Mina—merupakan rangkaian ibadah Haji di Armina (Arofah,
Musdalifah dan Mina) yang musti ditunaikan jamaah Ibadah Haji. Saya dan istri
yang tergabung dalam KBIH (kelompok bimbingan ibadah haji) Disbintal AD (Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat), seperti ada yang mengkomandoi untuk bersiap-siap mengemas
barang bawaan sebagai persiapan menuju ke Mustadalifah. Secara mandiri, para
jamaah mengkemas-kemas barang bawaan dan mengumpulkannya di hadapan tenda masing-masing.
Hari mulai gelap. Jamaah pun
dengan sabar menunggu bus yang akan mengangkutnya ke Musdalifah. Untuk menunggu
kedatangan bus-penjemput, di sudut-sudut tenda para jamaah asyik bersendagurau antar
sesama guna melepas kelelahan. Tak sedikit yang tertidur dengan alas seadaanya
– karena tikar dan peralatan tidur telah dibungkus dalam tas tenteng. Tas pun
dibuat bantal guna menyanggah kepala supaya tidak sakit. Waktu berjalan begitu
cepat, hingga mununjukan pukul 20.0 an malam (waktu Arab Saudi). Sholat Magrib
dan Isya dilakukan jamaah secara jama’ (digabung). Karena makan malam yang
disediakan panitia (amirul haj, yaitu pemerintah RI) di waktu sore hari, maka
saat malam menjelang rasa lapar pun mulai dirasakan jemaah haji. Mereka pun
memakan malam dengan apa yang masih dipunyai ala kadarnya. Banyak sih, dari
mereka yang menyantap mie instan yang sudah disiapkan.
Saat jam 21.00 malam tiba,
terdengar suara dari toa – mungkin suara salah satu ketua rombongan -- kalau bus
jemputan sudah menunggu di depan gapura pintu tenda. Spontan, anggota rombongan
terjaga dari tidurnya. Mata lelah terpancar dari jamaah yang terjaga kaget,
saat dibangunkan temannya untuk cepat-cepat bergegas dan bersiap-siap. Namun
setelah beberapa menit berselang, perintah dan informasi kedatangan bus pengangkut
tak menampakan kejelasannya. Saya dan jamaah lain pun berguman kesal dalam hati
dan terdiam kembali. Kantuk pun mampir kembali di pelupuk masing-masing mata
jamaah. Rasa lelah bercampur dengan cemas menumpuk di benak jamaah, karena
idealnya waktu mabit di Mustadalifah adalah sekitar jam 21.00 atau 22.00 an
malam hari. Namun hingga jam 22.30, rombongan saya masih berdiam di padang
Arofah.
Hingga akhirnya kira-kira jam
23.00 an malam, sayup-sayup pempinan rombongan memerintahkan setiap jamaahnya
untuk bergegas merapat ke gardu pintu masuk lapangan tenda. Di tengah perjalan
itu – kira-kira ada 15-20 meter jarak tenda rombonganku dengan gapura pintu
masuk – saya menyaksikan bentangan lapangan luas Arafah, dimana tenda-tenda dan
karpet mulai diberesin petugas haji yang kebanyakan dari Banglades dan Afrika
(terlihat dari kulitnya yang hitam legam).
Saya dan jamaah lain
berfikir bahwa kepergian kami ke depan gardu pintu tenda untuk langsung
berangkat ke Musdalifah. Namun sesampai di sana, ternyata rombongan lain sudah
menunggu untuk diberangkatkan ke Musdalifah. “Waduh ampun deh... Lelah benar fisik dan psyikologiku ini,”
keluhku dalam hati. Saya kira, jemaah lain pun mengeluhkan hal yang sama dalam
hatinya, namun mereka tidak berani menampakkannya. Karena memang kita diajarkan
untuk selalu bersabar dalam menjalankan ibadah haji.
Jamaah pun menunggu lagi di
depan gardu pintu masuk-keluar, menunggu bus yang juga belum hadir. Ada sekitar
satu jam, jamaah menunggu kedatangan bus. Saat itu, saya melihat para ketua
rombongan mulai bersitegang dalam menentukan siapa yang pertama berangkat bila
bus penjemput datang. Tersiar khabar bahwa jalanan dari Arofah menuju
Musdalifah dipenuhi kendaraan yang ingin cepat-cepat mengantar jamaah dari
Musdalifah langsung ke arah Mina. Sehingga saking penuhnya jalan itu – karena
memang jalur jalannya juga terbatas – maka bus pengangkut jamaah tidak bisa
berjalan secara normal karena berjalan dalam waktu bersamaan.
Singkat cerita, saya dan
rombongan diangkut bus panitia menuju Musdalifah kira-kira pukul 01.30 tengah
malam. Baru sekitar jam 02.30. malam, menjelang Subuh, rombongan bus saya
menginjak tanah Musdalifah. Sesampai disana, ratusan jemaah telah menyemut di
lapangan. Rasa kantuk – yang sudah kurasakan saat duduk di bus – kini hilang
tanpa sadar dari mata. Layaknya seorang pramuka yang mencari jejak, saya
menundukkan mata ke tanah Musdalifah guna mencari batu kerikil secekupnya
sebagai persiapan untuk melempar jumrah di Mina nanti. Setelah dirasa cukup,
para jamaah menunggu giliran untuk dberangkatkan ke bumi perkemahan Mina. Dalam
menunggu inilah awal cerita tragis bermula.
Dalam teori atau pakem ibadah
Haji yang direncanakan – dan tertulis dalam panduan Haji yang diterbitkan
Departemen Agama RI --, berdiam di Musdalifah sejatinya sejenak, hanya untuk
mengambil batu kerikil secukupnya. Kenyataanya, saya dan ratusan jamaah lain
berdiam selama berjam-jam di tanah pasir nan tandus itu. Tak ada alas dan
minimnya fasilitas MCK, itulah kondisinya. Fenomena antri selalu terlihat di
setiap toilet yang terdapat di wilayah itu. Tiker atau alas yang sudah dikemas dalam
tes tenteng dari Arofah, terpaksa jemaah membongkarnya kembali untuk menjadi
alas duduk dan atau sekedar memanjangkan kaki karena kelelahan, menunggu kedatangan
bus pengangkut ke Mina.
Suara adzan subuh terdengar
dari salah satu sudut lapangan, bertanda pagi akan menjemput, menggantikan
malam. Jamaah bergegas Sholat Subuh secara berjamaah dalam kelompok di
sela-sela waktu menunggu. Dengan tempat wudhu yang antri dan alas seadanya,
saya dan jemaah haji lainnya melaksanakan sholat Shubuh dalam keterbatasan. Alhamdulillah,
sholat Shubuh bisa saya lakukan secara berjamaah di atas tikar seadanya.
Kira-kira jam 05.30 – setelah
sholat Subuh – hari pun makin terang. Spontan, saya tertegun dengan pandangan
di depan mataku, dimana tak sedikit jamaah yang terkulai lemas dan mengantuk
dengan beralas tikar seadanya untuk melepas lelah. Harapan akan segera diangkut
bus penjemput menuju Mina menjadi harapan setiap jemaah di Musdalifah.
Sementara itu, suara-suara panggilan dari ketua rombongan terdengar sayup-sayup
diujung pintu keluar areal Musdalifah. Pintu keluarnya sangat sempit. Hanya dua
orang yang bisa keluar secara bersamaan. Bila rombongannya terpanggil, maka
anggotanya dengan cepat mengantri untuk segera naik bus yang menunggu di depan
pintu. Awalnya tertib. Namun karena capek dan terlalu lama menunggu, akhirnya
jemaah mulai tidak tertib. Masing-masing kelompok berusaha untuk mendapatkan
antrian pertama untuk cepat-cepat lekas berangkat untuk meninggalkan bumi Musdalifah.
Tanpa sadar perutku meminta
untuk diisi sarapan pagi. Saya dan istri mencoba mencari persediaan makanan di
tas tentengku. Ternyata masih ada dua mie instan tersisa. “Asyik...”, kataku girang.
Namun bila jamaah tidak memiliki persediaan, di sana ada penjual mie instan
beserta air panasnya yang siap melayani jamaah. Karena pemintaan tinggi, akhirnya
di jam 6 pagi itu, mie instan pedagang pun ludes dilahap jemaah. “Waduh....”, keluhku dalam hati.
Tak ada kegiatan lain kala
itu, hanya duduk dan tiduran di tanah lapang dengan alas seadanya. Tanpa sadar,
hari makin terik dan waktu telah menunjukan jam 09.00 an pagi. Panas matahari
makin menyengat kepala jemaah. Sementara persediaan air minum juga makin
menipis. Bus yang ditunggu pun tak lekas hadir di tengah-tengah jemaah. Jemaah –
termasuk rombonganku – yang berada di Musdalifah makin gelisah. Mungkin setiap
jemaah – dalam hatinya – telah mengukur diri sendiri apakah ia cukup kuat untuk
bertahan di tengah terik matahari tanpa persediaan air minum.
Saat saya dan istri sedang
berteduh dengan terpal seadanya – ada yang memakai sejadah atau tikar --,
tiba-tiba kami mendengar berita bahwa jemaah perempuan tua yang duduk tidak
jauh dari rombonganku telah tumbang alias pingsan. Ia terserang dehidrasi atau kekurangan cairan.
Anggota rombongannya berusaha menolong dengan memberi usaha awal yaitu memberikan
air putih, dan menempelkan minyak kayu putih di hidungnya, guna menghindari
akibat yang fatal. Memang dengan suasana terik panas yang ekstrim, jemaah berusia
lanjut dan kaum perempuan yang memiliki penyakit, sangat rentan terhadap bahaya
dehidrasi.
Selain daripada itu, suasana
panas juga ikut menyulut emosi para jemaah. Makin terik sinar matahari siang, emosi
jamaah pun makin meninggi. Setiap jemaah ingin lekas pergi dari lapangan
Musdalifah yang tanpa atap itu. Setiap ada bus yang datang, jemaah sudah tidak
terkontrol lagi dan ingin cepat-cepat menaikinya. Aturan antri – yang
sebelumnya dipatuhi para jamaah – kini sudah tidak berlaku lagi. Bahkan saya
melihat sendiri beberapa jemaah menorobos kawat pembatas disamping pintu keluar,
guna cepat-cepat naik ke bus saat tiba di depan pintu. Tak jarang saya juga
mendapatkan jamaah yang beradu mulut dengan jemaah lain, saat mengetahui jemaah
itu menobos jalur antrian untuk mendapat jatah kesempatan jalan menuju pintu bus
penjemput.
Waktu hampir menunjukan jam 11.00
an siang. Jemaah terlihat masih banyak yang belum terangkut dari tanah lapang
Musdalifah. Saya beserta rombongan pun was-was dengan kondisi itu. Sudah di
depan mata, kami melihat jemaah tumbang kepanasan dan dehidrasi satu-demi satu.
Mental saya dan rombongan pun mulai melemah. Bahkan saya – mungkin juga anggota
rombongan lain – sempat berfikir kapan giliran kami menyusul untuk tumbang
juga.
Dalam kondisi seperti itu,
saya hanya terus berdoa semoga bus yang ditunggu segera hadir dan mengangkut
kami ke bumi Mina. Terik pun makin menjadi–jadi. Setiap jemaah berkerumum untuk
mencari peneduh dengan alat seadanya. Tikar yang sebelumnya dipakai untuk alas
duduk, kini tak jarang dijadikan menjadi payung guna melindungi kepala masing-masing
jamaah dari sengatan matahari.
Haus dan lapar, pelan-pelan
mulai teras di perutku, mungkin juga di jemaah yang lain. Maklum, karena tadi
pagi, saya dan istri hanya memakan sarapan dengan mie instan yang sudah pasti
hanya berumur pendek. Cemas mulai terasa lagi.
Syukurlah, tepat jam 11.15
an, bus mulai berdatangan. Informasi yang beredar, pukul 12.00 an siang merupakan
wakut akhir dari panitia pemerintah Arab Saudi, untuk mengangkut jemaah dari Musdalifah
ke Mina. Hati saya dan rombongan mulai senang, karena fisik dan mental jemaah
sudah terkuras habis di bumi Musdalifah. Bus-bus pun mulai hadir secara
bergelombang sehingga semua jemaah -- tidak perduli dari kelompok apa --,
diangkut menuju ke bumi Mina. Dengan segera, anggota rombongan saya memasuki
bus yang datang menjemput masuk ke areal Musdalifah – tidak melalui pintu
keluar yg sempit. Jemaah yang lebih tua, saya dahulukan untuk memasuki bus,
hingga menyusul jamaah perempuan sampai semuannya naik ke dalam bus.
bagus Us ceritanya sangat detail, ditunggu cerita pengalaman yang lainnya
BalasHapusHi TB. syukran atas komen nya ya...antum sudah ke sana juga kan...bagi dong ceritanya. jangan-jangan sama or lebih parah...ha..ha...
HapusAna sudah tiga kali haji tahun 97 2000 dan 2001 tapi rumit menguraikannya dalam sebuah tulisan, enakan membaca, tapi ntar dech ana sesekali coba.Tbfakhru
BalasHapusHi kangbike. terima kasih atas kommennya. Ayo bagi dong cerita hajimu. jangan-jangan mirip dengan pengalamanku.....
HapusMas Idos, smoga smakin bagus ya dari waktu ke waktu. Terima kasih tulisannya :)
BalasHapusSemoga ya alida....thanks...
Hapus