Rabu, 03 September 2014

“Terpanggang” di Musdalifah


Pagi ini, Senin 1 September 2014, saat naik motor melintas pasar Pondok Gede, Jakarta Timur macet total. Ternyata itu imbas dari kemacatan di asraman Haji, Pondok Gede dimana para tamu ilahi (alias jamaah haji) kloter pertama akan berangkat ke tanah suci. Kulihat wajah-wajah putih bersinar dari muka jemaah. Seolah malaikat ikut mengiringi langkahnya dari bumi Indonesia menuju tanah suci.

Bukan kemacetan yang akan saya ceritakan. Namun kenangan 3 tahun, ketika saya berjuang menjadi tamu ilahi yg kubagikan kepada pembaca. Selain memori spiritual yang menjadi guratan sejarah hidupku, kenangan lika-liku “kegeraman” atas layanan terhadap jamaah (khususnya haji reguler ) saat itu masih lekat di ingatan. Mudah-mudahan ini menjadi palajaran bagi generasi berikutnya.

Cerita bermula saat matahari tenggelam di ufuk barat 27 Oktober 2011 silam, di bumi Aram Saudi. Hari itu merupakan inti dari ibadah haji, yaitu pelaksanaan wukuf di padang Arafah. Arafah merupakan daerah terbuka dan luas di sebelah timur luar kota suci umat Islam di Mekkah, Arab Saudi. Di padang yang luas ini, setiap siang hari di tanggal 9 Dzulhijjah pada penanggalan Hijriyah, jemaah haji dari berbagai pelosok dunia berkumpul untuk melaksanakan inti ibadah haji, ibadah Wukuf (Wikipedia). Saya beserta rombongan telah bermukim di Arafah sejak malam tanggal 26 Oktober 2013 di tenda-tenda yang telah disediakan, guna menghindari kemacetan jalan menuju ke arahnya. Di tenda-tenda sederhana yang beralaskan karpet penuh pasir – makanya jamaah melapisinya dengan tikar – jemaah tidur, berdoa, berzikir, sholat lima waktu, dan mendengarkan khotbah haji di siang harinya.


Waktu telah menunjukan 18.00 sore hari (waktu Arab Saudi). Tergelincirnya sinar matahari di ufuk barat, menandakan berakhirnya waktu “mustajab” (waktu yang menurut hadist nabi sangat tepat dan insyaalloh, Alloh akan mengabulkan semua doa manusia) manusia dalam berdoa d bumi Arafah. Perjalanan jamaah haji berikutnya adalah “Mabit” atau bermukim sebentar di Musdalifah. Kepergian ke Musdalifah – satu tanah lapang untuk mengambil batu kerikil guna melempar jumrah di Mina—merupakan rangkaian ibadah Haji di Armina (Arofah, Musdalifah dan Mina) yang musti ditunaikan jamaah Ibadah Haji. Saya dan istri yang tergabung dalam KBIH (kelompok bimbingan ibadah haji) Disbintal AD (Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat), seperti ada yang mengkomandoi untuk bersiap-siap mengemas barang bawaan sebagai persiapan menuju ke Mustadalifah. Secara mandiri, para jamaah mengkemas-kemas barang bawaan dan mengumpulkannya di hadapan tenda masing-masing.

Hari mulai gelap. Jamaah pun dengan sabar menunggu bus yang akan mengangkutnya ke Musdalifah. Untuk menunggu kedatangan bus-penjemput, di sudut-sudut tenda para jamaah asyik bersendagurau antar sesama guna melepas kelelahan. Tak sedikit yang tertidur dengan alas seadaanya – karena tikar dan peralatan tidur telah dibungkus dalam tas tenteng. Tas pun dibuat bantal guna menyanggah kepala supaya tidak sakit. Waktu berjalan begitu cepat, hingga mununjukan pukul 20.0 an malam (waktu Arab Saudi). Sholat Magrib dan Isya dilakukan jamaah secara jama’ (digabung). Karena makan malam yang disediakan panitia (amirul haj, yaitu pemerintah RI) di waktu sore hari, maka saat malam menjelang rasa lapar pun mulai dirasakan jemaah haji. Mereka pun memakan malam dengan apa yang masih dipunyai ala kadarnya. Banyak sih, dari mereka yang menyantap mie instan yang sudah disiapkan.

Saat jam 21.00 malam tiba, terdengar suara dari toa – mungkin suara salah satu ketua rombongan -- kalau bus jemputan sudah menunggu di depan gapura pintu tenda. Spontan, anggota rombongan terjaga dari tidurnya. Mata lelah terpancar dari jamaah yang terjaga kaget, saat dibangunkan temannya untuk cepat-cepat bergegas dan bersiap-siap. Namun setelah beberapa menit berselang, perintah dan informasi kedatangan bus pengangkut tak menampakan kejelasannya. Saya dan jamaah lain pun berguman kesal dalam hati dan terdiam kembali. Kantuk pun mampir kembali di pelupuk masing-masing mata jamaah. Rasa lelah bercampur dengan cemas menumpuk di benak jamaah, karena idealnya waktu mabit di Mustadalifah adalah sekitar jam 21.00 atau 22.00 an malam hari. Namun hingga jam 22.30, rombongan saya masih berdiam di padang Arofah.

Hingga akhirnya kira-kira jam 23.00 an malam, sayup-sayup pempinan rombongan memerintahkan setiap jamaahnya untuk bergegas merapat ke gardu pintu masuk lapangan tenda. Di tengah perjalan itu – kira-kira ada 15-20 meter jarak tenda rombonganku dengan gapura pintu masuk – saya menyaksikan bentangan lapangan luas Arafah, dimana tenda-tenda dan karpet mulai diberesin petugas haji yang kebanyakan dari Banglades dan Afrika (terlihat dari kulitnya yang hitam legam).

Saya dan jamaah lain berfikir bahwa kepergian kami ke depan gardu pintu tenda untuk langsung berangkat ke Musdalifah. Namun sesampai di sana, ternyata rombongan lain sudah menunggu untuk diberangkatkan ke Musdalifah. “Waduh ampun deh... Lelah benar fisik dan psyikologiku ini,” keluhku dalam hati. Saya kira, jemaah lain pun mengeluhkan hal yang sama dalam hatinya, namun mereka tidak berani menampakkannya. Karena memang kita diajarkan untuk selalu bersabar dalam menjalankan ibadah haji.

Jamaah pun menunggu lagi di depan gardu pintu masuk-keluar, menunggu bus yang juga belum hadir. Ada sekitar satu jam, jamaah menunggu kedatangan bus. Saat itu, saya melihat para ketua rombongan mulai bersitegang dalam menentukan siapa yang pertama berangkat bila bus penjemput datang. Tersiar khabar bahwa jalanan dari Arofah menuju Musdalifah dipenuhi kendaraan yang ingin cepat-cepat mengantar jamaah dari Musdalifah langsung ke arah Mina. Sehingga saking penuhnya jalan itu – karena memang jalur jalannya juga terbatas – maka bus pengangkut jamaah tidak bisa berjalan secara normal karena berjalan dalam waktu bersamaan.

Singkat cerita, saya dan rombongan diangkut bus panitia menuju Musdalifah kira-kira pukul 01.30 tengah malam. Baru sekitar jam 02.30. malam, menjelang Subuh, rombongan bus saya menginjak tanah Musdalifah. Sesampai disana, ratusan jemaah telah menyemut di lapangan. Rasa kantuk – yang sudah kurasakan saat duduk di bus – kini hilang tanpa sadar dari mata. Layaknya seorang pramuka yang mencari jejak, saya menundukkan mata ke tanah Musdalifah guna mencari batu kerikil secekupnya sebagai persiapan untuk melempar jumrah di Mina nanti. Setelah dirasa cukup, para jamaah menunggu giliran untuk dberangkatkan ke bumi perkemahan Mina. Dalam menunggu inilah awal cerita tragis bermula.

Dalam teori atau pakem ibadah Haji yang direncanakan – dan tertulis dalam panduan Haji yang diterbitkan Departemen Agama RI --, berdiam di Musdalifah sejatinya sejenak, hanya untuk mengambil batu kerikil secukupnya. Kenyataanya, saya dan ratusan jamaah lain berdiam selama berjam-jam di tanah pasir nan tandus itu. Tak ada alas dan minimnya fasilitas MCK, itulah kondisinya. Fenomena antri selalu terlihat di setiap toilet yang terdapat di wilayah itu. Tiker atau alas yang sudah dikemas dalam tes tenteng dari Arofah, terpaksa jemaah membongkarnya kembali untuk menjadi alas duduk dan atau sekedar memanjangkan kaki karena kelelahan, menunggu kedatangan bus pengangkut ke Mina.

Suara adzan subuh terdengar dari salah satu sudut lapangan, bertanda pagi akan menjemput, menggantikan malam. Jamaah bergegas Sholat Subuh secara berjamaah dalam kelompok di sela-sela waktu menunggu. Dengan tempat wudhu yang antri dan alas seadanya, saya dan jemaah haji lainnya melaksanakan sholat Shubuh dalam keterbatasan. Alhamdulillah, sholat Shubuh bisa saya lakukan secara berjamaah di atas tikar seadanya.

Kira-kira jam 05.30 – setelah sholat Subuh – hari pun makin terang. Spontan, saya tertegun dengan pandangan di depan mataku, dimana tak sedikit jamaah yang terkulai lemas dan mengantuk dengan beralas tikar seadanya untuk melepas lelah. Harapan akan segera diangkut bus penjemput menuju Mina menjadi harapan setiap jemaah di Musdalifah. Sementara itu, suara-suara panggilan dari ketua rombongan terdengar sayup-sayup diujung pintu keluar areal Musdalifah. Pintu keluarnya sangat sempit. Hanya dua orang yang bisa keluar secara bersamaan. Bila rombongannya terpanggil, maka anggotanya dengan cepat mengantri untuk segera naik bus yang menunggu di depan pintu. Awalnya tertib. Namun karena capek dan terlalu lama menunggu, akhirnya jemaah mulai tidak tertib. Masing-masing kelompok berusaha untuk mendapatkan antrian pertama untuk cepat-cepat lekas berangkat untuk meninggalkan bumi Musdalifah.

Tanpa sadar perutku meminta untuk diisi sarapan pagi. Saya dan istri mencoba mencari persediaan makanan di tas tentengku. Ternyata masih ada dua mie instan tersisa. “Asyik...”, kataku girang. Namun bila jamaah tidak memiliki persediaan, di sana ada penjual mie instan beserta air panasnya yang siap melayani jamaah. Karena pemintaan tinggi, akhirnya di jam 6 pagi itu, mie instan pedagang pun ludes dilahap jemaah. “Waduh....”, keluhku dalam hati.

Tak ada kegiatan lain kala itu, hanya duduk dan tiduran di tanah lapang dengan alas seadanya. Tanpa sadar, hari makin terik dan waktu telah menunjukan jam 09.00 an pagi. Panas matahari makin menyengat kepala jemaah. Sementara persediaan air minum juga makin menipis. Bus yang ditunggu pun tak lekas hadir di tengah-tengah jemaah. Jemaah – termasuk rombonganku – yang berada di Musdalifah makin gelisah. Mungkin setiap jemaah – dalam hatinya – telah mengukur diri sendiri apakah ia cukup kuat untuk bertahan di tengah terik matahari tanpa persediaan air minum.

Saat saya dan istri sedang berteduh dengan terpal seadanya – ada yang memakai sejadah atau tikar --, tiba-tiba kami mendengar berita bahwa jemaah perempuan tua yang duduk tidak jauh dari rombonganku telah tumbang alias pingsan. Ia terserang dehidrasi atau kekurangan cairan. Anggota rombongannya berusaha menolong dengan memberi usaha awal yaitu memberikan air putih, dan menempelkan minyak kayu putih di hidungnya, guna menghindari akibat yang fatal. Memang dengan suasana terik panas yang ekstrim, jemaah berusia lanjut dan kaum perempuan yang memiliki penyakit, sangat rentan terhadap bahaya dehidrasi.

Selain daripada itu, suasana panas juga ikut menyulut emosi para jemaah. Makin terik sinar matahari siang, emosi jamaah pun makin meninggi. Setiap jemaah ingin lekas pergi dari lapangan Musdalifah yang tanpa atap itu. Setiap ada bus yang datang, jemaah sudah tidak terkontrol lagi dan ingin cepat-cepat menaikinya. Aturan antri – yang sebelumnya dipatuhi para jamaah – kini sudah tidak berlaku lagi. Bahkan saya melihat sendiri beberapa jemaah menorobos kawat pembatas disamping pintu keluar, guna cepat-cepat naik ke bus saat tiba di depan pintu. Tak jarang saya juga mendapatkan jamaah yang beradu mulut dengan jemaah lain, saat mengetahui jemaah itu menobos jalur antrian untuk mendapat jatah kesempatan jalan menuju pintu bus penjemput.

Waktu hampir menunjukan jam 11.00 an siang. Jemaah terlihat masih banyak yang belum terangkut dari tanah lapang Musdalifah. Saya beserta rombongan pun was-was dengan kondisi itu. Sudah di depan mata, kami melihat jemaah tumbang kepanasan dan dehidrasi satu-demi satu. Mental saya dan rombongan pun mulai melemah. Bahkan saya – mungkin juga anggota rombongan lain – sempat berfikir kapan giliran kami menyusul untuk tumbang juga.

Dalam kondisi seperti itu, saya hanya terus berdoa semoga bus yang ditunggu segera hadir dan mengangkut kami ke bumi Mina. Terik pun makin menjadi–jadi. Setiap jemaah berkerumum untuk mencari peneduh dengan alat seadanya. Tikar yang sebelumnya dipakai untuk alas duduk, kini tak jarang dijadikan menjadi payung guna melindungi kepala masing-masing jamaah dari sengatan matahari.

Haus dan lapar, pelan-pelan mulai teras di perutku, mungkin juga di jemaah yang lain. Maklum, karena tadi pagi, saya dan istri hanya memakan sarapan dengan mie instan yang sudah pasti hanya berumur pendek. Cemas mulai terasa lagi.


Syukurlah, tepat jam 11.15 an, bus mulai berdatangan. Informasi yang beredar, pukul 12.00 an siang merupakan wakut akhir dari panitia pemerintah Arab Saudi, untuk mengangkut jemaah dari Musdalifah ke Mina. Hati saya dan rombongan mulai senang, karena fisik dan mental jemaah sudah terkuras habis di bumi Musdalifah. Bus-bus pun mulai hadir secara bergelombang sehingga semua jemaah -- tidak perduli dari kelompok apa --, diangkut menuju ke bumi Mina. Dengan segera, anggota rombongan saya memasuki bus yang datang menjemput masuk ke areal Musdalifah – tidak melalui pintu keluar yg sempit. Jemaah yang lebih tua, saya dahulukan untuk memasuki bus, hingga menyusul jamaah perempuan sampai semuannya naik ke dalam bus.

Alhamdulilah…akhinya bisa duduk dengan nyaman di Bus,” kataku kepada istri saat duduk di kursi bus. Lega rasanya hati ini setelah beberapa jam terjemur di lapangan Musdalifah. Saat bus saya meninggalkan Musdalifah, mataku tertegun memandang bumi Musdalifah di hadapanku. Terbetik di hatiku bahwa bumi inilah yang meninggalkan duka dan kenangan, dimana panitia haji – terkhusus Kementrian Agama pemerintah RI – belum maksimal dalam mengurus jemaah haji regular. Terik panas dengan ukuran yang tajam terpampang di hadapanku. Mungkin bila saya dan rombongan jemaah lain tidak buru-buru diangkut bus secepatnya, tidak terbayangkan, berapa jemaah yang akan tumbang dan terkapar di bumi Musdalifah. Tapi Alhamdulillah, jemaah lekas-lekas diangkut bus, tepat menjelang pukul 11.30 siang. Alhamdulillah. Semoga kisah pilu di Musdalifah ini tidak mengurangi “kekhusuanku” dalam beridah haji. Amin…

6 komentar:

  1. bagus Us ceritanya sangat detail, ditunggu cerita pengalaman yang lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi TB. syukran atas komen nya ya...antum sudah ke sana juga kan...bagi dong ceritanya. jangan-jangan sama or lebih parah...ha..ha...

      Hapus
  2. Ana sudah tiga kali haji tahun 97 2000 dan 2001 tapi rumit menguraikannya dalam sebuah tulisan, enakan membaca, tapi ntar dech ana sesekali coba.Tbfakhru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi kangbike. terima kasih atas kommennya. Ayo bagi dong cerita hajimu. jangan-jangan mirip dengan pengalamanku.....

      Hapus
  3. Mas Idos, smoga smakin bagus ya dari waktu ke waktu. Terima kasih tulisannya :)

    BalasHapus