Akhir Desember 2013, saya sedang di kota Palu, Sulawesi
Tengah. Bagiku, propinsi ini unik. Tipografinya menyebar dengan hamparan hutan
menjuntai, antara satu daerah dengan lainnya. Saat malam menjelang, dikala saya sedang
asyik ngopi di kedai depan penginapan bersama kawan, pikiranku melanglang ke
kakak dan keponanku yang kini menetap di Luwuk, kab. Banggai, Sulawesi
Tengah. Mereka menyusul bapaknya yang kini bekerja di pengeboran
selat Donggi Senoro, desa Batui, kec. Lamok, kab. Banggai, Sulawesi Tengah.
Di sela-sela obrolan, kawanku berujur, “Mumpung sedang di bumi Selawesi Tengah,
tengoklah saudara kandungmu di Luwuk. Meski jauh, namun kan kamu masih dalam satu
propinsi”. Akhirnya, kuputuskan untuk traveling ke Luwuk, daerah diujung
Sulawesi Tangah yang berjarak dengan kota Palu
satu setengah hari perjalan (bila dengan bus), melintas hutan dan
pegunungan. Namun bila dengan pesawat, paling lama kira-kira satu jam 30 menit.
Kontan, saya bergegas mencari informasi tiket pesawat Palu-Luwuk. Dan secepat itu, kawan-kawanku di Palu memberi informasi bahwa ada pesawat kecil
berkapasitas 14 penumpang yang biasa terbang sebanyak 3 kali dalam
seminggu. Segera aku memesanya. Tiket perjalanan tersebut seharga
Rp 990.000,-, . Pesawatnya bernama Xpress
Air.
