Jumat, 07 November 2014

Kota di Tengah Hutan


Akhir Desember 2013, saya sedang di kota Palu, Sulawesi Tengah. Bagiku, propinsi ini unik. Tipografinya menyebar dengan hamparan hutan menjuntai, antara satu daerah dengan lainnya. Saat malam menjelang, dikala saya sedang asyik ngopi di kedai depan penginapan bersama kawan, pikiranku melanglang ke kakak dan keponanku yang kini menetap di Luwuk, kab. Banggai, Sulawesi Tengah. Mereka menyusul bapaknya yang kini bekerja di pengeboran selat Donggi Senoro, desa Batui, kec. Lamok, kab. Banggai, Sulawesi Tengah.

Di sela-sela obrolan, kawanku berujur, “Mumpung sedang di bumi Selawesi Tengah, tengoklah saudara kandungmu di Luwuk. Meski jauh, namun kan kamu masih dalam satu propinsi”. Akhirnya, kuputuskan untuk traveling ke Luwuk, daerah diujung Sulawesi Tangah yang berjarak dengan kota Palu  satu setengah hari perjalan (bila dengan bus), melintas hutan dan pegunungan. Namun bila dengan pesawat, paling lama kira-kira satu jam 30 menit. Kontan, saya bergegas mencari informasi tiket pesawat Palu-Luwuk. Dan secepat itu, kawan-kawanku di Palu memberi informasi bahwa ada pesawat kecil berkapasitas 14 penumpang yang biasa terbang sebanyak 3 kali dalam seminggu. Segera aku memesanya. Tiket perjalanan tersebut seharga Rp 990.000,-, . Pesawatnya bernama Xpress Air.