Akhir Desember 2013, saya sedang di kota Palu, Sulawesi
Tengah. Bagiku, propinsi ini unik. Tipografinya menyebar dengan hamparan hutan
menjuntai, antara satu daerah dengan lainnya. Saat malam menjelang, dikala saya sedang
asyik ngopi di kedai depan penginapan bersama kawan, pikiranku melanglang ke
kakak dan keponanku yang kini menetap di Luwuk, kab. Banggai, Sulawesi
Tengah. Mereka menyusul bapaknya yang kini bekerja di pengeboran
selat Donggi Senoro, desa Batui, kec. Lamok, kab. Banggai, Sulawesi Tengah.
Di sela-sela obrolan, kawanku berujur, “Mumpung sedang di bumi Selawesi Tengah,
tengoklah saudara kandungmu di Luwuk. Meski jauh, namun kan kamu masih dalam satu
propinsi”. Akhirnya, kuputuskan untuk traveling ke Luwuk, daerah diujung
Sulawesi Tangah yang berjarak dengan kota Palu
satu setengah hari perjalan (bila dengan bus), melintas hutan dan
pegunungan. Namun bila dengan pesawat, paling lama kira-kira satu jam 30 menit.
Kontan, saya bergegas mencari informasi tiket pesawat Palu-Luwuk. Dan secepat itu, kawan-kawanku di Palu memberi informasi bahwa ada pesawat kecil
berkapasitas 14 penumpang yang biasa terbang sebanyak 3 kali dalam
seminggu. Segera aku memesanya. Tiket perjalanan tersebut seharga
Rp 990.000,-, . Pesawatnya bernama Xpress
Air.
Tepat pukul 09.00 pagi, saya bergegas ke bandara Mutiara
SIS Al-Jufrie, Palu. Setelah beberapa halaman buku kuhabiskan di
ruang tunggu, tepat pukul 11.30 saya naik pesawat Xpress air berukuran kecil. Rasa nyaman menyergap badanku saat
berdiri pas di dalam pintu. Semalam, kawanku bilang bahwa naik pesawat kecil tidak senyaman naik pesawat boing 737 misalnya, yang berkapasitas 125 orang penumpang.
Menurutnya lagi, hal itu berdampak kepada goncangan angin yang mengocok badan
saat pesawat terbang di atas angin. Berdasarkan warning kawanku, saya mencari tempat duduk dengan hati-hati,
sambil memperhatikan situasi sekitar. Kursi dan pegangannya saya periksa seksama
dan memegangnya erat-erat, antisipasi bila ada goncangan. Begitu semua
penumpang pada posisi di kursinya, pesawat pun meninggalkan
landasan.
Kawanku tenyata benar. Pelan-pelan saya merasakan goncangannya.
Jujur, memang pesawatnya bergoyang, namun tidak seseram wanti-wanti kawanku. Lama kelamaan, aku makah tidak merasakannya. Tak terasa, aku menikmati
pemandangan alam sekitar yang diselimuti hutan
tropis dan lautan biru bergelombang dari pesawat. Tanpa diduga, kantuk menyerangku dan tidur
pun hadir kemudian. Kira-kira pukul 13.45, pramugari membangunkan tidurku dan
berkata bahwa kota Luwuk sudah di hadapan pesawat.
Kontan, saya terkejut dengan pandangan di depanku. “Ini bandara atau lapangan mini bermain ya.
Terus di depan bandara, kok seperti lukisan yang bermotif laut nan biru
menghampar”, gumanku lirih. Gumanku ternyata salah. Setelah turun dari
pesawat, laut berair biru benar-benar riil, berhampar luas di depan-bawah bandara.
Bandara Luwuk bernama “Syukuran Aminuddin”. Mini namun
ajaib. Ia bagai terletak di atas pantai yang memilki laut biru. Saat itu,
bandara sedang berbenah. Aspal landasannya sedang dalam perbaikan
traktor. Sepeda motor saja masih boleh lalu lalang di samping pesawat. Dugaanku
sih, ia adalah sopir ojek yang hendak menjemput penumpang hingga ke dapan
landasan pacu. Aneh ? Aku rasa tidak. Ini kota kabupaten Bung……
Bandara kabupaten/kota memang begitu adanya. Satu jam saya
menunggu kakakku yang akan menyemput. Bandara Syukuran Aminuddin terletak pas di pintu
gerbang masuk kota Luwuk, Sulteng. Ia berada di bekas hutan, yang kini dihuni beberapa penduduk. Di depannya, laut yang menjorok ke darat. Sementara di seberangnya, pegunungan melindungi air laut yang mendarat. Tipografi daratan
seperti ini terlihat “khas” Sulawesi Tengah. Saya menjumpainya semenjak dari
kota Palu hingga ke kab. Donggala. Air laut yang berlabuh jauh daratan juga
memiliki tingkat kejernihan yang khas. Bening sekali. Ikan yang berenang di
dalamnya tergambar jelas. Pengin rasanya tangan ini menyentuhnya….
Dalam sekejap, langit beranjak gelap. Tak disangka,
jam tangan di tangan telah menunjukkan pukul 18.00 sore. Mobil Toyota Afanza
yang dikendarai kakakku,
telah meninggalkan bandara. Pelan-pelan mobil itu berjalan menuju tempat
tinggal keluarga kakakku di desa Lamo, kecamatan Batui, kab. Banggai, Sulawesi
Tengah.
Remang-remang cahaya masih terlihat di jalan raya. Kanan dan
kiri yang dihuni penduduk masih terlihat, karena lampu penerangan menggantung
di setiap rumah penduduk. Hanya beberapa kilometer (mungkin tidak ada satu kilo
meter) darinya, tanah kosong yang berupa rimbunan
pepohonan menjemput mobil dan jalan raya. Suara-suara binatang, termasuk
lengkingan jangkrik bergema jelas sekali. Gelap sudah 100 persen “menyergap”
jalan raya yang kami lalui. Kendaraan di jalan raya pun jarang. Terkadang hanya
satu atau dua mobil yang kami temui. Anehnya, jalan raya yang kami lalui tidak mengalami rusak
parah. Ia berlubang sedikit di sana sini saja.
Sebelah kanan mobil atau jalan raya adalah hutan
berpegunungan dengan rimbunan pohon. Gelap dan hitam sekali pemandangan di
sebelah kanannya. Sebelah kiriku adalah hamparan laut yang membawa ombak
kecil-kecil. Karena sepinya suasana, deburan ombak terdengar jelas. Sepanjang
perjalanan itu, gempuran ombak laut terbilang kecil. Meski begitu, pukulannya menimbulkan bunyi meski tidak memekakkan telinga.
Setelah berjalan kira-kira 20 menit dengan kecepatan 60 km
perjam, sopir mobil memperpelan lajunya. Ternyata ada lubang besar, dan di
sebelah kiri ada bangunan besar di tengah-tengah hutan. Lampu-lampu di sekitar
bangunan, sedikit membantu mata untuk mengindentifikasinya. Namun tetap
saja aku tidak mendapat gambaran jelas atas bangunan apa yang berdiri kokoh di
tengah-tengah hutan dan laut. Siangnya saat saya lewat lagi, ternyata itu
adalah bangun Hotel megah. Saya lupa apa namanya. Dari bangunan hotel inilah
awal pertanyaanku timbul. Hati berkata heran, “Di tengah hutan dan pelantaran laut, kok ada manusia yang mau investasi
membangun hotel?”
Sambil berfikir, mobil terus melaju dengan kecepatan sedang.
Tetap suasana gelap. Kira-kira 3 kilo meter dari bangunan hotel tadi, saya
menjumpai perkampungan yang ditandai dengan sinar lampu dan bangunan rumah.
Sebagaimana kampung, kehidupan pun berdenjut. Namun penduduk nya tak terlihat
bercengkerama di luar rumah. Hanya beberapa pemuda saja yang asyik duduk-duduk
di depan rumah.
Lepas dari kawasan perkampungan, mobi melaju dan menjumpai
hutan belantara lagi. Dari situ, kami bertemu perkampungan kembali, terus hutan
kembali. Dan tetap di sebelah kiri mobilku adalah deru ombak lautan. Di sela-sela itu, kami menjumpai bangunan
jembatan yang sedang dalam renovasi. Perjalanan sesaat dialihkan ke tempat lain.
Saya bertanya kepada kakakku kapan akhir perjalanan ini. Dengan senyum, Ia
bilang bahwa sebantar lagi kita akan sampai di rumahnya. Perasaanku dari tadi kakakku
berkata bahwa sebentar lagi akan sampai di tujuannya. Namaun faktanya, eh belum
sampai juga.
Di saat saya mulai bosan, tiba-tiba di hadapan mobilku
terhampar jalan bagus sekali. Disamping kiri dan kanan terpasang lampu-lampu
indah dan canggih. Aspal jalan pun persis seperti di jalan tol Jagorawi. Berkwalitas
unggul. Di samping kanan dan kiri, kawat besi yang melindungi jalan raya super
halus itu. Di kiri memang terdapat jurang yang mengubung kepada pegungunga,
sementara di sebelah kananya adalah bangunan tinggi yang ditembok raksasa. Kakaku
bilang, mulai dari sini lah jalanan hingga ke depan rumahnya mulus bagai jalan
tol.
Kontan, mobil yang kami naiki melaju dengan cepat. Tak
beberapa jauh setelahnya, kami menjumpai aktifitas keramaian di sampung kanan jalan
dan sebelah kirinya laut. Keramaian itu dipenuhi dengan bongkar-pasang kontainer
yang berisi box-box besar. Menurut info sang supir, lokasi tersebut merupakan
cikal bakal dermaga paling besar se propinsi Sulawesi yang mengangkut bahan
tambang cair, termasuk gas cair. Selain barang tambang, terdapat barang lain
seperti pupuk cair. Mulai dari situlah, kami kemudian menjumpai perkampungan
yang mirip dengan kawasan perkotaan mini. Di situ, penduduk berkerumun dalam sutu
daerah yang dikelilingi hutan dan laut. Rumah makan, apotik, bengkel serta
super market, serta perbankan berdiri di samping jalan raya yang kami lalui.
Pasar rakyat, sekolah, dan puskesmas berdiri lengkap di sana.
Laksana kota di tengah hutan, perkampungan yang terlekat di
desa Lamo, kec. Batui, mirip daerah di pertambangan lain (mungkin seperti di
freeport, British Petroleum, dsb). Tidak jauh dari perkampunan, ternyata berdri
megah perusahaan Negara Gas cair, Donggi Sinoro. Sebuah perusahaan Negara yang
bertugas mengekspolorasi gas cair yang akan dikirim ke sejumlah Negara seperti;
Korea, Jepang dsb. Nah untuk pengeboran itulah, di sana berdiri
perusahan-perusahaan nasional dan daerah, yang membangun kilang-kilang dsb.
Praktis, keramaian sejalan dengan perkampungan di tengah hutan itu.
Kira-kira jam 20.00 malam, kami sampai di rumah kakakku.
Karena cepek, saya ngobrol sebentar dengan kakak, anak-anak, serta suaminya, dan
tidur malam setelahnya. Pengalaman pertama berkunjung ke kota di tengah hutan,
memberi cakrawala lain dari biasanya.





Mantap bang Idos, tapi terlihat agak terburu buru mau selesai ya,? Banyak salah ketik seperti:capek di tulis cepek dan lainnya lebih dari lima kata. Tapi ana selalu siap menunggu tulisan barunya lho dan gak sabar ingin memvaca. Salam.
BalasHapusok. thanks atas masukannya. Nanti mudah-mudahan klu ada waktu aku edit lagi ya....
BalasHapus