Rabu, 10 Desember 2014

Pesantren Transgender


Langit Yogyakarta, Rabu, 19 November 2014 cerah. Meski rentetan hujan lebat mengiringi kota pelajar hari-hari ini setiap sore, namun pagi itu mentari muncul gagah. Hari ini peserta event “Festival of Learning” (festival pembelajaran) yang diadakan ASPBAE (The Asia South Pacific Association for Basic and Adult Education), hendak berkunjung ke tempat special. Yaitu lembaga pesantren khusus bagi kelompok transgender, atau masyarakat umum menyebutnya waria. Lembaga tersebut bernama pesantrenAl-Fatah.

Saat mendengar pesantren untuk transgender, saya kaget luar biasa. Dalam hati, saya berguman, “Emang ada ya, pesantren untuk kemunitas transgender ?”. Menarik dan menantang keingintahuanku. Karena yang saya tahu, selama ini sebagian kelompok Islam menolak keberadaan transgender. Jangankan komunitas ini mendirikan pesantren – model pendidikan Islam tertua -- , wong keberadaanya saja sering dicari-cari kesalahannya bahkan beberapa “kelompok tertentu” mengusir keberadaanya dari suatu lokasi. Di sinilah menariknya. Saya makin penasaran, dan ingin mengetahui lebih dalam tentang pesantren transgender. Oleh karenanya, field visit (kunjungan) untuk saling belajar dari lapangan dengan pesantren tersebut menjadi pilihan manarik.