Langit Yogyakarta, Rabu, 19 November 2014
cerah. Meski rentetan hujan lebat mengiringi kota pelajar hari-hari ini setiap
sore, namun pagi itu mentari muncul gagah. Hari ini peserta event “Festival of Learning” (festival
pembelajaran) yang diadakan ASPBAE (The Asia South Pacific Association for Basic and
Adult Education), hendak
berkunjung ke tempat special. Yaitu lembaga pesantren khusus bagi kelompok
transgender, atau masyarakat umum menyebutnya waria. Lembaga tersebut bernama
pesantren“Al-Fatah”.
Saat mendengar pesantren untuk transgender, saya kaget luar biasa. Dalam hati, saya berguman, “Emang ada ya, pesantren untuk kemunitas transgender ?”. Menarik dan menantang keingintahuanku. Karena yang saya tahu, selama ini sebagian kelompok Islam menolak keberadaan transgender. Jangankan komunitas ini mendirikan pesantren – model pendidikan Islam tertua -- , wong keberadaanya saja sering dicari-cari kesalahannya bahkan beberapa “kelompok tertentu” mengusir keberadaanya dari suatu lokasi. Di sinilah menariknya. Saya makin penasaran, dan ingin mengetahui lebih dalam tentang pesantren transgender. Oleh karenanya, field visit (kunjungan) untuk saling belajar dari lapangan dengan pesantren tersebut menjadi pilihan manarik.
Tepat pukul, 09.00 pagi, bersama kawan
dari Pakistan, Australia, Philipina, New Zeland, saya bergegas ke lokasi pesantren.
Ia terletak di kampung Notoyudan, Kota Gede, Yogyakarta. Sebagaimana diketahui,
daerah Kota Gede merupakan lokasi kraton Mataraman kuno nan lawas. Ia memiliki
sejarah panjang kekratonan di Jawa. Di situ, masih bersemayam jejak sejarah
peninggalan para raja Jawa, begitu tutur sopir mobil yang menemani perjalanan.
Persis seperti apa yang dicakapkan, saat saya
sampai di gang arah pesantren, berdiri bangunan lama yang menyiratkan jejak
sejarah itu. Mobil kami diparkir di halaman kantor kelurahan pinggir jalan raya.
Beberapa meter, seseorang telah menunggu untuk menjemput. Dari situ kami
berjalan menuju sebuah gang. Jalan yang
kami lewati hanya cukup bagi satu mobil. Kiri-kanan gang berdiri bangunan kuno
yang sesekali digambari aneka rupa patung – seperti bangunan yang ada di candi
Borobudur atau Prambanan. Saya berjalan hampir 10 menit menuju pesantren. Meski
daerah peninggalan Mataraman kuno, namun terlihat pula bangunan sekolah Islam
dan musholla – mungkin dari dulu, kaum Islam dan Keraton hidup berdampingan.
Dari keterangan masyarakat, warga perserikatan Muhammadiyah merupakan penduduk
mayoritas. Tak pelak, saat kami berjalan, anak-anak murid sekolah Muhammadiyah
sedang duduk santai di pinggiran jalan. Plang musholla Muhammadiyah terpampang
di satu sudut pinggiran gang.
Dalam hati, saya berujur, “Ini perpaduan manarik. Sebagian besar
warganya pengikut Muhammadiyah. Namun di antara bangunan warga ternyata berdiri
pesantren khusus transgender (waria)”. Pandangan sekilas itu makin membuat
penasaranku memuncak. Beberapa menit, sampailah kami pada lorong kecil. Dari
situ kami membuka pintu sebuah rumah, yang ternyata awal kami harus memasuki
lagi ke dalam ruang yang mempunyai pintu lagi. Saat kami buka pintu tersebut,
berdiri bangunan tua besar yang dikelilingi rumah-rumah (atau petakan pintu
kamar) memagari bangunan di tengahnya. Bangunan itu memiliki latar (teras) yang
cukup luas. Di situlah kami dipersilahkan ibu Shinta Ratri, sang ketua
pesatren. Mereka telah menunggu kami sambil duduk setengah melingkar di teras.
Ibu Shinta duduk di depan – sebagai pusat perhatian – dan di depannya ada meja
kecil dengan buku dan kitab suci Al-qur’an mungil. Saya teringat dengan gaya
“sorogan” pesantren saat sang kyai memberikan pengajian dengan mengkaji “kitab
kuning” di depan santri.
Ibu Shinta menolak disebut “Nyai”,
layaknya pemimpin pesantren umumnya --
biasa pemimpin pesantren kalau laki-laki dinamakan kyai, dan nyai bagi
perempuan. Menurutnya ia masih banyak belajar dan mendalami agama. “Kawan-kawan saja yang mendaulat saya untuk
memimpin perkumpulan ini”, ungkap ibu Shinta tersenyum.
Setelah basa-basi, ibu Sinta membuka
percakapan dengan memperkenalkan santrinya yang berjumlah 42 orang. Dari
perkenalan, diketahui bahwa para santri berasal dari berbagai daerah di
Indonesia, seperti; Medan, Bandung, Wonogiri, Sragen, Yogyakarta dan daerah
sekitar lainnya. Setiap santri mengungkap sejarah keikutsertaan dalam pesantren
secara bebas, tanpa malu-malu saat perkenalan. Nama-nama yang mereka sebutkan
menarik perhatianku. Seperti ada yang menyebutkan dirinya Yetty Rumaropen, dan “YS”
atau Yuni Sara (seperti nama artis ibukota yang terkenal), dsb. Katanya sih dia
mirip Yuni Sara. (ha..ha..ha.. ya ga apa-apa. Kan bebas menilai diri sendiri).
Terus terang, saya pribadi belajar banyak dari pengakuan para santri. Pelajaran
hidupnya layak menjadi “kaca diri” bahwa kehidupan Indonesia kaya akan warna. Inilah
yang dalam pendidikan popular disebut “lifelong learning” (pembelajaran
sepanjang hayat). Belajar dari apa saja yang dijumpai dan saling mempelajari
tanpa “prejudice” (penghakiman). Saling timbal balik. Rata-rata mereka memiliki
profesi yang beraneka ragam, seperti; juru masak, tata rias salon, tata
kecantikan pernikahan, dsb.
Cerita pengalamannya, ada yang
mengagetkan dadaku, namun ada juga yang membuat senyum mulutku merekah tanpa
sadar. Seorang santri berasal dari Sumatera Utara bercerita penuh liku. Ia datang
jauh-jauh dari Medan untuk mencari pesantren khusus waria. Karena sejak dahulu,
tepatnya saat ia duduk di SMA, kecenderung seksualnya bukan sebagai lak-laki.
Ia resah namun sulit menemukan komunitas yang memahaminya. Dari siaran televisi
ia mengetahui keberadaan pesantren ini. Setelah mempertimbangkan berbagai hal,
ia putuskan untuk mencari pesantren tersebut. Dengan bekal uang pas-pasan ia
nekat berkelana ke tanah Jawa. Dengan berbagai liku, akhirnya ia mampu mencapai
pesantren.
Ibu Shinta menceritakan awal mula
pendirian pesatren. Secara formal, pesantren berdiri tahun 2007. Namun kisah
pendirian pesantren bermula tahun 2006, saat gempa bumi menimpa Yogyakarta, dan
sebagian daerah Jawa Tengah. “Kala itu
semua orang berserah diri kepada yang mahakuasa. Apapun agamanya, semua orang
berserah diri kepada sang khalik”, cerita bu Shinta berkaca-kaca. Ia dan
teman-teman waria pun memiliki kecenderungan sama seperti masyarakat lain.
Sayangnya, daya spiritualnya sering terkendala masalah-masalah social kemasyarakatan.
Saat mereka beribadah, banyak orang yang mencibirnya. “Padahal, keberagamaan kan milik semua orang. Kami juga berhak atas
ibadah. Apakah karena perbedaan orentasi seksual membuat kami terkucilkan dalam
hal ketaatan kepada yang mahakuasa?”, lanjutnya dengan sedikit tekanan.
Saya terdiam pas bu Shinta memberi
tekanan pada kalimat “beragama (khususnya berislam) merupakan hak semua orang”.
Saya merasa ia sedang berusaha mengeluarkan segala unek-uneknya yang selama ini
“dicibir” sebagian masyarakat yang belum memahaminya. Saya teringat dengan
firman Alloh SWT yang menyatakan bahwa yang paling utama diterima Tuhan adalah
keutamaan taqwa manusia. Firman itu juga yang ia ulang dalam diskusi. Lebih
jauh, ia mengungkap beberapa ayat dalan Surat An-nur (saya lupa ayat ke berapa)
yang berkaitan dengan keberadaan waria. Kelihatannya ayat tersebut sering
menjadi pokok bahasan dalam pengajiannya. Dalam hal itu, saya memang harus
“ngaji” lebih banyak refrensi ilmu agama, guna mendapat pengetahuan yang utuh
tentang issue tersebut.
Menurutnya lagi, bahwa dalam sejarah
Indonesia, agama Islam masuk ke Indonesia melalui para Wali – yang dikenal Wali
Songo (Sembilan Wali). Strategi para wali – salah satunya – dalam mengajak
masyarakat Indonesia ke agama Islam melalui penggunaan media kebudayaan dan
seni. Sehingga nilai-nilai agama – secara tidak langsung -- ikut mempengaruhi
dunia seni dan kebudayaan Indonesia. Seni Reog Ponorogo misalnya, sering dipakai
para Wali untuk menyemaikan nilai-nilai Islam di tengah kehidupan masyarakat.
Bila kita perhatikan, pelaku seni reog juga ada yang masuk dalam komunitas
transgender, begitu imbuhnya. Jadi transgender memiliki sejarah panjang dalam
kebudayaan Indonesia.
Adzan Dhuhur bergema, tanda waktu dhuhur
telah tiba. Kami berhenti sejenak. Salah seorang dari mereka menggemakan suara
Adzan di dalam bangunan yang dijadikan Musholla. Waktu makan siang pun tiba.
Kami dipersilahkan untuk makan siang atau melakukan sholat dhuhur.
Masing-masing kami diberi kebebasan. Saat makan siang, kami meneruskan cerita
dan dialog dengan beberapa dari mereka. Kalau dialog tadi terkesan formal, kini
– saat makan siang -- perbincangan bebas mengalir tanpa “aling-aling”. Dengan bebas
sambil tertawa, mereka bercerita kegiatan sehari-hari di aktifitas kerjanya.
Saya pribadi menikmati perbincangan secara bebas ini.
Sambil menenggak minuman ringan, kami
masuk ke dalam ruang gedung yang sering dijadikan ruang belajar ilmu agama. Di
dinding, kami melihat sejumlah foto yang menggambarkan aktifitas pesantren.
Diantaranya saat gempa Yogya, mereka bersusah payah memberikan bantuan tanpa
padang bulu korban. Di sudut lain, saya melihat jadwal pengajian pesantren di
setiap minggunya.
Tepat pukul 15.00 sore, kami menyudahi
perbincangan di pesantren Al-Fatah. Kawan-kawan Australia, Philipina, New Zeland,
dsb berniat ke kawasan candi Prambanan. Begitu kaki kami lepas dari halaman
pesantren, hujan deras mengguyur kampung Notoyudan. Terpaksa kami meneduh ke
pinggiran rumah di gang menuju jalan raya. Hampir 20 menit kami menunggu hujan
berhenti. Namun sia-sia. Makin ditunggu, malah makin deras tumpahaman hujan. Jalan
gang pun dipenuhi luberan air. Setelah dipikir, kami memutuskan untuk tidak
jadi berangkat ke Prambanan, karena lebatnya hujan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar