Rabu, 10 Desember 2014

Pesantren Transgender


Langit Yogyakarta, Rabu, 19 November 2014 cerah. Meski rentetan hujan lebat mengiringi kota pelajar hari-hari ini setiap sore, namun pagi itu mentari muncul gagah. Hari ini peserta event “Festival of Learning” (festival pembelajaran) yang diadakan ASPBAE (The Asia South Pacific Association for Basic and Adult Education), hendak berkunjung ke tempat special. Yaitu lembaga pesantren khusus bagi kelompok transgender, atau masyarakat umum menyebutnya waria. Lembaga tersebut bernama pesantrenAl-Fatah.

Saat mendengar pesantren untuk transgender, saya kaget luar biasa. Dalam hati, saya berguman, “Emang ada ya, pesantren untuk kemunitas transgender ?”. Menarik dan menantang keingintahuanku. Karena yang saya tahu, selama ini sebagian kelompok Islam menolak keberadaan transgender. Jangankan komunitas ini mendirikan pesantren – model pendidikan Islam tertua -- , wong keberadaanya saja sering dicari-cari kesalahannya bahkan beberapa “kelompok tertentu” mengusir keberadaanya dari suatu lokasi. Di sinilah menariknya. Saya makin penasaran, dan ingin mengetahui lebih dalam tentang pesantren transgender. Oleh karenanya, field visit (kunjungan) untuk saling belajar dari lapangan dengan pesantren tersebut menjadi pilihan manarik.



Tepat pukul, 09.00 pagi, bersama kawan dari Pakistan, Australia, Philipina, New Zeland, saya bergegas ke lokasi pesantren. Ia terletak di kampung Notoyudan, Kota Gede, Yogyakarta. Sebagaimana diketahui, daerah Kota Gede merupakan lokasi kraton Mataraman kuno nan lawas. Ia memiliki sejarah panjang kekratonan di Jawa. Di situ, masih bersemayam jejak sejarah peninggalan para raja Jawa, begitu tutur sopir mobil yang menemani perjalanan.

Persis seperti apa yang dicakapkan, saat saya sampai di gang arah pesantren, berdiri bangunan lama yang menyiratkan jejak sejarah itu. Mobil kami diparkir di halaman kantor kelurahan pinggir jalan raya. Beberapa meter, seseorang telah menunggu untuk menjemput. Dari situ kami berjalan menuju sebuah gang. Jalan  yang kami lewati hanya cukup bagi satu mobil. Kiri-kanan gang berdiri bangunan kuno yang sesekali digambari aneka rupa patung – seperti bangunan yang ada di candi Borobudur atau Prambanan. Saya berjalan hampir 10 menit menuju pesantren. Meski daerah peninggalan Mataraman kuno, namun terlihat pula bangunan sekolah Islam dan musholla – mungkin dari dulu, kaum Islam dan Keraton hidup berdampingan. Dari keterangan masyarakat, warga perserikatan Muhammadiyah merupakan penduduk mayoritas. Tak pelak, saat kami berjalan, anak-anak murid sekolah Muhammadiyah sedang duduk santai di pinggiran jalan. Plang musholla Muhammadiyah terpampang di satu sudut pinggiran gang.

Dalam hati, saya berujur, “Ini perpaduan manarik. Sebagian besar warganya pengikut Muhammadiyah. Namun di antara bangunan warga ternyata berdiri pesantren khusus transgender (waria)”. Pandangan sekilas itu makin membuat penasaranku memuncak. Beberapa menit, sampailah kami pada lorong kecil. Dari situ kami membuka pintu sebuah rumah, yang ternyata awal kami harus memasuki lagi ke dalam ruang yang mempunyai pintu lagi. Saat kami buka pintu tersebut, berdiri bangunan tua besar yang dikelilingi rumah-rumah (atau petakan pintu kamar) memagari bangunan di tengahnya. Bangunan itu memiliki latar (teras) yang cukup luas. Di situlah kami dipersilahkan ibu Shinta Ratri, sang ketua pesatren. Mereka telah menunggu kami sambil duduk setengah melingkar di teras. Ibu Shinta duduk di depan – sebagai pusat perhatian – dan di depannya ada meja kecil dengan buku dan kitab suci Al-qur’an mungil. Saya teringat dengan gaya “sorogan” pesantren saat sang kyai memberikan pengajian dengan mengkaji “kitab kuning” di depan santri.

Ibu Shinta menolak disebut “Nyai”, layaknya pemimpin pesantren umumnya  -- biasa pemimpin pesantren kalau laki-laki dinamakan kyai, dan nyai bagi perempuan. Menurutnya ia masih banyak belajar dan mendalami agama. “Kawan-kawan saja yang mendaulat saya untuk memimpin perkumpulan ini”, ungkap ibu Shinta tersenyum.

Setelah basa-basi, ibu Sinta membuka percakapan dengan memperkenalkan santrinya yang berjumlah 42 orang. Dari perkenalan, diketahui bahwa para santri berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti; Medan, Bandung, Wonogiri, Sragen, Yogyakarta dan daerah sekitar lainnya. Setiap santri mengungkap sejarah keikutsertaan dalam pesantren secara bebas, tanpa malu-malu saat perkenalan. Nama-nama yang mereka sebutkan menarik perhatianku. Seperti ada yang menyebutkan dirinya Yetty Rumaropen, dan “YS” atau Yuni Sara (seperti nama artis ibukota yang terkenal), dsb. Katanya sih dia mirip Yuni Sara. (ha..ha..ha.. ya ga apa-apa. Kan bebas menilai diri sendiri). Terus terang, saya pribadi belajar banyak dari pengakuan para santri. Pelajaran hidupnya layak menjadi “kaca diri” bahwa kehidupan Indonesia kaya akan warna. Inilah yang dalam pendidikan popular disebut “lifelong learning” (pembelajaran sepanjang hayat). Belajar dari apa saja yang dijumpai dan saling mempelajari tanpa “prejudice” (penghakiman). Saling timbal balik. Rata-rata mereka memiliki profesi yang beraneka ragam, seperti; juru masak, tata rias salon, tata kecantikan pernikahan, dsb.

Cerita pengalamannya, ada yang mengagetkan dadaku, namun ada juga yang membuat senyum mulutku merekah tanpa sadar. Seorang santri berasal dari Sumatera Utara bercerita penuh liku. Ia datang jauh-jauh dari Medan untuk mencari pesantren khusus waria. Karena sejak dahulu, tepatnya saat ia duduk di SMA, kecenderung seksualnya bukan sebagai lak-laki. Ia resah namun sulit menemukan komunitas yang memahaminya. Dari siaran televisi ia mengetahui keberadaan pesantren ini. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, ia putuskan untuk mencari pesantren tersebut. Dengan bekal uang pas-pasan ia nekat berkelana ke tanah Jawa. Dengan berbagai liku, akhirnya ia mampu mencapai pesantren.

Ibu Shinta menceritakan awal mula pendirian pesatren. Secara formal, pesantren berdiri tahun 2007. Namun kisah pendirian pesantren bermula tahun 2006, saat gempa bumi menimpa Yogyakarta, dan sebagian daerah Jawa Tengah. “Kala itu semua orang berserah diri kepada yang mahakuasa. Apapun agamanya, semua orang berserah diri kepada sang khalik”, cerita bu Shinta berkaca-kaca. Ia dan teman-teman waria pun memiliki kecenderungan sama seperti masyarakat lain. Sayangnya, daya spiritualnya sering terkendala masalah-masalah social kemasyarakatan. Saat mereka beribadah, banyak orang yang mencibirnya. “Padahal, keberagamaan kan milik semua orang. Kami juga berhak atas ibadah. Apakah karena perbedaan orentasi seksual membuat kami terkucilkan dalam hal ketaatan kepada yang mahakuasa?”, lanjutnya dengan sedikit tekanan.

Saya terdiam pas bu Shinta memberi tekanan pada kalimat “beragama (khususnya berislam) merupakan hak semua orang”. Saya merasa ia sedang berusaha mengeluarkan segala unek-uneknya yang selama ini “dicibir” sebagian masyarakat yang belum memahaminya. Saya teringat dengan firman Alloh SWT yang menyatakan bahwa yang paling utama diterima Tuhan adalah keutamaan taqwa manusia. Firman itu juga yang ia ulang dalam diskusi. Lebih jauh, ia mengungkap beberapa ayat dalan Surat An-nur (saya lupa ayat ke berapa) yang berkaitan dengan keberadaan waria. Kelihatannya ayat tersebut sering menjadi pokok bahasan dalam pengajiannya. Dalam hal itu, saya memang harus “ngaji” lebih banyak refrensi ilmu agama, guna mendapat pengetahuan yang utuh tentang issue tersebut.

Menurutnya lagi, bahwa dalam sejarah Indonesia, agama Islam masuk ke Indonesia melalui para Wali – yang dikenal Wali Songo (Sembilan Wali). Strategi para wali – salah satunya – dalam mengajak masyarakat Indonesia ke agama Islam melalui penggunaan media kebudayaan dan seni. Sehingga nilai-nilai agama – secara tidak langsung -- ikut mempengaruhi dunia seni dan kebudayaan Indonesia. Seni Reog Ponorogo misalnya, sering dipakai para Wali untuk menyemaikan nilai-nilai Islam di tengah kehidupan masyarakat. Bila kita perhatikan, pelaku seni reog juga ada yang masuk dalam komunitas transgender, begitu imbuhnya. Jadi transgender memiliki sejarah panjang dalam kebudayaan Indonesia.

Adzan Dhuhur bergema, tanda waktu dhuhur telah tiba. Kami berhenti sejenak. Salah seorang dari mereka menggemakan suara Adzan di dalam bangunan yang dijadikan Musholla. Waktu makan siang pun tiba. Kami dipersilahkan untuk makan siang atau melakukan sholat dhuhur. Masing-masing kami diberi kebebasan. Saat makan siang, kami meneruskan cerita dan dialog dengan beberapa dari mereka. Kalau dialog tadi terkesan formal, kini – saat makan siang -- perbincangan bebas mengalir tanpa aling-aling. Dengan bebas sambil tertawa, mereka bercerita kegiatan sehari-hari di aktifitas kerjanya. Saya pribadi menikmati perbincangan secara bebas ini.

Sambil menenggak minuman ringan, kami masuk ke dalam ruang gedung yang sering dijadikan ruang belajar ilmu agama. Di dinding, kami melihat sejumlah foto yang menggambarkan aktifitas pesantren. Diantaranya saat gempa Yogya, mereka bersusah payah memberikan bantuan tanpa padang bulu korban. Di sudut lain, saya melihat jadwal pengajian pesantren di setiap minggunya.

Tepat pukul 15.00 sore, kami menyudahi perbincangan di pesantren Al-Fatah. Kawan-kawan Australia, Philipina, New Zeland, dsb berniat ke kawasan candi Prambanan. Begitu kaki kami lepas dari halaman pesantren, hujan deras mengguyur kampung Notoyudan. Terpaksa kami meneduh ke pinggiran rumah di gang menuju jalan raya. Hampir 20 menit kami menunggu hujan berhenti. Namun sia-sia. Makin ditunggu, malah makin deras tumpahaman hujan. Jalan gang pun dipenuhi luberan air. Setelah dipikir, kami memutuskan untuk tidak jadi berangkat ke Prambanan, karena lebatnya hujan. 

Dalam perjalanan pulang, pikiranku melayang jauh ke langit. Dengan tatapan kosong, saya memandang rintik-rintik hujan yang jatuh di kaca jendela mobil. Di sela-sela itu, batinku berujar,Asli, saya belajar atau “ngaji” banyak hal dari diskusi  hari ini. Pertemuan ini menjadi ajang saling belajar yang kini makin langka. Itulah pendidikan orang dewasa. Dimana dan kapan saja kita bisa belajar dari kondisi dan situasi apapun. Indonesia kaya akan keberagamaan dan aneka jenis kebudayaan serta suku bangsa. Manusia (termasuk saya) wajib terus belajar dari keanekaragaman ini. Bila tidak, maka ia tergilas dengan situasi yang terus berkembanglanjutku. Meminjan istilah Alfin Adam – dalam tayangan “Just Alfin” --, bahwa diskusi hari ini memberikan saya dan para pembaca “value lain” dari sepotong Indonesia. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar