Sejak 2015, saya sudah 3 kali berkunjung
ke Sawahlunto. Namun sesering itu ke Sawalunto, saya belum pernah menginap di
kota yang berlokasi di pegunungan Sumatera Barat. Biasanya, saya menginap di
kota Padang. Tepat pukul 06.00 pagi, saya berangkat dari Padang menuju
Sawahlunto, dan kembali jam 21.00 malam. Hasilnya, cepek bukan kepalang sekujur
badan kala itu.
Kini dalam kunjungan 20 Mei 2016, saya menginap
di kota yang terkenal dengan sebutan kota tua Indonesia. Agak lambat dari
biasanya, pukul 07.00, saya berangkat dari kota Padang menuju Sawahlunto dengan
mobil. Terik matahari memanas meski masih pagi. Tidak ada tanda-tanda turun
hujan. Tiga jam setengah perjalanan kulampaui hingga akhirnya sampai di kota
tersebut. Berbagai kegiatan (sebagai tugas pekerjaan) saya lalui dari pagi
hingga jam 15.00, sore.
Begitu selesai beraktifitas, saya bersegera
ke hotel yang dipesan kawanku di Sawahlunto. Sebelum sampai hotel, kawan saya
mengajakku berkunjung ke “Musium Goedang
Ransoem”. Kaget dan heran. Asli, saya tidak mengerti apa itu “Musium
Goedang Ransoem”. Sesampainya, saya dihadang loket pembayaran dan diwajibkan membayar
tiket Rp 4.000 per orang. Begitu pintu utama museum dibuka, perempuaan penjaga
menyambut dan memintaku mengisi buku tamu. Dia bertanya dari mana asal dan
rumahku. Saya menjawab di Bogor, Jawa Barat.
Kemudian, ia mempersilahkanku menonton
film dokumenter musium. Dari film, saya perlahan mengerti bahwa musium ini
merupakan dokumentasi hidup sejarah gudang penyimpan dan pembuatan makanan warga
Sawahlunto (dan buruh perusahaan batubara) dan para menir Belanda. Gedung
tersebut mampu memasak makanan bagi 6.000 karyawan perusahaan batubara dan
warga Sawalunto, yang saat itu kelaparan hebat.
Setelah menonton film, penjaga mengajakku berkeliling museum. Pertama, saya menemui tungku raksasa
untuk memasak sayuran dan air. Terlihat di hadapanku 6 tungku, berukuran besar
sekali, terbuat dari baja. Di samping tungku, tersedia alat atau tongkat untuk
megaduk sayuran dan nasi. Tungku-tungku raksasa masih asli beserta tutupnya,
dan rantai sebagai pengikatnya. Saya bisa membayangkan bagaimana sibuknya para chef (ahli masak) dan pekerja lainnya,
mengaduk nasi dan sayuran bagi 6000 manusia.
Di depan tungku, ada wajan raksasa untuk menggoreng
aneka lauk pauk sebagai pelengkap nasi dan sayuran. Dan di bawahnya, terhampar
aliran api batubara yang diambil dari kompor raksasa di luar gedung untuk
memasak.
Di depan wajan, ada alat masak lain,
seperti; centong raksasa, pisau untuk memotong sayuran, dan aneka jenis lauk
pauk (miniatur) yang pernah menjadi jenis makanannya. Di situ tertulis bahwa para
menir Belanda memberi jatah makanan kepada buruh perusahaan batu bara sesuai
takaran lauknya. Yaitu; jumlah protein sekian persen, kalori, dsb. Tidak jauh
dari itu, batu nisan untuk menanda kaki manusia rantai. Alasanya, supaya
manusia rantau tidak lari saat memasak atau bekerja di perusahaan batubara.
Di tahap inilah, saya baru memahami bahwa
yang bekerja di perusahaan batubara milik Belanda adalaha orang rantai. Apa itu
manusia rantai? Yaitu orang-orang yang selama ini ditahan Belanda karena
kejahatannya dari berbagai daerah, dan kemudian dikirim ke Sawahlunto untuk
menjadi buruh penggalian batubara. Mirip kerja tanam paksa…..
Selain sebagai buruh perusahaan batubara,
mereka juga diberdayakan untuk bekerja sebagai pemasak dan pengangkut beras
atau makanan lainnya (seperti gula pasir, tepung, dsb). Saat mereka bekerja,
rantai tetap mengikat di kakinya dengan nomor di batu nisan. Mereka dipaksa
untuk bekerja. Apa bedanya mereka dengan
budak atau sejenisnya ya….
Setelah itu saya pergi keluar gedung dan mendapati
bangunan besar lainnya. Bangunan itu merupakan lokasi pembakaran batubara dari
kompor raksasa. Dari pembakaran itulah uap batubara mengalir melalui pipa bawah
tanah menuju tengku besar di ruang masak. Di samping gedung pembakaran batubara,
tugu menara mejulang tinggi sebagai cerobong pembuangan asap ke udara. Bangunan
itu masih kokoh dan masih menyimpan arsitektur colonial Belanda.
Di depan banguan cerobong, ada lapangan
luas sekali. Menurut penjaga museum, disitulah menir Belanda membagikan makanan
kepada pekerja dan masyarakat yang meminta jatah. Di dalam diorama (lukisan dan
foto musium), terlihat anak kecil sedang memohon kepada menir Belanda untuk
membantu mengangkut bahan makanan dengan harapan mendapat imbalan nasi sekedarnya.
Alangkah mirisnya, saya melihat dan membayangkan rakyat Sawahlunto kala itu ?
Mereka antri dan berdesak-desakan untuk mendapatkan sepiring nasi dari Belanda.
Saya tercekat, dan tertunduk lesu sedih……
Ada satu bangunan lagi di depan-pojok
lapangan. Ia merupakan gedung tanpa sekat sebagai penyimpanan makanan kering seperti;
beras, gula, jagung dsb. Kini, ia dipakai museum untuk lokasi pembelajaran
iptek anak-anak. Sementara di depannya, gerobak berukuran besar sebagai “ambulan”
untuk membawa pekerja yang sakit yang digerakkan sapi atau kuda, dan bila tidak
ada maka manusia menggantikannya.
Oh ya, ada satu gedung tua di ujung
cerobong asap. Yaitu tempat pemotongan hewan atau penjagalan. Tempat itu kini menyatu
dengan rumah masayarakat. Saya tidak berani melihatnya, karena tempatnya kotor.
Jijik……
Secara psyikologis batinku lelah, setelah
mengikuti rangkaian penglihatan bangunan dan bekas pijakan pekerja dan mandor
batubara. Aku membayangkan bagaimana manusia rantai dan rakyat Indonesia bekerja
melayani Belanda. Mereka – para pekerja – tidak mendapatkan apa-apa. Mereka
dipaksa bekerja. Sementara Belanda (kala itu diwakili VOC) mengeruk ketuntungan
batubara, dan menjualnya ke pasar global. Saat itu, harga batubara menanjak. Jenis
batubara Sawahlunto merupakan salah satu terbaik di dunia. Diperkirakan nilai
kandungannya mencapai raturan ton…(silahkan pembaca cek di google…)
Selesai mengunjungi musium, saya pergi ke
penginapan. Kawanku memesankan hotel “Ombilin”. Sejarahnya, fasilitas hotel
dibangun untuk memenuhi kebutuhan penginapan tamu dan pejabat perusahaan atau
pemerintah Belanda yang berkunjung ke Sawahlunto. Dalam perjalanan sejarah –
seperti tertulis di batu nisan --, gedung ini mengalami fungsi. Diantaranya;
pernah menjadi asrama tentara Belanda masa agresi I dan II, sebagai kantor
polisi resort Sawahlunto, sebagai klinik perusahaan tambang Batubara Ombilin,
dan sebagai wisma Ombilin. “Ih…ngeri juga
ya ini bangunan. Ternyata telah tua dan dipakai orang dengan berbagai
peruntukan…”, keluhku saat membaca sejarah hotel Ombilin.
Kini, bangunan tersebut menjadi “heritage” (bangunan yang dilindungi pemerintah
kota) kota tua pemkot Sawahlunto. “Pantes
saja. Bangunannya terlihat tua dan beraksen aristokrat Belanda”, ungkapku
setelah memandang terktur bangunan.
Tak dinyana, kawanku memesankan untuku kamar
super delux, berbentuk cottage. Memang sih harganya paling
mahal dari semua tipe. Bersama petugas hotel, saya meninjau kamar tersebut. Ia
berada di paling ujung, dan pojok gedung dari areal hotel. Cottage tersebut
terkesan tua. Pintunya bergaya bangunan lawas Belanda. Gagang pintunya beraksen
Eropa klasik yang menua. Saat saya buka pintunya, hawa dan aroma zaman lampau
mendesir menerpa wajahku sesaat. Rambut tipis kulit lenganku berdiri pelan…ihh
ngeri…..
Cottage itu berisi 3 kamar. Setiap
kamarnya memiliki lebar dan luas cukup untuk bermain pingpong. Di dalamnya ada
ruang tamu dan kamar mandi serta dapur. Kelihatannya, cottage tersebut cocok
bagia tamu berkeluarga. Saat itu, bagunan tersebut sepi sekali. Hanya saya yang
hendak menempati kamar dan bangunan itu.
Setelah kupir, saya putuskan untuk tidak
mengambil kamar itu. Saya memilih kamar yang kecil yang dekat dengan
resepsionis. Kamar itu cukup luas. Ada tempat tidur dan ruang tamu serta kamar
mandi. Sayang memang, bangunan hotel yang merupakan hertigae terkesan tidak
terawat. Kamarku banyak yang harus diperbaiki. Atap kamar mandi sudah keropos. Sementara
krannya berfungsi tidak maksmial. Lubang airnya terkesan jaranag dibersihkan.
Sehingga terkadang air masih menggenang. (Pengelola
hotel…..tolong dong diperbaiki…..). Sayang ya…Padahal informasi tertera di
dinding hotel, menyertakan bahwa penginapan Ombilin merupakan cagar budaya.
Asli, saya masih merasakan hawa masa
lampau di hotel tersebut. Apalagi saat hari minggu – hari terakhirku tinggal di
situ – tiba-tiba lonceng berdentang bertalu-talu dari gereja yang berlokasi
persis di belakang hotel, pukul 07.00. Ia berhadapan dengan cottage di pojok
hotel. Mungkin itu merupakan satu-satunya gereja di Sawahlunto. Ia juga cagar
budaya peninggalan Belanda untuk mengakomodasi ibadah warga katoliknya.
Disampingnya, sekolah dasar dan SMP Santa Ursula. Di depannya jalan raya utama.
Sementara seberangnya di bangunan pertokoan yang belakangnya mengalir sungai
membelah kota dengan bangunan pabrik batubara yang kini bernama PT Bukit Asam. Di
situ, stadiun sepak bola dan sarana olahraga lainya terhampar indah. Indah dan
eksotik luar biasa, rancangan Belanda dalam mendesain kota di atas lembah dan
perbukitan. Luar biasa, mengagumkan…..
Hotel Ombilin, sejatinya teramat
strategis. Ia terletak di pusat kota. Di depannya, gedung pusat kebudayaan
Sawahlunto. Di sampingnya restoran jalanan yang menjual aneka makanan. Di pojok
lainnya, gallery yang menyambung dengan gedung kebudayaan. Bangunanya tetap
asli nan eksotifs, bergaya eropa pertengahan.
Bila malam menjelang -- seperti malam itu
--, saya keluar mencari makan malam. Di samping gedung kebudayaan atau di depan
lapangan PT Bukit Asam, aneka makanan merakyat tersaji. Menunya standar,
seperti; sate padang, mie ayam, bakso, nasi goreng, dsb. Khusus untuk hal
kuliner ini, saya kurang puas dengan sajiam makanan di Sawahlunto. Tidak banyak
pilihan restaruran. Akhirnya, saya makan sate padang di depan hotel Ombilin.
Malam itu, tidak ada agenda di gedung kebudayaan. Tak terasa, jam menunjukan pukul
22.00 malam. Sayup-sayup keramaian sore yang sempat mengular di gedung
kebudayaan dan pelataran gedung PT buit Asam, mereda. Saya balik ke hotel dan
tidur.
Dalam lamunan malam sebelum tidur, saya
terkenang nasib orang rantai yang bekerja secara “paksa” di perusahaan batubara
dan gudang ransoem sebagai penyedia makanan. Tak tak tahu kenapa malam itu,
saya sulit tidur. Mata terlelap sebantar. Namun saat jam 12.00 malam, saya
bangun kembali. Saya tidak bisa tidur lelap sebagaimana biasanya. Tidak tahu
apa penyebabnya. Apakah karena saya tidur di tempat baru, apalagi ini merupakan
bangunan lama yang dibangun Belanda sejak 1918.
Besok hari, Sabtu, 21 Mei 2016, jam
15.30, setelah menyelesaikan pekerjaan di satu desa, untuk memenuhi rasa penarasanku
terhadap orang rantai, saya mendatangai Trowongan
mb Soero. Matahari bersinar panas di atas kepalaku. Saya menyusuri jalan
raya sebelah kiri hotel Ombilin. Hanya 10 menit, saya tempuh perjalanan mencapai
gedung bernama “Info Box, Galeri Tambang
batubara & Lubang tambang mbah Soero”. Saat pintu gedung dibuka,
seorang penjaga menyapaku. Saya memngisyarakan untuk berkunjung ke trowongan.
Ia memintaku untuk menunggu sebentar, karena harus ditemani gued gallery.
Beberapa menit sang gued hadir. Saya diminta unutk membayar tiket Rp 8.000 per orang.
Sebelum perjalanan dimulai, saya naik ke lantai atas untuk melihat foto-foto dan
informasi seputar galian batubara dan peran orang rantai. Di situ tertera kisah
sejarah asala muasal “trowongan mb Soero”. Nama trowongan itu diambil dari nama
sang mandor yang berasal dari Jawa, yang dinilai Belanda sebagai karyawan
teladan dan memiliki kesaktian mandraguna. Mb Soero juga merupakan pekerja
keras, tegas, taat beragama dan disegani para buruh dan masyarakat sekitar.
Sementara lobang mbah Soero, merupakan lobang tambang pertama di lembah Soegar
yang dibuka pada tahun 1898.
Gedung ini merupakan bekas bangunan
pertemuan buruh untuk mendiskusikan berbagai kegiatan, dan kegiatan hiburan
seperti wayang kulit dan pemutaran film layar tancap setelah galian ditutup. Selain
itu, bangunan tersebut adalah lokasi penumpukan batubara hasil galian dari
lobang tambang mab Soero. Ia dibangun tahun 1947.
Setelah melihat foto-foto sejarah, saya
turun dan berjumpa kembali dengan gued. Ia memintaku untuk memakai peralatan
safety berupa; topi dan sepatu ala penambang batubara. Saat saya mau berangkat
ke trwowongan, sejumlah anak mahasiswa datang bergabung. Jadilah kami ber 8
orang berangkat menuju trowongan. Di depan trowongan, patung manusia (orang-orang
rantai) yang menggabarkan aktiftas pertambangan batubara dan mandornya. Pintu
trowongan masih terkunci.
Sang gued membuka pintu trowongan. Dag dig dug perasaanku kala itu. Aslinya
trowongan itu gelap sekali. Saat pintu terbuka, hawa gelap dan bau batubara
tercium jelas. Satu persatu, anak tangga kami turuni. Dinding trowongan sekuran
2 meter atau cukup untuk dua orang masuk, berair. Air menetes pelan-pelan dari
dinding yang berbalut batubara berwarna hitam. Diperkirakan panjang trowongan bermeter-meter,
yang mempanjang hingga ke beberapa bukit di depannya. (Bagaimana cara membangunnya ya….)
Meski sudah ada lampu di setiap sudut
tikungan trowongan, sang gued tetap membawa lampu senter yang pancaranya bisa
menembus jauh ke depan. Beberapa meter dari trowongan, ada cekungan lubang
besar untuk berdiri 2-3 orang. Tempat itu seperti terminal untuk pemberhentian
orang, supaya tidak tertabrak orang lain yang membawa batubara. Artinya, supaya
tidak bertabrakan, ia harus parkir sebentar di lobang tersebut. Tiba-tiba kami
berhenti di satu titik. Di depan kami, jalan trowongan tertutup dengan pintu
besi. Menurut gued, trowongan itu sengaja ditutup karena belum diperbaiki.
Sejatinya masih ada jalan lagi hingga lavel 1, bagitu ungkap sang petugas.
Sementara tempat yang kami berdiri masih
di level 7. Jadi masih awal sekali. Meski begitu, rambut kulit tanganku
beridiri tiba-tiba. Sepi dan gelap sekali. Air dingin dari batubara tiba-tiba
menetes tanganku yang tak terlindungi. Saya seperti membayangkan bahwa di
tempat ini, lalu lalang orang rantai sibuk mengantar batubara, dan yang lain
memacul dan mengeruk batubara dari dinding dan gundukan didepannya. Ihhhhh, ngeri…..
Karena trowongan di depan ditutup, sang gued
(petugas) mengarahkan kami untuk berjalan ke arah kanan. Kami berjalan lurus
dan menemui cekungan untuk tempat pemberhentian. Di sebelah kanan, beberapa
meter kami menemui pintu besi yang menutupnya. Menurut gued jalan kesana belum
diperbaiki. Masih ada tulang dan tengkorak kepala manusia di trowongan tersebut
(Uhh..makin ngilu perutku mendengarnya….).
Oleh karena itu, pemkot Sawahlunto akan menertibkannya.
Di akhir perjalanan, sang gued berkata
bahwa sebelum trowongan dibuka untuk umum, pemkot sangat mewanti-wanti
keselamatan pengunjung. Ini karena trwongan ini sejatinya merupakan tempat
bersemanyamnya mayat orang-orang rantai yang berkerja untuk menggali batu bara.
Saat menggali itulah, karena sakit atau tenaga tidak kuat, ia meninggal di
situ. Karena membutuhkan tenaga dan biaya, Belanda – pemilik perusahaan –
membiarkan mayat tertinggal di situ. Makanya banyak makhlut halus yang masih
bersemanyam di trwongan tersebut. Menurutnya, acara “Jalan-jalan bersama Tuku
Arwana” yang ditayangkan trans 7 pernah shooting di sini juga.
Mendengar penjelasan itu, rasa ngeriku
timbul kembali. “Ihhh…mengerikan juga ya…”.
Iseng-iseng, saya mengeluarkan smart
phone untuk mengambil beberapa gambar suasana dalam trowongan. Khususnya
tempat dimana bekas tulang dan tengkorak kepala orang rantai berada. Eh….tiba-tiba
kameraku tidak bisa menyala. Saya coba lagi berkali-kali, namun tetap tidak mau
nyala. Akhirnya saya berfikir dan makin yakin, kalau di sekitarku sedang ada
apa-apanya.
“Ih…..suasana
nya kok jadi membuat makin mengerikan ya….” Begitu keluhku dalam batin.
Akhinrya saya meminta gued untuk segera menyudahi perjalanan tersebut. Saat
kami keluar dari pintu trowongan, ternyata telah berada jauh di luar areal
darimana kami masuk gedung inbok tadi. Tanpa sadar, kami berarti berjalan di
bawah tanah dan diatasnya jalan raya yang dilalui kedaraan dan pejalan kaki.
Memang Belanda ahlinya membuat big tunnel
bawah tanah…






Tidak ada komentar:
Posting Komentar