Kamis, 26 Januari 2017

Akar Kekerasan dalam Pendidikan



Sedih. Marah dan geram. Hati ini serasa bergelora begitu membaca kekerasan pendidikan terjadi lagi. Lagi dan Lagi. Muhammad Fadhili (20), Syaits Asyam (19), dan Ilham Listia Adi (20), tiga mahasiswa UII (universitas Islam Indonesia), Yogyakarta, meninggal dunia setelah mengikuti pendidikan dasar organisasi pencita alam, 13 -20 Januari 2017. Mereka mengikuti almarhum Amirullah Adityas Putra, siswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, yang dianiaya seniornya, Rabu, 11/1/17, serta Dimas Khilmi, Kamis (12/1/17), santri pondok Modern Slamat, Kendal, wafat akibat dianiaya temannya. Dalam sebulan ini sudah 5 nyawa hilang akibat kekerasan dalam pendidikan. Sebagai orang tua – yang mempunyai anak --, asli, saya takut dan was-was dengan nasib anak yang sedang berlajar di lingkup pendidikan. Nasib anak di pendidikan laksana sedang menjadi “daftar tunggu” (list) korban berikutnya. Tragis….

Yang tak habis pikir di benak kami sebagai warga adalah tindakan anak didik yang melakukan kekerasan terhadap teman atau yuniornya. “Asupan” gizi pendidikan model apa mereka terima? Sehingga mereka bersikap “sadis” terhadap teman didiknya?

Kamis, 12 Januari 2017

Terdampar di Hutan Sawit Sekadau



Gemuruh kecil sayu-sayup kudengar bersautan dengan bunyi mobil travel. Meski itu berarti bertanda hujan, namun awan di langit masih cerah-pucat. Hari itu, 14 November 2016, aku hendak berkunjung ke desa Sapuak, kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Guna mempersingkat waktu perjalanan, mobil travelku melewati jalan yang tidak biasa atau jalan pintas. Ini karena, keberangkatanku sudah terlambat. Pukul 09.30 pagi, kami baru dijemput dari hotel Santika oleh driver travel Pontinak-Sekadau. Seperti diketahui, perjalanan Pontianak ke Sekadau memakan waktu seharian penuh (kalau tidak salah, kayak perjalanan Jakarta – Yogyakarta….). Jadi normalnya, bila berangkat dari Pontianak jam 07.00 pagi, maka aku sampai di Sapuak, Sekadau, sekitar pukul 16.00 sorean.

Berbekal jalan pintas itulah, saya dan penumpang mobil travel beserta sopirnya optimis akan sampai di lokasi tujuan tepat waktu. “Kira-kira pukul 16.30 an sore lah. Mentok-mentoknya, kita sampai ke tempat penginapan, daerah tujuan, sekitar pukul 16.00 sore. Pas matahari terbenam,” ungkap sang sopir optimis.  Dan biasanya, hujan turun selepas sore hari atau Magrib. Dengan begitu, ini berarti, saya nyampe ke sana diharapkan sebelum turun hujan. Sang supir menyemangati kami bahwa sesuai pengalamannya, mukjizat selalu hadir mengiringi perjalanannya. Hujan akan hadir selepas kedatangan. Semoga.