Bulan September – khususnya tanggal 8 --, masyarakat selalu
memperingatinya dengan hari keaksaraan. Sayang, tingkat keaksaraan warga kini
“dihujat” habis-habisan. Semua masyarakat menuntut bahwa “manusia ber-aksara”
merupakan makhluk cerdas yang menjadi sumber kedamaian, pendobrak kebodohan,
pembersih “kesimpang-siuran” berita mejadi penjernih khabar. Artinya, makna
“keaksaraan” kini tidak sekedar “baca dan tulis”. Dikenal “calistung”. Karena, keaksaraan
calistung tidak cukup mampu “memfilter” aneka HOAK dan ujaran kebencian lainnya.
Kementrian Pendidikan Nasional RI bangga dengan
penurunan angka buta aksara setiap tahun. Setiap 8 September, penurunan angka
keaksaraan menjadi berita keberhasilan. Data Kemendikas menyebutkan tahun 2014,
jumlah buta aksara sebesar 5,9 juta penduduk, tahun 2015 turun menjadi sebesar
5,7 juta, dan tahun 2016 juga diperkirakan terus berkurang. Sayang, penurunan
ini kelihatannya masih di keaksaran calistung. Sementara level keaksaraan yang lebih
tinggi, masih menjadi cita-cita warga Indonesia.
