Senin, 17 Mei 2021

Hinako, Pulau Eksotik dan Warganya Yang Ramah


Hinako adalah nama pulau di Kepulauan Nias, provinsi Sumatera Utara. Ia menyimpan kekayaan luar biasa, dan keramahan penduduk khas kepulauan yang hangat, bak saudara, peduli, dsb. Berikut ceritaku singgah sehari disana.

Hujan turun selebat-lebatnya Selasa 16 Februari 2021. Ia bagai mengamuk tak henti. Jam dinding menunjukan pukul 03.30 pagi. Gelap tak berbintang. Kotamadya Gunung Sitoli pagi itu bagai menengadah pasrah atas kehadiran air hujan. Patut dimaklumi, karena beberapa hari terakhir pulau ini kering kerontang. Panas terik tak henti-henti menyengat penduduk dan seisinya.

Jam 10.00 pagi saya bersama rombongan CU Pesada (Credit Union Perkumpulan Sada Ahmo) pergi pulau Hinako, di kec. Nias Barat. Untuk menuju ke sana, kami harus naik mobil dari Gunung Sitoli ke ujung daratan Sirombu di kab. Nias Barat. Sirombu merupakan kecamatan bagi desa yang berada di darat dan pulau kecil sekitarnya, termasuk Hinako. Kecamatan ini terletak di pesisir barat Pulau Nias berbatasan dengan Samudra Hindia. Selain pulau Hinako, ada pulau Asu, pulau Lang, Hinako Island. 

 

Perjalanan dari kota Gunung Sitoli ke ujung daratan Sirombu sekitar 76 km, dengan waktu 2,5 - 3 jam. Pas jam 12.30, kami sampai di dermaga Sirombu. Terik panasnya bagai tak bertepi. Ia menyengatkan kulit badan dan melelahkan tubuh. Guna menunggu speed boat, kami berdiam di mobil travel  dan sesekali ke luar, melihat suasana dermaga guna mengusir penat. Beberapa orang terlihat memancing di sandaran pelabuhan. Sepi tak seramai pelabuhan, tempat bersandar kapal pada umumnya.

Pelabuhan Sirombu dibangun Pemerintah RI paska tsunami dan gempa 2005. Sepanjang perjalanan menuju pelabuhan, terpampang sisa-sisa bangunan tak berpenghuni penduduk dari hantaman tsunami. Beberapa vila dan penginapan mencoba bangkit dengan tetap menerima tamu. Terlihat dari papan nama, “Marco Beach”, “Toziro Bach”, dsb. Meski begitu, banyak bangunan tak terpenghuni mangkrak berserakan di sejumlah bibir pantai. Tertulis di salah satu sudutnya, “tanah ini diwakafkan”. Mungkin penghuninya sudah tidak mau tinggal di tanah itu lagi. Tanah dan bangunan sepertinya tak diminati masyarakat pemiliknya paska stunami dan gempa. Daerah bibir pantai yang tadinya ramai dan pusat hiburan serta pusat pariwisata, kini lenggang dan sepi. Pusat keramain terkosentrasi di beberapa titik, yang mau ingin dibangkitkan kembali. Mungkin hampir 15 tahun semenjak tsunami, namun keramian masih belum terasa.

Setengah jam berlalu. Speed boat putih muncul dari tengah laut, memaksa kami bersiap di bibir dermaga. Awalnya, kami ragu dengan kemunculan speed boat. Sebab, kebutuhan pokok seperti; beras, minyak goreng, telur, dll, menyertai spead boat. Namun awaknya meyakinkan bahwa inilah kapalnya.

Terkait bahan pangan pokok yang menyertai spead boat kami, merupakan strategi warga pulau meringankan biaya pengiriman logistik. Ini beralasan, karena di hari itu belum ada kapal berlayar mengangkut penumpang dari daratan ke pulau atau sebaliknya. Otomatis pengiriman barang pokok pun absen. Biasanya dua kapal umum sehari berisi penumpang dari Sirombu ke Hinako berlanjut ke pulau Asu hadir melenggang di laut.

Posisi ketinggian dermaga dengan speed boat berjarak. Ada jeda antara 50 cm hingga 1 meter dari dermaga ke bibir spead boat. Makanya kami kesulitan melangkah ke speed boat dari bibir dermaga. Semua orang dan awak kapal membantu penumpang turun ke boat. Dengan perjuangan, Alhamdulillh, semua kami berhasil menaiki kapal. Dimulailah perjalan menyusuri laut di tengah terik siang. Air laut berwana kebiruan dan jernih. Ini pertanda sehatnya ekologi biota laut dan karang sebagai tempat tinggalnya. Sapuan ombak tak besar. Ia hanya memercik kecil menghantam spead boat.

Deretan pulau kecil berjejer sekitar Hinako


Kira-kira setengah jam spead boat kami membelah luasan samudra laut. Di tengah perjalanan, kami disuguhi pemandangan deretan pulau lain -- yang mungkin belum bernama -- sepanjang pelayaran. Deretan pulau tak berpenghuni terlihat di sejumlah sudut. Namun, ada juga pulau yang memperlihatkan barisan rumah dan pohon kelapa di bibir pantai. Kesamaannya, hamparan pohon kelapa tumbuh subur di pulau tersebut. Dan berbagai bongkahan karang  yang berlobang karena diterpa bulir ombak di bibir pulau.

Tak terasa kecepatan spead boat melemah. Itu pertanda pulau Hinako sudah dekat. Betul saja, terpampang tulisan di dermaga kecil bertulis “Selamat Datang ke Pulau Hinako” menyambut pengunjung. Pulau ini terdiri dari 6 desa, dimana Hinako menjadi salah satu namanya dan masuk dalam kecamatan Sirombu, kab. Nias Barat.

Sayangnya, tak ada hotel dan penginapan di sana (paling tidak hingga tulisan ini disusun). Bila wisatawan luar pulau ingin bermukim dan tinggal beberapa hari, mereka harus menyatu dengan penduduk lokal. Atau tinggal di rumah penduduk lokal. Fasilitasnya pun seadanya, sama dengan apa yang penduduk lokal biasa gunakan.

Di ujung dermaga, ada bangunan baru dilengkapi kursi permanen dimana calon penumpang kapal ke daratan berkumpul. Di sini, sinyal telpon (telkomsel) kuat dan nyaring. Saat malam penuh bintang hadir, anak2 muda pulau berkumpul di sana untuk seutas sinyal, berkomunikasi dengan dunia luar. Kapal laut bertipe spead boat datang sesuai kebutuhan. Minimal satu kali di pagi hari dan sore..

Dan itulah yang saya bersama teman berkunjung ke pulau alami. Beserta aktifis Pesada hendak membangun kelompok swadaya masyarakat melalui Credit Union, saya tinggal di salah satu penduduk. Rumah-rumah penduduk berlokasi sekitar 50-100 meter dari bibir pantai.

Sesampai di satu rumah penduduk, kami berbincang ringan dengan tuan rumah. Dari obrolan singkat, rata-rata pekerjaan penduduk (laki-lakinya) merupakan nelayan dan penyelam pencari ikan, kepiting, lobster dsb di lautan. Berbagai macam ikan dan produk laut tersedia tak terbatas di sana. Terkhusus kepiting lobster, ia melimpah bagai tak berspasi di hamparan lautan sekitar pulau. Kami sempat membeli lobster segar seharga Rp 100 rupiah (isi 5 ekor…murah kan) dari nelayang langsung besok pagi, saat  berenang di pinggir dermaga. Lobster menjadi sajian makan siang besok hari.

Topografi dan kekerabatan warga pulau menjadi perhatianku. Mereka semua layaknya baku bersaudara satu dengan yang lain. Dan memang betul, rumah tangga tinggal memiliki sejarah asal usul saudara yang merujuk kepada nenek dan kakek yang sama. Luas pulau yang beberapa kilometer betul-betul telah merekatkan rasa persaudaran warga. Semua rumah dan penduduk mengenal masyarakat yang tinggal di sana. Masyarakatnya ramah dan mudah menyapa orang yang hadir di pulau. Tingkar kejahatan pun rendah sekali. Mereka mudah sekali menerima orang yang terlihat baik kepadanya.

Air laut yang biru tempat cocok berenang


Makanya saat sore hari kami berjalan keliling pulau menuju pantai di salah satu pojok laut, warga yang ditemui senyum ramah, sekaligus bertanya. “Bapak Siapa ya. Kok baru saya kenal ?”, sapa seorang warga. Untung anak tuan rumah berjalan disampingku menjawab cepat bahwa mereka adalah tamunya. Secepatnya warga mengangguk. Saat kami berjalan pulang dari sudut pantai indah, seorang perempuan petani pengunduh kelapa muda dengan ringan memberi buah muda segar kepada kami. Manis sekali air dan buah kelapa muda pulau. Rasa yang original yang diberi dari tangan perempuan muda tulus. Gratis pula. Ia tidak mau menerima uang dari kami untuk harga kelapa mudanya.

Kalau mau jujur, tanah pulau ini teramat subur. Tanah dan bumi sebagai ruang berpijak dan rumah berdiri laksana hutan belantara di daratan. Berbagai buah-biahan dan sayuran tumbuh bak cendawan di musin hujan. Mangga, kuwaeni, sawo, kedondog, ubi dsb berserakan di mana-mana. Pohon kelapa juga tumbuh tak batas di setiap sudut jengkal tanah pulau. Buah kelapa mudanya manis alami. Menurut saya buah kelapanya berjenis premium. Ini terbukti dari olahannya dalam bentuk VCO (virgin coconut oil) berwarna putih dan bening. Mungkin kita bisa mengaca untuk berhias.VCO merupakan minyak kelapa yang cara buatnya diekstraksi dari buah kelapa dan sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Cara buatnya dengan kopra atau daging kelapa kering yang dikeluarkan dari batok dan ditekan untuk mengekstrak minya secara alami. Sayang semua aneka produk turunan kepala belum diolah dengan baik.

Buah kelapa di sini dijual hanya Rp 1.500 rupiah per buah. Warga menjual dalam bentuk kopra ke tengkulak seharga 5.000-7.000 (tergantung besanya) per satu kilo. Selian itu mereka juga menjual dalam bentuk kelapa muda. Nah, dari sini, tengkulak mengirimkannya ke pasar atau penampung di daratan. Pernah ada perusahaan di pulau yang pernah mengolah buah kelapa menjadi minyak VCO dengan mesin. Namun entah kenapa kemudian tidak perusahaan berhenti beroperasi, dan pemiliknya memindahkan mesinnya ke dearah lain.

Oleh karena itu, pengalaman ini mungkin yang membuat masyarakat pulau “enggan” atau menunggu beberapa saat saat ada orang luar pulau mengajak untuk mengolah aneka sumberdaya yang terhampar di pulau selain  ikan, lobster, dsb dari laut. Pengakuan warga yang penulis singgahi dan ajak ngobrol bahwa masyarakat pulau agak lambat diajak maju dan berfikir mengolah aneka sumber daya alam. Mereka menunggu untuk digerakan.

Selain sumberdaya alam dan laut, pantainya indah mengagumkan. Pasir putih beserta karang serta kerikil batu laut cantik tersebar di atas pasir. Anak-anak dan siapa pun berlari-lagi dan berenang cantik di atas pasir pantai. Berenang di pagi hari dan sorenya menjadi kebiasaan warga terutama anak-anak. Kejernihan airnya tempat asyik untuk snorkling di laut lepas. Aneka ikan siap menemani berenang pembaca. Kekayaan biota laut berupa ikan dan baru karang serta lambaian pohon kepala menjadikan sudut pantai spot memancing yang mengasyikan.

Terbenamnya sinar matahari di sore hari merupakan panorama indah bagai lukisan di atas kanvas kehidupan. Nyiur angin laut sore hari menambah syahdu penorama menjelang petang. Pohon kelapa menghasilkan pelepah yang jatuh di pinggir pantai seringkali menjadi hunian kepiting dan udang serta berbagai jenis ikan laut lainnya.

Bila malam menjelang, berbagai bintang di langit berwarna warni laksana lampu raksasa. Lintasan sejarah masa kecil di kampung dimana kemurnian suasana dan ekologi membuat langit malam penuh dengan bintang. Perisis itulah suasama malam di pulau Hinako. Meski supplay listrik dari PLN belum mengaliri pulau, namun limpahan cahaya bintang dan bulan dari langit seolah menyirami cahaya alami. Sementara di lorong jalan lain, terlihat nelayan yang umumnya pria dewasa berangkat ke alut mencari tangakapakan ikan, kepiting, lobster, dsb. Mereka akan balik ke rumah saat pagi menjelang dengan keranda penuh hasil tangkapan laut.   

Batu karang dan rimbunan pohon kelapa spot pas untuk memancing


Sayang, keindahan dan kesuburan pulau belum mengetuk para pemimpin untuk mengolahnya sebagai berkah pembangunan desa. Pengamatan sekilasku, para pemimpin miskin inovasi dan gagasan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Terbukti, panel surya di pulau hampir dua tahun macet. Batrenya meledak karena over kapasitas pemakaian. Ini terjadi karena pemakaian setiap rumah tangga melebihi aturan pemaikan. Hingga kini belum ada inisaitif dari siapa pun untuk memperbaiki. Panitia atau BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) yang sejatinya mengelola layanan publik, belum berjalan maksimal. Dulu ada aturan iuran pemakaian panel surya misalnya, namun hingga kini tak jelas pengelolannya. Itulah cerita salah satu warga kepada penulis.

Hal sama dengan pengelolaan air bersih. Saat kehadiran kami, pulau sedang mengalami musim kering. Meski di daratan hujan sering turun, namun di sini beberapa hari kering kerontang. Anehnya, tanaman mekar dan pohon buah tetap tumbuh dan berbuah. Pohon kelapa tetap mengeluarkan buah meski musim kering. Kontur tanahnya yang berbatu membuat pengambilan air melalui pipa pengeboran harus mendalam. Sumur-sumur penduduk mulai mengering.

Meski begitu, di beberapa titik air masih menyembur deras dari sumur bor yang diambil melalui pompa. Terlihat anak-anak dan kaum perempuan mengantri di titik pompa untuk mengambil air bersih. Pertanyaanku, kenapa pihak-pihak tertentu tidak menyedot air dan ditampung dalam embung, sehingga masyarakat mengambilnya dengan mudah. Untuk pemeliharannya, masyarakat ditarik uang oleh suatu badan dibentuk desa.

Intinya, masyarakat pulau ingin perubahan ke arah hidup lebih baik (dari cerita warga yang kami temui). Semoga kehadiran inisiatif dari luar (seperti Pesada dan ASPPUK) mempercepat kemajuan pembangunan di pulau Hinako. Terutama tingkat kesejahteraan dan kebahagian warganya dengan karakter dan nilai-nilai luhur yang baik. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar