Jumat, 13 Juni 2014

Makam Sakti di Laut, Wisata Terlupakan


Ziarah makam di pantai ? kedengarannya aneh di telinga. Jangankan berkunjung ke tempat bersejarah di pantai, kuburan yang bertengger di laut pun jarang kita temui. Lagian siapa yang berniat menguburkan mayat orang kesayangannya di pantai. Dengan mudah, orang akan bilang “kok tega ya, menguburkan mayat di tengah laut ?”. Itu mungkin cara berfikir manusia model sekarang. Namun zaman dulu, semua kemungkin bisa terjadi. Kalkulasi hedonis atas kerumitan dalam berziarah – seperti sekarang – tidak terpikirkan. Yang terfikirkan adalah bangaimana mayat orang yang disayangi bisa “tentram”, aman dan bermukim di aras yang dimuliakan. Fenomena itulah yang saya temukan di pinggiran pantai Palu, tepatnya di desa Watusapu, kota Palu, Sulawesi Tengah. Selain kemagisan pantai, keindahan alamnya ikut menyihir pengunjung. Kemudian, kejernihan air pantai juga membuat saya ingin berlama-lama tinggal di situ. Sayang, tempat ini belum tergarap dengan “elok”. Ikuti penelusuran berikut….

Tepat pukul 12.30 siang, tgl 12 Desember 2013, setelah wawancara dengan para penenun di desa Watusapu, kota Palu, saya tergoda untuk menyusuri pantai yang pas terletak di belakang rumah salah seorangnya. Kebetulan, siang itu langit setengah mendung. Jadi, panas matahari siang yang biasa menyayat kulit manusia, lumayan bersahabat. Sayup-sayup ombak pantai di pinggiran desa Watusapu, menderu kecil di tengah wawancara saya dengan penenun. Begitu selesai, saya bergegas menuju pantai melalui jalan berukuran sekitar 1,3 meter berlandaskan pasir tanah. sementara di pinggir kanan tumbuh tanaman rumput liar menjalar. Tanah bergunduk dan bergelombang, batu-batu kecil, serta potongan sampah memenuhi jalan kecil menuju pantai. “Aduh. Sayang sekali nih jalan. Lokasi menuju pantai kok, rusak begini”, keluhku lirih dalam hati. Saya melangkah hati-hati, guna menghindar benda tajam atau pecahan kaca yang bisa merobek kulit kaki.

Begitu menyentuh bibir pantai, terlihat hamparan pemandangan laut nan Indah. Suasana mendung menambah desiran angin laut terasa sejuk. Saya melihat ombak-ombak kecil menyembur ke daratan pelan-pelan. Air bening laut yang jarang kulihat di berbagai pantai, kini dengan jelas tergambar di hadapanku. Karena kebeningan air laut, pasir yang bertebaran di pinggirnya terlihat jelas berwarna putih bersih namun sedikit memucat. Di tengah kekaguman melihat pesona pantai, saya melihat bangunan rumah tingkat (persisnya vila) bergaya modern, berdiri sendirian persis di depan pantai. Ia begitu kokoh dan “mentereng” di tengah bangunan sederhana dan pohon-pohon kelapa yang tumbuh di sekitarnya. “Saya membayangkan seandainya saya yang memiliki rumah tersebut. Alangkah nikmatnya hidup ini?” ucapku spontan. Kata kawan yang menemaiku, rumah tersebut adalah milik pejabat pemda kota Palu atau secamam orang penting di kota tersebut.

Saya melanjutkan perjalanan ke sudut lain. Selama menyusurinya, saya menjumpai berbagai sampah yang kebanyakan organic. Maksudnya adalah kotoran yang berasal dari berbagai macan tanaman, daun, batang pohon dsb. Bila dilihat modelnya, berbagai kotoran itu dibuat ulah masyarakat sekitar, dan juga sisa kotoran laut yang dibawa ombak pantai. Meski begitu, saya tetap melihat sedikit kotoran sampah hasil buangan manusia. Padahal, aneka pohon yang tumbuh secara liar di sekitar pantai, terbukti sangat memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Ini terbukti, kami dengan bebas bisa menikmati buah mangga dan manggis yang tumbuh di sana.

Dari kejauhan kami melihat kapal laut yang berlayar makin jelas. Saat makin mendekat, ternyata itu adalah kapal laut milik TNI Angkatan Laut yang turut serta dalam pesta Hari Nusantara di kota Palu. Guna mendekatkan pandangan, kami berjalan hingga beberapa meter ke pinggir laut. Karena tidak puas dengan aroma angin semilirnya, saya akhirnya naik ke dermaga kecil yang terbuat dari kayu. Hati-hati saya melangkah ke deg kayu yang sudah hampir reot. Meski terlihat kokoh, dermaga kayu itu kira-kira berumur dua tahunan. Pelan-pelan saya menginjakkan kaki di atas deg. Aneh, perasan ku seperti ada yang menggoyangkan kaki dan seluruh badanku. Pelan-pelan saya angkat kaki. Ternyata goyangan yang baru saja kurasakan adalah fatamorgana perasaan, dimana pandanganku tertatap kepada gelombang ombak yang menghempas dermaga itu. Namun saat saya konsetrasi penuh terhadap posisi deg kayu dan ombak, maka persaan bergoyang akan hilang pelan-pelan.

Goyangan ombak yang berkelombang tampak jelas di hadapan mataku. Ikan-ikan menari di dalam air yang jernih. Gemas rasa hatiku melihat liukan ikan-ikan kecil di air. Saya pun berhasrat untuk menangkapnya. Tetapi tidak mungkin.

Kembali ke dermaga kayu. Sayang, kayu yang menyanggah dermaga itu, sudah mulai rontok. Lantai kayu yang menjadi pijakan kaki pengunjung yang hendak ke tengah lautan, harus berhati-hati. Saya melihat dengan mata sendiri lubang lantai mengangga di sana sini. Bila tidak hati-hati, maka pengunjung yang melintas diatasnya akan terperosok, dan terus terjebur ke laut. Sayang memang, infrastruktur dermaga ini belum terawat sebagaimana mestinya tempat wisata.

Setelah berjalan dengan hati-hati, saya sampai di tengah laut dengan dermaga kayu sebagai penyanggahnya. Semilir angin laut menerpa pipi dan rambut keritingku. “Huh…segarnya ini angin laut”, desahku lirih. Pemdandangan di depanku terbentang luas air laut. Ia di kelilingi pegunungan yang menjuntai seperti pagar yang melindungi keindahan pantai Palu. Kapal perang TNI AU makin jelas terlihat dari balik dermaga kayu. Teman-temanku yang membawa kamare langsung mengabadikan pemandangan itu berulang-ulang dengan berbagai sudut pengambilan.

Setelah bosan memandang laut, kini mataku berbelok ke arah dekat sekitar pantai. Saya  mendapati disana sejumlah kawasan kecil yang berisi tempat duduk – tepatnya mungkin saung-saung -- dan meja yang kelihatannya restoran dengan pemandangan pantai. Kala itu tempat itu kosong. Saat kutanya teman yang berasal dari Palu, ia menyatakan bahwa memang lokasi tersebut adalah restoran yang direncanakan menjadi tempat berteduh pengunjung sambil menyantap makanana. Sayang, lagi-lagi ini tidak terkelola dengan penataan yang mempesona.

Jam waktu makan siang tiba tanpa terasa. Meski rasa lapar menyergap, saya urung bersantap di areal tersebut. Atas saran kawannku, bahwa disana ada tempat makan yang mengasyikan dimana pengunjung bisa bersantap sambil menatap laut dari ketinggian.

Pemandangan terakhir yang kuperhatikan di dermaga kayu adalah bendera yangterikat di kayu kecil di tengah-tengah laut (mungkin tidak pas di tengah namun sudah jauh dari tepi pantai). Kayu tersebut terikat dengan bangunan yang menyerupai model masjid “Kudus” mini. Bengunan di tengah laut itu bagai memiliki atap bersusun. Ia itu terlihat makin lama makin tertutup dengan air laut.

Begitu diperhatikan dari dekat. Ternyata bangunan itu adalah makam seseorang yang begitu dihormati di desa Watusampu. Menurut penuturan masyarakat sekitar, makam tersebut dinamakan dengan Dayo Pue Pasu (dayo dalam bahasa kaili bermakna makam). Dikisahkan – seperti yang dituturkan penduduk setempat – hidup seorang sakti mandraguna yang memiliki ilmu-dalam mumpuni. Ia bernama Pue Pasu. Karena kesaktiannya, masyarakat menghormatinya. Setelah meninggal, tokoh tersebut di kebumikan di areal pantai. Awalnya sih, letak makam itu rada jauh dari pantai. Namun karena bencana alam dan tsunami yang menerpa pantai, lama kelamaan makam yang tadinya jauh dari laut, kini malah menjauh dari pinggiran pantai.

Masyarakat pun tidak berani untuk memindahkan kuburan orang sakti tersebut. Mungkin mereka berpadangan bila berani memindahkan ke daratan, akan tertimpa kesengsaraan dalam hidupnya. Kini, malah makam tersebut menjadi lokasi wisata yang sedang dikembangkan pemerintah kota Palu.

Namun sayang ya, pengembangan wisata pantai yang indah dengan dibalut ziarah makam manusia yang memilki legenda hidup belum tergarap baik.

Menurut penutaran warga juga, pantai di sekitar yang terlihat bening dan indah biasanya dikunjungi warga -- khususnya anak-anak -- untuk bermandi dan bermain air. Di pegungugan sekitar, ditumbuhi aneka buah-buahan, seperti mangga, manggis, dsb. Panorama indah dan dipadu dengan kebeningan air laut, kiranya belum menarik pemangku kepentingan untuk mengelolanya secara kreatif. Semoga saat saya kembli ke sana, makam laut berubah menjadi lokasi yang eksotis. Semoga…

1 komentar:

  1. Thanks for info, semoga semuanya selalu ada dalam lindungan Tuhan http://bit.ly/2vplrBi

    BalasHapus