Ziarah makam di pantai ? kedengarannya aneh di
telinga. Jangankan berkunjung ke tempat bersejarah di pantai, kuburan yang
bertengger di laut pun jarang kita temui. Lagian siapa yang berniat menguburkan
mayat orang kesayangannya di pantai. Dengan mudah, orang akan bilang “kok tega ya, menguburkan mayat di tengah
laut ?”. Itu mungkin cara berfikir manusia model sekarang. Namun zaman
dulu, semua kemungkin bisa terjadi. Kalkulasi hedonis atas kerumitan dalam
berziarah – seperti sekarang – tidak terpikirkan. Yang terfikirkan adalah
bangaimana mayat orang yang disayangi bisa “tentram”, aman dan bermukim di aras
yang dimuliakan. Fenomena itulah yang saya temukan di pinggiran pantai Palu,
tepatnya di desa Watusapu, kota Palu, Sulawesi Tengah. Selain kemagisan pantai,
keindahan alamnya ikut menyihir pengunjung. Kemudian, kejernihan air pantai
juga membuat saya ingin berlama-lama tinggal di situ. Sayang, tempat ini belum
tergarap dengan “elok”. Ikuti penelusuran berikut….
Tepat pukul 12.30 siang, tgl 12 Desember 2013, setelah wawancara dengan
para penenun di desa Watusapu, kota Palu, saya tergoda untuk menyusuri pantai yang
pas terletak di belakang rumah salah seorangnya. Kebetulan, siang itu langit
setengah mendung. Jadi, panas matahari siang yang biasa menyayat kulit manusia,
lumayan bersahabat. Sayup-sayup ombak pantai di pinggiran desa Watusapu,
menderu kecil di tengah wawancara saya dengan penenun. Begitu selesai, saya
bergegas menuju pantai melalui jalan berukuran sekitar 1,3 meter berlandaskan
pasir tanah. sementara di pinggir kanan tumbuh tanaman rumput liar menjalar.
Tanah bergunduk dan bergelombang, batu-batu kecil, serta potongan sampah
memenuhi jalan kecil menuju pantai. “Aduh.
Sayang sekali nih jalan. Lokasi menuju pantai kok, rusak begini”, keluhku lirih
dalam hati. Saya melangkah hati-hati, guna menghindar benda tajam atau pecahan kaca
yang bisa merobek kulit kaki.
Begitu menyentuh bibir pantai, terlihat hamparan pemandangan laut nan
Indah. Suasana mendung menambah desiran angin laut terasa sejuk. Saya melihat
ombak-ombak kecil menyembur ke daratan pelan-pelan. Air bening laut yang jarang
kulihat di berbagai pantai, kini dengan jelas tergambar di hadapanku. Karena
kebeningan air laut, pasir yang bertebaran di pinggirnya terlihat jelas berwarna
putih bersih namun sedikit memucat. Di tengah kekaguman melihat pesona pantai,
saya melihat bangunan rumah tingkat (persisnya vila) bergaya modern, berdiri
sendirian persis di depan pantai. Ia begitu kokoh dan “mentereng” di tengah
bangunan sederhana dan pohon-pohon kelapa yang tumbuh di sekitarnya. “Saya membayangkan seandainya saya yang
memiliki rumah tersebut. Alangkah nikmatnya hidup ini?” ucapku spontan.
Kata kawan yang menemaiku, rumah tersebut adalah milik pejabat pemda kota Palu
atau secamam orang penting di kota tersebut.
Saya melanjutkan perjalanan ke sudut lain. Selama menyusurinya, saya
menjumpai berbagai sampah yang kebanyakan organic. Maksudnya adalah kotoran
yang berasal dari berbagai macan tanaman, daun, batang pohon dsb. Bila dilihat
modelnya, berbagai kotoran itu dibuat ulah masyarakat sekitar, dan juga sisa
kotoran laut yang dibawa ombak pantai. Meski begitu, saya tetap melihat sedikit
kotoran sampah hasil buangan manusia. Padahal, aneka pohon yang tumbuh secara liar
di sekitar pantai, terbukti sangat memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Ini
terbukti, kami dengan bebas bisa menikmati buah mangga dan manggis yang tumbuh
di sana.
Dari kejauhan kami melihat kapal laut yang berlayar makin jelas. Saat
makin mendekat, ternyata itu adalah kapal laut milik TNI Angkatan Laut yang
turut serta dalam pesta Hari Nusantara di kota Palu. Guna mendekatkan
pandangan, kami berjalan hingga beberapa meter ke pinggir laut. Karena tidak
puas dengan aroma angin semilirnya, saya akhirnya naik ke dermaga kecil yang
terbuat dari kayu. Hati-hati saya melangkah ke deg kayu yang sudah hampir reot.
Meski terlihat kokoh, dermaga kayu itu kira-kira berumur dua tahunan.
Pelan-pelan saya menginjakkan kaki di atas deg. Aneh, perasan ku seperti ada
yang menggoyangkan kaki dan seluruh badanku. Pelan-pelan saya angkat kaki.
Ternyata goyangan yang baru saja kurasakan adalah fatamorgana perasaan, dimana
pandanganku tertatap kepada gelombang ombak yang menghempas dermaga itu. Namun
saat saya konsetrasi penuh terhadap posisi deg kayu dan ombak, maka persaan
bergoyang akan hilang pelan-pelan.
Goyangan ombak yang berkelombang tampak jelas di hadapan mataku.
Ikan-ikan menari di dalam air yang jernih. Gemas rasa hatiku melihat liukan
ikan-ikan kecil di air. Saya pun berhasrat untuk menangkapnya. Tetapi tidak
mungkin.
Kembali ke dermaga kayu. Sayang, kayu yang menyanggah dermaga itu,
sudah mulai rontok. Lantai kayu yang menjadi pijakan kaki pengunjung yang
hendak ke tengah lautan, harus berhati-hati. Saya melihat dengan mata sendiri lubang
lantai mengangga di sana sini. Bila tidak hati-hati, maka pengunjung yang
melintas diatasnya akan terperosok, dan terus terjebur ke laut. Sayang memang,
infrastruktur dermaga ini belum terawat sebagaimana mestinya tempat wisata.
Setelah berjalan dengan hati-hati, saya sampai di tengah laut dengan
dermaga kayu sebagai penyanggahnya. Semilir angin laut menerpa pipi dan rambut
keritingku. “Huh…segarnya ini angin laut”,
desahku lirih. Pemdandangan di depanku terbentang luas air laut. Ia di kelilingi
pegunungan yang menjuntai seperti pagar yang melindungi keindahan pantai Palu.
Kapal perang TNI AU makin jelas terlihat dari balik dermaga kayu. Teman-temanku
yang membawa kamare langsung mengabadikan pemandangan itu berulang-ulang dengan
berbagai sudut pengambilan.
Setelah bosan memandang laut, kini mataku berbelok ke arah dekat
sekitar pantai. Saya mendapati disana
sejumlah kawasan kecil yang berisi tempat duduk – tepatnya mungkin saung-saung
-- dan meja yang kelihatannya restoran dengan pemandangan pantai. Kala itu tempat
itu kosong. Saat kutanya teman yang berasal dari Palu, ia menyatakan bahwa
memang lokasi tersebut adalah restoran yang direncanakan menjadi tempat
berteduh pengunjung sambil menyantap makanana. Sayang, lagi-lagi ini tidak terkelola
dengan penataan yang mempesona.
Jam waktu makan siang tiba tanpa terasa. Meski rasa lapar menyergap,
saya urung bersantap di areal tersebut. Atas saran kawannku, bahwa disana ada
tempat makan yang mengasyikan dimana pengunjung bisa bersantap sambil menatap laut
dari ketinggian.
Pemandangan terakhir yang kuperhatikan di dermaga kayu adalah bendera yangterikat
di kayu kecil di tengah-tengah laut (mungkin tidak pas di tengah namun sudah
jauh dari tepi pantai). Kayu tersebut terikat dengan bangunan yang menyerupai
model masjid “Kudus” mini. Bengunan di tengah laut itu bagai memiliki atap
bersusun. Ia itu terlihat makin lama makin tertutup dengan air laut.
Begitu diperhatikan dari dekat. Ternyata bangunan itu adalah makam
seseorang yang begitu dihormati di desa Watusampu. Menurut penuturan masyarakat
sekitar, makam tersebut dinamakan dengan Dayo Pue Pasu (dayo dalam bahasa kaili
bermakna makam). Dikisahkan – seperti yang dituturkan penduduk setempat – hidup
seorang sakti mandraguna yang memiliki ilmu-dalam mumpuni. Ia bernama Pue Pasu.
Karena kesaktiannya, masyarakat menghormatinya. Setelah meninggal, tokoh
tersebut di kebumikan di areal pantai. Awalnya sih, letak makam itu rada jauh
dari pantai. Namun karena bencana alam dan tsunami yang menerpa pantai, lama kelamaan
makam yang tadinya jauh dari laut, kini malah menjauh dari pinggiran pantai.
Masyarakat pun tidak berani untuk memindahkan kuburan orang sakti
tersebut. Mungkin mereka berpadangan bila berani memindahkan ke daratan, akan
tertimpa kesengsaraan dalam hidupnya. Kini, malah makam tersebut menjadi lokasi
wisata yang sedang dikembangkan pemerintah kota Palu.
Namun sayang ya, pengembangan wisata pantai yang indah dengan dibalut
ziarah makam manusia yang memilki legenda hidup belum tergarap baik.
Thanks for info, semoga semuanya selalu ada dalam lindungan Tuhan http://bit.ly/2vplrBi
BalasHapus