Aku sering mendengar berita dari media tentang kejadian “meninggal mendadak” saat olah raga. Selebriti Indonesia seperti; Aji Masaid (yang juga anggota DPR RI), pelawak Basuki, Ricky Joe (presenter olah raga) — menyebut beberapa contoh – adalah yang mengalaminya. Kini, di malam minggu – saat selesai merayakan hari kemerdekaan RI — aku malah melihat sendiri proses kejadian itu.
Langit sore menjelang malam 17 Agustus 2013 cerah, namun tak berbintang. Udara pun terasa panas nan berdebu. Kondisi seperti ini sejatinya tidak nyaman untuk berolah raga, karena tubuh manusia akan terasa mudah lelah dan cepat gerah. Namun bagi aku dan teman-temanku yang rajin bermain badminton setiap Sabtu sore dari jam 16.30 hingga 20.00 malam, cuaca tak menghambat aktiftas olah raga.
Bagi kami, akhir pekan di Sabtu sore merupakan “kekayaan” waktu yang sayang untuk ditinggalkan. Bahkan, kami sebisa mungkin mengerjakan semua agenda keluarga diusahakan di pagi hari hingga siang atau malam hari sekalian setelah aktiftas Badminton usai. Nah, Sabtu sore tgl 17 Agustus 2013 ini special, pasalnya sudah hampir satu bulan kegiatan itu terhenti sejenak diinterupsi bulan Ramadhan. Meski ada juga sih, teman yang tetap bermain di bulan Ramadhan — khususnya saat setelah sholat tarawih setiap minggunya.
Jadi, Sabtu petang itu merupakan awal hari kami bermain Badminton rutin selama satu tahun ke depan. Siapa pun dari kami terlihat ceria saat memasuki lapangan (hall) untuk memulai olah raga Badminton Sabtu sore itu. Terkadang, meski salah seorang masih terlihat capek – mungkin baru pulang dari berbagai lokasi, atau bisa juga beberapa saat nyampe dari mudik –, terlihat dari guratan wajahnya, namun tetap saja mereka memaksakan diri untuk bermain Badminton. Bermain Badminton setiap sabtu petang bagi kami, sepertinya memuat aneka nilai lain selain “olahraga”. Senda gurau, berbagi cerita antar pemain, cerita seputar kehidupan di lingkungan komplek perumahan sesuasai permainan, merupakan contoh gurauan yang biasa menjadi topic.
Itupula – ini baru mungkin – yang dialami pak Robin – salah seorang sahabat kami yang aktif bermain badminton – mengalami kejadian yang serba mendadak. Menurut teman kami yang juga menjadi lawan tanding, ia baru sampai dari perjalanan mudik (dari kota Palembang menuju Bekasi). Meski begitu, ia tetap saja terlihat cerah mukanya saat bermain badminton. Bahkan ia selalu menasehati teman lain untuk selalu menjaga kesehatan tubuhnya.
Jam di dinding Hall bulutangkis menunjukan pukul 19.15. Aku beristirahat duduk sambil berbincang dengan pasangan dan lawan main di sudut lapangan 1 bulutangkis. Hall badminton yang kami tempati memiliki 3 lapangan. Lapangan 1 dan 2 saling berdampingan. Sementara yang ketiga berada di pojok yang dipisah dengan bangunan tembok beberapa meter.
Sendau gurau, cerita sedih, lucu, manarik, mengalir tanpa henti di antara perbincangan kami. Bahkan topik hangat yang senantiasa muncul setiap habis lebaran – langkanya pekerja rumah tangga — juga menyeruak tiba-tiba. “Wah kalau rumahku sih, kini menggunakan jasa laundry keluarga…murah loh cuma 300 ribu perbulan. Berapapun anggota keluarganya, “ celoteh salah seorang dari kami. Yang lain pun menimpali, “Wuih…itu bisa menjadi alternative nih, untuk mencuci semua pakaian kita. Jadinya kita bisa menghemat pengeluaran.”
Berbagai tema cerita meluncur dari masing-masing kami tanpa terkontrol. Setiap temanku dengan senang hati bercerita hal-hal yang selama ini jarang terungkap. Fenomena ini lumrah, karena selama bulan ramadhan, aku dan teman-teman sesama pemain bukutangkis berhenti sejenak. Meski ada yang tetap bermain bulutangkis, namun hanya beberapa orang saja setelah sholat tarawih. Selain itu, Sabtu di minggu lalu juga absen karena waktunya bersamaan dengan perayaan hari raya Idul fitri. Jadi, malam itu merupakan waktu awal kami setelah beberapa hari tidak bertemu dalam permainan bulu tangkis.
Tanpa sadar kami bercerita sampai jauh, hingga ke topik tentang bahaya berbagai olah raga yang membutuhkan pengetahuan atas kondisi kesehatan masing-masing tubuh. Salah seorang teman menyahut, “Untuk kita-kita yang sudah berumur lebih dari 40 tahun, sebaiknya jangan bermain bulu tangkis yang terlalu keras. Sebab olah raga ini menggunakan energy kejut. Banyak sudah kejadian orang yang meninggal mendadak di lapangan”. Yang lain pun mengiyakan informasi itu, karena sudah banyak pembicaraan maupun tulisan yang membahasnya.
Kami pun menjadi sadar bahwa bulu tangkis merupakan olah raga berat. Karena ia membutuhkan stamina bagus dan mendorong pemainnya harus terus berlari, bersiap dengan posisi kuda-kuda, berjalan, dan membungkuk untuk mengejar bola. Tak ada waktu untuk berhenti dan santai – seperti di olah raga sepak bola – sebelum berakhirnya angka permainan. Meski penuh resiko dan melelahkan, namun bukutangkis masih menjadi olah raga favoritku dan teman-teman. Begitulah kesimpulan sementara dalam obrolan malam itu. Menurut mereka, bulu tangkis memenuhi unsur permainan yang melibatkan emosi dan berbagai unsur lain, sehingga ia tetep menjadi olah raga yang sarat warna dan peningkatan “adrenalin”. Ia tidak monoton dan kaku.
Saat topic bulutangkis hampir selesai dibicarakan hingga pukul 19.30, kontan teman-teman kami yang sedang bermain di lapangan 2 mendapati Robin, kawan yang bermain bulutangkis berhenti secara mendadak.
Ia berhenti saat akan melakukan “serve”, tiba-tiba duduk dan terus barbaring secara sendiran. Kami pun berlari ke arahnya. Semua teman berkerumun untuk membantunya. Ia secara mendadak berhenti bernafas dan sedang menuju ke alam baka. Hingga tulisan ini diketik, aku masih terbayang guratan tubuh temanku saat mau melakukan “serve” (servis) sebagai awal mula bulutangkis di kedudukan angka 27 melawan 23, tiba-tiba ia duduk, terus berbaring sendiri tanpa kata-kata sambil meletakan raket di sampingnya. Temanku yang menjadi lawan tandingnya mengungkapkan detik-detik proses itu sambil meneteskan air mata,” Saya ga kuat mengenang itu. Prosesnya cepat banget. Sebelum melakukan serve, ia bilang ke saya ,’siap ya kang…’. Eh..tiba-tiba ia meletakan raket di lantai, terus duduk, kemudian langsung berbaring di lantai lapangan tanpa berucap…”
Saat aku mendekat, ia telah berbaring tanpa kata-kata dengan nafas masih sedikit terlihat dan mata sedikit terbuka. Aku melihat dengan jelas – karena aku berdiri lalu duduk persis di depannya – bagaimana ia bernafas pelan-pelan namun lambat laun menghilang sedikit-sedikit. Sementara wajahnya pelan-pelan makin membiru – pertanda tubuhnya makin memujat — , tangannya perlahan kaku, matanya meski terbuka namun menutup, dan mulut pun terkunci secara otomatis.
Aku tertegun di sampingnya. Semua orang di situ panic dan bingung. Diantara kami ada yang menepok dan menggoyang kakinya, dan memberinya minyak angin di depan hidungnya. Teman kami pun mengusulkan untuk membawanya ke rumah sakit. Sayangnya, dari kami tidak ada yang membawa mobil di halaman hall, sebagaimana biasa. Kami semua sepertinya serba salah. Pengetahuan kedokteran tidak ada yang memilikinya. Sehingga kami tidak mengerti pertolongan jenis apa yang sebaiknya dilakukan untuk kejadian seperti itu.
Selang beberapa menit kemudian, aku mengganti teman yang dari tadi memegang urat nadi tangannya. Saat kusentuh nadi tangannya dengan pegangan rada kuat untuk memastikan apakah masih ada denyutan nafas atau tidak. Meski aku bergetar dan merasa takut sekali akan kehilangan dia, namun aku tetap memegang dengan berharap ia masih mempunyai harapan hidup.
Salah seorang teman berlari untuk memangil dokter yang tinggal di sekitar rumah komplek perumahan. Sejumlah dokter yang tinggal di perumahan – yang tidak jauh dari hall bulu tangkis — didatangi satu-satu, hingga akhirnya ada seorang doker yang datang dengan peralatannya kemudian. Sementara teman yang lain berusaha menghubungi keluarganya.
Sang dokter sigap sekali memeriksa leher dan denyut nadi pak Robin. Kami pun berharap cemas menunggu hasil analisisnya. Hingga akhirnya ia berkata,“….sepertinya ia sudah tiada. Ia telah pergi dengan tenang meninggalkan kita….”, keluhnya lirih. Kemungkinan besar, ia terserang gangguan di jantungnya, begitu sang dokter memberikan analisa sementara. Sontak aku terdiam, dan tertunduk, tak percaya dengan hikayat di depanku. Semua teman diam tanpa kata. Bingung.
Sementara istri pak Robin yang hadir di sampingnya beberapa menit sebelum dokter tiba, sontak lemas dan membisu. Ia tak percaya dengan keadaan di depannya. Ia tertunduk lemas. Padangangannya kosong. Tiba-tiba teriakan tangisnya menggelegar tanpa sadar. Kami pun menenangkannya sebisa mungkin. Kami berbuat apa yang bisa dilakukan setelah menerima keputusan dokter. Semua keluarga dihubungi. Setelah berembuk dengan istri dan anaknya yang paling besar – yang hadir kemudian –, akhirnya kami antar jasad pak Robin ke rumahnya yang tidak jauh dari hall badminton. Kami semua mengiringinya dengan sepeda motor di belakang iringan jasadnya yang dibawa dengan mobil beserta istri dan anaknya. Sesampai di rumah duka, kami bergegas mengontak ketua RT, RW dan tetangga serta saudara-saudaranya. Secara kekeluargaan warga tetangga berdatangan dan ikut berduka serta menenangkan keluarga yang ditinggalkan. Terdengar sayup-sayu alunan “surat Yasin, Aqur’an” mulai dibacakan. Bendera kuning pun mulai dipotong untuk dikibarkan di setiap sudut arah jalan ke rumahnya….
Aku tersadar kalau pak Robin, sahabat penyuka olah raga telah pergi selama-selamanya. Kita pun suatu saat akan menyusulnya. Selamat jalan Pak Robin……
Nasihat sang dokter saat setelah memeriksa almarhum kepada kami masih terngiang. Ia berkata bahwa sebaiknya kami memeriksa ke dokter – general check up – untuk mengetahui kondisi tubuh masing-masing. Sehingga kita bisa mengetahui “treatment” apa yang perlu dilakukan sebelum atau saat melakukan olah raga apa pun – termasuk Badminton.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar