Dalam setahun sudah 2 orang kawan perempuan meninggal dunia
karena penyakit kanker payudara. Pertama,
Ulfa Hidayati biasa dipanggil “yu-ul”, aktifis social yang bekerja di Institut
Kapal Perempuan, Jakarta. Ia mendidikasikan hidupnya untuk kerja-kerja
perbaikan kehidupan yang adil gender. Tepat tgl 12 Juni 2013, ia menghembuskan
nafas terakhir, setelah hampir setahun hidup berkawan kangker di payudaranya.
Begitu mendengar, saya langsung ke tempat duka, di RS Siloam, Semanggi Jakarta
Selatan. Saya menyesal, karena belum
sempat menjengguknya, sejak ia didagnosis kanker. Saya selalu menunda, kalau
hendak menjenguknya. Kawan-kawannya bilang, “Kalau Mas ingin menjenguk, sebaiknya saat ia “kemoetarapi” di RS
Siloam”. Sayang, waktu kemonya dengan
jam luangku tidak ketemu. Sehingga saya selalu gagal menjenguk. Menyesal
sekali….
Kala itu, saya tertunduk di depana jenazahnya di Siloam.
Sholat jenazah 2 rakaat dan pemanjatan doa, saya tunaikan sambil rema-remang
melihat lintasan bayang wajahnya.
Berbekal pengalaman itu, saya tidak mau terulang dengan apa
yang diderita, Euis Kuraisin. Ia mantan staf di kantorku, dan istri kawan Ucok
Sky Hadafi, Koordinator Advokasi FITRA (Forum Indonesia Untuk Transparansi
Anggaran). Saya sudah lama mendengar kalau Euis menderita kanker Payudara.
Informasinya, ia sudah lama bolak-balik ke rumah sakit untuk kemoterapi,
setelah berobat secara alternative. Bersama kawan-kawan kantor pula saya
berencana ingin menjenguknya. Namun tidak pernah klop waktunya.
Siang Selasa, 26 Agustus 2014, saat mebuka FB, saya melihat
status Ucok Sky (suami Euis), berbunyi, “sudah
dua minggu nih saya menunggu di rumah sakit”. Kontan saya beranjak dan langsung
bertanya kepada kawan kantor lain, apa benar Euis (istri Ucok) masuk rumah
sakit karena kanker nya kambuh kembali. Tat ada jawaban pasti kala itu.
Besoknya, tgl 27 Agustus 2014, salah seorang kawan kantor ternyata telah
menjenguknya di rumah sakit Kanker Darmais pada sore harinya. Saya pun bersama
kawan kantor lain berniat menjenguk esok hari.
Kamis, 27 Agustus 2014. Kira-kira pukul 08.00 pagi saya
sudah tiba di kantor. Satu demi satu kawan lain hadir di kantor. Sejenak kami
berdiskusi di ruang tengah untuk membicarakan teknis kepergian ke RS Darmais.
Tiba-tiba kawan kantor yang kemarin menjenguk bilang, “wah Euis sudah parah. Kini kankernya telah menyerang saraf otaknya.
Akibatnya ia terkadang tidak mengenal lagi tamu yang hadir. Termasuk saya”.
Jantungku berdetak kencang. Saya khawatir,
jangan-jangan ajalnya sudah mendekat. Namun si kawan tadi menyarankan untuk menengok
Euis saat siang atau sore hari saja. Karena kalau pagi hari, lalu lintas di
dalam tol dalam kota masih macet. Mudah-mudahan sih kalau siang atau sore hari,
tingkat kemacetannya berkuarng, begitu imbuhnya.
Kawan-kawan lain yang mau jenguk ragu. Mereka sepertinya
terpengaruh dengan saran tadi untuk berangkat sore hari. Namun saya teguh. Kita
harus berangkat pagi hari atau jam 09.45. Waktu jenguk di RS Darmais ialah
11.00 – 12.00 siang. Tidak tahu kenapa ya.., kok firasatku menyatakan bahwa saya
harus menjenguk Euis pagi itu. Kalau bisa secepatnya.
Tepat pukul 09.50 pagi, dengan taksi kami berangkat dari
Jatiwaringin, Jakarta Timur menuju RS Darmais. Karena sedikit macet di dalam tol,
taksi baru sampai di Darmais pukul 11.15 siang. Lantai 6 gedung Teratai, kamar
610 menjadi tujuan kami. Begitu tiba di ruang yang berpenghuni lebih 5 orang
itu, Ucok (sang suami) menyambutnya hangat. Ia mengeluarkan senyum khasnya – tapi
saya menduga kondisi psyologinya capek (ini wajar saja). Saya salut dengan
ketegaran wajahnya.
Satu persatu dari kami mendekat Euis. Ia tertidur pulas.
Wajahnya kelihatan segar. Namun badannya memang kurus. Ini wajar sebagai pasien
kanker payudara. Ucok menjelaskan bahwa istrinya tidak mungkin dioperasi karena
masih ada luka di buah dada sebalah kirinya. “Euis, ini ada kawan-kawan dari kantor nih…katanya mau ke ASPPUK”,
ungkap Ucok dengan suara baritongnya.
Sejenak mata euis terbuka. Salah seorang kawan mendekat dan
memegang tangannya. “Ini lili nih. Itu
yang sering makan bakso di Jatibening”, kata Rahmalia dengan lirih sambil
mendekat telinganya. Euis pun mendadak mengangguknya. Ucok dengan lugas berkata
kepada kita, bahwa dengan mengangguknya euis berarti kesadaranya mulia pulih.
Menurutnya, dari kemarin kesadarannya terganggu. Ini akibat dari dampak kanker
yang sudah menyerang saraf otak bagian belakang.
Satu per satu dari kami mendekat dengan menyebut nama
masing-masing. Kami sengaja melakukan itu untuk melatih memorinya supaya
pelan-pelan pulih. Pelan-pelan kawan-kawan kami yang perumpuan mendekat sambil
mengelus-elus tangannya. Euis kala itu sudah tidak bisa berbicara. Ia hanya
mengangguk dan menolak. Sesekali, ia memanggil nama ibunya, “mama…mama mana…..naiya mana…(ini nama
anaknya)”. Melihat kondisi itu, saya sedih sekali. dalam hatiku berkata, “kok ia menyebut nama ibunya ya…padahal kan
ibunya telah lama tiada. Apakah ini tanda-tanda. Ah, itu perasanku saja kali.”
Sekuat tenaga saya menguatkan-kuat diri, guna memberi
support Ucok. Saya dan kawan-kawan pun berusaha merangsang memorinya. Salah
seorang kawan dengan inisiatif sendiri memijat-pijat kakinya. Kelihatannya,
Euis menyukainya. Itu terlihat dari raut wajahnya yang berseri-seri. Wajah Euis
pun seketika berceria. Kami semua bahagia melihat rona wajahnya. Meski kondisi
tubuhnya dipenuhi dengan saluran infus.
Tepat pukul 11.45 siang, makan siang tiba. Ucok bilang bahwa
sejatinya ia harus menebus obat “penahan sakit” di apotik, namun karena ia
sendirian jadi belum ditebus. Kontan saat itu, kami menyuruhnya untuk segera
menebus obat. Biar kami yang menjaga
Euis. Saat kami menunggu, salah seorang dari kami menawarinya makan siang. Ia
mengangguk. Pelan-pelan kawan kami memberinya suapan demi suap makanan. Ia pun
lahap memakannya, meski pelan. Kami semua bergembira melihat kondisi itu. Selesai
makan, kawan kami memijat dan mengelus-elus tangan dan kakinya. Salah seorang
dari kami membisikan ke telinganya, “Euis,
istiqhfar ya an banyak….”. Kami rada kaget dengan jawabannya, “lailahailloh….laillahalillah….”. tapi
kami tidak begitu ngeh dengan jawaban
itu. Dari sisi wajahnya, Euis terlihat cerah dan membaik. Apalagi memorinya
mulai terangsang dan mampu mengingat nama-nama kawan lamanya.
Jam 12.00 siang, Ucok sudah kembali ke kamar pasien dari
apotik. Ia berkata bahwa obatnya sedang diracik optiker dan akan diantar bila
selesai. Setelah pamitan dengan Ucok dan juga Euis, kami meninggalkan ruang
610. Di dalam perjalanan pulang – saat didalam taksi – kami berbicang sejenak
tentang kondisi Euis yang mulai membaik. Itu terlihat dari raut rona wajah yang
berseri. Makannya pun lahap meski perlahan. Sesampai di kantor, kami pun
menceritakan kepada kawan lain yang tidak sempat menjenguk dan yang telah berkunjung
kemarin, bahwa kondisi Euis beranjak baik. Euis kini mulai mengenal nama-nama
kami yang hadir di sana. Kami pun sedikit berharap dengan fenomena yang barusan
kami lihat.
Waktu pun berjalan. Saat saya sedang rapat di kantor
kira-kira pukul 15.00, kawan satu kantor tiba-tiba memberitahu dengan mata
berkaca-kaca, “Mas Euis telah meninggal.
Ini sms dari suaminya yang dikirim ke kantor fitra”. Spontan kuucap lirih,
“Innalilahianilalillahi rojiun.”
Sejenak peserta rapat terdiam lirih, saat kuberitahu khabar menyedihkan ini.
Malam harinya – kebetulan malam juma’at –, saya bacakan surat Yasin di pojok
kamar dengan suara terbata-bata untuk orang-orang yang terkasihi, seperti; Ayahku,
Abahku, dan kawan-kawan yang telah mendahui, termasuk Euis Kuraesin. Semoga segala
amalnya diterima yang maha kuasa. Semoga, Ucok Sky Hadapi, sang suami, dan
Naiya, anak satu-satunya, diberi kekuatan berlimpah. Amin.
Hikayah huzn jiddan Us.
BalasHapusTb. thanks ya...kita nanti jg akan menyusulnya......amin.
Hapus