Jumat, 29 Agustus 2014

Wajah Berseri, Lalu Meninggal Dunia….


Dalam setahun sudah 2 orang kawan perempuan meninggal dunia karena penyakit kanker payudara. Pertama, Ulfa Hidayati biasa dipanggil “yu-ul”, aktifis social yang bekerja di Institut Kapal Perempuan, Jakarta. Ia mendidikasikan hidupnya untuk kerja-kerja perbaikan kehidupan yang adil gender. Tepat tgl 12 Juni 2013, ia menghembuskan nafas terakhir, setelah hampir setahun hidup berkawan kangker di payudaranya. Begitu mendengar, saya langsung ke tempat duka, di RS Siloam, Semanggi Jakarta Selatan.  Saya menyesal, karena belum sempat menjengguknya, sejak ia didagnosis kanker. Saya selalu menunda, kalau hendak menjenguknya. Kawan-kawannya bilang, “Kalau Mas ingin menjenguk, sebaiknya saat ia “kemoetarapi” di RS Siloam”. Sayang, waktu kemonya dengan jam luangku tidak ketemu. Sehingga saya selalu gagal menjenguk. Menyesal sekali….

Kala itu, saya tertunduk di depana jenazahnya di Siloam. Sholat jenazah 2 rakaat dan pemanjatan doa, saya tunaikan sambil rema-remang melihat lintasan bayang wajahnya.

Berbekal pengalaman itu, saya tidak mau terulang dengan apa yang diderita, Euis Kuraisin. Ia mantan staf di kantorku, dan istri kawan Ucok Sky Hadafi, Koordinator Advokasi FITRA (Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran). Saya sudah lama mendengar kalau Euis menderita kanker Payudara. Informasinya, ia sudah lama bolak-balik ke rumah sakit untuk kemoterapi, setelah berobat secara alternative. Bersama kawan-kawan kantor pula saya berencana ingin menjenguknya. Namun tidak pernah klop waktunya.


Siang Selasa, 26 Agustus 2014, saat mebuka FB, saya melihat status Ucok Sky (suami Euis), berbunyi, “sudah dua minggu nih saya menunggu di rumah sakit”. Kontan saya beranjak dan langsung bertanya kepada kawan kantor lain, apa benar Euis (istri Ucok) masuk rumah sakit karena kanker nya kambuh kembali. Tat ada jawaban pasti kala itu. Besoknya, tgl 27 Agustus 2014, salah seorang kawan kantor ternyata telah menjenguknya di rumah sakit Kanker Darmais pada sore harinya. Saya pun bersama kawan kantor lain berniat menjenguk esok hari.

Kamis, 27 Agustus 2014. Kira-kira pukul 08.00 pagi saya sudah tiba di kantor. Satu demi satu kawan lain hadir di kantor. Sejenak kami berdiskusi di ruang tengah untuk membicarakan teknis kepergian ke RS Darmais. Tiba-tiba kawan kantor yang kemarin menjenguk bilang, “wah Euis sudah parah. Kini kankernya telah menyerang saraf otaknya. Akibatnya ia terkadang tidak mengenal lagi tamu yang hadir. Termasuk saya”.  Jantungku berdetak kencang. Saya khawatir, jangan-jangan ajalnya sudah mendekat. Namun si kawan tadi menyarankan untuk menengok Euis saat siang atau sore hari saja. Karena kalau pagi hari, lalu lintas di dalam tol dalam kota masih macet. Mudah-mudahan sih kalau siang atau sore hari, tingkat kemacetannya berkuarng, begitu imbuhnya.

Kawan-kawan lain yang mau jenguk ragu. Mereka sepertinya terpengaruh dengan saran tadi untuk berangkat sore hari. Namun saya teguh. Kita harus berangkat pagi hari atau jam 09.45. Waktu jenguk di RS Darmais ialah 11.00 – 12.00 siang. Tidak tahu kenapa ya.., kok firasatku menyatakan bahwa saya harus menjenguk Euis pagi itu. Kalau bisa secepatnya.

Tepat pukul 09.50 pagi, dengan taksi kami berangkat dari Jatiwaringin, Jakarta Timur menuju RS Darmais. Karena sedikit macet di dalam tol, taksi baru sampai di Darmais pukul 11.15 siang. Lantai 6 gedung Teratai, kamar 610 menjadi tujuan kami. Begitu tiba di ruang yang berpenghuni lebih 5 orang itu, Ucok (sang suami) menyambutnya  hangat. Ia mengeluarkan senyum khasnya – tapi saya menduga kondisi psyologinya capek (ini wajar saja). Saya salut dengan ketegaran wajahnya.

Satu persatu dari kami mendekat Euis. Ia tertidur pulas. Wajahnya kelihatan segar. Namun badannya memang kurus. Ini wajar sebagai pasien kanker payudara. Ucok menjelaskan bahwa istrinya tidak mungkin dioperasi karena masih ada luka di buah dada sebalah kirinya. “Euis, ini ada kawan-kawan dari kantor nih…katanya mau ke ASPPUK”, ungkap Ucok dengan suara baritongnya.

Sejenak mata euis terbuka. Salah seorang kawan mendekat dan memegang tangannya. “Ini lili nih. Itu yang sering makan bakso di Jatibening”, kata Rahmalia dengan lirih sambil mendekat telinganya. Euis pun mendadak mengangguknya. Ucok dengan lugas berkata kepada kita, bahwa dengan mengangguknya euis berarti kesadaranya mulia pulih. Menurutnya, dari kemarin kesadarannya terganggu. Ini akibat dari dampak kanker yang sudah menyerang saraf otak bagian belakang.

Satu per satu dari kami mendekat dengan menyebut nama masing-masing. Kami sengaja melakukan itu untuk melatih memorinya supaya pelan-pelan pulih. Pelan-pelan kawan-kawan kami yang perumpuan mendekat sambil mengelus-elus tangannya. Euis kala itu sudah tidak bisa berbicara. Ia hanya mengangguk dan menolak. Sesekali, ia memanggil nama ibunya, “mama…mama mana…..naiya mana…(ini nama anaknya)”. Melihat kondisi itu, saya sedih sekali. dalam hatiku berkata, “kok ia menyebut nama ibunya ya…padahal kan ibunya telah lama tiada. Apakah ini tanda-tanda. Ah, itu perasanku saja kali.

Sekuat tenaga saya menguatkan-kuat diri, guna memberi support Ucok. Saya dan kawan-kawan pun berusaha merangsang memorinya. Salah seorang kawan dengan inisiatif sendiri memijat-pijat kakinya. Kelihatannya, Euis menyukainya. Itu terlihat dari raut wajahnya yang berseri-seri. Wajah Euis pun seketika berceria. Kami semua bahagia melihat rona wajahnya. Meski kondisi tubuhnya dipenuhi dengan saluran infus.

Tepat pukul 11.45 siang, makan siang tiba. Ucok bilang bahwa sejatinya ia harus menebus obat “penahan sakit” di apotik, namun karena ia sendirian jadi belum ditebus. Kontan saat itu, kami menyuruhnya untuk segera menebus obat. Biar  kami yang menjaga Euis. Saat kami menunggu, salah seorang dari kami menawarinya makan siang. Ia mengangguk. Pelan-pelan kawan kami memberinya suapan demi suap makanan. Ia pun lahap memakannya, meski pelan. Kami semua bergembira melihat kondisi itu. Selesai makan, kawan kami memijat dan mengelus-elus tangan dan kakinya. Salah seorang dari kami membisikan ke telinganya, “Euis, istiqhfar ya an banyak….”. Kami rada kaget dengan jawabannya, “lailahailloh….laillahalillah….”. tapi kami tidak begitu ngeh dengan jawaban itu. Dari sisi wajahnya, Euis terlihat cerah dan membaik. Apalagi memorinya mulai terangsang dan mampu mengingat nama-nama kawan lamanya.

Jam 12.00 siang, Ucok sudah kembali ke kamar pasien dari apotik. Ia berkata bahwa obatnya sedang diracik optiker dan akan diantar bila selesai. Setelah pamitan dengan Ucok dan juga Euis, kami meninggalkan ruang 610. Di dalam perjalanan pulang – saat didalam taksi – kami berbicang sejenak tentang kondisi Euis yang mulai membaik. Itu terlihat dari raut rona wajah yang berseri. Makannya pun lahap meski perlahan. Sesampai di kantor, kami pun menceritakan kepada kawan lain yang tidak sempat menjenguk dan yang telah berkunjung kemarin, bahwa kondisi Euis beranjak baik. Euis kini mulai mengenal nama-nama kami yang hadir di sana. Kami pun sedikit berharap dengan fenomena yang barusan kami lihat.

Waktu pun berjalan. Saat saya sedang rapat di kantor kira-kira pukul 15.00, kawan satu kantor tiba-tiba memberitahu dengan mata berkaca-kaca, “Mas Euis telah meninggal. Ini sms dari suaminya yang dikirim ke kantor fitra”. Spontan kuucap lirih, “Innalilahianilalillahi rojiun.” Sejenak peserta rapat terdiam lirih, saat kuberitahu khabar menyedihkan ini. Malam harinya – kebetulan malam juma’at –, saya bacakan surat Yasin di pojok kamar dengan suara terbata-bata untuk orang-orang yang terkasihi, seperti; Ayahku, Abahku, dan kawan-kawan yang telah mendahui, termasuk Euis Kuraesin. Semoga segala amalnya diterima yang maha kuasa. Semoga, Ucok Sky Hadapi, sang suami, dan Naiya, anak satu-satunya, diberi kekuatan berlimpah. Amin.

2 komentar: