Rabu, 22 Oktober 2014

Saksi Sejarah Bangsa


Malam kian larut. Kegelapan malam sudah dua hari ini tampak malu-malu. Hujan yang ditunggu manusia belum juga muncul. Udara panas kini penghias malam. Meski kamar tidurku memasang AC (air conditioner), tetap saja sayup-sayup panas menyelip diantara kesejukan udara AC. Malam itu, tgl 19 Oktober 2014, dua anakku asyik membaca buku di sudut kamar. Saya dan istri juga tenggelam dalam bacaan masing-masing. Mungkin karena bosen dengan buku yang itu-itu saja, anak-sulungku kembali membaca buku kartun “Mice”. Kemungkinan lebih 3 kali ia sudah menamatkannya. Buku tersebut merupakan kumpulan kartun yang termuat di HU. Kompas Minggu. Kartun itu sarat kritik, baik social, politik, budaya, maupun kehidupan sehari-hari. Ia senyum sesekali. Lain waktu, ia mengkerutkan dahinya. Terkadang ia bertanya kepadaku makna gambar kartunya. Dari pertanyaan itu, sering timbul diskusi tak terstruktur kondisi social Indonesia antaraku dengannya.

Saat mata mulai terpejam tidur, pikiranku melayang jauh. Batinku berujuar, “Tepat malam ini, Indonesia sedang menyongsong ke arah perubahan baru”. Pikiranku terus melanglang dan membayangkan aneka macam hal. Salah satunya, besok, tgl 20 Oktober 2014, Negara pemilik kepulauan terbesar di dunia ini akan melantik presiden baru, Ir. Joko Widodo. Ia menjadi preseden termuda dibanding presiden sebelumya. Kata orang, ia merupakan anti tesis dari profil presiden (yang dipilih rakyat langsung) sebelumnya. Ia juga bisa menjadi pemotong generasi Indoensia sebelumnya yang terkontaminasi berbagai “oligarki”, watak yg menghambat demokratisasi Indonesia menuju bangsa yang adil, makmur dan sejahtera. “Mumpung aku masih hidup dan berada dalam proses perubahan yang berjalan, maka aku harus merasakannya. Bahan inilah yang aku ceritakan kepada anak dan cucuku kelak”, gumanku pelan sebelum tertidur pulas.

Senin, 06 Oktober 2014

Nasi Goreng “Maknyus” di Pegunungan Nagarkot, Nepal


Kamis pagi, 20 Juni 2013, langit Kathmandu (Nepal) terlihat mendung pekat. Saya memperhatikannya dari balik kamar hotel di kawasan Bundanat, Katmandu, dengan berharap.

Beberapa menit kutunggu, akhirnya saya nekat. Bersama teman, saya putuskan pergi ke segala sisi kota Kathmandu, dengan merubah rencana perjalananan. Semula, kami ingin berkunjung ke kawasan Nagarkot (keterangan Nagarkot, lihat info di bawah). Namun berkat pertimbangan, kami menggantinya ke tempat lain, yaitu candi Swayambu. Candi ini terletak di dataran tinggi yang dikelilingi dengan rimbunan pepohonan, dan pemandangan eksotik serta beratus-ratus kera menghuninya (kalau ga percaya, cari di mbah google deh…). Mungkin mirip salah satu candi di Bali kali ya….