Malam kian larut. Kegelapan malam sudah dua hari ini tampak
malu-malu. Hujan yang ditunggu manusia belum juga muncul. Udara panas kini penghias
malam. Meski kamar tidurku memasang AC (air conditioner), tetap saja
sayup-sayup panas menyelip diantara kesejukan udara AC. Malam itu, tgl 19
Oktober 2014, dua anakku asyik membaca buku di sudut kamar. Saya dan istri juga
tenggelam dalam bacaan masing-masing. Mungkin karena bosen dengan buku yang
itu-itu saja, anak-sulungku kembali membaca buku kartun “Mice”. Kemungkinan
lebih 3 kali ia sudah menamatkannya. Buku tersebut merupakan kumpulan kartun yang
termuat di HU. Kompas Minggu. Kartun itu sarat kritik, baik social, politik,
budaya, maupun kehidupan sehari-hari. Ia senyum sesekali. Lain waktu, ia
mengkerutkan dahinya. Terkadang ia bertanya kepadaku makna gambar kartunya. Dari
pertanyaan itu, sering timbul diskusi tak terstruktur kondisi social Indonesia
antaraku dengannya.
Saat mata mulai terpejam tidur, pikiranku melayang jauh.
Batinku berujuar, “Tepat malam ini, Indonesia sedang menyongsong ke arah
perubahan baru”. Pikiranku terus melanglang dan membayangkan aneka
macam hal. Salah satunya, besok, tgl 20 Oktober 2014, Negara pemilik kepulauan
terbesar di dunia ini akan melantik presiden baru, Ir. Joko Widodo. Ia menjadi
preseden termuda dibanding presiden sebelumya. Kata orang, ia merupakan anti
tesis dari profil presiden (yang dipilih rakyat langsung) sebelumnya. Ia juga
bisa menjadi pemotong generasi Indoensia sebelumnya yang terkontaminasi berbagai
“oligarki”, watak yg menghambat demokratisasi Indonesia menuju bangsa yang
adil, makmur dan sejahtera. “Mumpung aku
masih hidup dan berada dalam proses perubahan yang berjalan, maka aku harus
merasakannya. Bahan inilah yang aku ceritakan kepada anak dan cucuku kelak”,
gumanku pelan sebelum tertidur pulas.
Senin pagi, 20 Oktober 2014, aku mengantar anak-anakku tepat
di pukul 06.30. Terlihat agak pagi – bila dibanding biasanya. Ini karena mereka
mengikuti kegiatan tematik sekolah, atau belajar ke pembuatan salah satu
perusahaan kue Pizza. Sambil menikmati music di mobil, saya berbicara ringan
dengan anak-anak. Tak dinyana radio yang kudengar menyiarkan detik-detik
pelantikan presiden ke -7 Indonesia. Radio itu bernama Gen-FM. Radio ini bukan
studio khusus politik. Ia hanya radio yang focus pada kehidupan anak muda dalam
siaran sehari-harinya. Namun sangat special, hari itu penyiarnya membahas
profil Jokowi dari perspektif anak muda. Jokowi, sebagaimana diketahui masih
muda dan merupakan penganggum mudik cadas. Kontan, sang penyiar menyetel lagu
band Mettalica – salah satu group kesukaan Jokowi --, seperti; Nothing Else Matter, The Unforgiven, dan
One. Batinku tergerak. Seakan
tuntutan sejarah sedang menarik-narik anak muda Indonesia untuk terlibat sebagai
saksi nyata bahwa hari ini seorang rakyat biasa– bukan dari keturunan ningrat –
akan dilantik sebagai Presiden RI. Entah datang dari mana, tiba-tiba aura
pemilihan presiden ke -7 seperti hadir di psikologi dan semangat pagiku.
Jangan-jangan banyak warga yang turut merasakannya. Bagai tersengat, semangatku
bergelora menyambut pelantikan tersebut. Seolah sejarah sedang bermula.
Spontan, aku membatin, “Saya harus menjadi bagian dari sejarah ini!!!!”.
Hasrat untuk ke Monas (tempat syukuran rakyat atas pelantikan
presiden ke-7) sementara saya simpan. Pagi ini pukul 09.00 saya harus
menyelesaikan pekerjaan dengan teman di Kalibata, dekat stasium Pasar Minggu
Baru. Sambil berdiskusi untuk perbaikan tulisan sebuah buku, saya mengikuti
pelantikan presiden RI ke-7 melalui streaming stasiun Kompas tv. Diskusiku
terkadang berhenti, karena di sela-sela siaran langsung pelatikan presiden dan pantauan
kondisi jalan raya Sudirman hingga Hotel Indonesia, serta Bundaran Monas.
Apalagi saat acara pelantikan presedin ke-7 selesai, dan analisis Kompas TV, Prof.
Dr. Salim Said – pengamat politik dan militer --, terbata-bata karena menangis
menyaksikan momen sejarah tersebut. Menurutnya, saya terharu, karena baru kali
ini dalam sejarah Indonesia, pergantian kepemimpinan ke-7 berjalan mulus dan
penuh dengan rekonsiliasi. Prabowo dan Hatta Rajasa, sebagai pesaing presiden
terpilih hadir di pelantikan. Selain juga mantan presiden dan wakil presiden,
seperti; BJ Habibie, Megawati, Hamzah Haz, Tri Sutrisno, dan Sinta Nuriah
(istri Abdurrahman Wahid). Salim mengenang bahwa perlu dua tahun saat
pergantian presiden dari Soekarno ke Soeharto. Hal sama saat pergantian dari Soeharto
ke Habibie. Bahkan dari SBY ke Megawati, pun yang terakhir tidak menghadirinya
karena ada persoalan pribadi yang sulit diselesaikan.
Kontan, saya terbawa dengan emosi yang dibawa Salim Said.
Sekali-sekali saya tertunduk di sela-sela diskusi. Tanpa sadar, saya
membenarkan ucapan Salim Said bahwa sejarah sedang dilukis pelakunya. Kejadian
yang barusan saya lihat, makin mendorongku untuk langsung hadir dan menyaksikan
antusiasme warga Indonesia yang kini berkumpul di Monas untuk merayakan pesta
syukuran. Sebagai mantan aktifis mahasiswa, saya berhasrat sekali untuk berlari
saat itu pula ingin ke monas setelah meliht siaran TV. Namun, saya masih
memiliki pekerjaan yg harus diselesaikan bersama kawan.
Tepat pukul 17.00 sore, udara panas semilir masih terasa. Akhirnya
gejolak hasrat ini tak terbendung. Untuk sementara, kami urungkan niat untuk
menyelesaikan tulisan. Kami sepakat untuk menundanya lain hari, dan bergegas
menuju Monas. Saya kuatkan hati bahwa saya harus menjadi saksi sejarah
Indonesia yang sedang “menjadi” (in making). Saya penasaran dengan atusiasme pendudukan
Indonesia yang kini melakukan syukuran guna menyambut pemimpin bangsa yang ke-7
di lapangan Monas.
Jalan kupercepkat guna mencapai stasiun Pasar Minggu Baru.
Sepuluh meter sebelum stasiun, pundaku ditepuk tangan seseorang dari belakang.
Ternyata kawan sesama almamater kuliah dulu berdiri di belakangku. Ia memakai
topi ala petani desa. Saya lupa namanya. Namun yang pasti, ia merupakan
mahasiswa fakultas Filsafat dan menyukai hal-hal yang bersifat “auto the box”.
Ia bertanya, “Hei kawan, mau kemana sore-sore hari begini ?”. “Mau ke Monas,
untuk melihat konser salam 3 jari,” jawabku sekenanya. Ia
mengacungkan jempolnya sebagai tanda setuju. Dan ternyata, ia juga baru saja
dari Monas dan HI untuk menyaksikan pawai pesta syukuran rakyat di sana. Kami tidak
sempat bercakap banyak, karena kereta ke arah kota sudah menunggu di stasiun.
KRL (kereta listrik) arah stasiun kota bergerak sedang. Saya
pergi bersama kawan-kawan yang hendak menjadi saksi sejarah di Monas. Untuk
menuju Monas, penumpang KRL harus turun di stasiun Gondangdia, stasiun terdekat
dari jalan Merdeka. Di dalam KRL, perasaanku tidak sabar untuk segera sampai di
lokasi pesta syukuran rakyat. Hatiku pengin cepat-cepat merasakan aura
kegembiraaan rakyat menyambut pemimpin baru yg semoga membawa perubahan. Ya, angin
perubahan.
Saat berdiri di dalam KRL, saya menyaksikan di depanku seorang
anak perempuan kecil berumur 4 tahun bermain dengan kedua orang tuanya.
Sementara kakaknya asyik memainkan botol air mineral. Ceria sekali anak dan kedua
orang tuanya bersenda gurau di KRL yang miliki udara sejuk. Ya, semenjak PT
kereta api dikomandai Iganatius Jonan, pelan-pelan kereta bertabah nyaman, dan
manusiawi. Bila dibandingkan dengan 4 tahun silam, kondisi KRL sangat miris.
Kebetulan saya aktif menggunaan KRL guna berangkat kuliah ke depok. Kala itu,
penumpang seperti barang mati atau ikan pepes yang disusun secara berderetan.
Manusia berdesak-desakan dengan yg lain, karena sempitnya gerbong dan minimnya
kursi. Belum lagi penumpang yang menumpuk di atas gerbong. Intinya, perubahan
sedang bermula dan bergerak maju di negri ini.
Tanpa sadar, stasiun Gondangdia di depan mata. Kereta
berhenti sejenak dan saya turun segera. Setelah bertanya kepada satpam stasiun
tentang arah Monas, saya bergegas menelusuri jalanan kecil persis di bawah
bangunan rel KRL. Sepanjang jalan, saya bertemu dengan kelompok manusia yang
hendak pergi ke Monas juga. Jadilah, kami berjalan beriringan dengan kelompok pejalan
kaki lain yang memiliki tujuan sama. Ramai namun tertib. Polisi terlihat
berjaga di samping kiri dan kanan sepanjang jalan kecil di bawah KRL. Di kiri-kanan
jalan, terdapat lahan bangunan semi permanen yang dijadikan warga sebagai rumah
makan sederhana (warteg), dan pejual nasi uduk khas betawi dengan berbagai
gorengan. Ada banyak pekerja kantoran yang berhenti sejenak untuk sarapan sore
hari.
Jalan kecil itu berakhir pas disamping kedutaan besar Amerika
Serikat. Begitu muncul di jalan raya, saya kaget sekali. Jalan raya itu dah
penuh. Ruang untuk berjalan kaki sangat sempit. Ratusan manusia sudah tumplek
bleg di situ. Kendaraan roda empat parkir seenaknya di jalan belokan ke arah
Monas atau stasiun Gambir. Mungkin karena sudah sulit untuk berjalan, maka pengemudi
memarkir mobil di situ. Sementara di taman jalan depannya, motor di parkr
sekenanya. Saya bersama rombongan lain yang menuju Monas, berjalan berhimpitan
diantara pejalan kaki dan motor serta mobil. Pelan-pelan saya jalan selangkah
demi selangkah. Makin sore, kelihatannya lautan manusia bertambah yang menuju pelataran
Monas. Setelah berjalan di sela-sela kendaraan dan debu knalpot kendaraan,
sampai juga saya di depan pintu belakang Monas.
Penuh sekali. lautan manusia menyemut di pintu belakang itu.
Pintu masuk dan keluar menumpuk menjadi satu. Polisi yang berdiri di depan
pintu, memberi aba-aba kepada pengunjung untuk berhati-hati. Pedagang asongan,
makanan, dan aneka rupa barang berjejer di depan pintu hingga ke depan tugu
monas. Diantara deretan kaki warga yang berjalan, berdiri truck-truck yang
ternyata berisi gerobak pedagang kaki lima. Fasilitas makanan gratis dari
gerobak yang disediakan panitia syukuran telah habis tak tersisa. Kini, pembeli
harus membelinya dengan harga pasar dari pedagang kaki lima. Saya mendengar cerita
ini dari pengunjung yang membeli “tahu gejrot” dari abang di depanku. Saat si
pembeli bertanya mana makanan gratis yang disediakan pedagang, si abang
menunjuk tumpukan gerobak di atas truck. Beberapa pengunjung berkata bahwa
makanan gratis bertahan dua jam, sebelum ludes dilahap warga. Mantap….
Rasa haus menyerkap kerongkonganku. Saya berhenti sejenak
kira-kira 20 meter dari pintu gerbang. Saya mencari celah ruang kosong di taman
yang ditinggalkan warga lain. Dengan kertas koran yang ada ditas, saya duduk di
taman disamping kerumunan warga lain. Air minum yang baru kubeli, aku minum
beberapa teguk. Sate padang plus lontongnya juga saya pesan untuk mengisi
perut. Ini jaga-jaga kalau-kalau nanti pas rasa lapar hadir, namun sulit
mencari makanan. Sambil makan, saya menyaksikan lautan manusia datang tak
henti-hentinya menuju panggung yang yang berjarak 30 meter dari hadapanku. Panggung
terlihat sepi sejenak dari pertunjukan music. Menurutu warga sampingku, baru
saja para pengisi acara instirahat melaksanakan sholat maghrib .
Begitu jam menunjukan pukul 18.30, suara MC (master of
ceremony) terdengar keras dari panggung yang pas berdiri di depan tugu Monas.
Pengunjung menyemut ke arah panggung. Saya tertegun dan takjub. Lautan bahkan
ribuan manusia berkumpul berdesak-desakan di depan panggung. Saya tidak berani
mendekat ke panggung. Saya hanya berdiri jauh dari panggung. Mungkin kira-kira
30 meteran jarak antara panggung dan saya berdiri. Anak-anak, orang tua, suami-istri,
pekerja kantoran, anak muda dan pasangannya, pekerja dari semua profosi
berkumpul menjadi satu di depan panggung. Mereka bergembira bersama. Pas pukul
19.00 malam, presiden terpilih, Jokowi, muncul di atas panggung. Pengunjung berteriak
histeris bagai menyaksikan artis idola. Tangan pengunjung dilambaikan
tinggi-tinggi untuk menggapai sang idola. Sementara Jokowi sebagai presiden terpilih,
berlari-lari menyisir segala sudut panggung. Ia mengepalkan tangan dengan salam
3 jarinya. Ia laksana penyanyi yang sedang melakukan pemanasan aksi guna
memulai aksi panggungnya.
Yang geli saat itu adalah posisi ajudan Jokowi. Ia serba
salah. Eh tanpa dinyana, ia ikutan lari-lari saat Jokowi berdiri dan berlari di
atas panggung. Ia mengikuti beberapa centi meter di belakang dan sampingnya.
Aneh tapi nyata. Sebelum jadi presiden, Jokowi bebas berlarian (seperti saat
konser 2 jari di GBK), kini ia harus diikuti ajudan. Namun ia tidak risih.
Bagusnya, sang wajah ajudan tidak bergeming. Ia tetap berwibawa (atau
jangan-jangan diwiba-wibawain..hi..hi..). Tegap. Tak berekpresi wajahnya.
Justru saya yang menyaksikan adegan tersebut tertawa terpingkal-pingkal bersama
teman. Jangan-jangan memang ini sudah menjadi SOP ajudan seorang presiden.
Pukul 19.30. Malam tak terasa makin larut. Manusia yang hadir
makin meningkat. Monas bertambah penuh. Artis di panggung makin garang dan
semangat. Semangat membara dirasakan pengunjung, apalagi setelah melihat
presiden terpilih berorasi, dan menyebar orama keoptimisan menatap Indonesia ke
depan. Saya putuskan untuk pulang guna mengantisipasi kerumunan yang makin
padat. Jalan pulang harus ditempuh seperti saat masuk dari pintu belakang (di
depan Gambir). Saat baru beberapa meter berjalan pulang, saya lagi-lagi terpana.
Luatan manusia bagai air bah. Ia mengalir deras tak terkomando menuju ke tugu
Monas. Saya dan pengunjung yang hendak pulang, terlihat sama banyak dengan pengunjung
yg menuju ke arah Monas. Hingga mendekati pintu keluar, saya berjalan
pelan-pelan, bahkan berhimpitan. Akhirnya, tak pelak warga berdesak-desakan di
pintu keluar dan masuk.
Polisi yang berdiri diatas mobil, dengan pengeras suara
mengatur pengunjung untuk berhati-hati. Namun karena banyaknya manusia, suara
polisi bagai sayup-sayup. Saya sekuat tenaga berjalan diantara desakan manusia
baik yang mau keluar maupun masuk. Mataku pelan-pelan mengawasi jalan keluar
yang akan saya lalui. Karena berdesak-desakan, akhirnya saya terdorong keluar.
Begitu keluar, saya menuju ke arah jalan yang longgar untuk meghindari ombak
manusia. Dengan meraba saya berjalan
hati-hati. Di depan lautan manusia tetap berjalan pelan ke arahku. Motor pun
rame beriringan untuk parkir di area samping stasiun Gambir. Secepat itu, saya
berjalan mencari celah diantara keriuhan pejalan kaki dan motor. Tanpa sadar,
saya masuk ke jalan sempit diantara motor dan pejalan kaki.
“Wah untung nih, saya bisa mengindar kerumunan manusia”,
ucapku senang. Namun beberapa meter berjalan, ternyata saya bertemu deretan
motor yang berada pas di depan dan sampingku. Kontan, saya sulit bermanuver
untuk berjalan, baik ke depan maupun ke belakang. Akhirnya, saya mencari jalan
di antara motor yang diparkir maupun yang sedang dinaiki pengedararnya.
Beberapa menit, saya pandangi area dimana saya berdiri. Gelap, hanya sedikit
penerangan. Pelan-pelan saya perhatikan. Ternyata lokasi dimana saya berdiri
adalah lahan parkir motor di depan stasiun Gambir. Waduh…..






Tidak ada komentar:
Posting Komentar