Senin, 06 Oktober 2014

Nasi Goreng “Maknyus” di Pegunungan Nagarkot, Nepal


Kamis pagi, 20 Juni 2013, langit Kathmandu (Nepal) terlihat mendung pekat. Saya memperhatikannya dari balik kamar hotel di kawasan Bundanat, Katmandu, dengan berharap.

Beberapa menit kutunggu, akhirnya saya nekat. Bersama teman, saya putuskan pergi ke segala sisi kota Kathmandu, dengan merubah rencana perjalananan. Semula, kami ingin berkunjung ke kawasan Nagarkot (keterangan Nagarkot, lihat info di bawah). Namun berkat pertimbangan, kami menggantinya ke tempat lain, yaitu candi Swayambu. Candi ini terletak di dataran tinggi yang dikelilingi dengan rimbunan pepohonan, dan pemandangan eksotik serta beratus-ratus kera menghuninya (kalau ga percaya, cari di mbah google deh…). Mungkin mirip salah satu candi di Bali kali ya….


Sarapan pagi kelar. Namun aku masih penasaran dgn cuaca yang sesekali mendung, tapi muncul sinar matahari meski malu-malu. Temanku Bastian (warga Indonesia), Philip (penduduk Australia) dan saya – seperti diungkap diatas -- melupakan Nagarkot. Kami menggantinya dengan candi Swayambu, karena Philip memintanya. Uang 600 rupee untuk membayar taksi -- seperti petugas hotel sampaikan -- telah disiapkan di saku. Beberap menit, taksi mendekat di samping jalan raya dimana kami berdiri. Tawar menawar terjadi. Kami ajukan 400 rupee sebagai tawaran awal kepada sang supir.

Eh….dia langsung setuju.“Deal”, dan taksi berlalu dengan cepat. Sepanjang jalan, Philip yang duduk bangku depan, memberondong sang supir berbagai pertanyaan seputar Kathmandu. Bastian di bangku belakang, tak kalah ganas mengomentarinya. Aku geli dan tertawa kecil di hati, melihat dua teman bersemangat dalam menggali pertanyaan (persis kaya peneliti..ha..ha…). Anehnya, si supir sabar melayaninya dengan senyum. Di akhir percakapan – karena telah sampai di candi Swayambu --, Philip berujar, “He is a nice guy……”.Tanpa berucap, Bastian dan aku mengamininya.

Saat kaki menginjak candi Swayambu. Awan di langit berarak cerah, bagai menari kegirangan setelah dihadang awam mendung dan hujan berhari-hari. Aku dan Bastian bimbang. Hatiku berkecamuk, “Kenapa kita tidak berkelana ke Nagarkot saja? Mumpung kondisi telah beranja cerah?”.

Dua jam kita mengelilingi candi Swayambu. “Bosan juga ya..berkeliling candi tanpa henti”, keluhku di tengah-tengah naik tangga candi. Philip yang sedari tadi menangkap kebosananku dan Bastian, menghentikan langkahnya. Setelah diskusi sebentar, Philip menyarankan kami untuk melanjutkan ke Nagarkot. Biar tidak penasaran, katanya. Menurutnya, biarlah ia berkeliling Kathmandu sendirian, karena badanya tidak begitu sehat. Ia mengaku merinding sejak semalam. “Mungkin aku flu dan kedinginan”, ujar Philip dengan aksen Inggris-Australia kental.

Bastian mantap ke Nagarkot. Ini terlihat dari wajahnya yang seolah-olah menarik tanganku untuk pergi ke sana berdua. Sedari semalam ia meyakinkanku untuk “traveling” ke sana. Ia berujar bahwa Nagarkot layaknya desa wisata yang biasa dimanfaatkan pendaki untuk “aklimatisasi” sebelum naik ke Himalaya (Aku sih agak meragukan statemen Bastian, tapi anggap saja sahih..hi..hi..). “Ayolah mas, kita kesana saja dengan berdua saja. Kita bisa memandang selain candi dan tempat ibadah,” ungkap Bastin meyakinkanku tadi malam. Memang sih tempat wisata di Kathmandu, Nepal, dipenuhi candi baik untuk Hindu maupun Budhda. Bosan….

Berpisah dengan Philip di Swayambu, kami berangkat ke Nagarkot. Supir taksi yang sudi menunggu di pelataran Swayambu menjawab segala pertanyaanku tentang cara mudah menuju Nagarkot. Setelah mempertimbangkan banyak hal (dari diskusi dgn si supir taksi), kami putuskan naik taksi menuju ke terminal Bis di Kathmandu.

Sang supir berujar bahwa dari terminal itu, kita disuruh naik bis menuju Bahktapur. Dari situ, traveler harus bergegas naik bus yang menuju ke Nagarkot di tempat pemberhentian. Nah, semua penumpang harus turun, dan melanjutkan perjalanan ke dataran yang lebih tinggi dengan berjalan kaki untuk mengambil foto. Lokasi itu, kini telah dibangun hotel dan penginapan. Meski begitu, pengunjung berkantong cekak tetap bisa berdiri memandang keindahan gunung Himalaya.

Diskusi antara kami dengan supir taksi berlangsung seru sambil menuju terminal bis. Bastin duduk di samping supir, sementara aku di belakang sendirian. Temanku rajin mencari informasi sedalam-dalamnya tentang Nagarkot dari si supir. Sang supir memberi pertimbangan yang masuk akal. Ia bilang bahwa bila kita ke Nagarkot dengan bis, sudah pasti ia penuh dan berdesak-desakan. Belum lagi bisnya “ngetem” untuk menunggu penumpang lain. Situasinya persis seperti naik bis di Indonesia. Apalagi arah yang dituju adalah daerah pegungunan yang jarang ada kendaraan. Bis itulah salah satu moda transportasi ke Nagarkot dari terminal Bahktapor.

Sambil menyimak diskusi seru antara Bastin dan supir, aku memperhatikan kondisi Bis yang kebanyakan rusak dengan penumpangnya berdesak-desakan. Udara panas penuh debu mempengaruhi pikiranku dalam mengambil keputusan moda transportasi yang cocok.

Terminal Bahktapur sebentar lagi tampak. Temanku mencoba mengakalkulasi ongkos, antara naik bis kota dan mencarter taksi. Aku sempat berfikir, mendingan naik bis kota sehingga kita meresapi perjalan ke Nagarkot. Saat aku berfikir, temanku menyodorkan perhitungan ongkos, yaitu 2.300 rupee, untuk perjalan antar Kathmandu (posisi terakhirku di Bundanat) ke Nagarkot (PP). Mungkin kalau dirupiahin jumlah itu menjadi sekitar Rp 300.000 an. Tadinya, si supir meminta ongkos sebesar 2.500 rupee. Setelah aku dan temanku berdiskusi kecil dalam bahasa Indonesia – sementara terminal sudah di depan mata --, akhirnya kami setuju dengan ongkos sebesar 2.300 rupee ke Nagarkot.

Perjalanan ke Nagarkot dimulai. Udara pegunungan (bagai di puncak Bogor) terasa di kulit setelah melampaui terminal Bahktapor. Jalanan kecil dan suasana pegunungan dengan jurang di kanan dan kiri mengiringi perjalanan.  Pemandangan bukit yang dipenuhi pohon nan hijau memanjakan pemandangan sepanjang perjalanan. Mobil taksiku terkadang berhenti sejenak bila bertemu dengan Bis atau Truk, untuk memberi jalan kendaraan dari arah berlawanan. Aku terpana dengan keindahan pemandangan sebelah kiri dan kanan jalan. “Gila indah benar pemandangan ini….udaranya pun sejuk semilir dan bagai mencubit-cubit kulit tipisku…”, gumanku dalam hati.   

Jalan sedikit bergelombang membuat taksi bergoyang membangunkan kantukku karena desiran udara ke sumsum mataku. Bastian yang membawa camare, tak sudi melesatkan view tersebut. Ia terus memotretnya. Awan di langit terus berarak, namun sesekali ia tertutup mendung di satu lokasi. Walhasil, satu tempat tersinari matahari dan yang lain tertutup mendung semi gelap. Bis kota ke Nagarkot sesekali lewat dan berpapasan dengan taksi kami. Benar, kata si supir, laju bis terkesan lambat dan jarang. Kondisinya pun  sudah pada bopeng di badan  kendaraanya. Persis seperti bis kopaja di Jakarta. Ia pun berhenti setiap ada penumpang yang meminta turun atau naik.

Jam 13.00 siang, kami sampai di puncak pegunungan Nagarkot. Bila kami tidak menggunakan taksi, kami terpaksa berhenti di terminal Nagarkot. Dari situ, kami harus berjalan ke tempat yang lebih tinggi (mungkin kalau di Bogor ke arah puncak pass nya…). Kayaknya tenagaku tidak mendukung untuk jalan kaki dari terminal Nagarkot ke arah puncak yang diinginkan. Udara sekeliling membuat badanku capek. Rasa lapar ikut mengiringi karena jam menunjukan 13.30. Sepanjang jalan ke arah puncak Nagarkot terlihat Gues House dan bas camp yang biasa dipakai para pendaki atau pengunjung guna melihat keindahan Gunung Himalya. Seperti banyak diuraikan (di banyak cerita) bahwa pegunungan Himalaya yang diselimuti es terlihat jelas dari Nagarkot. Aku melihat foto-foto pegunungan Nagarkot yang berlatar belakang Himalaya terpampang di rumah makan. Sungguh menakjubkan…

Pemandangan itu selalu dicari pengunjung. Sayang, bulan Juni bukan momen yang memunculkan Himalaya dari Nagarkot. Biasanya, bulan Agustus, September, Oktober, November dan Desember, menjadi bulan favorit kemunculan Himalya di Nagarkot. Begitu ungkap penjaga warung makan yang kami ajak ngobrol. Sayang saat itu, aku dan temanku tidak beruntung.

Meski hujan tidak turun dan awan tetap berarak, Himalaya tetap tidak mendampakan diri. Kami berjalan ke arah dataran paling tinggi. Setelah memarkir taksi di pelataran hotel bertuliskan “Club of Himalaya”, kami berjalan ke atas, dan benar sekali, pemandangannya indah. Kota Kathmandu seolah terlihat begitu kecil dan berderetan bagai cekungan lembah. Kami mengabadikan pemandangan indah dengan cepretan foto indah dan mempesona. Saat menuju tempat paling tinggi, kepalaku pusing dan badanku hampir jatu. Aku berdiri dan berhenti sejenak. Kepalaku bagai berputar-putar dan mulut menyimpan rasa mual. Temanku ternyata merasakan hal sama. Sepertinya, lapisan udara di puncak Nagarkot makin menipis, sehingga mempengaruhi temperatur badanku. Kondisi perut yang lapar kelihatannya menjadi sumbangan lain.

Mengantisipasi hal tak diinginkan, kami turun dari ketinggian Nagarkot untuk mencari restoran. Banyak restoran yang menyatu dengan guest house. Di persimpangan jalan menuju hotel club Himalaya, terdapat restoran yang menyatu dgn gues house, menarik perhatianku. Di dalam menunya tertulis nasi goreng. Kami tidak langsung mampir, namun berjalan menurun ke bawah untuk mencari restoran lain. 10 menit berjalan, namun tidak ada restoran yang “srek” di hati kami. Akhirnya kami putuskan utuk mampir di restoran penjual nasi goreng. Restoran itu bernama “Hotel Bhanjyang & Restaurant”. Kami berembuk untuk makan apa di siang terik itu. Setelah melihat menu, kami melihat nasi goreng dengan harga terjangkau, yaitu sebesar 90 rupee. Mungkin kalau di rupiah sekitar 10 – 15 ribuan. Murah lah untuk kawasan wisata seperti Nagarkot.

15 menit kami menunggu hidangan tesebut. Sembarinya, kami berbicang-bincang dengan penjaga restaurant lain (mungkin masih keluarganya). Menurutnya bila bulan waktu berkunjung tiba, penginapan dan restoran ini penuh dengan turis. Pengunjung menunggu pemandangan Himalaya dari Nagarkot. Masakan nasi goreng  tiba setelah beberapa menit. Perut lapar yang kami rasakan segera terobati. Satu suap pertama kami rasakan. “wah…enak sekali, maknyus (istilah mas Bondan)”, ucapku pada teman di hadapanku.

Nasi goreng itu terlapisi dengan telor dadar dan tercapur dengan sayuran. Mulutku merasakan bahwa ini masakan nasik goreng terlezat yang pernah aku makan di Kathmandu. Harganya pun tidak mahal. Aku pernah makan nasi goreng pula di restoren China, di daerah Tamil Kathmandu seharga 130 rupee, namun tidak seenak itu.   

Sambil makan, kami berbicang-bincang dengan perempuan (ternyata istri pemilik restoran) yang membuat nasi goreng. Sungguh luar biasa, ia berbicara bahasa Inggis dengan baik dan lancar. Mungkin terbiasa dengan turis di berbagai kesempatan. Meski porsinya hampir memenuhi piring besar, aku melahapnya habis.

Sekitar pukul 14.30, siang, hujan rintik membasahi Nagarkot. Kami pamit kepada ibu pemilik restoran sekaligus pembuat nasi goreng lezat nan murah. Mudah-mudahan lain kali, kami mengunjunginya bersamaan dengan hadirnnya Himalaya yang diselimuti es nan indah. Semoga……

Tidak ada komentar:

Posting Komentar