Kamis
pagi, 20 Juni 2013, langit Kathmandu (Nepal) terlihat mendung pekat. Saya memperhatikannya
dari balik kamar hotel di kawasan Bundanat, Katmandu, dengan berharap.
Beberapa
menit kutunggu, akhirnya saya nekat. Bersama teman, saya putuskan pergi ke segala
sisi kota Kathmandu, dengan merubah rencana perjalananan. Semula, kami ingin berkunjung
ke kawasan Nagarkot (keterangan Nagarkot,
lihat info di bawah). Namun berkat pertimbangan, kami menggantinya ke
tempat lain, yaitu candi Swayambu. Candi ini terletak di dataran tinggi yang
dikelilingi dengan rimbunan pepohonan, dan pemandangan eksotik serta
beratus-ratus kera menghuninya (kalau ga percaya, cari di mbah google deh…).
Mungkin mirip salah satu candi di Bali kali ya….
Sarapan
pagi kelar. Namun aku masih penasaran dgn cuaca yang sesekali mendung, tapi
muncul sinar matahari meski malu-malu. Temanku Bastian (warga Indonesia),
Philip (penduduk Australia) dan saya – seperti diungkap diatas -- melupakan Nagarkot.
Kami menggantinya dengan candi Swayambu, karena Philip memintanya. Uang 600
rupee untuk membayar taksi -- seperti petugas hotel sampaikan -- telah
disiapkan di saku. Beberap menit, taksi mendekat di samping jalan raya dimana
kami berdiri. Tawar menawar terjadi. Kami ajukan 400 rupee sebagai tawaran awal
kepada sang supir.
Eh….dia
langsung setuju.“Deal”, dan taksi berlalu dengan cepat. Sepanjang jalan, Philip
yang duduk bangku depan, memberondong sang supir berbagai pertanyaan seputar
Kathmandu. Bastian di bangku belakang, tak kalah ganas mengomentarinya. Aku
geli dan tertawa kecil di hati, melihat dua teman bersemangat dalam menggali
pertanyaan (persis kaya peneliti..ha..ha…).
Anehnya, si supir sabar melayaninya dengan senyum. Di akhir percakapan – karena
telah sampai di candi Swayambu --, Philip berujar, “He is a nice guy……”.Tanpa berucap, Bastian dan aku mengamininya.
Saat
kaki menginjak candi Swayambu. Awan di langit berarak cerah, bagai menari
kegirangan setelah dihadang awam mendung dan hujan berhari-hari. Aku dan
Bastian bimbang. Hatiku berkecamuk, “Kenapa
kita tidak berkelana ke Nagarkot saja? Mumpung kondisi telah beranja cerah?”.
Dua
jam kita mengelilingi candi Swayambu. “Bosan
juga ya..berkeliling candi tanpa henti”, keluhku di tengah-tengah naik
tangga candi. Philip yang sedari tadi menangkap kebosananku dan Bastian,
menghentikan langkahnya. Setelah diskusi sebentar, Philip menyarankan kami
untuk melanjutkan ke Nagarkot. Biar tidak penasaran, katanya. Menurutnya,
biarlah ia berkeliling Kathmandu sendirian, karena badanya tidak begitu sehat.
Ia mengaku merinding sejak semalam. “Mungkin
aku flu dan kedinginan”, ujar Philip dengan aksen Inggris-Australia kental.
Bastian
mantap ke Nagarkot. Ini terlihat dari wajahnya yang seolah-olah menarik tanganku
untuk pergi ke sana berdua. Sedari semalam ia meyakinkanku untuk “traveling” ke
sana. Ia berujar bahwa Nagarkot layaknya desa wisata yang biasa dimanfaatkan
pendaki untuk “aklimatisasi” sebelum
naik ke Himalaya (Aku sih agak meragukan statemen Bastian, tapi anggap saja
sahih..hi..hi..). “Ayolah mas, kita kesana
saja dengan berdua saja. Kita bisa memandang selain candi dan tempat ibadah,”
ungkap Bastin meyakinkanku tadi malam. Memang sih tempat wisata di Kathmandu,
Nepal, dipenuhi candi baik untuk Hindu maupun Budhda. Bosan….
Berpisah
dengan Philip di Swayambu, kami berangkat ke Nagarkot. Supir taksi yang sudi
menunggu di pelataran Swayambu menjawab segala pertanyaanku tentang cara mudah
menuju Nagarkot. Setelah mempertimbangkan banyak hal (dari diskusi dgn si supir
taksi), kami putuskan naik taksi menuju ke terminal Bis di Kathmandu.
Sang
supir berujar bahwa dari terminal itu, kita disuruh naik bis menuju Bahktapur.
Dari situ, traveler harus bergegas naik bus yang menuju ke Nagarkot di tempat
pemberhentian. Nah, semua penumpang harus turun, dan melanjutkan perjalanan ke
dataran yang lebih tinggi dengan berjalan kaki untuk mengambil foto. Lokasi
itu, kini telah dibangun hotel dan penginapan. Meski begitu, pengunjung
berkantong cekak tetap bisa berdiri memandang keindahan gunung Himalaya.
Diskusi
antara kami dengan supir taksi berlangsung seru sambil menuju terminal bis.
Bastin duduk di samping supir, sementara aku di belakang sendirian. Temanku
rajin mencari informasi sedalam-dalamnya tentang Nagarkot dari si supir. Sang
supir memberi pertimbangan yang masuk akal. Ia bilang bahwa bila kita ke
Nagarkot dengan bis, sudah pasti ia penuh dan berdesak-desakan. Belum lagi
bisnya “ngetem” untuk menunggu penumpang lain. Situasinya persis seperti naik
bis di Indonesia. Apalagi arah yang dituju adalah daerah pegungunan yang jarang
ada kendaraan. Bis itulah salah satu moda transportasi ke Nagarkot dari
terminal Bahktapor.
Sambil
menyimak diskusi seru antara Bastin dan supir, aku memperhatikan kondisi Bis
yang kebanyakan rusak dengan penumpangnya berdesak-desakan. Udara panas penuh
debu mempengaruhi pikiranku dalam mengambil keputusan moda transportasi yang
cocok.
Terminal
Bahktapur sebentar lagi tampak. Temanku mencoba mengakalkulasi ongkos, antara
naik bis kota dan mencarter taksi. Aku sempat berfikir, mendingan naik bis kota
sehingga kita meresapi perjalan ke Nagarkot. Saat aku berfikir, temanku
menyodorkan perhitungan ongkos, yaitu 2.300 rupee, untuk perjalan antar
Kathmandu (posisi terakhirku di Bundanat) ke Nagarkot (PP). Mungkin kalau
dirupiahin jumlah itu menjadi sekitar Rp 300.000 an. Tadinya, si supir meminta
ongkos sebesar 2.500 rupee. Setelah aku dan temanku berdiskusi kecil dalam
bahasa Indonesia – sementara terminal sudah di depan mata --, akhirnya kami
setuju dengan ongkos sebesar 2.300 rupee ke Nagarkot.
Perjalanan
ke Nagarkot dimulai. Udara pegunungan (bagai di puncak Bogor) terasa di kulit setelah
melampaui terminal Bahktapor. Jalanan kecil dan suasana pegunungan dengan
jurang di kanan dan kiri mengiringi perjalanan.
Pemandangan bukit yang dipenuhi pohon nan hijau memanjakan pemandangan
sepanjang perjalanan. Mobil taksiku terkadang berhenti sejenak bila bertemu
dengan Bis atau Truk, untuk memberi jalan kendaraan dari arah berlawanan. Aku
terpana dengan keindahan pemandangan sebelah kiri dan kanan jalan. “Gila indah benar pemandangan ini….udaranya
pun sejuk semilir dan bagai mencubit-cubit kulit tipisku…”, gumanku dalam
hati.
Jalan
sedikit bergelombang membuat taksi bergoyang membangunkan kantukku karena desiran
udara ke sumsum mataku. Bastian yang membawa camare, tak sudi melesatkan view
tersebut. Ia terus memotretnya. Awan di langit terus berarak, namun sesekali ia
tertutup mendung di satu lokasi. Walhasil, satu tempat tersinari matahari dan
yang lain tertutup mendung semi gelap. Bis kota ke Nagarkot sesekali lewat dan
berpapasan dengan taksi kami. Benar, kata si supir, laju bis terkesan lambat
dan jarang. Kondisinya pun sudah pada
bopeng di badan kendaraanya. Persis seperti
bis kopaja di Jakarta. Ia pun berhenti setiap ada penumpang yang meminta turun
atau naik.
Jam
13.00 siang, kami sampai di puncak pegunungan Nagarkot. Bila kami tidak
menggunakan taksi, kami terpaksa berhenti di terminal Nagarkot. Dari situ, kami
harus berjalan ke tempat yang lebih tinggi (mungkin kalau di Bogor ke arah
puncak pass nya…). Kayaknya tenagaku tidak mendukung untuk jalan kaki dari
terminal Nagarkot ke arah puncak yang diinginkan. Udara sekeliling membuat
badanku capek. Rasa lapar ikut mengiringi karena jam menunjukan 13.30.
Sepanjang jalan ke arah puncak Nagarkot terlihat Gues House dan bas camp yang
biasa dipakai para pendaki atau pengunjung guna melihat keindahan Gunung
Himalya. Seperti banyak diuraikan (di banyak cerita) bahwa pegunungan Himalaya
yang diselimuti es terlihat jelas dari Nagarkot. Aku melihat foto-foto pegunungan
Nagarkot yang berlatar belakang Himalaya terpampang di rumah makan. Sungguh
menakjubkan…
Pemandangan
itu selalu dicari pengunjung. Sayang, bulan Juni bukan momen yang memunculkan
Himalaya dari Nagarkot. Biasanya, bulan Agustus, September, Oktober, November
dan Desember, menjadi bulan favorit kemunculan Himalya di Nagarkot. Begitu
ungkap penjaga warung makan yang kami ajak ngobrol. Sayang saat itu, aku dan
temanku tidak beruntung.
Meski
hujan tidak turun dan awan tetap berarak, Himalaya tetap tidak mendampakan
diri. Kami berjalan ke arah dataran paling tinggi. Setelah memarkir taksi di
pelataran hotel bertuliskan “Club of Himalaya”, kami berjalan ke atas, dan
benar sekali, pemandangannya indah. Kota Kathmandu seolah terlihat begitu kecil
dan berderetan bagai cekungan lembah. Kami mengabadikan pemandangan indah
dengan cepretan foto indah dan mempesona. Saat menuju tempat paling tinggi,
kepalaku pusing dan badanku hampir jatu. Aku berdiri dan berhenti sejenak.
Kepalaku bagai berputar-putar dan mulut menyimpan rasa mual. Temanku ternyata
merasakan hal sama. Sepertinya, lapisan udara di puncak Nagarkot makin menipis,
sehingga mempengaruhi temperatur badanku. Kondisi perut yang lapar kelihatannya
menjadi sumbangan lain.
Mengantisipasi
hal tak diinginkan, kami turun dari ketinggian Nagarkot untuk mencari restoran.
Banyak restoran yang menyatu dengan guest house. Di persimpangan jalan menuju
hotel club Himalaya, terdapat restoran yang menyatu dgn gues house, menarik
perhatianku. Di dalam menunya tertulis nasi goreng. Kami tidak langsung mampir,
namun berjalan menurun ke bawah untuk mencari restoran lain. 10 menit berjalan,
namun tidak ada restoran yang “srek” di hati kami. Akhirnya kami putuskan utuk
mampir di restoran penjual nasi goreng. Restoran itu bernama “Hotel Bhanjyang
& Restaurant”. Kami berembuk untuk makan apa di siang terik itu. Setelah
melihat menu, kami melihat nasi goreng dengan harga terjangkau, yaitu sebesar
90 rupee. Mungkin kalau di rupiah sekitar 10 – 15 ribuan. Murah lah untuk kawasan
wisata seperti Nagarkot.
15
menit kami menunggu hidangan tesebut. Sembarinya, kami berbicang-bincang dengan
penjaga restaurant lain (mungkin masih keluarganya). Menurutnya bila bulan
waktu berkunjung tiba, penginapan dan restoran ini penuh dengan turis. Pengunjung
menunggu pemandangan Himalaya dari Nagarkot. Masakan nasi goreng tiba setelah beberapa menit. Perut lapar yang kami
rasakan segera terobati. Satu suap pertama kami rasakan. “wah…enak sekali, maknyus (istilah mas Bondan)”, ucapku pada teman
di hadapanku.
Nasi
goreng itu terlapisi dengan telor dadar dan tercapur dengan sayuran. Mulutku
merasakan bahwa ini masakan nasik goreng terlezat yang pernah aku makan di
Kathmandu. Harganya pun tidak mahal. Aku pernah makan nasi goreng pula di
restoren China, di daerah Tamil Kathmandu seharga 130 rupee, namun tidak seenak
itu.
Sambil
makan, kami berbicang-bincang dengan perempuan (ternyata istri pemilik restoran)
yang membuat nasi goreng. Sungguh luar biasa, ia berbicara bahasa Inggis dengan
baik dan lancar. Mungkin terbiasa dengan turis di berbagai kesempatan. Meski
porsinya hampir memenuhi piring besar, aku melahapnya habis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar