Kamis, 13 Agustus 2015

Bau Anyir di Kaki Rinjani


Udara awal Agustus 2015 di kelurahan Pancor, kec. Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) terasa lembab. Tiupan angin daerah yang terletak beberapa kilometer dari kaki gunung Rinjani terasa dingin di kulit. Kelurahan Pancor, kec. Selong, kira-kira berjarak 45 kilometer dari kec Sembalun, lokasi Gunung Rinjani berada. Meski begitu, hawa Rinjani yang dingin-sembab terasa  begitu dekat denganku saat hendak bergegas keluar kamar penginapan bernama  “Green Hayaq”, di Pancor. Kelurahan ini juga merupakan tempat kelahiran ulama besar bernama Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan (disingkat NW) organisasi islam terbesar di Lombok. Salah satu cucunya Muhamad Zainul Majdi adalah  Gubernur NTB 2008-2013.

Pagi itu, jam dinding menunjukkan pukul 06.30, namun suasana masih serasa jam 05.00 pagi. Dingin sekali. Setiap angin berhembus menerpa wajah, badanku menggigil seketika. Namun begitu, hasratku untuk berjalan pagi tak terbendung. Tepat pukul 07.00 pagi, aku memaksakan diri keluar hotel. Jalan pagi menjadi rutinitas setiap aku berkunjung ke daerah luar Jakarta. Selain menyehatkan badan setelah ditempa rutinitas kerjaan, ini juga menjadi pengetahuan baru bagiku tentang kondisi kota di pagi hari. Kata pepatah kuno, kondisi kota di pagi hari merupakan wajah “asli” nya. Laksana manusia, ia masih “original”, belum terpoles dengn aneka dandanan dan aksesoris.

Selasa, 10 Maret 2015

Berburu Durian Hingga ke Sawahlunto


Mendengar kota Sawahlunto, yang terbetik di telinga pembaca adalah daerah pemilik kareta api tertua di Indonesia sebagai pengangkut tambang batubara. Sisa kemegahan kota dan jejak besi rel kereta api bisa ditelusuri bila anda berkunjung ke daerah berjuluk "Kota Wisata Tambang yang Berbudaya” (menurut Wikipedia) di Sumatera Barat. Kontur pegunungan dan hutan lebat yang memagarinya seolah mensahkan keberadaan kereta api sebagai moda transportasi. Hindia Belanda menjadikan kereta api amat penting setelah menemukan ribuan tambang batu bara sejak tahun 1892 di salah satu kota tua terbaik di Sumatara. Namun, bukan sisa kemegahan jalur transportasi rel kereta api peninggalan Hindia-Belanda – yang kini juga menjadi latar setting film Dibawah Lindungan Ka’bah -- , namun penulis akan ceritakan mutiara lain –selain batu bara – yaitu “ kema’nyusan” rasa dan “ketebalan daging” durian Sawahlunto. Berburu durian ke Sawahlinto dengan dibarengi menikmati perjalanan menyusuri pegunungan dan hutan alam arah Sawahlunto melupakan sejenak penat Ibukota. Hi…hi…..

Pukul 06.30 pagi, Kamis 23 Januari 2015, kota Padang, Sumetera Barat serasa sudah jam 09.00. Meski bulan ini memasuki musim hujan, namun sinar matahari di negri Malin Kundang sudah gagah tampak di ufuk Barat. Badanku yang terserang panas-dalam sedari semalam belum reda pagi ini. Minuman penyegar sudah kuminum sejak semalam, namun angin perubahan belum terasa. Semilir hawa dingin sering menyergap tiba-tiba kulit badanku. Sontak, semangat beraktifitas mereda seketika. Namun karena sudah berjanji, saya paksakan diri turun dari kamar Hotel Sawali, Padang, ke loby guna bertemu teman yang menunggu. Tepat pukul 07.00 – seperti yang dijanjikan – kawanku yang asli Minang bersiap-siap travelling di pelataran hotel bersama Jhon, sang sopir.

Rabu, 28 Januari 2015

Snack Minang “green” nan Menyehatkan


Komunitas penggemar makanan-sehat sering memandang “rendah” makanan atau snack ranah Minang. Menyebut beberapa contoh seperti; kripik pedas balado, gulai ikan, kerupuk kulit, kerupuk kulit ikan dsb merupakan makanan yang taka sing bagi penikmat kuliner. Umumnya aneka makanan tersebut dipenuhi santan atau campuran lain yang tidak menyehatkan namun lezat di lidah. Bila kita melahapnya, seketika tensi kelestoral dan gula darah naik. Kini, sekelompok anak muda membuat terobosan dengan menggagas makanan khas Minang menyehatkan dan ramah lingkungan. Berikut ini kisahnya….
Tanggal 20 – 24 Januari 2015 lalu, saya berada di Sumatera Barat. Saya pun resah dengan menu makanan yang tersedia di sana. Setiap siang dan malam hari, saya santap jenis makanan berlemak dan bersantan. Sedap nan nikmat. Namun setelah menyantapnya, terkadang penyesalan datang terlambat (ha…ha….). Badanku terasa ngga enak saat mau tidur di malam hari. Mungkin gula darahku mulai naik pelan-pelan. Meski saya belum melakukan “general check-up” atas tubuhku, namun kondisi kolesterol dan gula darah terus menjadi perhatianku setiap saat menyentuh makanan. Tidak hanya persoalan makanan besar, snack dan aneka makanan kecil lainnya yang sehat pun saya sulit mencari di ranah kelahiran M. Natsir dan Buya Hamka tersebut. Saya pusing mencari oleh-oleh makanan yang tidak biasa (maksudnya yang lebih menyehatkan dan tentu berharga murah….ha..ha…).