Udara
awal Agustus 2015 di kelurahan Pancor, kec. Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara
Barat (NTB) terasa lembab. Tiupan angin daerah yang terletak beberapa kilometer
dari kaki gunung Rinjani terasa dingin di kulit. Kelurahan Pancor, kec. Selong,
kira-kira berjarak 45 kilometer dari kec Sembalun, lokasi Gunung Rinjani
berada. Meski begitu, hawa Rinjani yang dingin-sembab terasa begitu dekat denganku saat hendak bergegas
keluar kamar penginapan bernama “Green
Hayaq”, di Pancor. Kelurahan ini juga merupakan tempat kelahiran ulama besar
bernama Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan (disingkat
NW) organisasi islam terbesar di Lombok. Salah satu cucunya Muhamad Zainul
Majdi adalah Gubernur NTB 2008-2013.
Pagi
itu, jam dinding menunjukkan pukul 06.30, namun suasana masih serasa jam 05.00
pagi. Dingin sekali. Setiap angin berhembus menerpa wajah, badanku menggigil
seketika. Namun begitu, hasratku untuk berjalan pagi tak terbendung. Tepat
pukul 07.00 pagi, aku memaksakan diri keluar hotel. Jalan pagi menjadi
rutinitas setiap aku berkunjung ke daerah luar Jakarta. Selain menyehatkan
badan setelah ditempa rutinitas kerjaan, ini juga menjadi pengetahuan baru
bagiku tentang kondisi kota di pagi hari. Kata pepatah kuno, kondisi kota di
pagi hari merupakan wajah “asli” nya. Laksana manusia, ia masih “original”,
belum terpoles dengn aneka dandanan dan aksesoris.


