Mendengar kota Sawahlunto, yang terbetik
di telinga pembaca adalah daerah pemilik kareta api tertua di Indonesia sebagai
pengangkut tambang batubara. Sisa kemegahan kota dan jejak besi rel kereta api bisa
ditelusuri bila anda berkunjung ke daerah berjuluk "Kota
Wisata Tambang yang Berbudaya” (menurut Wikipedia) di Sumatera Barat. Kontur pegunungan dan
hutan lebat yang memagarinya seolah mensahkan keberadaan kereta api sebagai
moda transportasi. Hindia Belanda menjadikan kereta api amat penting setelah
menemukan ribuan tambang batu bara sejak tahun 1892 di salah satu kota tua terbaik di Sumatara. Namun, bukan sisa kemegahan
jalur transportasi rel kereta api peninggalan Hindia-Belanda – yang kini juga menjadi
latar setting film Dibawah Lindungan Ka’bah -- , namun penulis akan ceritakan
mutiara lain –selain batu bara – yaitu “ kema’nyusan” rasa dan “ketebalan daging”
durian Sawahlunto. Berburu durian ke Sawahlinto dengan dibarengi menikmati
perjalanan menyusuri pegunungan dan hutan alam arah Sawahlunto melupakan
sejenak penat Ibukota. Hi…hi…..
Pukul 06.30 pagi, Kamis 23 Januari 2015, kota Padang,
Sumetera Barat serasa sudah jam 09.00. Meski bulan ini memasuki musim hujan,
namun sinar matahari di negri Malin Kundang sudah gagah tampak di ufuk Barat. Badanku
yang terserang panas-dalam sedari semalam belum reda pagi ini. Minuman penyegar
sudah kuminum sejak semalam, namun angin perubahan belum terasa. Semilir hawa
dingin sering menyergap tiba-tiba kulit badanku. Sontak, semangat beraktifitas
mereda seketika. Namun karena sudah berjanji, saya paksakan diri turun dari
kamar Hotel Sawali, Padang, ke loby guna bertemu teman yang menunggu. Tepat
pukul 07.00 – seperti yang dijanjikan – kawanku yang asli Minang bersiap-siap
travelling di pelataran hotel bersama Jhon, sang sopir.
“Sudah siap Mas
Idos. Kita akan bergegas menelusuri bumi Minang yang dikelilingi hutan dan kebun
semak berlukar hingga Sawahlunto”, sapa kawanku membuka percakapan. Ia
bercerita bahwa sudah terbiasa berangkat jam segitu, bila hendak berangkat ke
Sawahlunto. Perkiraan perjalanan dari kota Padang ke Sawahlunto ditempuh 4-5
jam bila lancar. Oleh karena itu, ia terbiasa berangkat setelah sholat subuh,
dan berhenti sebentar jam 08.30 di tengah perjalanan untuk sarapan, sehingga
sampai di tujuan jam 10.00 an siang. Oleh karena itu, hari ini kami menjalani
ritual serupa menyusuri jalan hingga ke Sawahlunto.
Tanpa banyak cerita, kami berangkat bersama kantuk
menggelayuti mataku dan badan yang sedikit “greges” – karena panas-dalam. Jhon,
basa-basi bertanya kondisi kesehatan dan kenyamanan tidur semalam. Spontan,
saya jawab bahwa badanku terserang panas-dalam. “Wah kalau panas-dalam, saya tahu obatnya. Nanti saya belikan larutan
penyegar di botol besar terus dicampur serbuk adem sari di tengah perjalanan. Lalu
dikocok hingga bercampur semua”, ungkap Jhon meyankinkan. Tanpa terasa,
kami berjalan 30 menit hingga ke jalan penggiran kota menuju ke kota/kabupaten
Tetangga. Pas di perbatasan pinggir kota Padang, Jhon menghentikan mobil untuk
membeli minuman segar dan air mineral kemasan, serta ramuan pereda panas-dalam.
Saya meminumnya setelah diracik sebelum jalan. Jhon bilang, saya harus
meminumnya perlahan. Ambil secukupnya bila terasa haus, dan minum lagi berulang-ulang
hingga habis. Mudah-mudahan efeknya terasa secara pelan-pelan nanti. Saya
mengangguk pasrah, dan meminumnya perlahan. Dalam batinku berujar, kok belum ada
perubahan apa-apa ya….Ah, mungkin setelah beberapa jam baru terasa enak. Saya meyakinkan
diri bahwa perubahan suhu badan pasti berubah. Yang penting yakin dulu deh,
begitu bantinku berucap.
Perjalanan dilanjutkan. Panaroma bukit dan hutan
rimbun menghiasi kiri dan kanan jalan raya. Jalan menanjak dan berliku
bergantian kulalui. Pagi yang segar terasa asyik untuk memulai perjalanan di
tengah bukit. Sinar mentari berbalut angin segar yang mengandung vitamin D,
mendorong penduduk Sumatera Barat keluar beraktifitas dengan kendaraannya. Pagi
itu jalan raya yang mendaki pegunungan dipenuhi kendaraan, terutama truk pengangkut
batubara dan bahan pembuatan semen PT Semen Padang. Yang mengherankanku, jalanan
di perbukitan jelang keluar kota Padang terhampar halus dengan kwalitas cor-semen
mumpuni. Menurut Jhon yang sering melewati jalur ini, truk dan kendaraan besar
senang berangkat keluar kota Padang melalui jalur perbukitan pagi hari, karena jalan
raya sedang dingin-dinginnya (adem-ademnya) sehingga menghemat penipisan ban
kendaraan. Sementara bila siang menjelang dimana terik panas meninggi, ban mobil
tergerus lebih cepat. Akibatnya, kendaraan bisa-bisa tidak stabil. Di samping
itu, udara panas mempercepat suhu badan sopir, sehingga konsentrasinya perlahan
menurun.
Tanpa terasa kantukku menyergap. Jhon yang berbicara
terus untuk mengusir capeknya, menyaksikan kepalaku terangguk-anguk tanda
kantuk menyerang hebat. Waktu di jam tanganku menunjukan pukul 09.00 pagi.
Perut bergejolak lapar. Kawanku yang duduk dibelakang mewant-wanti Jhon untuk
berhenti sejenak di warung soto daging khas Minangkabau langganannya. Waktu
sarapan tiba. Mobil diparkir pas beberapa meter dari Warung bertulis “restauran
soto pak Kumis”. Ia terletak beberapa meter setelah memasuki kab. Solok.
Warung soto ini mungil, berdiri pas di jalan berkelok.
Bangunannya berdiri dua lantai dengan ukuran 4 kali 5 meter. Sangat mungil.
Saat kami masuk warung, pengunjung berkeluarga sudah duduk di lantai satu.
Terpaksa kami naik ke lantai dua melalui tangga curam (maklum bangunannya kecil,
jadi tangga pun sempit untuk hemat lahan…). Ternyata di bangku atas telah duduk
keluarga lain yang sedang sarapan pagi. Menurut kawan, warung ini terkenal
lezat. Warung baru beberapa menit buka, sudah banyak pengunjung yang hendak
sarapan. Biasanya jam 14.00 siang, warung tutup karena soto dagingnya habis.
Bila kita makan dari lantai dua dan duduk di terasnya, maka terlihat
pemandangan jalan berkelok dengan kwalitas seperti tol jagorawi. Indah sekali,
sambil menyantap soto melihat kelokan jalan. “Srup, segar. Makyus. Wiuh sedap sekali rasanya kuah soto daging ini. Dalam
hitungan detik, mataku terbuka lebar”, komentarku lirih. Benar kata temanku,
bahwa soto daging khas Minang memercikan selera menggoda lidah. Rasa lapar –
karena belum sarapan sedari pagi -- menambah nafsu makanku menggebu-gebu. Namun
karena sedang hidup sehat, saya menghabiskan satu piring nasi dan satu mangkok
soto daging (hi…hi…takut kolesterol). Sementara Jhon dan kawanku menyantapnya
dua piring dan dua mangkok soto secara lahap. Bisa kebayang kan betapa lezatnya
soto khas Minang di udara dingin lagi…hi…hi…(bagi pembaca yang melewati daerah ini, singgahlah sebentar. Ini bukan
iklan seperti di tayangan kuliner TV loh….).
Kira-kita pukul 10.30, kami merayap masuk ke kota
Sawahlunto. Kota dengan khas perbukitan layaknya daerah lain di bumi Minang beraroma
“classic” bagiku. Menyebut kota ini, selain – terkenal dengan gerbong keretanya
– saya juga teringat daerah asal ayah Marah Hamli, di novel “Memang Jodoh”
karangan Marah Rusli – sang pengarang novel monumental Siti Nurbaya. Pegunungan
yang dikelilingi bukit barisan menjadi panorama kota. Terlihat juga ongokan rel kereta bekas
pengangkut tambang batu bara peninggalan Hindia Belanda. Rel kereta itu kini
mangkrak dan menjadi saksi sejarah. Mengamati rel besi anganku melayang ke abad
19, dimana Belanda mengirim narapidana dari berbagai penjara di Indonesia ke kota Sawahlunto
sebagai pekerja paksa. Menurut catatan sejarah, ada 20.000 narapidana
dikapalkan Belanda ke Sawahlunto untuk membangun rel kereta. Pekerja paksa
tersebut dikenal masyarakat setempat sebagai “Orang Rantai”.
Kemudian, kereta – dalam sejarahnya – juga pernah menjadi
satu moda transportasi masyarakat Minang yang dikenalkan Belanda. Film berjudul
“Dalam Lindungan Ka’bah” yang diangkat dari novel karya Buya Hamka tiba-tiba
berkelebat di bayanganku. Film yang dibintangi Harjunot Ali dan Laudya Cynthia
begitu mengesankan, karena memang tokohnya menggunakan perjalanan kereta saat
bepergian ke luar daerah. Lintasan sejarah itu makin membuat bulu kulitku berdiri
saat menyempatkan sholat Ashar dan Dhuhur di Mesjid Raya kota Sawalunto yang
merupakan bekas gudang perbaikan gerbong kereta. Meski didera panas-dalam yang
belum reda, ingatanku melayang ke tahun dimana stasiun rel kereta dikunjungi
ratusan penduduk Sawahlunto yang hendak berpergian.
Mesjid raya Sawahlunto, begitu nisan yang tertulis di
depannya, merupakan bekas gudang perbaikan gerbong kereta api yang dibangun Belanda.
Masih terlihat bangunan rel yang melintas di depan masjid bergaya khas Minangkabau.
Tidak jauh dari masjid, bangunan stasiun kereta terdiam mati. Ia menjadi saksi
sejarah bahwa kota Sawahlunto – meski berada di lereng perbukitan – pernah menjadi
pusat keramaian penduduk Minang yang hendak pergi menuju daerah lain dengan
kereta.
Saya berdiri tertegun di halaman Masjid raya sambil
membaca tulisan nisan di depanya. Masih terlihat sisa besi tua rel di stasiun
yang berangsur-angsur lapuk. Saat itu, masjid raya terlihat lengang. Angin
sejuk semilir pegunungan menerpa badan dan mukaku yang berangsur-angsur hilang
panas dalamnya. Tanpa sadar, kakiku gatal ingin menginjak sejenak rel kereta
yang berada pas di depan batu nisan. Saat kuinjak, kekokohan rel terasa sekali.
Samar-samar – sepertinya -- saya melihat gerbong kereta di depan stasiun beberapa
meter dari mesjid sedang bersiap-siap mengangkut penumpang, dan ratusan ton
batu bara hendak beranjak. Kejayaan itu telah lewat….
Lamunanku terjaga. Jhon dan kawanku menunggu di mobil
bersiap-siap melanjutkan travelling ke
satu desa, bernama Lunto Timur, kecamatan Lembah Segar, di pegunungan Sawahlunto yang dikelilingi Pohon
Durian. Lima belas menit berlalu. Kami memasuki kawasan yang dituju. Rimbunan
pepohonan bak hutan di pegunungan memenuhi samping kiri dan kanan jalan. Jalanan
terasa lenggang di pegunungan. Pelan-pelan terlihat pedagang durian berjualan
di samping kiri dan kanan jalan. Sesekali mobil yg melintas berhenti untuk
menawar dan membelinya. Aroma durian menyengat dan menarik aroma.
“Mas biasa aja
dong melihat duriannya. Di sini mah wajar, buah Durian terlihat dimana-mana.
Apalagi sudah memasuki bulan Januari dan februari“, kata Jhon yang melihat
kekagumanku terhadap durian. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Selang
beberapa meter dari pedagang durian, terlihat ratusan buah durian bergelantung
di pohon yang tumbuh di pegunungan. “Sungguh
menakjubkan, ratusan buah durian muncul di banyak pohon yang tumbuh luar di
hutan pegunungan”, gumanku dalam hati. Jhon menimpali bahwa kalau mau
durian, ambil saja sendiri di pohonnya. Siapa pun orang di sini bebas mengambil
durian bila berkehendak. Biasanya sih, mereka berangkat ke kebun di pegunungan
dengan golok untuk memetik durian di pohon. Atau ia mencari durian yang jatuh
berserakan. Hutan di pegunungan itu luas dan rimbun sekali. Ia asri dan hijau.
Mata manusia yang memadang, terasa segar dan menyejukkan.
Keasyikan melihat pemandangan hutan durian di
pegunungan, tak terasa saya tiba di desa Lunto Timur. Lokasinya persis di
lereng pegunungan. Bentuk rumah tinggal pun masih ada yang menggunakan rumah
panggung khas Minang. Di bawah lantainya, terkadang digunakan untuk menaruh
peralatan tenun. Suasananya tenang dan teduh. Desa ini dikelilingi kebun durian
dan aneka buah lain seperti manggis. Saat kami izin ke pemilik rumah untuk ke
kamar mandi, aku melihat buah durian bergelantung di pohon seolah-olah dekat
dengan tanganku. Pengin sekali saya memetiknya, namun kuurungkan niat itu. Saat
selesai dari kamar mandi, sang tuan rumah mengetahui hasratku. Ia langsung
memetikkan bebarapa buah dari kebunnya. Dua buah durian dibelahnya. Kami bersama-sama
mencicipinya. “Wah mantap sekali rasanya
durian Sawahlunto. Manis dan menyegarkan. Ini berbeda dengan rasa durian dari kab.
Tanah Datar”, kataku lirih. Semua yang mencoba durian, sepakat kalau mereka
ketagihan, dan ingin membelah durian lainnya. Namun kami menahannya karena
masih banyak kunjungan dan tempat yang harus disinggahi. Waktu tanpa sadar
beranjak siang menjelang sore. Jam tanganku menujukan pukul 15.00.
Kami mengekplorasi daerah sekitar desa pegunungan
tersebut. Setelah bosan, kami meninggalkannya untuk kembali ke kota Padang.
Kawanku menyela saat perjalanan baru beranjak beberapa menit. Ia menyarankan
untuk kita singgah di danau Singkarak sejalan dengan perjalanan pulang.
Mendung awan di langit terlihat sejenak. Panas yang
sedari tadi berarak di langit, kini berganti mendung. Saya setuju dengan usul
kawanku untuk mampir ke danau Singkarak yang terkenal dengan Tour de Singkarak.
Satu turnamen balapan sepeda tahunan yang digagas pemerintah Propinsi Sumbar.
Suasana sore memang cocok untuk kita menikamatinya di
tepi danau. Apalagi saya baru pertama kali melihat danau di pegunungan yang dikelilingi
hutan belantara. Hampir 20 menit waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau Danau
Siongkarak dari desa Lunto Timur. Sesampai di sana, beberapa masyarakat memenuhi
areal tepi danau. Kursi-kursi warung yang disediakan pedagang terisi penuh.
Mereka duduk berkelompok dan atau berdua dengan pasangannya. Tertawa dan senda
gurau terdengar riang di setiap halaman danau. Para pedagang makanan, sibuk
menyediakan buah kelapa muda, gorengan, soto, dan aneka makanan khas Minang
lainnya.
Saya dan rombongan berdiri sejenak untuk menunggu satu
kelompok pengunjung warung pergi. Kami bersepakat bila mereka pulang, kami
mengambil tempat duduknya. “Alhamdulillah,
duduk juga akhirnya kami“ sergahku setelah duduk. Sambil duduk dan memesan
minuman teh, saya memandang jauh langit dan air danau yang indah. Awan mendung yang
dari tadi tampak, kini menjelma hitam, dan hujan pun turun. Petir dan angin
mengiringi hujan sore itu. Akibatnya, hujan lebat dengan sapuan angin
bergemuruh, hampir menerbangkan kursi dan makanan di atas meja pengunjung. Saya
melihat panorama awan hitam di atas danau tak berkedip. Indah namun
menyeramkan.







mantap ceritanya lancar dan mengalir serta sangat mendetil, lanjutkan dan terualah bepergian agar selalu tersedia cerita baru dan pengalaman unik yang menambah khasanah ilmu pengetahuan baru.
BalasHapusthanks ya....
Hapus