Selasa, 10 Maret 2015

Berburu Durian Hingga ke Sawahlunto


Mendengar kota Sawahlunto, yang terbetik di telinga pembaca adalah daerah pemilik kareta api tertua di Indonesia sebagai pengangkut tambang batubara. Sisa kemegahan kota dan jejak besi rel kereta api bisa ditelusuri bila anda berkunjung ke daerah berjuluk "Kota Wisata Tambang yang Berbudaya” (menurut Wikipedia) di Sumatera Barat. Kontur pegunungan dan hutan lebat yang memagarinya seolah mensahkan keberadaan kereta api sebagai moda transportasi. Hindia Belanda menjadikan kereta api amat penting setelah menemukan ribuan tambang batu bara sejak tahun 1892 di salah satu kota tua terbaik di Sumatara. Namun, bukan sisa kemegahan jalur transportasi rel kereta api peninggalan Hindia-Belanda – yang kini juga menjadi latar setting film Dibawah Lindungan Ka’bah -- , namun penulis akan ceritakan mutiara lain –selain batu bara – yaitu “ kema’nyusan” rasa dan “ketebalan daging” durian Sawahlunto. Berburu durian ke Sawahlinto dengan dibarengi menikmati perjalanan menyusuri pegunungan dan hutan alam arah Sawahlunto melupakan sejenak penat Ibukota. Hi…hi…..

Pukul 06.30 pagi, Kamis 23 Januari 2015, kota Padang, Sumetera Barat serasa sudah jam 09.00. Meski bulan ini memasuki musim hujan, namun sinar matahari di negri Malin Kundang sudah gagah tampak di ufuk Barat. Badanku yang terserang panas-dalam sedari semalam belum reda pagi ini. Minuman penyegar sudah kuminum sejak semalam, namun angin perubahan belum terasa. Semilir hawa dingin sering menyergap tiba-tiba kulit badanku. Sontak, semangat beraktifitas mereda seketika. Namun karena sudah berjanji, saya paksakan diri turun dari kamar Hotel Sawali, Padang, ke loby guna bertemu teman yang menunggu. Tepat pukul 07.00 – seperti yang dijanjikan – kawanku yang asli Minang bersiap-siap travelling di pelataran hotel bersama Jhon, sang sopir.


Sudah siap Mas Idos. Kita akan bergegas menelusuri bumi Minang yang dikelilingi hutan dan kebun semak berlukar hingga Sawahlunto”, sapa kawanku membuka percakapan. Ia bercerita bahwa sudah terbiasa berangkat jam segitu, bila hendak berangkat ke Sawahlunto. Perkiraan perjalanan dari kota Padang ke Sawahlunto ditempuh 4-5 jam bila lancar. Oleh karena itu, ia terbiasa berangkat setelah sholat subuh, dan berhenti sebentar jam 08.30 di tengah perjalanan untuk sarapan, sehingga sampai di tujuan jam 10.00 an siang. Oleh karena itu, hari ini kami menjalani ritual serupa menyusuri jalan hingga ke Sawahlunto.


Tanpa banyak cerita, kami berangkat bersama kantuk menggelayuti mataku dan badan yang sedikit “greges” – karena panas-dalam. Jhon, basa-basi bertanya kondisi kesehatan dan kenyamanan tidur semalam. Spontan, saya jawab bahwa badanku terserang panas-dalam. “Wah kalau panas-dalam, saya tahu obatnya. Nanti saya belikan larutan penyegar di botol besar terus dicampur serbuk adem sari di tengah perjalanan. Lalu dikocok hingga bercampur semua”, ungkap Jhon meyankinkan. Tanpa terasa, kami berjalan 30 menit hingga ke jalan penggiran kota menuju ke kota/kabupaten Tetangga. Pas di perbatasan pinggir kota Padang, Jhon menghentikan mobil untuk membeli minuman segar dan air mineral kemasan, serta ramuan pereda panas-dalam. Saya meminumnya setelah diracik sebelum jalan. Jhon bilang, saya harus meminumnya perlahan. Ambil secukupnya bila terasa haus, dan minum lagi berulang-ulang hingga habis. Mudah-mudahan efeknya terasa secara pelan-pelan nanti. Saya mengangguk pasrah, dan meminumnya perlahan. Dalam batinku berujar, kok belum ada perubahan apa-apa ya….Ah, mungkin setelah beberapa jam baru terasa enak. Saya meyakinkan diri bahwa perubahan suhu badan pasti berubah. Yang penting yakin dulu deh, begitu bantinku berucap.

Perjalanan dilanjutkan. Panaroma bukit dan hutan rimbun menghiasi kiri dan kanan jalan raya. Jalan menanjak dan berliku bergantian kulalui. Pagi yang segar terasa asyik untuk memulai perjalanan di tengah bukit. Sinar mentari berbalut angin segar yang mengandung vitamin D, mendorong penduduk Sumatera Barat keluar beraktifitas dengan kendaraannya. Pagi itu jalan raya yang mendaki pegunungan dipenuhi kendaraan, terutama truk pengangkut batubara dan bahan pembuatan semen PT Semen Padang. Yang mengherankanku, jalanan di perbukitan jelang keluar kota Padang terhampar halus dengan kwalitas cor-semen mumpuni. Menurut Jhon yang sering melewati jalur ini, truk dan kendaraan besar senang berangkat keluar kota Padang melalui jalur perbukitan pagi hari, karena jalan raya sedang dingin-dinginnya (adem-ademnya) sehingga menghemat penipisan ban kendaraan. Sementara bila siang menjelang dimana terik panas meninggi, ban mobil tergerus lebih cepat. Akibatnya, kendaraan bisa-bisa tidak stabil. Di samping itu, udara panas mempercepat suhu badan sopir, sehingga konsentrasinya perlahan menurun.


Tanpa terasa kantukku menyergap. Jhon yang berbicara terus untuk mengusir capeknya, menyaksikan kepalaku terangguk-anguk tanda kantuk menyerang hebat. Waktu di jam tanganku menunjukan pukul 09.00 pagi. Perut bergejolak lapar. Kawanku yang duduk dibelakang mewant-wanti Jhon untuk berhenti sejenak di warung soto daging khas Minangkabau langganannya. Waktu sarapan tiba. Mobil diparkir pas beberapa meter dari Warung bertulis “restauran soto pak Kumis”. Ia terletak beberapa meter setelah memasuki kab. Solok.

Warung soto ini mungil, berdiri pas di jalan berkelok. Bangunannya berdiri dua lantai dengan ukuran 4 kali 5 meter. Sangat mungil. Saat kami masuk warung, pengunjung berkeluarga sudah duduk di lantai satu. Terpaksa kami naik ke lantai dua melalui tangga curam (maklum bangunannya kecil, jadi tangga pun sempit untuk hemat lahan…). Ternyata di bangku atas telah duduk keluarga lain yang sedang sarapan pagi. Menurut kawan, warung ini terkenal lezat. Warung baru beberapa menit buka, sudah banyak pengunjung yang hendak sarapan. Biasanya jam 14.00 siang, warung tutup karena soto dagingnya habis. Bila kita makan dari lantai dua dan duduk di terasnya, maka terlihat pemandangan jalan berkelok dengan kwalitas seperti tol jagorawi. Indah sekali, sambil menyantap soto melihat kelokan jalan. “Srup, segar. Makyus. Wiuh sedap sekali rasanya kuah soto daging ini. Dalam hitungan detik, mataku terbuka lebar”, komentarku lirih. Benar kata temanku, bahwa soto daging khas Minang memercikan selera menggoda lidah. Rasa lapar – karena belum sarapan sedari pagi -- menambah nafsu makanku menggebu-gebu. Namun karena sedang hidup sehat, saya menghabiskan satu piring nasi dan satu mangkok soto daging (hi…hi…takut kolesterol). Sementara Jhon dan kawanku menyantapnya dua piring dan dua mangkok soto secara lahap. Bisa kebayang kan betapa lezatnya soto khas Minang di udara dingin lagi…hi…hi…(bagi pembaca yang melewati daerah ini, singgahlah sebentar. Ini bukan iklan seperti di tayangan kuliner TV loh….).

Kira-kita pukul 10.30, kami merayap masuk ke kota Sawahlunto. Kota dengan khas perbukitan layaknya daerah lain di bumi Minang beraroma “classic” bagiku. Menyebut kota ini, selain – terkenal dengan gerbong keretanya – saya juga teringat daerah asal ayah Marah Hamli, di novel “Memang Jodoh” karangan Marah Rusli – sang pengarang novel monumental Siti Nurbaya. Pegunungan yang dikelilingi bukit barisan menjadi panorama kota. Terlihat juga ongokan rel kereta bekas pengangkut tambang batu bara peninggalan Hindia Belanda. Rel kereta itu kini mangkrak dan menjadi saksi sejarah. Mengamati rel besi anganku melayang ke abad 19, dimana Belanda mengirim narapidana dari berbagai penjara di Indonesia ke kota Sawahlunto sebagai pekerja paksa. Menurut catatan sejarah, ada 20.000 narapidana dikapalkan Belanda ke Sawahlunto untuk membangun rel kereta. Pekerja paksa tersebut dikenal masyarakat setempat sebagai “Orang Rantai”.

Kemudian, kereta – dalam sejarahnya – juga pernah menjadi satu moda transportasi masyarakat Minang yang dikenalkan Belanda. Film berjudul “Dalam Lindungan Ka’bah” yang diangkat dari novel karya Buya Hamka tiba-tiba berkelebat di bayanganku. Film yang dibintangi Harjunot Ali dan Laudya Cynthia begitu mengesankan, karena memang tokohnya menggunakan perjalanan kereta saat bepergian ke luar daerah. Lintasan sejarah itu makin membuat bulu kulitku berdiri saat menyempatkan sholat Ashar dan Dhuhur di Mesjid Raya kota Sawalunto yang merupakan bekas gudang perbaikan gerbong kereta. Meski didera panas-dalam yang belum reda, ingatanku melayang ke tahun dimana stasiun rel kereta dikunjungi ratusan penduduk Sawahlunto yang hendak berpergian.

Mesjid raya Sawahlunto, begitu nisan yang tertulis di depannya, merupakan bekas gudang perbaikan gerbong kereta api yang dibangun Belanda. Masih terlihat bangunan rel yang melintas di depan masjid bergaya khas Minangkabau. Tidak jauh dari masjid, bangunan stasiun kereta terdiam mati. Ia menjadi saksi sejarah bahwa kota Sawahlunto – meski berada di lereng perbukitan – pernah menjadi pusat keramaian penduduk Minang yang hendak pergi menuju daerah lain dengan kereta.

Saya berdiri tertegun di halaman Masjid raya sambil membaca tulisan nisan di depanya. Masih terlihat sisa besi tua rel di stasiun yang berangsur-angsur lapuk. Saat itu, masjid raya terlihat lengang. Angin sejuk semilir pegunungan menerpa badan dan mukaku yang berangsur-angsur hilang panas dalamnya. Tanpa sadar, kakiku gatal ingin menginjak sejenak rel kereta yang berada pas di depan batu nisan. Saat kuinjak, kekokohan rel terasa sekali. Samar-samar – sepertinya -- saya melihat gerbong kereta di depan stasiun beberapa meter dari mesjid sedang bersiap-siap mengangkut penumpang, dan ratusan ton batu bara hendak beranjak. Kejayaan itu telah lewat….

Lamunanku terjaga. Jhon dan kawanku menunggu di mobil bersiap-siap melanjutkan travelling ke satu desa, bernama Lunto Timur, kecamatan Lembah Segar, di pegunungan Sawahlunto yang dikelilingi Pohon Durian. Lima belas menit berlalu. Kami memasuki kawasan yang dituju. Rimbunan pepohonan bak hutan di pegunungan memenuhi samping kiri dan kanan jalan. Jalanan terasa lenggang di pegunungan. Pelan-pelan terlihat pedagang durian berjualan di samping kiri dan kanan jalan. Sesekali mobil yg melintas berhenti untuk menawar dan membelinya. Aroma durian menyengat dan menarik aroma.

Mas biasa aja dong melihat duriannya. Di sini mah wajar, buah Durian terlihat dimana-mana. Apalagi sudah memasuki bulan Januari dan februari“, kata Jhon yang melihat kekagumanku terhadap durian. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Selang beberapa meter dari pedagang durian, terlihat ratusan buah durian bergelantung di pohon yang tumbuh di pegunungan. “Sungguh menakjubkan, ratusan buah durian muncul di banyak pohon yang tumbuh luar di hutan pegunungan”, gumanku dalam hati. Jhon menimpali bahwa kalau mau durian, ambil saja sendiri di pohonnya. Siapa pun orang di sini bebas mengambil durian bila berkehendak. Biasanya sih, mereka berangkat ke kebun di pegunungan dengan golok untuk memetik durian di pohon. Atau ia mencari durian yang jatuh berserakan. Hutan di pegunungan itu luas dan rimbun sekali. Ia asri dan hijau. Mata manusia yang memadang, terasa segar dan menyejukkan.

Keasyikan melihat pemandangan hutan durian di pegunungan, tak terasa saya tiba di desa Lunto Timur. Lokasinya persis di lereng pegunungan. Bentuk rumah tinggal pun masih ada yang menggunakan rumah panggung khas Minang. Di bawah lantainya, terkadang digunakan untuk menaruh peralatan tenun. Suasananya tenang dan teduh. Desa ini dikelilingi kebun durian dan aneka buah lain seperti manggis. Saat kami izin ke pemilik rumah untuk ke kamar mandi, aku melihat buah durian bergelantung di pohon seolah-olah dekat dengan tanganku. Pengin sekali saya memetiknya, namun kuurungkan niat itu. Saat selesai dari kamar mandi, sang tuan rumah mengetahui hasratku. Ia langsung memetikkan bebarapa buah dari kebunnya. Dua buah durian dibelahnya. Kami bersama-sama mencicipinya. “Wah mantap sekali rasanya durian Sawahlunto. Manis dan menyegarkan. Ini berbeda dengan rasa durian dari kab. Tanah Datar”, kataku lirih. Semua yang mencoba durian, sepakat kalau mereka ketagihan, dan ingin membelah durian lainnya. Namun kami menahannya karena masih banyak kunjungan dan tempat yang harus disinggahi. Waktu tanpa sadar beranjak siang menjelang sore. Jam tanganku menujukan pukul 15.00.

Kami mengekplorasi daerah sekitar desa pegunungan tersebut. Setelah bosan, kami meninggalkannya untuk kembali ke kota Padang. Kawanku menyela saat perjalanan baru beranjak beberapa menit. Ia menyarankan untuk kita singgah di danau Singkarak sejalan dengan perjalanan pulang.

Mendung awan di langit terlihat sejenak. Panas yang sedari tadi berarak di langit, kini berganti mendung. Saya setuju dengan usul kawanku untuk mampir ke danau Singkarak yang terkenal dengan Tour de Singkarak. Satu turnamen balapan sepeda tahunan yang digagas pemerintah Propinsi Sumbar.

Suasana sore memang cocok untuk kita menikamatinya di tepi danau. Apalagi saya baru pertama kali melihat danau di pegunungan yang dikelilingi hutan belantara. Hampir 20 menit waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau Danau Siongkarak dari desa Lunto Timur. Sesampai di sana, beberapa masyarakat memenuhi areal tepi danau. Kursi-kursi warung yang disediakan pedagang terisi penuh. Mereka duduk berkelompok dan atau berdua dengan pasangannya. Tertawa dan senda gurau terdengar riang di setiap halaman danau. Para pedagang makanan, sibuk menyediakan buah kelapa muda, gorengan, soto, dan aneka makanan khas Minang lainnya.

Saya dan  rombongan berdiri sejenak untuk menunggu satu kelompok pengunjung warung pergi. Kami bersepakat bila mereka pulang, kami mengambil tempat duduknya. “Alhamdulillah, duduk juga akhirnya kami“ sergahku setelah duduk. Sambil duduk dan memesan minuman teh, saya memandang jauh langit dan air danau yang indah. Awan mendung yang dari tadi tampak, kini menjelma hitam, dan hujan pun turun. Petir dan angin mengiringi hujan sore itu. Akibatnya, hujan lebat dengan sapuan angin bergemuruh, hampir menerbangkan kursi dan makanan di atas meja pengunjung. Saya melihat panorama awan hitam di atas danau tak berkedip. Indah namun menyeramkan.

Di tengah hujan lebat, kami membelah durian yang tadi dibawa dari desa Lunto Timur. Ibu warung meminjamkan pisau untuk mengupasnya. Kami melahapnya lagi beberapa buah durian. Ibu penjaga warung ikut menikmatinya. Dengan senyum, ibu warung memberikan dua jempol untuk duriannya. “Luar biasa lezatnya“, katanya. Sore itu kami menikmati ombak danau Singakrak bersama durian Sawahlunto yang terkenal manis dan tebal buahnya. Sayang, disitu tidak ada ketan sebagaimana biasa warga Minang menggabungkannya saat makan durian. Sialnya lagi, suasana danau Singkarak tidak ramah dengan pengunjung. Angin dan hujan tetap bergelora, namun begitu kami juga tetap membara malahap duian Sawahlunto. Manyus tenan……

2 komentar:

  1. mantap ceritanya lancar dan mengalir serta sangat mendetil, lanjutkan dan terualah bepergian agar selalu tersedia cerita baru dan pengalaman unik yang menambah khasanah ilmu pengetahuan baru.

    BalasHapus