![]() |
| photo by Ika S |
Kini sudah tanggal 25 Mei 2018. Artinya
bulan Ramadhan berlalu 10 hari kujalani di bumi Kangguru Selatan. Ramadhan di
Australia, kini beriringan dengan kehadiran awal musim dingin. Di setiap pagi,
suhu dingin berangsur turun meski perlahan. Bila malam menjelang, suhunya merendah
drastis, hingga 8 derajat celsius. Pernah satu kali, saya berdiri di teras
apartemen untuk melihat kondisi, ternyata kaki bagai menginjak balok es.
Dingin. Mak cess.. Jemari tanganku membeku dan mengkerut tanpa kusadari. Malam
pun sepi. Sunyi bagai tak berpenduduk. Kota Adeladie laksana kota “mati”, bila
malam menjelang. Sesekali bila suhu tak begitu dingin, dan itu pas Jum’at malam,
warga berhamburan di kota. Kafe, restaurant, dan kedai makanan yang berjejer di
“central market” dipenuhi warga kota sehabis kerja. Riuh tawa dan senyum warga
memenuhi pojok-pojok kota. Malam pun berseri….
Balik ke suasana awal musim dingin. Karena
akan memasuki musim dingin, badan pun tidak gampang lelah. Tidak mudah pula hausan.
Ramadhan di sini mengasyikkkan, meski tidak terasa “aura” puasanya – seperti di
Indonesia. Tak ada suara adzan. Suara ramai anak-anak dgn berbagai tabuhan
untuk membangunkan saur. Pun Sholawat sebelum adzan subuh.
Semua tidak berubah. Aktiftas berjalan
seperti biasa. Hanya ada tulisan “Happy Ramadhan”, digantung di salah satu
supermarket. Kita lah yang berpuasa menyesuaikan situasi. Siklus sahur dan buka
menyesuaikan. Imsak biasanya pukul 05.30 dan Shubuh jatuh jam 05.40 (atau sepuluh
menit kemudian). Lumayan, ada diskon waktu dibanding Indonesia. (hi..hi…). Rasa
lapar tetap kami rasakan sesekali. Apalagi sebagai mahasiswa yang kuliah setiap
hari. Bila materi kuliah membutuhkan energy berfikir kuat, rasa nyeri perut di
jam 12.00 AM, terkadang sulit dibendung. Lama-kelamaan badan ini beradaptasi
dengan situasi. Alhamdulillah…
Sabtu dan Minggu bagi warga Adelaide,
Australia Selatan, menjelang musim “winter”, menurunkan derajat suasana “weekend”
di banding musim lainnya. Lokasi wisata dan objek indah – yang biasanya ramai –
kini memudar. Antusiasme pengunjung berkurang. Tidak seramai biasanya. Itulah
yang saya alami kala menghabiskan weekend Ramadhan kali ini di Port Elliot. Apa
itu Port Elliot ???
Port Elliot merupakan kota kecil di Australia
Selatan. Ia berposisi di teluk Horseshoe yang teduh. Yaitu teluk kecil dari
bagian teluk Encounter (cek di Wikipedia). Jumlah penduduknya hanya 1.754.
Dalam sejarahnya teluk Horseshoe yang berada di kota ini diproklmasikan sebagai
pelabuhan pada tahun 1851 yang kemudian Charles Elliot sebagai Gevenor Bermuda
yang merupakan teman dekat Sir Henry Young, Gubernur Australia Selatan,
menamakan pelabuhan itu menjadi “Port Elliot” pada tahun 1852. Intinya tempat
ini pelabuhan yang menyimpan sejarah panjang Australia Selatan. Karena penuh
sajarah dan tenang, serta keindahan pantainya, Port Elliot dipenuhi beberapa
hotel dan penginapan. Menurut informasi wisata, tempat ini menjadi salah satu
tempat favorit penduduk SA (south Australia) untuk menghabiskan liburan akhir
pekannya. Saya pun berkesempatan menghabiskan salah satu libur akhir pecan
disana, meski di bulan Ramadhan.
Berangkat jum’at, 25 Mei 2018, saya pergi
ke daerah Goolwa untuk sebuah acara. Di sini, saya membeli berbagai makanan persiapan
buka puasa di Port Elliot. Pusat grosir Woolword berdiri megah tak jauh dari
halte bus. Secukupnya saya membeli bahan makanan seperti; roti, telur, buah,
dsb. Goolwa berjarak hampir 60 an kilo dari kota Adelaide. Karen jauh, maka
kartu metro card – kartu bus kota – tak berlaku. Beberapa menit bus datang. Kami
bertanya kepada sopir arah tujuan ke Port Elliot dan harganya. Ia berujar bahwa
tiket bus berharga 3 $ ausi dengan discount (karena kami pelajar). Dengan ramah, sopir menunjukan pemberhentian
bus di Port Elliot.
Port
Elliot Beach House,
itulah tempat kami menginap di sana. Dari pemberhentian bus, ada sekitar 300
meter dengan kaki. Begitu masuk di kawasan wisata dermaga, aroma wisata terasa.
Deretan kafe, restaurant dan berbagai toko peralatan bahan dapur (sayuran,
buah-buahan) serta “second hand shope” (toko barang second) berjejer ke arah
pantai. Meski udara panas, namun angin musim dingin “membekukan” badan. Jaket
yang dari tadi aku pegang segera kukenakan. Jam di hp telah menunjukan pukul
17.00 sore. Waktu buka puasa yang kali ini jam 17.25, sebentar lagi tiba.
Kira-kiran 10 menit berjalan, penginapan
sudah didepan mata. Udara pantai sore hari terasa. Terlihat bagungan tua (yang
dilindungi pemeritah) megah berdiri di beberapa pojok. Sisa-sasa peninggalan sebagai
bangunan pelabuhan perang masih terlihat. Panorama pantai dari jauh di depan
penginapan seolah-olah memanggilku. Indah sekali pendandangan sore itu. Maghrib
segera menjemput. Waktu buka segera tiba. Hasratku untuk berjalan menikmati
sore itu kutangguhkan. Angin dingin sore menyengat tubuhku.
Setelah masuk penginapan dan memasukan
perlengkapan ke kamar, aku berbuka puasa di ruang makan. Penginapan ini simple.
Namun autentik dan hangat. Penginapan ini cocok bagi backpeker. Terdapat
rak-rak bagi pengunjung yang dikasih nama. Ada juga makanan bagi backpacker.
Gratis. Ruang makan menyatu sehingga membuat penginap bisa saling tukar
komunikasi. Ada tipe kamar berbagi dimana satu ruang berisi 3 ranjang
bertingkat alias 6 orang. Di ruang tengah yang merangkap ruang makan terdapat
meja kerja, perpustakaan kecil, aneka permainan, serta penghangat dengan kursi
dan sofa melingkarinya. Selesai makan, piring, gelas, dan peralatan makanan
lainnya harus dicuci sendiri penginap hingga bersih. Cctv menempel di sejumlah
pojok tembok. Pengunjung yang malas tidak mencuci peralatan makannya akan
ketahuan…ha…ha…
Udara dan angin malam itu dingin sekali. Remang-remang
dari kaca jendela penginapan, kesunyian pantai terlihat. Makan malam di ruang
makan ramai. Semua pengunjung hotel keluar dan hadir di ruang tengah. Beberapanya
mendekat alat penghangat. Ada gitar sebagai pengantar lagu telah dimainkan seseorang
pengunjung. Teman di sampingnya mendendangkan lagu sebisanya. Kelompok
pengunjung lain bermain scramble, kartu remi, ular tangga, dsb. Di pojok
lainnya, beberapa orang bercakap-cakap tentang berbagai hal termasuk situasi
negaranya masing-masing. Warga Indonesia, Vietnam, Australia dan lainnya yang
menginap hotel berkumpul malam itu di ruang tengah. Hotel mungil ini terasa hangat
nan bersahaja. Tak terasa jam menunjukan 10.30 malam. Rasa kantuk pelan-pelan
menyergap mataku. Perjalanan kaki selama seharian melelahkan kaki dan badan. Satu
persatu pengunjung hotel mundur ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
![]() |
| photo by Ika S |
Pagi menjelang. Matahari terbit terlihat malu-malu
di ujung barat. Angin musim winter menghalangi perlahan. Sunrise (kemunculan) nya pun tertimpa kabut di beberapa sinarnya.
Bersama teman penginapan yang berasal dari Indonesia, saya berjalan di sekitar
pantai. Satu kata. Indah. Menankjubkan. Meski pantai tidak bergitu ramai –
karena musim dingin – beberapa warga ausi asyik berjogging. Berbagai batuan –
kecil dan besar – menghiasi tepi pantai. Kekar dan megah. Beberapa batu kecil
berdiri di sampingnya. Panorama yang indah sepertinya cocok untuk foto pre-wedding.
Ha..ha…. Bila berdiri di batu besar di samping pantai, dan melihat ke tengah
laut, serasa kita berdiri di alam bebas dengan pemandangan luas. Alahkah luas
dan indah bumi ini….
Di tengah semilir angin laut yang tidak
pernah menyusut dinginnya, aku menggerak-gerakan kaki. Biar tidak kaku.
Bangku-bangku cantik berjejer di tepi pantai. Pengunjung pasti nyaman bila menudukinya
sambil melihat keluasan laut. Uniknya, pantai ini memiliki bukit pinggir pantai
yang curam ke arahnya. Laksana bukit batu landai ke pantai. Sehingga akan
terasa indah bila duduk dikursi yang terletak seperti di lereng antara bukit
dan pantai. Asyiiik sekali. Melihat matahari terbit dan berbagai burung-burung
terbang, seperti kita sedang memandang lukisan pemandangan indah di kanvas
nyata.
Pelan-pelan aku menyusuri pantai. Di
sela-sela berbatuan itu, aku berhenti sebentar. Terlihat anjing laut atau
lumba-lumba timbul tenggelam di laut. Ia sedang berenang dan menari. Bila
beruntung kata penduduk setempat, kita bisa melihat binatang itu di laut
Australia. Beberapa pantai Australia terkenal dengan lumba-lumba dan anjing
laut. Pagi itu saya beruntung. Menyaksikan binatang laut beratraksi bersama
kawan-kawannya.
Banyak spot pemandangan indah sepanjang pantai.
Vila, hotel dan penginapan berdiri di lereng, dan depan pantai. Bersih
pantainya. Areal sekitarnya juga asri. Di sudut lain, saya melihat lapangan
tenis dan mini golf serta mungkin footsal persis di tepi pantai. Ada juga kafe
yang menyediakan menu breakfast mejeng disampingnya dengan pemandangan laut.
Burung-burung laut yang indah bebas terbang di sampingaku. Di sudut lain, aneka
pohon dan tumbuhan hijau menyemut di lereng. Panorama yang fantastik.
Dengan emandangan seperti itu, saya
teringat panorama pantai kota Luwuk, kab. Banggai Kepaulaian, Sulawesi Tengah.
Di sana menurutku tak kalah menariknya. Bahkan pantainya jernih sekali. Kalau
urusan jernih, pantai di Port Elliot kalah jauh dengan Luwuk. Sayang, pemberian
dari Mahakuasa belum dikelola baik dan nyaman. Pengelolaan pantai dan arena
sekitar Luwuk kalau jauh dari Port Elliot. Dalam lamunanku, muncul gumanaku,
“Kapan ya.. pemerintah daerah dan nasional Indonesia serta swasta mengelola
pantai indahnya dengan menyegarkan dan rapi serta nyaman bagi warga?”.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar