24 April 2018
pagi, kota Adelaide, Australia, hujan rintik. Tiupan angin pagi mulai
“mendinginkan” badanku. Hujan ini sepertinya menjadi pertanda bahwa musim
dingin segera bermula di bumi Kangguru Selatan. Saya bergegas keluar dari apartemen
menuju kampus berlokasi dekat victoria park. Hari ini merupakan awal kuliah di
kampus Flinders, Adelaide kota. Terlihat kerumunan manusia bergegas berlarian
ke perkantoran menghindari hujan. Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Saya bersama
penduduk kota lainnya menepi. Sesaat kemudian, hujan berhenti dan menyisakan
rintik kecil. Saya bersama kawan berjalan di pinggir jalan utama yang lebar.
Siang hari
beranjak cepat. Panas matahari muncul menggantikan hujan. Kota Adelaide meriah kembali
seperti biasa. Kota berpenduduk 1 juta ini, meski ramai namun tetap nyaman.
Tidak ada kemacetan – seperti di Jakarta. Lampu merah menyebar di setiap pojok
perempatan. Penduduk kota teratur antri menunggu di traffic light untuk menyeberang.
Pejalan kaki pun dimanjakan dengan trotoarnya yang lebar. Angin musim dingin
serasa lembab pelan-pelan menerpa wajahku siang itu. Meski panas, berkat terpaan
angin lembab, badanku malah hangat. Segar bahkan. Siang itu, awal kuliah
selesai lebih cepat. Setelah santap siang di dapur kampus, saya bergegas balik
ke apartemen.
Sore segera
menjemput. Sekitar jam 16.00, saya iseng-iseng browsing pantai di dekat Adelaide. Ternyata ada pantai Glenelg.
Pantai ini menyediakan panorama sunset.
Waktunya, sekitar 30 menit dari victoria
park menggunakan trem. Saya sampaikan
informasi ini ke teman-temanku yang dari Indonesia. Setelah diskusi sebentar
tentang rute dan arah, saya putuskan pergi ke pantai. Dari aprtemenku yang di
berlokasi di Quest, Frangklin st, sekitar 15 menit ke victoria park. Stasiun tremnya
berada persis di seberang taman victoria. Ia tidak begitu besar. Kala itu, suasana
stasiun rada penuh. Ini dimaklumi, karena suasana pulang kerja. Ditambah pula
besoknya, tgl 25 April 2018, merupakan hari libur nasional Australia, “Anzac
day”.
Pas pukul 15.10,
saya masuk trem yang menuju ke tujuan akhir Glenelg. Dengan menggunakan metro
card yang sebelumnya saya beli di toko kampus Flinders, saya gesek ke mesin di
depan pintu trem, ternyata biayanya 1,4 dolar ausi. Karena ini baru pertama
saya naik trem, saya perhatikan tanda dan tulisan arah petunjuknya dan juga
pengumuman dari anaunser tremnya. Setelah melalui 8 stasiun pemberhentian, trem
sampai di Mosele Square yang persis di ujung, dekat pantai Glenelg. Jadi, kalau
mau ke pantai Glenelg, pembaca jangan berhenti-berhenti, namun duduk saja
hingga akhir stasiun pemberhentian trem.
Dari kejauhan,
terlihat sunset berangsur-angsur tenggelam. Sejak trem akan behenti di ujung
stasiun, saya melirik matahari yang segera tenggelam dari jendela kereta.
Begitu behenti, saya berlari untuk mengabadikan sunset dengan kamera. Indah dan
merah menyala. Sayang, meski sekuat tenaga berlari, namun saya tidak sempat
mengabadikannya. Karena matahari keburu tenggelam, pas begitu saya sampai di
pantai. Apes deh….
Tapi tak apalah.
Mungkin lain waktu saya bisa menikmatinya. Pantai ini asyik buat nyantai dan
menikmati suasana sunyi laut. Rapi dan bersih. Meski tidak terlihat tong sampah
di sana sini, namun saya jarang melihat tumpukan sampah bergerombol berserakan.
Ada dermaga panjang yang menjulur ke tengah laut yang diperuntukan bagi
wisatawan. Terlihat muda-mudi berpacaran asyik menikmati laut di kursi di
pantai. Di sudut lain, anak-anak dan orang tuanya asyik berlarian di atas pasir
yang segera gelap. Sementara itu, pojok lain terdapat bangunan hotel berjejer
mengambil pemandangan pantai. Di pinggir pantai lain, berdiri café bertingkat, ramai
dengan pengunjung yang menikmati minuman dengan pemandangan laut. Nikmatnya…..
Ombak laut tidak
berdebur. Bahkan nyaris tidak ada ombaknya. Ia tenang dan menggoda. Terlihat
dari kejauhan anak-anak dengan temanya berlari, bergantungan dan berkejaran di
areal “bermain” di pinggir pantai. Areal itu mirip “RPTRA” (ruang public
terbuka ramah anak) seperti di Jakarta. Sementara orang tuanya asyik mengambil
gambar pemandangan indah saat matahari tenggelam di ujung laut. Terlihat di
papan dermaga, informasi bahwa penduduk tidak boleh memancing ikan lebih dari 5
ekor. Sepertinya, pemerintah begitu menjaga Bio dasar laut. Informasi ini
menjadi pengetahuan bagiku yang dari tadi mencari nelayan yang biasanya
tersebar di pantai Indonesia. Di pantai ini, jarang sekali nelayan beroperasi.
Menjaring ikan dilarang. Memancing juga dibatasi.
Guna menikmati
suasana real laut, saya berjalan ke dermaga. Indah dan menakjubkan pemandangan
laut dari dekat. Meski dingin karena terpaan angin laut, langit dan pemandangan
pantai glunulg sore menjelang malam itu indah. Syahdu dan romatis. Ia tidak
bising. Baik dari keramaian manusia maupun deburan ombak.
Perjalanan malam
itu, saya tutup dengan berjalan santai di areal pantai yang ternyata ramai
dengan pertokoan, café, dan restauran. Terlihat sejumlah toko memberikan
potongan discount untuk produknya. Sayangnya ia sudah tutup. Untuk pulang, saya
tidak naik trem dari stasiun ujung pantai. Namun saya berjalan dulu menyusuri
jalan di sampai rel trem yang terkadang digunakan kendaraan (motor dan mobil) bila
tremnya sudah berlalu. Indahnya areal jalan raya ini. Trem dan kendaraan mobil
bergantian menggunakan jalan raya. Mobil dan kendaraan lainnya minggir bila
trem melewati jalan. Ia dengan kesadaran tinggi berlalu lalang di jalan bila
trem yang telah berlalu.



Aih kapan nih aku bisa menikmati Adelaide yang indah seperti ini :)
BalasHapusHi Alida.... Makanya rencanakan lah... Nabung yang banyak atau cari beasiswa, sekalian belajar.....ha..ha...thanks ya for comment.
Hapus