Rabu, 25 April 2018

Sunset di Pantai Glenelg, Adelaide


24 April 2018 pagi, kota Adelaide, Australia, hujan rintik. Tiupan angin pagi mulai “mendinginkan” badanku. Hujan ini sepertinya menjadi pertanda bahwa musim dingin segera bermula di bumi Kangguru Selatan. Saya bergegas keluar dari apartemen menuju kampus berlokasi dekat victoria park. Hari ini merupakan awal kuliah di kampus Flinders, Adelaide kota. Terlihat kerumunan manusia bergegas berlarian ke perkantoran menghindari hujan. Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Saya bersama penduduk kota lainnya menepi. Sesaat kemudian, hujan berhenti dan menyisakan rintik kecil. Saya bersama kawan berjalan di pinggir jalan utama yang lebar.

Siang hari beranjak cepat. Panas matahari muncul menggantikan hujan. Kota Adelaide meriah kembali seperti biasa. Kota berpenduduk 1 juta ini, meski ramai namun tetap nyaman. Tidak ada kemacetan – seperti di Jakarta. Lampu merah menyebar di setiap pojok perempatan. Penduduk kota teratur antri menunggu di traffic light untuk menyeberang. Pejalan kaki pun dimanjakan dengan trotoarnya yang lebar. Angin musim dingin serasa lembab pelan-pelan menerpa wajahku siang itu. Meski panas, berkat terpaan angin lembab, badanku malah hangat. Segar bahkan. Siang itu, awal kuliah selesai lebih cepat. Setelah santap siang di dapur kampus, saya bergegas balik ke apartemen.

Sore segera menjemput. Sekitar jam 16.00, saya iseng-iseng browsing pantai di dekat Adelaide. Ternyata ada pantai Glenelg. Pantai ini menyediakan panorama sunset. Waktunya, sekitar 30 menit dari victoria park menggunakan trem. Saya sampaikan informasi ini ke teman-temanku yang dari Indonesia. Setelah diskusi sebentar tentang rute dan arah, saya putuskan pergi ke pantai. Dari aprtemenku yang di berlokasi di Quest, Frangklin st, sekitar 15 menit ke victoria park. Stasiun tremnya berada persis di seberang taman victoria. Ia tidak begitu besar. Kala itu, suasana stasiun rada penuh. Ini dimaklumi, karena suasana pulang kerja. Ditambah pula besoknya, tgl 25 April 2018, merupakan hari libur nasional Australia, “Anzac day”.   

Pas pukul 15.10, saya masuk trem yang menuju ke tujuan akhir Glenelg. Dengan menggunakan metro card yang sebelumnya saya beli di toko kampus Flinders, saya gesek ke mesin di depan pintu trem, ternyata biayanya 1,4 dolar ausi. Karena ini baru pertama saya naik trem, saya perhatikan tanda dan tulisan arah petunjuknya dan juga pengumuman dari anaunser tremnya. Setelah melalui 8 stasiun pemberhentian, trem sampai di Mosele Square yang persis di ujung, dekat pantai Glenelg. Jadi, kalau mau ke pantai Glenelg, pembaca jangan berhenti-berhenti, namun duduk saja hingga akhir stasiun pemberhentian trem.

Dari kejauhan, terlihat sunset berangsur-angsur tenggelam. Sejak trem akan behenti di ujung stasiun, saya melirik matahari yang segera tenggelam dari jendela kereta. Begitu behenti, saya berlari untuk mengabadikan sunset dengan kamera. Indah dan merah menyala. Sayang, meski sekuat tenaga berlari, namun saya tidak sempat mengabadikannya. Karena matahari keburu tenggelam, pas begitu saya sampai di pantai. Apes deh….

Tapi tak apalah. Mungkin lain waktu saya bisa menikmatinya. Pantai ini asyik buat nyantai dan menikmati suasana sunyi laut. Rapi dan bersih. Meski tidak terlihat tong sampah di sana sini, namun saya jarang melihat tumpukan sampah bergerombol berserakan. Ada dermaga panjang yang menjulur ke tengah laut yang diperuntukan bagi wisatawan. Terlihat muda-mudi berpacaran asyik menikmati laut di kursi di pantai. Di sudut lain, anak-anak dan orang tuanya asyik berlarian di atas pasir yang segera gelap. Sementara itu, pojok lain terdapat bangunan hotel berjejer mengambil pemandangan pantai. Di pinggir pantai lain, berdiri café bertingkat, ramai dengan pengunjung yang menikmati minuman dengan pemandangan laut. Nikmatnya…..

Ombak laut tidak berdebur. Bahkan nyaris tidak ada ombaknya. Ia tenang dan menggoda. Terlihat dari kejauhan anak-anak dengan temanya berlari, bergantungan dan berkejaran di areal “bermain” di pinggir pantai. Areal itu mirip “RPTRA” (ruang public terbuka ramah anak) seperti di Jakarta. Sementara orang tuanya asyik mengambil gambar pemandangan indah saat matahari tenggelam di ujung laut. Terlihat di papan dermaga, informasi bahwa penduduk tidak boleh memancing ikan lebih dari 5 ekor. Sepertinya, pemerintah begitu menjaga Bio dasar laut. Informasi ini menjadi pengetahuan bagiku yang dari tadi mencari nelayan yang biasanya tersebar di pantai Indonesia. Di pantai ini, jarang sekali nelayan beroperasi. Menjaring ikan dilarang. Memancing juga dibatasi.

Guna menikmati suasana real laut, saya berjalan ke dermaga. Indah dan menakjubkan pemandangan laut dari dekat. Meski dingin karena terpaan angin laut, langit dan pemandangan pantai glunulg sore menjelang malam itu indah. Syahdu dan romatis. Ia tidak bising. Baik dari keramaian manusia maupun deburan ombak.

Perjalanan malam itu, saya tutup dengan berjalan santai di areal pantai yang ternyata ramai dengan pertokoan, café, dan restauran. Terlihat sejumlah toko memberikan potongan discount untuk produknya. Sayangnya ia sudah tutup. Untuk pulang, saya tidak naik trem dari stasiun ujung pantai. Namun saya berjalan dulu menyusuri jalan di sampai rel trem yang terkadang digunakan kendaraan (motor dan mobil) bila tremnya sudah berlalu. Indahnya areal jalan raya ini. Trem dan kendaraan mobil bergantian menggunakan jalan raya. Mobil dan kendaraan lainnya minggir bila trem melewati jalan. Ia dengan kesadaran tinggi berlalu lalang di jalan bila trem yang telah berlalu.

Tepat pukul 19.00 malam, saya naik trem menuju victoria park. Alhamdulillah, meski lelah, namun saya puas bisa menikmati suasana sore pantai meski sebentar

2 komentar:

  1. Aih kapan nih aku bisa menikmati Adelaide yang indah seperti ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Alida.... Makanya rencanakan lah... Nabung yang banyak atau cari beasiswa, sekalian belajar.....ha..ha...thanks ya for comment.

      Hapus