Dalam setahun sudah 2 orang kawan perempuan meninggal dunia
karena penyakit kanker payudara. Pertama,
Ulfa Hidayati biasa dipanggil “yu-ul”, aktifis social yang bekerja di Institut
Kapal Perempuan, Jakarta. Ia mendidikasikan hidupnya untuk kerja-kerja
perbaikan kehidupan yang adil gender. Tepat tgl 12 Juni 2013, ia menghembuskan
nafas terakhir, setelah hampir setahun hidup berkawan kangker di payudaranya.
Begitu mendengar, saya langsung ke tempat duka, di RS Siloam, Semanggi Jakarta
Selatan. Saya menyesal, karena belum
sempat menjengguknya, sejak ia didagnosis kanker. Saya selalu menunda, kalau
hendak menjenguknya. Kawan-kawannya bilang, “Kalau Mas ingin menjenguk, sebaiknya saat ia “kemoetarapi” di RS
Siloam”. Sayang, waktu kemonya dengan
jam luangku tidak ketemu. Sehingga saya selalu gagal menjenguk. Menyesal
sekali….
Kala itu, saya tertunduk di depana jenazahnya di Siloam.
Sholat jenazah 2 rakaat dan pemanjatan doa, saya tunaikan sambil rema-remang
melihat lintasan bayang wajahnya.
Berbekal pengalaman itu, saya tidak mau terulang dengan apa
yang diderita, Euis Kuraisin. Ia mantan staf di kantorku, dan istri kawan Ucok
Sky Hadafi, Koordinator Advokasi FITRA (Forum Indonesia Untuk Transparansi
Anggaran). Saya sudah lama mendengar kalau Euis menderita kanker Payudara.
Informasinya, ia sudah lama bolak-balik ke rumah sakit untuk kemoterapi,
setelah berobat secara alternative. Bersama kawan-kawan kantor pula saya
berencana ingin menjenguknya. Namun tidak pernah klop waktunya.