Jumat, 15 Agustus 2014

Kesal Menuju Kupang


Senin, 19 Agutus 2013, awal kesibukan berdenyut kembali. Sekolah telah memulai jam pelajaran di waktu yang sama. Ia menjadi awal kerja – meski ada juga sih yang memulai 12 Agustus namun sedikit jumlahnya – setelah warga Jabodetabek berlibur panjang Idul fitri. Otomatis kemacetan, keramaian dan keriuhan membuncak Senin ini. Saya yakin, semua warga mempersiapkan menyambut Senin “riuh” ini. Nah, di awal kerja ini, kekesalanku menumpuk dalam satu hari saat menuju ke Kupang, NTT.

Pukul 02.30 pagi hari.
Pagi yang dingin membangunkanku pas di jam 02.30. Sengaja saya menyetel alarm, pas jam tersebut. Udara di luar rumah masih berhembus, dingin sekali. Meski tidak ada tanda untuk turun hujan, namun semilir angin terasa kuat di kulit tubuhku. Semalam sebelum tidur, saya sudah menelpon perusahaan taksi terkenal -- yang biasa aku pesan dan menjadi langganan -- untuk menjemputku pas di pukul 03.00. Nah dari situ, saya meminta sang supir untuk mengantarku ke terminal bus Damri di Bekasi. “Yah…itung-itung bisa menghemat bahan bakar, dan bisa mengurangi polusi udara. Karena Bus bisa membawa penumpang pesawat dengan jumlah banyak. Yang penting juga sih, saya bisa menghemat biaya…ha..ha….” pikirku.


Perkiraanku dengan naik taksi dari rumah jam 03.00, maka akan sampai di pool Damri sekitar jam 03.30. Biasanya sih pas nyampe disana, Bus Damri sudah dipenuhi penumpang, sehingga bisa langsung jalan menuju ke bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng. Perjalanan dari Bekasi (pool Damri) ke bandara Soetta biasanya memakan waktu 1.50 (satu setengah) jam. Bila pesawatku dari Jakarta-Kupang take off sekitar jam 07.30, maka kira-kira saya akan nyampe di bandara -- dengan menumpang bus Damri -- sekitar pukul 05.30. Pas banget, dan masih menyisakan sekitar 30-an menit sebelum waktu check in ditutup.

Itu teori alias perencanaan di kepala. Rencana itu sudah berkali-kali saya rasakan kebenaran dan ketepataannya. Bila pun melesat, paling molor beberapa menit. Biasanya sih, taksi bisa terlambat beberapa menit. Malah terkadang, saya berangkat kecepatan, karena seperempat jam, taksi sudah “ngetem” di depan rumahku. Sang supir memanfaatkan waktu tunggunya dengan tertidur di kursi sopirnya. Tapi pagi itu, berbeda. Rencana-pagi yang telah tersusun rapi, berantakan 1000 persen (ngikutin SBY yang berucap 1000% dan juga 2000% saat komentari LHI di kasus sapi..ha..ha..ha….)

Pukul 03.00
Kubuka pintu rumah dengan harapan taksi telah menunggu di depannya. Ternyata kosong. Nada suara seperti taksi yang kudengar dari dalam rumah, ternyata hanya perasaanku saja. “Waduh. Tidak seperti biasanya nih, kok jam segini belum nyampe ya…si taksi”, keluhku sesaat. Saya masuk ke rumah kembali sambil menyalakan televisi yang kebetulan menayang pertandingan piala Champion Eropa. Setelah beberapa menit kulewatkan di depan tv, tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Karena tidak sabar, setelah lima belas menit , saya menelpon perusahaan taksi guna mempertanyakan pesanan taksi dari semalam. Sang operator menjawab bahwa sang supir sedang dalam perjalanan menuju ke rumah. Lega rasa hatiku. Artinya dalam hitungan menit, taksi akan hadir. Perasaan hati menjadi tenang dengan informasi tadi, meski saya tidak tahu pasti keberadaan supir taksi sedang berada di mana. Apakah yang dimaksud dengan “berada di jalan” itu berarti baru jalan atau sedang mencari alamat rumah saya?

Pukul 03.30,dan hingga sampai 03.50.
Hampir setengah jam saya menunggu taksi, sambil menonton tv. Was-was pun mulai terasa di hati, “Kok hingga hampir menyentuh pukul 04.00, namun supir taksi belum nongol-nongol. Rasa khwatirku membumbung makin tinggi.” Saya berguman dengan kesal sendiri ,“Kurang asem. Janjimu palsu, taksi!!!”. Saya pergi keluar rumah lagi, menengok ke kanan, tengok kiri, dengan harapan taksi akan nongol di ujung gang belokan rumahku. Namun, tetap saja kosong. Mungkin sudah ada 10 kali, saya bolak-balik antara dari rumah terus ke depannya. Televisi yang masih menyala, saya matikan akhirnya, karena kesal dengan kondisi itu.

Saya mulai bimbang, antara melupakan janji operator taksi yang bilang bahwa taksi sedang OTW (on the way) namun tak datang-datang, atau naik ojek hingga mendapatkan taksi lain, atau dianter hingga ke pool Damri. Alternative terakhir, cepat-cepat saya mengambil kunci mobil di kamar dan langsung mengendarainya menuju bandara, sekalian menitipkannya disana walau mahal harganya.

Opsi-opsi itu saya pertimbangkan masak-masak. Lama-lama saya mendelet opsi yang masih berfikiran untuk pergi ke pool Damri, kemudian ke bandara dengannya. Karena bila menggunakannya pasti memakan waktu lama. Belum lagi macet (karena ini merupakan awal hari kerja), serta memakan waktu tunggu pula. Berdasarkan pemikiran itu, saya putuskan untuk menyisakan dua opsi. Antara menunggu taksi, dan langsung menuju bandara. Atau bila dalam hitungan waktu -- yang akan ditentukan nanti --, tidak datang, mak mengambil tindakan cepat dengan mengendarai mobil sendiri ke bandara. Suara-suara jangkrik mulai meredup di rimbunan pepohonan di ujung pojokan rumahku. Lengkingan nada kokok ayam mulai terdengar di arah sudut rumah yang lain. Ini pertanda, hari mulai menjelang pagi dan mengantar siang menjemput.

Hatiku super-duper “was-was”. Cemas. Kesel alias marah pada diri sendiri. Kutukan apa yang sedang saya terima hari ini. “Perusahaan taksi tidak professional. Kacau. Saya damprat kau sekerang!” saya umpat berkali-kali di depan rumahku. Bolak-balik pula saya melihat jam tangan yang sudah mendekati pukul 04.45 pagi. Saya mengultimantum diri sendiri dengan keras. Bila hingga sampai pukul 05.00 tepat, taksi tidak datang, maka secepat kilat saya akan mengendarai mobilku sendiri hingga ke bandara dengan was-was (karena harus mengendarainya dengan kecepatan tinggi).

Pukul 05.10
Saat saya akan masuk ke rumah untuk mengambil kunci mobil, eh…..tiba-tiba suara mobil taksi mendekat ke rumah.”Ini benar rumah pak Firdaus…” kata sang supir pelan. Saya lagsung bilang ke dia, untuk menancap gas mobilnya sekencang-mungkin menuju ke bandara  supaya tidak terlambat. Saya melihat wajah supir taksi dengan roman jutek dan super kesal. Sebelum saya damprat, eh dia malah berucap pelan dan memelas, “Maaf ya pak…saya terlambat. Saya baru keluar dari pool taksi jam 05.00, dan ini langsung ke rumah bapak setelah mendapat order dari mesin pemanggil. Maaf sekali lagi, karena supir di pool taksi kami sedang cuti lebaran. Jadi hanya beberapa supir yang ada di pool”.

Dengan suasana batin geram, saya mencoba memahami dan memakluminya. Saat taksi baru masuk pintu tol dalam kota ke arah Grogol, spontan saya tercengang dengan kondisi jalan yang mulai padat padahal masih gelap. Wah..rame sekali suasana jalanan di jam 05 an itu. Puluhan kendaraan di tol yang menuju bandara sudah seperti kondisi jam sibuk kala berangkat ke kantor. Mobil-mobil pribadi berlalu-lalang di jalan menuju tempat aktiftas perkantoran masing-masing. Sang supir taksi bilang bahwa karena hari ini merupakan hari pertama kerja – setelah liburan lebaran --, maka wajar kalau jalanan utama sudah dipenuhi aneka kendaraan.

Was-wasku belum reda. Meski telah naik taksi, namun riuhnya jalan tol membuat kekesalanku masih berasa diubun-ubun. Saya hanya berdoa saat itu, semoga tidak terlambat sampai ke bandara Soetta. Nada wajah masih ditekuk –mungkin terlihat dari kaca sepion samping kursi supir — saya meminta sopir untuk mencari celah diantara deretan mobil guna melajukan taksinya dengan kecepatan maksimal. Alhamdulullah, sang supir menyanggupinya. Ia pun mengenderainya di atas kilometer 100 an hingga tanda alarm di samping setir berbunyi berkali-kali. Saya bertanya tentang bunyi itu. Dia menjawabnya dengan santai, “Tidak apa-apa mas”.

06.00
Sukurlah, nyampe di bandara pas jam enam pagi. Waktu chek in masih tersedia. Bahkan tersisa sedikit waktu untuk sholat shubuh dan ngopi-ngopi di kedai pojok bandara sambil membuka email. Penerbangan pesawat di pagi hari – umumnya – jarang ada yang telat atau delay. Mungkin karena jasad pesawat yang mengangkut penumpang telah “ngendon” di parkiran bandara Soetta sejak semalam. Maka dari itu, prinsipku, kalau bisa bila memilih jadwal penerbangan di pagi hari, sebisa mungkin jangan datang terlambat. Karena hampir 80% bila anda terlambat ke bandara untuk naik pesawat pagi, maka anda akan tertinggal.

Syukurlah pagi itu, hanya beberapa menit saya nyampe dari batas wakut check in ditutup. Sambil menunggu waktu boarding, saya membuka dokumen-dokumen pekerjaan (seperti konsep, laporan projek, dsb) guna persiapan menitoring projek di Kupang. Tidak lupa juga, saya membaca berita actual hari ini melalui media online. Saat sedang asyik melototi tablet, eh..diujung ruang tunggu terlihat anak kecil menangis dengan orang tuanya yang menenanakan di sampingnya. Anak kecil itu terlihat bertindak yang menurut bapak dan ibunya salah. Akibatnya ia menangis tersedu-sedu. Supaya tidak terganggu dan merasa iba, saya menyingkir dari tempat duduk itu ke tempat yang agak jauh.

Waktu untuk masuk ke pesawat menuju bandara Eltari (kupang) sudah tiba. Semua penumpang masuk dengan tenang sesuai tempelan warna di masing-masing tiket. Anak kecil tadi dan orang tuanya masuk terlebih dahulu (sesuai aturan penerbangan). Saya buru-buru menyusul setelahnya supaya bisa masuk ke pesawat duluan. Banyak keuntungan yang kunikmati dengan masuk pesawat paling depan. Yaitu; bisa memilih media cetak yang tersedia (biasanya sih koran berbahasa Inggris dan Indonesia), atau majalah bila tersedia, jalan antara tempat duduk lenggang sehingga bisa berjalan bebas, tempat bagasi di atas tempat duduk masih kosong sehingga bisa menempatkan tas jinjing (berupa laptop, tablet, dompet, dsb) pas di atas dudukku.

Kantuk menyerang mataku begitu duduk di kursi. Rasa kesal yang barusan saya rasakan coba dilupakan dengan menutup mata. Hinggar bingar penumpang yang sedang menempatkan tas di kabin atas dan ramai-ramai mencari nomor kursi, tidak terasa. Rasa lelah dan bangun terlalu pagi, mungkin mempercepat rasa kantuku di pesawat kala itu. Badanku serasa nyaman. “Wuih….mankyus tenan rasa badan ini,” ungkapku dalam hati saat memejamkan mata.

Singkat cerita, beberapa menit saya tertidur. Saat sedang asyik mimpi, tiba-tiba dalam pesawat terdengar rame dan berisik. Ternyata sang anak yang tadi saya temui di ruang tunggu, tengah menangis di bangku tiga baris tepat di depanku. Kontan saja, saya terbangun dan tidak bisa tidur kembali. Suasana pun menjadi riuh dan kekesalanku muncul kembali. Setelah terbangun tiba-tiba, saya coba untuk menidurkan kembali, namun sulitnya minta ampunnnnn. Memang sudah menjadi kebiasaanku untuk sulit tidur kembali bila terbanguan mendadak. Tangis sang anak pun makin keras di depan. “Aduh…., pengin rasanya saya menjerit dengan kondisi itu!!” Pembaca pun bisa membayangkan bagaimana situasinya.

Saat sedang menikmati kekesalan, eh..tiba-tiba saya kebelet kencing. Karena posisi tempat duduknya rada di depan, maka saya harus jalan ke belakang. Kutengok kamar kecil di belakang, ternyata penumpang yang akan membuat hajat sudah mengantri hingga 5 orang. Wuih…sakit sekali rasanya perut ini menahan kencing. “Apes deh ini kayaknya hari ini”, umpatku lirih. Antrian pun mulai menipis di toilet belakang. Baru saya akan mendapat giliran, eh, pramugari pesawat malah menyuruh semua penumpang untuk kembali ke tempat duduknya karena pesawat segera landing. Dengan sedikit berharap untuk memberi izin, tetap sang pramugari dengan sopan memintaku untuk kembali ke tempat duduk. Terpaksalah saya menahan “kebelet pipis” di atas tempat duduk pesawat. Saya berharap mudah-mudahan bisa menahan untuk kesekian kalinya.

Pesawat Landing mulus di bandara Eltari, Kupang. Lega hati ini, artinya toilet bandara sudah di depan mata. Begitu pintu pesawat terbuka, saya siap-siap turun dan menuju ke toilet yang terletak di samping pintu keluar bandara. Meski saya sudah berkali-kali ke Kupang dan mendarat di bandara Eltari, namun tetap saja kaget dengan kondisi kecilnya ruangan pengambilan bagasi. Sementara ruang toilet berdiri menyempil di ujung pintu keluar. Buru-buru saja saya menuju kesana. Saya lupakan sejenak tas koper di pengambilan bagasi. Menahan kencing di dalam pesawat membuat perutku sedikit mual.

Pas nyampe di dalam tolite….”Waduh…antrinya tidak ketulungan lagi. Ampun, deh…lima orang telah berdiri untuk bergantian”. Saya mengecek tempat kencingnya. Ternyata, ia hanya ada satu tempat kencing model berdiri yang masih berfungsi. Dua alat lainnya rusak dan tertutupi kertas Koran. “Ampun deh nih Bandara. Sudah ruangannya kecil, eh…wcnya rusak tidak segera dibetulin lagi…..” (tolong dong, pihak angkasa pura Eltari. Cepatlah bekerja untuk memperbaiki segara toilet rusak). Terpaksalah saya bersabar beribu-ribu kali.

Buang hajat selesai. Kini tiba saatnya saya mengambil koper di pengambilan bagasi. Begitu keluar dari ruang toilet, suasana dah ramai dan gaduh. Mungkin karena kecilnya itu ruangan, sehingga semua penumpang berdiri berjubel menunggu tas koper disamping alat deret yang berjalan di depannya. Alat deret itu berada persis di samping pintu masuk setelah dari lapangan terbang turun dari pesawat. Mungkin panjang alat deret itu tidak kurang dari 10 meter. Sehingga bisa dibayangkan, bila semua penumpang memasukan koper ke bagasi, maka puluhan penumpang berjibun menumpuk di depan deretan dan gedung kecil itu. Selain penumpang yang baru datang, telah meinunggu pula penjemput yang memasang kertas nama orang di tangan atau didada. Praktis, gedung kecil itu menjadi gerah dan riuh. Melalui ruangan ini, saya mengimbau kepada pihak yang berkepentingan untuk memperbaiki sarana dan prasana di bandara El tari, sebagai pintu masuk destinasi lokasi di NTT (Nusa Tenggara Timur). Mudah-mudahan pak Gubernur dan pihak angkasa pura mendengarnya.


Akhirnya, memang sih saya mendapatkan juga koper bawaanku, meski di antrian terakhir. Tapi itu tadi, seolah segala kekesalan menumpuk di pundakku dalam satu hari itu. Mudah-mudahan ini menjadi tangga untuk menjadi pribadi yang tangguh..ha…ha…. (semoga bermanfaat).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar