4 November 2015, kotaJakarta belum terguyur hujan. Panas terik masih menghias udara pagi Ibu kota.Pukul 08.00 pagi, saya telah berada di bandara Soekarno-Hatta terminal 3,Cengkareng. Padahal sih, jadwal keberangkatanku tepat di jam 10.00. Ruteperjalanan hari itu adalah Jakarta - Kuala Lumpur (KL) dengan pesawat Air Asia.Sambil menunggu pesawat take-off,saya duduk di salah satu restoran sambil meminum teh hangat sembari memeriksabahan presentasi pada meeting jam 14.00 siang waktu KL. Hari itu sungguh beratrasanya. Menurut jadwal, setiba di KL, saya diminta untuk makan siang beberapamenit di bandara. Tanpa bak bik buk, saya langsung tancap gas menuju ke gedung Maybank, di Tower A, Dataran Maybank, 1 Jalan Maarof, 59000 KL, Malasyia, gunapresentasi project kerjasama.
Singkat
cerita, alhamdulillah presentasiku aman dan lancar. “Kini waktunya happy-happy”, pikirku begitu senja menjelang. Malam
kini telah mengganti siang. Kerlap kerlip lampu gedung di centre KL memancar
bak lampu tembak raksasa. Sayup-sayup saya melihat menara kembar “Petronas”,
kebanggaan warga Malasyia, terlihat dari jauh. Malam itu, KL macet parah.
Rintik hujan turun mengiringi kemacaten. Udara pun lembab menggoda warganya.
Teman yang duduk di sebelah kursi mobil pengantar bilang, bahwa tidak biasa
pusat KL macet seperti Jakarta di sore hari.
Hujan
sesekali menyelip diantara rona senja malam. Kontur tanah dan jalan di KL yang
menurun mengikuti jalur sungai, menjadikan air hujan cepat sirna, tidak
membekas alias mecet di titik pinggir jalan raya. Dari penglihatanku sekilas,
KL terlihat sedang menuju kota modern, sebagaimana kini Jakarta sedang menuju
ke sana – khususnya di kawasan Tamrin dan Sudirman.
Sajian dinner nan nikmat di pusat kota KL menambah
pesona keindahan kota. Sambil menikmati sajian, kita menyaksikan gemerlapnya
lampu kota KL. Rintik hujan menambah aroma suasana hidangan makan malam.
Sajiannya khas Melayu bercampur modern. Ah…,
nikmatnya, maknyos. Malam pun larut. Saya pulang ke hotel Novotel sambil
menyusuri jalan kota yang tertata rapi. Jalan pedestrian dari restoran di pusat
kota menyambung ke sejumlah hotel di KL. Karena besok hari, tgl 5 November
2015, perjalanan kami dilanjutkan ke kota Pahang, jalan pun dipercepat guna sampai
di hotel. Begitu sampai di kamar, tanpa terasa badanku terlempar sedniri di
kasur dan langsung lelap. Wussss…..
Tepat
pukul 07.00 pagi, bus ukuran seperempat sudah stand bay di depan hotel. Rombongan Maybank Foundation – yayasan yg
didirikan bank maybank Malasyia – menunggu di dalam bus. Istilah kerennya, hari
itu saya berwisata-belajar ke daerah jauh dari KL, tepatnya sejumlah lokasi dan
komplek di Pahang.
Destinasi
pertama, komplek Pusat Pengembangan Tenun Pahang DiRaja
Kg.Soi Kuantan. Daerah
itu terletak 4 jam perjalanan dari KL. Sinar matahari pelan-pelan naik di ufuk
timur, mengiringi perjalanan. Selepas KL, bus rombongan memasuk jalan tol
menuju ke Kuantan. Gerimis kecil menghadang saat bus masuk ke jalan penghubung
keluar KL. Pohon-pohon rindang mengiringi kiri-kanan jalan tol. Sepi dan
lenggang. Seketika itu, udara segar terus
menyergap suasana. Aspal jalan halus bagai jalanan di sirkuit F1, menghampar
lurus dengan sedikit berkelok. Saya serasa mengadakan perjalanan di atas tol
jagorawi bila ingin ke kota Bogor atau Ciawi. Karena halusnya jalanan dan
heningnya suasana, tak terasa mataku mengantuk. Pelan-pelan saya terlelap tidur
sesaat memandang panorama luar melalui kaca jendela.
Sejenak,
aku terjaga dari tidur ayamku. Bus berhenti beberapa menit di resh area. Lokasinyanya bergaya
“peristirahatan eropa”. Pom bensin Petronas – yang jadi aikon Malasyia – siap
melayani pengisian bahan bakar. Nyaman dan sejuk. Asyik untuk ngopi sejenak, melepas
lelah dari perjalanan.
Tepat
pukul 09.00, bus rombongan berhenti di komplek pusat pengembangan tenun bernama
“Komplek Pengembangan Tenun Pahang Diraja
Sultan Haji Ahmad Shah, Kampung Soi, Kuantan”. Komplek tersebut terbentang
luas di antara hutan dan bangunan toko di antara jalan menuju ke arahnya. Di areal
komplek terdapat beberapa bangunan. Bangunan pertama, yang terletak di depan
pintu gerbang adalah ruang pamer atau display. Di situ terpampang aneka tenun
Pahang dengan berbagai model. Sejarah dan jejak perjalanan tenun Pahang pun
terkisah di sejumlah sudut display. Pada umumnya, tenun Pahang berbahan kain
tipis namun miskin perpaduan motive dan warna. Mungkin ini karena perkembangan
tenun di sana, tidak segitu heboh dibanding Indonesia. Koleksi desainer yang
menonjol pun jarang terlihat. Di situ, saya tidak melihat koleksi-koleksi yang up
to date.
Penjaga
yang merupakan artisan perempuan menerangkan rombongan dengan ramah. Ia mengaku
bahwa para penenun Malasyia dahulunya belajar dari penenun Makasar Indonesia.
Nah loh….
Selepas
berkeliling segala penjuru ruang display, kami dipersilahkan ke ruang belakang
yang ternyata lokasi ramah tamah tamu dengan suguhan snack dan minuman. Foto
dengan aneka pose diambil tamu rombongan. Setelah itu, saya keluar menuju
bangunan di sebarangnya. Saat tiba di bangunan itu, ternyata ruang produksi
penenunan benang menjadi bahan jadi tenun. Puluhan mesin tenun ATBM (alat tenun
bukan mesin) berjejer di ruang tersebut. Para pekerja yang umumumnya perempuan,
asyik menenun dengan ATBM. Di salah satu sudut, pekerja perempuan merapikan
benang atau “menghani” sebelum dipakai untuk diproses tenun. Aktiftas menenun
di ruang itu terlihat seperti “small industry”. Dimana pekerja melakukan
pekerjaan secara spesifik; menenun, menghani dsb, yang tidak boleh dipertukarkan
dengan yg lain. Maka tak aneh, bila “industry kecil” komplek tenun Pahang,
mampu dengan cepat menyelesaikan produksi kain tenunnya. Menurutku ini berbeda
dengan menenun dengan pola tenun rakyat, dimana kaum perempuan menenun di masing-masing
rumah sambil mengerjakan pekerjaan lainnya. Tentu, hasilnya pun berbeda. Namun
keduanya bisa saling belajar.
Tanpa
terasa, arloji di tanganku menunjukan pukul 13.00 siang. Matahari siang di
kampong Soi, Kuantan, telah menyengat. Kami bergegas untuk makan siang bersama
di restoran yang berada di satu hotel di daerah Kuantan, di samping sungai.
Sayang, air sungai sedang surut. Jadi kami tidak bisa menikmati angin semilir
sungai di tengah santapan makan siang.
Waktu
berjalan cepat. Tak dinyana matahari terus beranjak ke barat. Kami beserta
rombongan bergegas menuju satu kampong di pinggiran hutan kota, di mana seorang
“emak” tua bermukim. Ia bukan seorang nenek biasa. Perempuan tua ini bernama
Hajjah Nortipah BT Abd Kadir, biasa dipanggil “Kak Tipah”. Ia merupakan
mahaguru tenun Pahang, tempat belajar para penenun muda dan tua yang ingin
mengasah kepandaian tenun Pahang.
Kak
Tipah memiliki bengkel dan gallery tenun di samping rumahnya. Peralatannya
sederhana. Di bengkelnya terdapat mesin gedokan dan ATBM. Prototipe kak Tipah
merupakan miniature para penenun rakyat yang biasa di jumpai di kampong tenun
di Indonesia. Saat saya berdialog dengannya dan menyebut asalku dari Indonesia,
Ia tersenyum dan senang. Menurutnya ia juga menggali kepandaian tenunnya dari
berbagai teman Indonesia. Nah loh….Indonesia lagi disebut…
Sudah
dua tempat yang aku singgahi, pertama, Komplek Pengembangan Tenun Pahang
Diraja, Sultan Haji Ahmad Shah, di Kampung Soi, Kuantan, dan kedua, rumah tenun
PN. Hajjah Nortipah BT. ABD. Kadir, yang mengaku bahwa mereka pernah
bersinggungan dengan artisan tenun Indonesia. Memang, kita dan Malasyia baku
saudara……….
Terakhir
sebelum balik ke KL, kami mampir di Intitut Kemahiran Tenun. Satu lembaga
pendidikan yang focus mengajarkan kemahiran tenun bagi mahasiswa tentang tenun
Pahang Diraja. Komplek pendidikannya luas dan representative untuk para penenun
belajar di dalamnya. Saat kami masuk di depan pintu gerbangnya, terlihat
bangunan panggung yang ternyata adalah tempat “rumah tempat lahir” Tun Abdul Razak,
sang perdana menetri Malasyia.
Komplek
ini terdiri dari berbagai bangunan dan ruang bengkel serta lokasi pembelajaran.
Diantaranya (dalam bahasa Malasyia); ruang pejabat pengurusan, bilik mesyuarat,
laman plaza, kafetaria, surau, bilik pengajar, bilik kuliah, makmal computer,
bengkel tenunan, bilik pameran dan tandas. Istilahnya rada mirip bahasa
Indonesia namun ada yang beda..…..kan bahasa Melayu.
Murid
yang belajar di situ merupakan calon penenun yang berasal dari warga Malasyia.
Mereka mendapat beasiswa pemerintah kerajaan. Wuih enaknya. Namun sayangnya,
seperti yang dituturkan salah satu pengajarnya, minat warga malasyia untuk
belajar tenun menurun. Ini terbutkti dari makin menurunnya calon mahasiswa atau
murid yang belajar setiap tahunnya. Dalam hatiku berujar ,” bila ada lembaga sejenis di Indonesia yang
memberikan besiswa bagi para calon penenun dan penenun, makan pasti atri warga
yang akan belajar di sana….”. sayang memang. Secara pelan-pelan, saya
utarakan maksudku kepada pengajar Intitut. Terlihat ia sedang berfikir
masukanku, namun ia akan sampaikan kepada pemerintah kerajaan setempat.
Pas
jam 16.30 sore kami selesai dari Intitut Kemahiran Tenun. Capek nian badan ini,
begitu keluhku lirih. Sesampai di bus rombongan, saya langsung terlelap tidur,
hingga tak sadar, ternyata bus telah sampai di KL kira-kira pukul 19.30 malam.
Pas saya bangun dari kantuk, bus sedang melewati menara kembar Petronas. Teman rombongan
dari Kamboja, merajuk sang supir untuk berhenti sebentar untuk berfoto di
depannya. Kira-kira 15 menit bus berhenti di depan menara kembar. Megah dan
bersinar gemerlap menara itu saat malam. Rasa kecapeaan seolah hilang sesaat
ketika melihatnya. Perjalanan hari itu ditutup dengan pemandangan lampung
raksasa dari menara kembar Petronas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar