Rabu, 27 Juli 2016

Menyusuri Pulau Kulambing


Tanggal 23 April 2016 lalu, saya pergi ke pulau Kulambing. Satu dari gugusan kepulauan kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, disingkat Pangkep, Sulawesi Selatan. Kala itu, mentri Desa Tertinggal membuka event “Peluncuran Sekolah Perempuan Pulau” di pulau Kulambing, yang diselenggarakan kelompok perempuan pulau, mitra kerja YKPM dan Institut Kapal Perempuan.

Pukul 07.00 pagi, saya berangkat ke sana bersama rombongan. Dari perbincangan selama perjalanan, kabupaten ini memiliki puluhan pulau. Beberapa pulau belum bernama. Untuk mengelilinginya, terkadang kepala daerah (Bupati) menggunakan pesawat guna menjangkau sebanyak mungkin wilayah. Jangan-jangan selama ia menjabat, tidak semua pulau terlampaui. Hadeh…….

Selama perjalanan, banyak “tantangan pembangunan” menuju pulau, yang berbeda dengan daratan yang kutemui. Pertama, saat perjalananku menuju pelabuhan. Jalan ke arah pelabuhan terlihat sempit. Mungkin karena ini pelabuhan tingkat kabupaten. Jalan hanya untuk dua kendaraan. Bila berpapasan dengan kendaran berlawan, maka kendaraan memperlambatnya. Beberapa titik berlubang. Infra struktur sepertinya belum menunjang. Sesampai di parkiran pelabuhan, puluhan orang berdiri di bibir pantai. Maklum, pejabat akan lewat….

Untuk menuju pulau, saya harus naik perahu. Pelan-pelan perahu merapat ke tepian. Di sinilah saya menjumpai “tantangan” kedua. Kala itu, saya naik perahu dengan melompat dari samping dermaga. Posisi dermaga untuk menaikkan penumpang sempit dan berada di ujung. Terpaksa saya dan penumpang lain naik ke perahu dari lokasi yang tidak seharusnya.

Kondisi tersebut biasa dilakukan penumpang di pelabuhan, ungkap petugas perahu. Anehnya, sang nahkoda perahu menganggap kami (yang tidak pernah berlayar) sebagai penumpang yang terbiasa dengan kondisi itu (melompat di perahu dan ia memegangnya).

Terpaksa, saya membiasakan diri untuk melompat naik ke perahu yang sesekali bergoyang, karena hempasan air laut. Saat kakiku menginjak perahu, perahu bergoyang lagi. Sontak, badanku bergoyang. Hampir jatuh. Namun keseimbanganku bisa kukendalikan. Semua penumpang – saya kira – mempunyai kekhawatiran yang sama. Takut jatuh. Perlahan, perahu terisi penumpang.

Dalam perjalan, saya membayangkan. Bagaimana kalau yang naik adalah perempuan dengan “long dress”? Terbayang kesulitannya ia melompat. Belum lagi kalau keseimbangan badannya tidak stabil. Bisa-bisa ia kejebur ke laut. Belum lagi persoalan pelampung. Sejatinya setiap penumpang dilengkapi pelampung standar. Saat kami iseng-iseng bertanya kepada penumpang lain, ternyata pelampung tersedia namun terbatas. Kontan, saya berdoa dalam hati, “semoga perahu ini tidak tenggelam di tengah laut. Sebab kalau goyang, dan ternggelam, maka berbahaya karena tidak ada pelampung di perahu.” Perjalanan ke pulau Kulambing memakan waktu 50 menit.

Selama berlayar, saya melihat hamparan air laut membawa gelombang kecil. Sesekali pandangan di depanku kosong, tanpa halangan. Namun sesaat kemudian, saya melihat gundukan tanah di ujung penglihatan. Itu ternyata gugusan pulau tetangga. Diantara gugusan pulau terlihat bangunan rumah. Artinya terdapat penduduk di sana. Di sela-sela gugusan itu ada satu pulau yang penuh dengan bangunan, berupa aneka wahana permainan dan restauran. Nahkoda bilang, bahwa pulau tersebut merupakan lokasi wisata khusus akhir pekan. Makanya terlihat sepi. Udara siang itu panas lambab. Meski begitu, deburan angin amat kencang. Sehingga tak terasa sengatannya. Perlahan, kurasakan kulit tanganku basah terkena terpaan air laut.

Perahu merapat pelan-pelan di dermaga pulau Kulambing. Tidak seperti pemberangkatan, kini saat merapat, perahu antri dan tertib. Satu per satu penumpang perahu, sedikit melompat ke dermaga. Udara panas khas laut menyengat. Waktu menunjukan jam11.30 siang. Begitu masuk ke daratan pulau, pintu gerbang bertulis “Selamat Datang di P Kulambing, desa Mattiro Uleng, Kec. Liukang Tupabbiring Utara, Kab. Pangkep”, terpampang jelas.

Masuk ke daratan pulau, bangunan rumah berdiri di sejumlah titik. Begitu ke dalam, tidak terasa bahwa ini sebuah pulau. Terlihat di pintu muka daratan pulau, berdiri masjid yang diperbaiki. Sebelum itu, berdiri kantor kelurahan, yang di sebelahnya pusat layanan kesehatan pembantu (Pustu) berderet menyambut perjalananku. Fasilitas kesehatan, kelihatanya menjadi satu-satunya layanan public pulau. Lokasi ini menjadi sentra kegiatan masyarakat. Padahal, luas pulau cukup lebar. Bisa dibayangkan, bagaimana masyarakat yang  berada di ujung pulau, bepergian untuk mengakses layanan kesehatan dan keperluan lainnya. Minimnya layanan public standar menjadi tantangan ketiga di pulau.

Deretan rumah panggung berjejer di pinggir jalan desa pulau. Jalannya kecil, cukup untuk kendaraan motor dan satu mobil melewatinya. Ujung jalan yang kulewati adalah lapangan sepak bola. Di situlah even yang diresmikan Kementrian Desa Tertinggal. Saat berjalan menuju lapangan, saya menyaksikan orang pulau mengintip tamu dari balik jendela rumah panggung. Ada yang melongok setengah badan, dan kepalanya keluar. Mungkin kunjungan Mentri menjadi yang pertama baginya. Guratan kegigihan dalam mengarungi laut terlihat di wajahnya. Sekilas, tak ada yang membedakan antara orang daratan dan pulau dari sisi fisiknya.

Daratan kepulauan terlihat minim tanaman sayur-sayuran. Hanya tanaman pisang yang saya lihat di sudut rumah dan pekarangan. Topografi wilayah yang panas dan melimpahnya sumber ikan menjadi salah satu “enggannya” penduduk bertanam sayuran. Berbagai sayuran, mereka dapat dari daratan. Karena ia dikirim dari daratan, maka harganya jadi mahal. Saya bukan ahli geologi dan biologi, yang mengerti struktur tanah dan tanaman. Namun secara akal sehat, dimana di situ ada tanah dan udara serta air, sejatinya lokasi itu bisa ditanami tumbuh-tumbuhan – termasuk sayuran dan buah-buahan. Karena buah dan sayuran merupakan unsur penting dalam tubuh manusia. Memang sih, ikan juga penting yang menyumbang protein tubuh manusia. Namun alangkah lengkapnya, susunan gizi dan protein penduduk, bila ikan dilengkapi dengan sayuran dan buah-buahan yang diambil dari tanaman sendiri.

Transportasi menjadi tantangan lain. Even besar yang mendatangkan Mentri di lapangan merupakan hal pertama bagi penduduk pulau. Semua penyewaan dan pemasangan tenda serta kursinya didatangkan dari daratan. Harganya – menurut panitia – 2 kali lipat dari penyewaan acara di daratan. Tidak ada pengusaha penyewaan tenda di pulau tersebut. Mungkin karena penduduk jarang mengadakan even besar. Ajaib. Serasa timpangnya dari penduduk daratan.

Sementara itu, di pojok lain dari tepi pulau, kulihat kapal-kapal besar mendarat dan berlabuh. Menurut penuturan warga yang penulis ajak ngobrol, kapal tersebut milik perusahaan semen Tonasa. Penduduk hanya melihat hilir mudik kapal. Penulis tidak memahami bagaimana kapal perusahaan bisa hilir mudik di belakang pulau. Sementara pembangunan pulau lambat. Bila mereka hadir di pulau, harusnya perusahaan ikut meningkatkan kesejahteraan penduduk di sekitar pulau. Itulah logikanya…

Untungnya, di pulau berdiri sekolah alternative yang diinisasi kaum perempuan pulau. Wadah pendidikan non formal ini menjadi ajang pembelajaran warga – khususnya kaum perempuan. Sebagaimana diketahui, dalam masyarakat Indonesia yang patriarki, kaum perempuan serba dinomorduakan. Hal serupa terjadi di masyarakat pulau. Selain dinomorduakan, perempuan terbebani dengan kondisi yang serba terbelakang daripada wilayah daratan.

Perlahan perbedaan kontruksi gender terkikis. Didorong keadaan dan pembelajaran yang bernilai keadilan gender dan kesetaraan, perempuan pulau mengambil inisiatif pembangunan. Bahkan profesi “nelayan” yang biasa disematkan laki-laki, kini muncul nelayan perempuan, yang mampu berlayar di laut. Sedari pagi, mereka mempersiapkan alat tangkap (jaring) dan perlengkapan lain di perahunya.

Kini, hanya inovasi dan trobosan dari semua pemangku kepentingan yang diharapkan. Pemerintah – local dan nasional --, harus bergerak cepat. Aneka produk makanan dari bahan laut belum tergali. Strategi pasarnya pun belum terekplorasi.

Gambaran sekilas pulau Kulambing, memperlihatkan ketimpangan pembangunan antara daratan dan kepulauan. Negara selama ini lebih berorentasi daratan. Strategi pembangunan kepulauan dan laut “dipaksa” mengkopi paste daratan. Fakanya, daratan dan kepulauan berbeda. Meski ada sisi yang bisa dimodifikasi antara keduanya. Setiap daratan dan kepulauan memiliki keunikan dan keunggulannya sendiri.

Indonesia sebagai negara kepulauan, harusnya memiliki kekayaan strategi pembangunan kepulauan yang dibangun atas pengalaman sendiri. Strategi itu digali dari pengalaman bertahun-tahun melaui berbagai solusinya. Dari pembangunan melalui pengalaman itulah, sejatinya kita memiliki pengetahuan, kekayaan alam, pengalaman, strategi, yang bisa disumbangkan kepada kesejahteraan global.

Hingga kini pemerintah masih belum lepas dari memunggungi laut. Mereka belum lepas dari kerangka “daratan”. Lihat saja program sebagian besar masih “ngendon” di daratan. Desa-desa di kepulaun masih dianggap seperti desa daratan. Baru di tahun 2016, seorang pejabat setingkat kementrian hadir di kepulauan di ujung timur pulau Indonesia. Saatnya, ketimpangan pembangunan kepaulauan harus diakhiri…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar