Tanggal 23 April 2016 lalu, saya pergi ke
pulau Kulambing. Satu dari gugusan kepulauan kabupaten Pangkajene dan Kepulauan,
disingkat Pangkep, Sulawesi Selatan. Kala itu, mentri Desa Tertinggal membuka
event “Peluncuran Sekolah Perempuan Pulau”
di pulau Kulambing, yang diselenggarakan kelompok perempuan pulau, mitra kerja
YKPM dan Institut Kapal Perempuan.
Pukul 07.00 pagi, saya berangkat ke sana
bersama rombongan. Dari perbincangan selama perjalanan, kabupaten ini memiliki
puluhan pulau. Beberapa pulau belum bernama. Untuk mengelilinginya, terkadang kepala
daerah (Bupati) menggunakan pesawat guna menjangkau sebanyak mungkin wilayah.
Jangan-jangan selama ia menjabat, tidak semua pulau terlampaui. Hadeh…….
Selama perjalanan, banyak “tantangan
pembangunan” menuju pulau, yang berbeda dengan daratan yang kutemui. Pertama, saat perjalananku menuju
pelabuhan. Jalan ke arah pelabuhan terlihat sempit. Mungkin karena ini
pelabuhan tingkat kabupaten. Jalan hanya untuk dua kendaraan. Bila berpapasan
dengan kendaran berlawan, maka kendaraan memperlambatnya. Beberapa titik berlubang.
Infra struktur sepertinya belum menunjang. Sesampai di parkiran pelabuhan, puluhan
orang berdiri di bibir pantai. Maklum, pejabat akan lewat….
Untuk menuju pulau, saya harus naik
perahu. Pelan-pelan perahu merapat ke tepian. Di sinilah saya menjumpai
“tantangan” kedua. Kala itu, saya
naik perahu dengan melompat dari samping dermaga. Posisi dermaga untuk
menaikkan penumpang sempit dan berada di ujung. Terpaksa saya dan penumpang
lain naik ke perahu dari lokasi yang tidak seharusnya.
Kondisi tersebut biasa dilakukan penumpang
di pelabuhan, ungkap petugas perahu. Anehnya, sang nahkoda perahu menganggap
kami (yang tidak pernah berlayar) sebagai penumpang yang terbiasa dengan
kondisi itu (melompat di perahu dan ia memegangnya).
Terpaksa, saya membiasakan diri untuk
melompat naik ke perahu yang sesekali bergoyang, karena hempasan air laut. Saat
kakiku menginjak perahu, perahu bergoyang lagi. Sontak, badanku bergoyang.
Hampir jatuh. Namun keseimbanganku bisa kukendalikan. Semua penumpang – saya
kira – mempunyai kekhawatiran yang sama. Takut jatuh. Perlahan, perahu terisi
penumpang.
Dalam perjalan, saya membayangkan.
Bagaimana kalau yang naik adalah perempuan dengan “long dress”? Terbayang
kesulitannya ia melompat. Belum lagi kalau keseimbangan badannya tidak stabil.
Bisa-bisa ia kejebur ke laut. Belum lagi persoalan pelampung. Sejatinya setiap
penumpang dilengkapi pelampung standar. Saat kami iseng-iseng bertanya kepada
penumpang lain, ternyata pelampung tersedia namun terbatas. Kontan, saya berdoa
dalam hati, “semoga perahu ini tidak
tenggelam di tengah laut. Sebab kalau goyang, dan ternggelam, maka berbahaya
karena tidak ada pelampung di perahu.”
Perjalanan ke pulau Kulambing memakan waktu 50 menit.
Selama berlayar, saya melihat hamparan
air laut membawa gelombang kecil. Sesekali pandangan di depanku kosong, tanpa
halangan. Namun sesaat kemudian, saya melihat gundukan tanah di ujung
penglihatan. Itu ternyata gugusan pulau tetangga. Diantara gugusan pulau
terlihat bangunan rumah. Artinya terdapat penduduk di sana. Di sela-sela
gugusan itu ada satu pulau yang penuh dengan bangunan, berupa aneka wahana permainan
dan restauran. Nahkoda bilang, bahwa pulau tersebut merupakan lokasi wisata
khusus akhir pekan. Makanya terlihat sepi. Udara siang itu panas lambab. Meski
begitu, deburan angin amat kencang. Sehingga tak terasa sengatannya. Perlahan,
kurasakan kulit tanganku basah terkena terpaan air laut.
Perahu merapat pelan-pelan di dermaga
pulau Kulambing. Tidak seperti pemberangkatan, kini saat merapat, perahu antri
dan tertib. Satu per satu penumpang perahu, sedikit melompat ke dermaga. Udara
panas khas laut menyengat. Waktu menunjukan jam11.30 siang. Begitu masuk ke
daratan pulau, pintu gerbang bertulis “Selamat
Datang di P Kulambing, desa Mattiro Uleng, Kec. Liukang Tupabbiring Utara, Kab.
Pangkep”, terpampang jelas.
Masuk ke daratan pulau, bangunan rumah
berdiri di sejumlah titik. Begitu ke dalam, tidak terasa bahwa ini sebuah
pulau. Terlihat di pintu muka daratan pulau, berdiri masjid yang diperbaiki.
Sebelum itu, berdiri kantor kelurahan, yang di sebelahnya pusat layanan
kesehatan pembantu (Pustu) berderet menyambut perjalananku. Fasilitas
kesehatan, kelihatanya menjadi satu-satunya layanan public pulau. Lokasi ini
menjadi sentra kegiatan masyarakat. Padahal, luas pulau cukup lebar. Bisa
dibayangkan, bagaimana masyarakat yang
berada di ujung pulau, bepergian untuk mengakses layanan kesehatan dan
keperluan lainnya. Minimnya layanan public standar menjadi tantangan ketiga di pulau.
Deretan rumah panggung berjejer di
pinggir jalan desa pulau. Jalannya kecil, cukup untuk kendaraan motor dan satu
mobil melewatinya. Ujung jalan yang kulewati adalah lapangan sepak bola. Di situlah
even yang diresmikan Kementrian Desa Tertinggal. Saat berjalan menuju lapangan,
saya menyaksikan orang pulau mengintip tamu dari balik jendela rumah panggung.
Ada yang melongok setengah badan, dan kepalanya keluar. Mungkin kunjungan
Mentri menjadi yang pertama baginya. Guratan kegigihan dalam mengarungi laut
terlihat di wajahnya. Sekilas, tak ada yang membedakan antara orang daratan dan
pulau dari sisi fisiknya.
Daratan kepulauan terlihat minim tanaman
sayur-sayuran. Hanya tanaman pisang yang saya lihat di sudut rumah dan
pekarangan. Topografi wilayah yang panas dan melimpahnya sumber ikan menjadi
salah satu “enggannya” penduduk bertanam sayuran. Berbagai sayuran, mereka
dapat dari daratan. Karena ia dikirim dari daratan, maka harganya jadi mahal.
Saya bukan ahli geologi dan biologi, yang mengerti struktur tanah dan tanaman.
Namun secara akal sehat, dimana di situ ada tanah dan udara serta air,
sejatinya lokasi itu bisa ditanami tumbuh-tumbuhan – termasuk sayuran dan
buah-buahan. Karena buah dan sayuran merupakan unsur penting dalam tubuh
manusia. Memang sih, ikan juga penting yang menyumbang protein tubuh manusia.
Namun alangkah lengkapnya, susunan gizi dan protein penduduk, bila ikan
dilengkapi dengan sayuran dan buah-buahan yang diambil dari tanaman sendiri.
Transportasi menjadi tantangan lain. Even
besar yang mendatangkan Mentri di lapangan merupakan hal pertama bagi penduduk
pulau. Semua penyewaan dan pemasangan tenda serta kursinya didatangkan dari
daratan. Harganya – menurut panitia – 2 kali lipat dari penyewaan acara di
daratan. Tidak ada pengusaha penyewaan tenda di pulau tersebut. Mungkin karena
penduduk jarang mengadakan even besar. Ajaib. Serasa timpangnya dari penduduk
daratan.
Sementara itu, di pojok lain dari tepi
pulau, kulihat kapal-kapal besar mendarat dan berlabuh. Menurut penuturan warga
yang penulis ajak ngobrol, kapal tersebut milik perusahaan semen Tonasa.
Penduduk hanya melihat hilir mudik kapal. Penulis tidak memahami bagaimana
kapal perusahaan bisa hilir mudik di belakang pulau. Sementara pembangunan
pulau lambat. Bila mereka hadir di pulau, harusnya perusahaan ikut meningkatkan
kesejahteraan penduduk di sekitar pulau. Itulah logikanya…
Untungnya, di pulau berdiri sekolah alternative
yang diinisasi kaum perempuan pulau. Wadah pendidikan non formal ini menjadi
ajang pembelajaran warga – khususnya kaum perempuan. Sebagaimana diketahui,
dalam masyarakat Indonesia yang patriarki, kaum perempuan serba dinomorduakan.
Hal serupa terjadi di masyarakat pulau. Selain dinomorduakan, perempuan
terbebani dengan kondisi yang serba terbelakang daripada wilayah daratan.
Perlahan perbedaan kontruksi gender
terkikis. Didorong keadaan dan pembelajaran yang bernilai keadilan gender dan
kesetaraan, perempuan pulau mengambil inisiatif pembangunan. Bahkan profesi
“nelayan” yang biasa disematkan laki-laki, kini muncul nelayan perempuan, yang mampu
berlayar di laut. Sedari pagi, mereka mempersiapkan alat tangkap (jaring) dan
perlengkapan lain di perahunya.
Kini, hanya inovasi dan trobosan dari
semua pemangku kepentingan yang diharapkan. Pemerintah – local dan nasional --,
harus bergerak cepat. Aneka produk makanan dari bahan laut belum tergali.
Strategi pasarnya pun belum terekplorasi.
Gambaran sekilas pulau Kulambing,
memperlihatkan ketimpangan pembangunan antara daratan dan kepulauan. Negara
selama ini lebih berorentasi daratan. Strategi pembangunan kepulauan dan laut
“dipaksa” mengkopi paste daratan. Fakanya, daratan dan kepulauan berbeda. Meski
ada sisi yang bisa dimodifikasi antara keduanya. Setiap daratan dan kepulauan
memiliki keunikan dan keunggulannya sendiri.
Indonesia sebagai negara kepulauan,
harusnya memiliki kekayaan strategi pembangunan kepulauan yang dibangun atas
pengalaman sendiri. Strategi itu digali dari pengalaman bertahun-tahun melaui
berbagai solusinya. Dari pembangunan melalui pengalaman itulah, sejatinya kita
memiliki pengetahuan, kekayaan alam, pengalaman, strategi, yang bisa
disumbangkan kepada kesejahteraan global.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar