Malam kian larut. Mendung mengiringi
pergantian hari di akhir Ramadhan tahun 2018. Musim dingin di Adelaide makin
menambah syahdu akhir Ramadhan. Udara terasa membekukan badan hari ini
(14 juni 2018) sebagai akhir puasa. Sebagai pelajar yang baru
merasakan lebaran jauh dari tanah air dan keluarga, momen emosional di setiap
lebaran terasa menyayat relung hati. Begitu waktu berbuka hadir, yang bertanda
takbir dikumandangkan, perasaan melo muncul tanpa sadar. Bibirku mengalun takbir perlahan, meski lirih dan sendirian. Sambil meneguk teh panas dan pisang untuk
berbuka puasa, sisi pengalaman emosionalku muncul remang-remang. Tidak ada
alunan takbir petang itu dari corong masjid sebelah rumah. Tidak
ada tatanan kue tar berjejer di meja tamu. Tidak ada deretan plastik beras
untuk zakat fitrah. ohh….
Terkadang, manusia perlu rilex. Kejujuran, ketulusan, dan tanpa topeng menjadi pijakan. Perjalanan ke tempat baru sarat makna. Meski penuh tantangan.
Sabtu, 16 Juni 2018
Jumat, 08 Juni 2018
Ramadhan di Port Elliot, Australia Selatan
![]() |
| photo by Ika S |
Kini sudah tanggal 25 Mei 2018. Artinya
bulan Ramadhan berlalu 10 hari kujalani di bumi Kangguru Selatan. Ramadhan di
Australia, kini beriringan dengan kehadiran awal musim dingin. Di setiap pagi,
suhu dingin berangsur turun meski perlahan. Bila malam menjelang, suhunya merendah
drastis, hingga 8 derajat celsius. Pernah satu kali, saya berdiri di teras
apartemen untuk melihat kondisi, ternyata kaki bagai menginjak balok es.
Dingin. Mak cess.. Jemari tanganku membeku dan mengkerut tanpa kusadari. Malam
pun sepi. Sunyi bagai tak berpenduduk. Kota Adeladie laksana kota “mati”, bila
malam menjelang. Sesekali bila suhu tak begitu dingin, dan itu pas Jum’at malam,
warga berhamburan di kota. Kafe, restaurant, dan kedai makanan yang berjejer di
“central market” dipenuhi warga kota sehabis kerja. Riuh tawa dan senyum warga
memenuhi pojok-pojok kota. Malam pun berseri….
Balik ke suasana awal musim dingin. Karena
akan memasuki musim dingin, badan pun tidak gampang lelah. Tidak mudah pula hausan.
Ramadhan di sini mengasyikkkan, meski tidak terasa “aura” puasanya – seperti di
Indonesia. Tak ada suara adzan. Suara ramai anak-anak dgn berbagai tabuhan
untuk membangunkan saur. Pun Sholawat sebelum adzan subuh.
Rabu, 25 April 2018
Sunset di Pantai Glenelg, Adelaide
24 April 2018
pagi, kota Adelaide, Australia, hujan rintik. Tiupan angin pagi mulai
“mendinginkan” badanku. Hujan ini sepertinya menjadi pertanda bahwa musim
dingin segera bermula di bumi Kangguru Selatan. Saya bergegas keluar dari apartemen
menuju kampus berlokasi dekat victoria park. Hari ini merupakan awal kuliah di
kampus Flinders, Adelaide kota. Terlihat kerumunan manusia bergegas berlarian
ke perkantoran menghindari hujan. Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Saya bersama
penduduk kota lainnya menepi. Sesaat kemudian, hujan berhenti dan menyisakan
rintik kecil. Saya bersama kawan berjalan di pinggir jalan utama yang lebar.
Siang hari
beranjak cepat. Panas matahari muncul menggantikan hujan. Kota Adelaide meriah kembali
seperti biasa. Kota berpenduduk 1 juta ini, meski ramai namun tetap nyaman.
Tidak ada kemacetan – seperti di Jakarta. Lampu merah menyebar di setiap pojok
perempatan. Penduduk kota teratur antri menunggu di traffic light untuk menyeberang.
Pejalan kaki pun dimanjakan dengan trotoarnya yang lebar. Angin musim dingin
serasa lembab pelan-pelan menerpa wajahku siang itu. Meski panas, berkat terpaan
angin lembab, badanku malah hangat. Segar bahkan. Siang itu, awal kuliah
selesai lebih cepat. Setelah santap siang di dapur kampus, saya bergegas balik
ke apartemen.
Jumat, 12 Januari 2018
Menikmati Surga Dunia Di Labuan Bajo
Pantai di sekitar Labuan Bajo laksana surga belum “terjamah”. Labuan Bajo adalah ibu kota kab Manggarai Barat, kepulauan Flores, NTT – di mana binatang Komodo hidup di beberapa pulaunya. Kenanganku selama disana tak mudah sirna dari bayangan. Meski sudah tiga dalam setahun ini, namun hasratku ingin, ingin dan ingin kembali. Bayangan akan gugusan pulau indah nan eksotik, berjejer yang dikelilingi pasir putih, teramat membekas. Air lautnya putih, sebening kolam renang hotel berbintang. Saking beningnya, ikan-ikan kecil, batu dan kerikil terlihat jelas di dasar laut. Bagai kolam renang raksasa yang disediakan sang pencipta bagi manusia. Di sana, wisatawan tak henti-hentinya berenang, menyelam, dan bermain air sebebas-bebasnya. Hebatnya, spot-spot untuk berenang menyebar di antara gugusan pulau yang berjejer di banyak lokasi. “Hidden paradise” (syurga tersembunyi) di ujung timur Indonesia. Istilah yang pas untuknya.
Sayangnya, mirip
dengan lokasi wisata “tersembunyi” Indonesia lainnya yang indah, support akses infrastruktur
masih minim. Sudah minim, mahal pula. Makanya tidak setiap orang Indonesia bisa
menikmatinya. Bagi yang berhasrat menikmati pantai dan melihat komodo di pulau
sekitar Labuan Bajo, namun berbudget terbatas, berikut tip saya. Semoga
bermanfaat.
Langganan:
Komentar (Atom)



