Pantai di sekitar Labuan Bajo laksana surga belum “terjamah”. Labuan Bajo adalah ibu kota kab Manggarai Barat, kepulauan Flores, NTT – di mana binatang Komodo hidup di beberapa pulaunya. Kenanganku selama disana tak mudah sirna dari bayangan. Meski sudah tiga dalam setahun ini, namun hasratku ingin, ingin dan ingin kembali. Bayangan akan gugusan pulau indah nan eksotik, berjejer yang dikelilingi pasir putih, teramat membekas. Air lautnya putih, sebening kolam renang hotel berbintang. Saking beningnya, ikan-ikan kecil, batu dan kerikil terlihat jelas di dasar laut. Bagai kolam renang raksasa yang disediakan sang pencipta bagi manusia. Di sana, wisatawan tak henti-hentinya berenang, menyelam, dan bermain air sebebas-bebasnya. Hebatnya, spot-spot untuk berenang menyebar di antara gugusan pulau yang berjejer di banyak lokasi. “Hidden paradise” (syurga tersembunyi) di ujung timur Indonesia. Istilah yang pas untuknya.
Sayangnya, mirip
dengan lokasi wisata “tersembunyi” Indonesia lainnya yang indah, support akses infrastruktur
masih minim. Sudah minim, mahal pula. Makanya tidak setiap orang Indonesia bisa
menikmatinya. Bagi yang berhasrat menikmati pantai dan melihat komodo di pulau
sekitar Labuan Bajo, namun berbudget terbatas, berikut tip saya. Semoga
bermanfaat.
Pada
kesempatanku ke Labuan Bajo kedua, 22 Oktober 2017, saya berkesempatan berlibur
ke pulau-pulau, pantai dan melihat komodo. Sialnya, sehari sebelumnya
dikhabarkan bahwa ada kapal terbalik sekitar pulau Komodo. Sebabnya, terpaan
angin kencang menenggelamkan kapal wisatawan. Cuaca kala itu sedang tak menentu.
Meski begitu, semua travel agen meyakinkanku bahwa untuk melihat Komodo,
wisatawan bisa melihatnya di pulau Rinca. Pulau Rinca rada dekat dengan Labuan
Bajo. Paket yang ditawarkan pun setengah hari.
Kala itu, saya
dan teman menginap di hotel Jayakarta Resort. Sama seperti hotel bintang
lainnya, travel agen membuka gerainya. Iseng-iseng saya bertanya paket wisata yang
terdiri; pulau Rinca, berkeliling pulau, dan berenang di pantai, serta fasilitas
makan siang diatas kapal, selama setengah hari. Travel agen mematok Rp
700.000,- untuk setiap orang. Jumlah tersebut merupakan harga setiap orang
bersama yang lain dalam satu rombongan di kapal. Menurutku ini masih mahal.
Setelah
berbincang dengan kawanku yang tinggal di Labuan Bajo, ia menyarankan untuk
mencari alterntif travel agen. Benar saja, setelah aku hunting di jalan Soekarno Hatta, mendapatkan biro perjalanan dengan
penawaran lebih murah. Menunya sama dengan yang ditawarkan di hotel. Harganya
Rp 350.000 per orang. Fasilitas dan lokasinya sama, yaitu; ada makan siang di
kapal, melihat Komodo di pulau Rinca, mengelilingi deretan pulau dan pantainya,
dan sekalian berenang di sana. Nama biro
perjalannya, “Getrudis” (cek di webnya: http://www.getrudistoursandtravel.com).
Tepat pukul
07.00, kami stanbay di kantor biro perjalanan tersebut. Pembayarannya saat itu.
Menurut stafnya, “Bapak dan ibu diminta
untuk bersabar sebentar ya… Kami masih menunggu wisatawan lain yang sama
berpergian ke pulan Rinca”. Dari sini, saya mengerti bahwa saya dan temanku
bepergian bersama wisatawan lain dalam satu kapal yang menuju ke pulau Rinca,
dan mengelilingi pulau lainnya.
Setelah
setengan jam berlalu, perjalanan ke pulan Rinca dimulai. Kami berjalan dari
kantor Getrudis ke pelabuhan berjarak 20 meter. Di kapal boat, dua orang bule
sudah menunggu. Setelah kapal bersandar, berduyun-duyun hadir pasangan bule
lain bergabung dalam perjalanan. Bekal makanan nasi box dan munuman air mineral
besar disediakan agen travel. Setelah siap dan tidak ada yang tertinggal, kapal
boat berangkat. Di dalam kapal tesedia aneka minuman hangat, seperti; teh,
kopi, dengan gelas ala kadarnya. Tujuan pertama pulau Rinca, dimana Komodo
berdiam diri.
Kapal boat
berangkat. Semua penumpang membisu. Mereka berbicara dengan teman yang dikenalnya.
Saya menengok ke kiri dan kanan. Setelah kuperhatikan, hanya saya dan teman
yang dari Indonesia. Yang lainnya, wisatawan manca negara. Otomatis komunikasi
saya dengan temanku tidak dimengerti penumpang lainnya. Setengah perjalanan
berlalu. Penumpang di kapal masih jaim. Belum ada yang memulai pembicaraan
antar penumpang. Perlahan, saya maju ke kepala boat untuk mendapatkan udara
lebih segar. Ternyata, pemandangan laut menjadi lebih terbuka. Saat kapal melintasi
beberapa pulau kecil tanpa penduduk, mataku terbelalak. “Amboy, betapa indahnya gugusan pulau itu. Bagai lukisan di atas kanvas.
Pulau tanpa penghuni itu indah dan elok”, kataku lirih. Angin dan percikan
air laut menambah suasana segar pemandangan.
Deretan pulau
yang kami lalui sangat indah. Tak ada penghuni terlihat di sana. Air di
sekitarnya luar biasa jernih dan indah. Aneka ikan terlihat meliuk-liuk,
berenang dengan bebas. Udara panas mulai menyengat kulit. Tak terasa panas
udara siang bercampur perciakan air laut terasa sedikit menyengat. Gugusan
indah pulau itulah yang menjadi awal pembicaraanku dengan turis yang duduk di
ujung boat. Dia berasal dari Jerman beserta temannya. Mereka sedang berlibur.
Dari situlah akhirnya, kami di dalam kapal akrab dan berbicang-bincang. Mereka
semua mengakui bahwa pantai dan gugusan pulau di sekitar Labuan Bajo, indah
menawan. Setiap orang mengeluarkan ponsel untuk mengabadikannya.
Sekitar jam
10.30 siang, kapal kami bersandar di pulau Rinca. Pulau Rinca beserta pulau
Komodo dan pulau Pidar merupakan bagian Taman Nasional Komodo. Ia adalah bagian
dari Situs Warisan Dunia UNESCO. Setelah berjalan sebentar ke loket pembayaran,
kami berkumpul dalam rombongan berdasarkan boat. Tak dinyana, Komodo menyambut
pas di depan loket pembayaran. Kami terperanjat begitu melihat binatang purba
itu. Semua pengunjung mengeluarkan kameranya. Menurut guide (pengantar), di
pulau Rinca hidup komodo, kambing, ayam, burung serta binatang lainnya. Di
tengah terik panas, kami mengelilingi pulau sesuai track untuk melihat Komodo.
Kami beruntung, karena sepanjang perjalanan terhampar Komodo yang beristirahat,
berjalan dan melakukan akitifitas lainnya. Di sudut lainya, di samping gundukan tanah – tempat menyimpan
telur Komodo --, sepasang burung cantik sedang bersendagurau. Tak terasa, kulit
tangan saya mengering. Harusnya, saya mengolesinya dengan krim pelembab sebelum
mendarat. Itulah kesalahanku. Sehingga kulitku sakit saat menyandar di hotel di
malam harinya.
Hampir 45
menit, saya dan pengujung bule berjalan melihat Komodo di pulau Rinca. Rasa
lelah menerpa badan. Kakiku terasa pegal-pegal. Dengan sedikit memaksa, semua
pengunjung akhirnya kembali ke kapal yang bersandar di tepi pulau. Sambil memijat
kaki, semua pengunjung mengeluarkan bekal makanan dan minumnya. Petugas boat
mengeluarkan box makan siang bagi pengunjung. Lunch break mulai di atas dek kapal.
Makan siang di atas boat dengan pandangan gugusan pulau serta pantai indah
menjadi pengalaman tak terlupakan. Angin laut sepoi-poi menambah kenikmatan
makanan. Luar biasa makyus…..
Agenda
berikutnya, boat mengunjungi pantai-pantai indah yang mengelilingi pulau tak
berpenghuni. Saya lupa apa nama-nama pantai dan pulaunya. Saya hanya ingat
bahwa pasirnya putih banget dan airnya super bening. Terlihat boat-boat sedang
bersandar dan berhenti di pinggiran pantai. Penumpangnya bergiliran menyebur ke
laut. Pantai dengan kejernihan air tingkat tinggi, laksana kolam renang besar
yang mampu menampung puluhan manusia. Ajib…. Saya tak bisa berkata apa-apa,
saat melihat indahnya pasir pantai dan air yang begitu mempersona diantara
gugusan pulau. “Alangkah
indahnya pulau-pulau ini. Segarnya udara laut dan putihnya pasir serta
jernihnya air menjadi anugerah tak terhingga dari maha kuasa bagi manusia”, gumanku di atas boat
tertegun.
Setelah puas
menikmati pantai dan berfoto, kami kembali ke daratan Labuan Bajo pukul 15.30
sore. Menikmati matahari terbenam sambil minum kopi dan pisang goreng di “kafe
bali” dari bukit, merupakan kenikmatan lainnya. Alhamdulillah…. Sruput….nyam,
nyam…..
Bulan Hemat ke Labuan Bajo. Labuan Bajo merupakan
destinasi baru pariwisata – dibanding Bali dan Lombok. Meski baru, banyak wisatawan
berkunjung ke daerah yang masih bagian Flores. Layaknya daerah turis, semua
barang beranjak mahal. Semua jengkal tanah di banyak pojok Labuan Bajo, sudah terpampang
papan pemiliknya. Harga tanah ikut tergerek mahal. Makanan dan kuliner ikan (meski
daerah ini kaya ikan laut) ikutan mahal. Kenapa ikan mahal di sarangnya ? Dengan
enteng, nelayan berujar, “Kan untuk
mengambil ikan, kapalnya memerlukan solar dan BBM yang juga mahal…”. Hotel, penginapan,
hostel, guest house, kos-kosan, dan kontrakan menjamur perlahan. Lokasi
kongko-kongko seperti; kafe, tempat kuliner, restaurant menjamur di jalan
Soekarno-Hatta, jalan utama beberapa meter dari pantai. Bila hari beranjak
senja, keramaian di area-area tertentu – sekitar bibir pantai – di Labuan Bajo,
mengeliat. Meski angkutan umum berhenti jam 5 an sore, namun ojek dan mobil
carteran menjamur di sudut kota. Jadi, don't worry bro….
Bahkan saking
ramainya tukang ojek, orang asing dengan tentengan belanja di samping jalan, sudah
pasti didekatinya. Namun jangan takut kawan. Tukang ojek dan umumnya masyarakat
Labuan Bajo ramah dan baik. Meski tampangnya rada sangar – khas masyarakat
flores --, namun hati dan tutur kata terhadap tamu umumnya sopan. Ahamdulillah,
selama di sana, saya belum merasakan kekasaran penduduk local. Masyarakat yang
saya kenal – seperti; sopir omprengan, ojek, carteran, guide tour -- mengerti
cara memperlakukan wisatawan. Sepertinya penduduk mengerti bahwa daerahnya
merupakan “destinasi turis”. Sehingga tamu adalah segalanya. Sayangnya,
infrastruktur jalan dan sarana public belum menunjang. Terlihat dari kejauhan,
berdiri rumah sakit swasta Siloam. Selama disana saya belum menjumpai rumsah
sakit umum daerah yang representative. Semoga dalam waktu dekat segera
dibangaun sarana public…
Ada uang
tersedialah barang. Itulah Labuan Bajo. Bila berduit, mudahlah kita bepergian
kemana suka di sana. Banyak hotel, kapal boat laksana kapal pesiar, serta paket
tour travel dengan fasilitas serba mewah namun berharga selangit. Bahkan ada
hotel berlokasi di kemiringan pegunungan dengan pemandangan indah menghadap ke
pantai. Fasilitasnya pun exclusive private only.
Namun begitu, jangan
takut bro. Bagi yang berbudget terbatas tersedia pula lokasi pahe (paket
hemat). Penginapan, guest house, hotel melati, kontrakan rumah berjejer di
sepanjang jalan Soekarno Hatta dan lokasi lain. Bila anda jeli, maka ada kamar
yang cukup untuk sekedar tidur dan melepas lelah. Nah, satu lagi. Ternyata,
harga-harga penginapan tergantung pada bulan apa, wisatawan hadir di Labuan
Bajo. Bulan favorit wisatawan berkunjung ke Labuan bajo adalah antara Agustus
hingga Februari. Rentang waktu itulah semua jasa pelayanan naik drastis. Istilahnya
“peak season”.
Kehidupan bergerak ramai dan tak ada matinya. Bahkan kafe
tertentu buka hingga tengah malam. Harga barang pun merangkak selangit.
Sebaliknya, di bulan Maret hingga Juli, bagi penyedia jasa bagi wisatawan
(penginapan, kafe, kapal laut, travel agen, dsb) terkenal dengan bulan apes.
Begitu ungkap Bhekti, temanku yang orang asli Yogya, namun sudah 15 tahun di
Labuan Bajo. Bhekti kini memiliki kafe organic. Menurutnya, di bulan apes ia harus
menomboki pengeluaran rutin café nya.
Karena sepinya tamu di bulan itu, sementara overhead
kafe berjalan terus. Makanya, perlu dimaklumi peningkatan harga saat high season.
Nah, bagi para wisatawan dengan budget minim, datanglah ke Labuan Bajo saat
bulan Maret hingga Juli. Mudah-mudahan semua fasilitas dan harga barang sedang
murah-murahnya. Selamat mencoba…



Tidak ada komentar:
Posting Komentar