Udara musim summer yang sejatinya panas tak terasa di badanku, ketika saya bersama teman tiba di museum Dachau, Munchen, Jerman Barat, akhir Juni 2011. Dachau menjadi saksi bisu kekejaman Hitler terhadap bangsa Yahudi era 1933-1945. Awalnya sih, saya tidak mau tulis cerita perjalanan ini, namun bayangan apa yang terjadi di museum Dachau melalui foto-foto, bangunan asli peninggalan, gading tongkat pemukul, dan aura bangunan, serta bau kekajaman manusia terus terbayang, membuat niatku untuk berbagi timbul. Semoga cuplikan cerita ini bermanfaat….
Terkadang, manusia perlu rilex. Kejujuran, ketulusan, dan tanpa topeng menjadi pijakan. Perjalanan ke tempat baru sarat makna. Meski penuh tantangan.
Jumat, 17 Januari 2014
Senin, 13 Januari 2014
Terkepung Banjir
Pukul 05.45, senin, 13 Januari 2013, pagi hari masih serasa malam.
Gelap sekali. Tidak seperti biasa, jam segitu biasanya sayup-sayup mentari
telah menyembul. Ajaib, saat itu langit terlihat hitam pekat. Gerimis masih
mencicil. Turun cepat, terkadang berhenti sejenak. Semenjak hari Minggu rintik
hujan belum berhenti. Semalam, ia turun sederas-derasnya hingga dua jam. Saya
berprasangka bahwa pasti ada luapan air sungai di mana-mana, termasuk sekitar tempat
tinggalku yang diapit dua sungai besar, yaitu kali Bekasi dan sungai Cikeas.
“Waduh…ampun deh. Kita tidak bisa
kemana-mana nih. Saya sudah pergi hendak antar anak sekolah dan bekerja, eh,
malah jalanan diblok semua. Jalanan ditutup. Akses jalan utama ke luar komplek
terkunci,” ungkap tetangga depan rumah. Pagi itu, keramaian tetangga yang
berkeluh kesah tentang sulitnya keluar dari blok perumahan mengejutkanku. Badan
yang tertutup rapih dengan pakaian kerja, dan anaknya yang sudah siap belajar,
akhirnya balik jalan ke rumah. Ia menyumpahi sendiri kalau semua jalan diblok
karena genangan air sungai menutup akses jalan keluar perumahan.
Senin, 06 Januari 2014
Hikayat Sepanjang Pantai Palu-Donggala
Meski baru pukul 09.0 pagi, panas menyengat. Dengan tata letak yang melintas garis katulistiwa, kota Palu, Sulawesi Tengah diselimuti panas sedari pagi. Hari ini Rabu, 11 Desember 2013, saya berencana melancong
ke desa Limboro, kab. Donggala, guna bertemu penenun sarung khas Donggala (lain waktu, saya ceritakan kisah dibalik
kain khas Sulteng itu..). Kali ini, saya bercerita hikayat perjalanan sepanjang
bibir pantai kota Palu hingga kab. Donggala. Dijami deh, pembaca terkaget2 dengannya – mungkin ada yang geleng-geleng kepala saat
membacanya. Bagi pembaca yang sudah mengalaminya, mudah-mudahan sudut pandang
laporan ini berbeda.
Di kota Palu, hari Rabu merupakan pembukaan peringatan Hari Nusantara (harnus)
2013. Menurut media, even itu dihadiri tokoh penting nasional,
seperti; Wapres Budiono dan istri, Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif Mari Elka Pangestu,
Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo, Menteri Perhubungan EE
Mangindaan, dan Menristek Gusti Muhammad Hatta. Kepala daerah lain pun hadir seperti; Gubernur Sulut Sinyo H Sarundajang, dan Gubernur Jatim Soekarwo,
Bupati Morowali dan Bupati Kulon Progo, dan
Gubernur Sulteng sendiri Longki
Djanggola (suara pembaharuan, 17
Desember 2013). Belum lagi, sejumlah kabupaten di provinsi itu unjuk kekayaan alam di galeri pameran.
Jumat, 03 Januari 2014
Berkawan “Sunyi” di Anyer
Minggu kedua puasa di bulan Ramadhan mulai nyaman. Sebagaimana biasa awal minggu pertama puasa, aktfitas menahan lapar-dahaga terasa berat. Selasa pagi, 16 Juli 2013, setelah sahur dan sholat subuh, aku bergegas membersihkan badan di kamar mandi guna bersiap pergi ke Plaza Senayan (maksudnya di parkiran). Biasanya sih sehabis sholat, aku menidurkan diri sebentar sebelum berangkat ke tempat kerja. Pagi itu berbeda, aku harus tiba di Plaza Senayan pukul 08.30 atau kurang guna bergabung dengan sebuah rombongan kecil. Ini terasa lebih baik guna menghindar kemacetan akut Jakarta.
Gelap masih menggelayut pagi itu. Udara dingin sayup-sayup menggelitik kulitku yang baru saja tersentuh air dingin pagi hari. Dengan diantar ojek, aku menggapai tempat pemberhentian bus patas AC jurusan Jatiasih-Tanah Abang (jadi tahu kan, kalau aku tinggal di sekitar perbatasan Bogor-Jatiasih, Bekasi). Turun di halte bus Komdak, aku berlanjut naik Metromini 66 dan berhenti di Ratu Plaza. 10 menit kuhabiskan waktu untuk jalan santai menuju Plaza Senayan (tentu saja ia masih tutup) melalui pintu samping Ratu Plaza yang sudah terbuka untuk umum. Pukul 07.30, aku tiba di pakiran belakang Plaza Senayan. Karena tak kujumpai bus rombongan yang dijanjikan panitia dan teman-temanku, aku beranjak ke lokasi lain yang dekat dengannya. Tempat itu adalah tanah lapang beralaskan lantai keramik. Ia berada persis di antara StarBuck Coffe dan gedung perkantoran Plaza II bertingkat yang ditumbuhi beberapa pohon rindang dengan tempat duduk dari semen di bawahnya.
Langganan:
Komentar (Atom)
