Pukul 05.45, senin, 13 Januari 2013, pagi hari masih serasa malam.
Gelap sekali. Tidak seperti biasa, jam segitu biasanya sayup-sayup mentari
telah menyembul. Ajaib, saat itu langit terlihat hitam pekat. Gerimis masih
mencicil. Turun cepat, terkadang berhenti sejenak. Semenjak hari Minggu rintik
hujan belum berhenti. Semalam, ia turun sederas-derasnya hingga dua jam. Saya
berprasangka bahwa pasti ada luapan air sungai di mana-mana, termasuk sekitar tempat
tinggalku yang diapit dua sungai besar, yaitu kali Bekasi dan sungai Cikeas.
“Waduh…ampun deh. Kita tidak bisa
kemana-mana nih. Saya sudah pergi hendak antar anak sekolah dan bekerja, eh,
malah jalanan diblok semua. Jalanan ditutup. Akses jalan utama ke luar komplek
terkunci,” ungkap tetangga depan rumah. Pagi itu, keramaian tetangga yang
berkeluh kesah tentang sulitnya keluar dari blok perumahan mengejutkanku. Badan
yang tertutup rapih dengan pakaian kerja, dan anaknya yang sudah siap belajar,
akhirnya balik jalan ke rumah. Ia menyumpahi sendiri kalau semua jalan diblok
karena genangan air sungai menutup akses jalan keluar perumahan.
Spontan, saya melongok melalui pintu depan rumah dan menyimak baik-baik
percakapan tetangga dengan sopirnya. Terlihat sang ayah dan anaknya sudah
berganti kostum. Dari pakaian-rapi ke baju kaos yang dipakai sehari-hari di
rumah. Saya bergegas mengecek informasi terbaru dari media social. Media portal
detik.com, menulis kalau perumahan Villa Nusa Indah (disingkat vilanusa) tergenangi
air setinggi 80 center meter sejak pukul 23.00 malam. Kontan, saya langsung
berkesimpulan bahwa perumahan vilanusa yang terletak di Bojong Kulur, kec.
Gunung Putri, kab. Bogor, telah terlanda
banjir. Luapan air sungai kali Bekasi dan sungai Cikeas tumpah ke
sekelilingnya.
Gerimis mereda tanpa aba-aba. Meski rintikan kecil masih terasa, namun
masih menembus pengendara motor dan sepeda. Alhamdulillah, blok perumahanku di
vilanusa – yaitu di blok U – berada di tanah yang tinggi dari lainnya. Alhasil,
ia hingga kini belum terkena luapan air – mudah-mudahan sih jangan sampai ya.
Sejenak saya mengamati semua kemungkinan. Akhirnya saya putuskan untuk
mengendarai motor saat mengantar anak sulungku sekalian berangkat kerja.
Tepat pukul 06.45, saya berangkat dengan motor. Saya menganalisa jalan
arah sekolah anakku – yang terletak disamping perumahan bumi Mutiara, namun
masuk perkampungan -- yang dilalui. Setelah yakin, saya melaju. Dari analisaku
jalan yang melalui pasar rakyat – dikenal pasar Pocong – yang biasa saya lalui,
pasti banjir. Itu karena ia persis berada di samping sungai besar. Bila ia
meluap, pasti pasartergenang. Makanya saya berkesimpulan untuk melaju melalui
jalan ke arah Cibubur – ia persis di pintu Gerbang belakang perumahan Vilanusa.
Pas kira-kira 20 meter ke arahnya, antrian mobil mengular dari perumahan menuju
Cibubur. Tanpa kompromi, saya alihkan motor menuju pasar Pocong. Karena bila paksakan
melewatinya, saya dan anak terlambat ke tujuan. Dan, bisa-bisa motor dan
pakaian saya and anakku kotor, karena terciprat kendaraan. Karena sebagian
jalannya berlobang dan berair.
Pas melewati pasar, ternyata lengang. Saya mendekat sungai di sampingya,
air sudah meninggi dan hampir menyentuh bibir tanggul. Tapi jalan di sampingnya
masih bisa dilewati. Dengan kecepatan sedang, kira-kira jam 07.00 pagi saya
sampai di sekolah anakku. Alhamdulillah. Lega rasa hati ini. Aman anaku sudah
sampai di sekolahnya. Kini tingal saya yang harus sampai di tempat kerja.
Saat berkendara motor, otakku bekerja keras memikirkan solusi “akan melewati jalan mana untuk bisa keluar
dari perumahanku, guna menuju pintu tol Jati asih atau jalan raya Pondok Gede?”
Hari ini, agendaku adalah pergi ke arah rumah sakit Haji di arah Taman Mini Square. Beberapa titik sudah
saya ketahui keadaannya. Namun, guna meengetahui kondisi perumahan, saya balik
ke arah jalan raya utama Vilanusa 2 yg menuju ke arah Pondok Gede Permai hingga
akhirnya ke pasar rebo yang berlokasi persis di samping jalan raya
Bekasi-Pondok Gede.
Dengan kecepatan 40 kl meter per jam, saya sampai di bundaran jalan
perumahan. Spontan, satpam salah satu blok perumahan menghentikan kendaraan. Ia
berkata bahwa jalan raya ke arah Pondok Gede Permai dipenuhi air sungai,
tepatnya di jalan anggrek. Tiba-tiba gerimis turun. Namun karena penasaran,
saya menerobos palang kayu dan tidak menghiraukan tetesan hujan. Saya nekat
menyusuri jalan raya untuk melihat kondisi jalan anggrek. Pelan-pean saya pacu motor. Kanan kiri jalan
raya sudah dipenuhi mobil-mobil tanpa pengendara. Kendaraaan itu diparkir
perisis di tanah kosong, dan juga pinggiran jalan raya yang tidak tergenangi
air. Terlihat sekolah “Bunda” sayup-sayup masih dihadiri orang tua murid.
Beberapa murid sekolah tampak ragu, apakah ada pelajaran hari itu atau tidak.
Beberapa meter di depan sekolah “Bunda”, tampak genangan air sudah
meninggi. Motor dan kayu penghalang berdiri kokoh. Orang-orang pun – beberapa
supir ojek dan penghuni perumahan – terlihat berdiri di depan luapan air sungai
yang menggenangi jalan raya. Mereka berdiskusi kecil tentang waktu datangnya
air yang tiba-tiba menggenai rumah dan jalan raya. Meski surut, namun jalan raya
tetap tidak bisa dilalui. Sementara orang di sebelahku menyumpah dirinya sendiri
karena tidak bisa melewati jalan raya tersebut guna bergegas ke arah kantornya.
Saat saya sedang asyik berbincang di hadapan luapan air, tiba-tiba seorang ibu nekad
berjalan menerjang luapan air tersebut guna menuju rumahnya.
Kelihatanya, rumahnya terletak beberapa meter dari jalan raya yang
tergenang air sungai. Rumahnya sudah pasti tergenang air sungai. Wajahnya tampak
murung. Kami yang berdiri di situ, melarang sang ibu untuk tidak menembus genangan
air. Namun ia memaksakan diri berjalan di luapan air. Melubernya air sungai ke
rumah dan jalan raya, sudah pasti membawa makhluk lain yang selama ini ada di
sungai. Tukang ojek yang berdiri persis di sampingku bilang, kalau barusan ada
ular sebesar tangan orang dewasa tertangkap persis di jalan raya menuju Pondok
Gede Permai. Padahal di jalan itu, terdapat rumah-rumah dan klinik kesehatan,
serta rumah makan yg berdempetan. Sementara beberapa meter di depannya ada
sekolah Pergurun Al-Fajar dan masjid Siti Rawani. Gerimis terus saja turun
tanpa kompromi. Guna mengindari basah, saya memakai jas hujan lengkap.
Untuk melewati jalan raya nilanusa menuju Pondok Gede Permai, tersambung
dua akses jalan. Satunya lagi akses dari kampong yang berada di atas perumahan.
Dua jalan ini bertemu di jalan anggrek. Saya merasa penasaran dengan titik awal
luapan air sungai di jalan anggrek itu. Saya pun berbalik arah – karena tidak mungkin melewatinya – dan
mencoba melewati perkampungan atas guna sampai ke jalan anggrek. Sama dengan
yang saya lalui, di situ terpampang “jalan
diutup”. Tidak boleh dilewati. Saya nekad menuju ke arah jalan Anggrek.
Saat sampai situ, telah berkumpul puluhan orang. Mereka tidak bisa menembus
genangan air yang telah meninggi. Mobil PMI (palang merah Indonesia) dengan
perahu karet sudah siap di depan genangan air. Kendaran ojek berjejer parkir di
sebelahnya. Sebelumya mobil juga telah diparkir sebelah kanan dan kiri jalan
tanpa sopir. Pas, di depan kerumunan orang
dan parkiran motor, air telah berwarna coklat. Keruh sekali. Kelihatannya ia bercampur
dengan lumpur.
Saya mengamati dalam diam. Toko-toko yang berjejer di jalan anggrek –
akses menuju jalan raya Pondok gede – telah tutup. Mereka ditinggal
penghuninya. Sepi sekali jalan itu. Luapan air sangai telah bebas menggenangi
semua bangunan yg ada disitu. Bagai hamparan sungai besar yang dipenuhi air
keruh dan coklat. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan penduduk yang
tinggal di perumahan dan took-toko di samping jalan itu? Meski beraroma
menyedihkan, saya tetap menyakiskan anak-anak kecil yang sekolahnya diliburkan,
tetap bermain air di jalanan. Yah namanya
juga anak-anak…
Saya tidak tahan menyaksikan kesedihan di situ. Warga perumahan di
sekitar jalan anggrek terlihat syok. Mereka sulit berkata-kata. Mungkin mereka
mencoba menguatkan diri dengan keandaannya. Saat hendak mencari jalan lain ke
arah Taman Mini, saya melihat seorang ibu dan anak hendak ke rumahnya di dalam
sekitar jalan anggrek. Sudah pasti rumahnya kebanjiran. Mereka nekat untuk
pergi kesana. Mungkin ada sesuatiu yang ingin diambilnya. Untung, di situ
tersedia perahu karet. Pelan-pelan petugas PMI menjalankan perahu dan menggandeng
ibu dan anaknya guna berlayar ke rumah yang berada di belakang jalan raya. Yang
miris dan nggak tahu saya harus bilang apa – sulit mengungkapkannya – adalah
sejumah warga yang berfoto-foto ria di tengah lupan air. Bila pegambilan
foto-fotonya untuk dokementasi, sih bisa dimaklumi. Namun kelihatnnya ada orang
yang mengabadikannya dengan senyum dan berbagai gaya. Seolah-olah ia tidak
berempati dengan musibah. Namun malah seperti berdiri di atas penderitaan.
Jangan–jangan ia ingin cepat-cepat mengupdate
status media sosialnya. Saya tidak ngerti.
Supaya saya tidak memiliki pikiran macam-macan dengan situasi itu, saya
hengkang secepatnya. Saya putuskan untuk mencari jalan alternaif dengan
berbagai jalan tikus. Saya kendarai motor melalui arah ke pintu tol Jatiwarna.
Sepanjang jalan tol JOR itulah yang saya susuri. Meski begitu, macet dan lambat
tetap saja kondisinya. Semua kendaraan, baik motor dan mobil berlomba melewati
jalan itu. Padahal jalannya sempit. Hujan pun turun dengan deras. Pengendara
motor sebagian menepi. Saya pun ikut meminggirkan motor guna beristirahat
sejenak. Kira-kiran 15 menit meneduh, saya melanjutkan hingga akhirnya sampai
ke perempatan jalan sebelum pintu tol Jatiwarna. Dari situ, saya menyisir
jalanan. Tetap saja setiap menemui sungai, pasti air meluap di mana-mana. Jalan
pun dialihkan ke tempat lain yang lebih jauh. Saya mengikuti saja pengalihan
jalan itu. Muter-muter. Hingga akhirya saya menemui kerumunan orang di bibir
jalan yang bersebelahan dengan sungai atau empang. Mereka ramai-ramai sedang
memancing ikan. Beberapa motor di parkir sembarangan sehingga macet tak
terhindarkan.
Setelah kuperhatikan, mereka sedang mengais-ngais ikan di empang atau
sungai. Dengan melubernya air sungai dan hujan deras, membuat kolam empang
pancingan yang berada di sekitar sungau dan sawah meluap kemana-mana. Spontan
mansyarakat pun caba-coba mencari ikan yang meloncat dari empang pemancingan.
Kasihan juga ya…..pemilik emang pemancaingan itu. Rugi Bandar kali…





Tidak ada komentar:
Posting Komentar