Jumat, 03 Januari 2014

Berkawan “Sunyi” di Anyer


Minggu kedua puasa di bulan Ramadhan mulai nyaman. Sebagaimana biasa awal minggu pertama puasa, aktfitas menahan lapar-dahaga terasa berat. Selasa pagi, 16 Juli 2013, setelah sahur dan sholat subuh, aku bergegas membersihkan badan di kamar mandi guna bersiap pergi ke Plaza Senayan (maksudnya di parkiran). Biasanya sih sehabis sholat, aku menidurkan diri  sebentar sebelum berangkat ke tempat kerja. Pagi itu berbeda, aku harus tiba di Plaza Senayan pukul 08.30 atau kurang guna bergabung dengan sebuah rombongan kecil. Ini  terasa lebih baik guna menghindar kemacetan akut Jakarta.

Gelap masih menggelayut pagi itu. Udara dingin sayup-sayup menggelitik kulitku yang baru saja tersentuh air dingin pagi hari. Dengan diantar ojek, aku menggapai tempat pemberhentian bus patas AC jurusan Jatiasih-Tanah Abang (jadi tahu kan, kalau aku tinggal di sekitar perbatasan Bogor-Jatiasih, Bekasi). Turun di halte bus Komdak, aku berlanjut naik Metromini 66 dan berhenti di Ratu Plaza. 10 menit kuhabiskan waktu untuk jalan santai menuju Plaza Senayan (tentu saja ia masih tutup) melalui pintu samping Ratu Plaza yang sudah terbuka untuk umum. Pukul 07.30, aku tiba di pakiran belakang Plaza Senayan. Karena tak kujumpai bus rombongan yang dijanjikan panitia dan teman-temanku, aku beranjak ke lokasi lain yang dekat dengannya. Tempat itu adalah tanah lapang beralaskan lantai keramik. Ia berada persis di antara StarBuck Coffe dan gedung perkantoran Plaza II bertingkat yang ditumbuhi beberapa pohon rindang dengan tempat duduk dari semen di bawahnya.


Setelah aku duduk sejenak dan menengok kondisi sekitar, kubuka laptope untuk mengedit tulisan yang hampir selesai dari semalam. Dari malam kupaksa mataku melek guna menulis naskah untuk sebuah buku yang akan dipublikasikan satu lembaga di Jakarta. Pagi itu, pekerja kerah-putih juga rame duduk-duduk di bawah pohon di samping caffe terkenal itu. Mereka menunggu jam kantor dan berleha-leha di alam terbuka. “Ngaso” dulu, istilah betawinya.

Tak terasa jam ditangan kiriku menunjukan pukul 08.15. Sengatan matahari mulai terasa di badanku. “Alhamdulillah, tulisanku selesai meski masih acak-acakan”, ungkapku dalam hati. Tiba-tiba hand phone ku bordering. Ternyata, panitia rombongan menyuruhku untuk bergegas ke parkiran belakang Plaza Senanyan dimana bis Big Bird menunggu. Hari selasa itu, memang direncanakan untuk pergi ke Pantai Anyer untuk “proyek” perampungan penyusunan dokumen kerja yang belum selesai-selesai sejak tiga bulan. Karena tidak rampung-rampung itulah, semua komponen yang terlibat bersepekat untuk mengakhirinya di Anyer.

Syahdan, bus Big Bird telah menunggu di parkiran, dan peserta rombongan lain telah menunggunya. Tak lupa aku pergi ke toilet dahulu untuk menuntaskan urusan ke”WC”an sehingga diperjalan aku tidak meminta supir untuk berhenti. Disamping itu aku juga bisa tidur tenang sepanjang perjalanan dengan tidak tergangggu keinginan untuk buang air kecil. Recana untuk “molor” sepanjang perjalanan sudah kupikir dari pagi. “Kekurangan tidurku – setelah makan sahur tadi – harus dibayar di dalam perjalan”, ucapku membatin. Diperkirakan perjalanan dari Jakarta menuju Anyer memakan waktu dua setengah jam (bahkan lebih bila macet). Lumayan kan bisa dimanfaatkan untuk istirahat. Sehingga pas aku bangun dan nyampe, bisa langsung bekerja dan berdiskusi dengan rombongan lain.
Benar saja, perjalanan Jakarta-Anyer yang melalahkan seolah tidak aku rasakan. Jalanan yang berdebu – khususnya menjelang masuk ke jalan raya pantai Anyer – di kawasan depan PT Krakatau Steel Cilegon, dan truck tronton perusahan besar yang berlalu lalang di sepanjang jalan, tidak mampu mengusik kantuku yang ekstrim. “Alhamdulilalah, nikatku untuk tidur sepanjang siang meski diatas bus, tersalurkan,” gumanku lirih saat terjega.
Pukul 12.30 siang bus tiba di sebuah hotel di Anyer (maaf tidak bisa kusebut hotelnya, entar dikira iklan lagi…ha..ha…). Patokan hotelnya, ia berada di sepanjang jalan Anyer di mana terdapat hote-hotel besar lainnya, seperti Mirabela, dsb. Hotel ini juga memiliki group dan berada di mana-mana, khususnya di daerah yang memiliki bentangan pantai. Sayang, kehadiranku di hotel saat minggu kedua di bulan puasa itu terasa  lengang.

Hari pertama kedatangan, kesunyian suasana Anyer terlihat sejak dari luar hotel. Selepas diskusi project bersama kawan-kawanku hingga jam 21.30, aku pergi ke luar hotel untuk beli makanan kecil. Lengang, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan jalan raya itu. Kususuri jalan besar – sepertinya akan ramai bagai di Kuta Bali, dimana malam tak berbeda dengan siang, bahkan malam adalah kehidupannya – namun tampak kosong. Hotel dan penginapan yang besar di sampingnya juga serupa. Lampu-lampu di kebanyakan hotel itu redup. Mungkin untuk menghemat energi dan pengeluaraan.

Malam itu kepergianku ke luar juga untuk menuntaskan rasa kelaparanku menjelang tidur. Hal ini biasa aku lakukan di bilan Puasa. Sebab sudah menjadi kebiasaanku untuk menyergap makanan guna berbuka puasa ala kadarnya. Nasi atau lontong disentuh mulut sekedarnya. Sekedar untuk pembatalan puasa. Adapun makanan yang kucari malam harinya adalah (sejenis makan kecil); somay, bakso, otak-otak, ikan bakar (karena ini daerah pantai), dsb. Di tengah remang malam yang minim penerangan, kudapati berbagai rerstoran dengan sepanduk tulisan besar yang tutup. Dari kejauhan terlihat sehingga senyumku muncul, namun saat keudekati, pintu terkunci. Itulah suasananya. Mungkin suasananya mendekati “the lost city” (tapi terlalu ekstrem kali ya…..). Akhirnya, aku mampir di minimarket di sela-sela perjalan pulang ke hotel dengan membeli ice cream dan mi instan goreng guna disantap malam itu (teringat di kos-kos an saat kulih dahulu, merebus mie instan jadi pilihan terakhir saat kelaparan…ha..ha…).

Hari kedua kehadiranku di sana, kesenyapan makin menjadi. Suasana kesunyian inilah yang aku akan bagikan untuk pembaca. Kenseyapan makin kental terasa saat memasuki hari kedua di penginapan itu. Siang terik yang kurasa dari hari pertama, segera menyergap sesaat aku menyusui lorong di antara bangunan kamar di suatu pagi dan siang itu. Kumpulan orang yang kelihatannya pekerja hotel, kukira adalah penghuni seperti aku dan teman-temanku. Deretan kamar yang tersebar di pelataran seluas beberapa hektar yang berada di depan bibir pantai serasa tanpak tanpa “nyawa”. Kolam renang yang airnya biasa berombak karena ada badan manusia, kini tenang. Bahkan terlihat sudah berhari-hari tidak dihuni.

Kamar-kamar tersebar di sepanjang bibir pantai hingga memujur ke dalam lingkungan hotel hingga beberapa meter dari jalan raya besar. Sekitar 10 meter tanah dari jalan raya Anyer, lahan dimanfaatkan untuk jalan mobil menuju ke arah parkiran utama hotel yang bersambung dengan loby dan resepsionst. Nah dari situ lah semua jengkal tanah hingga bibir pantai termanfaatkan untuk bangunan kamar dan cottage serta kamar bertingkat, pas di bibir pantai. Ada juga yang bermodel cottage dengan lahan perkebunan dan lapangan taman yang berisi alat bermain anak-anak, serta areal sepak bola mini dengan rerumputan hijau segar. Ruang pertemuan mengisi di samping kolam renang, pas berhadapan dengan sisi kanan bibir pantai. Sementara itu, rombonganku menginap persis di bangunan kamar tiga lantai yang berada di depan pantai. Deru ombak dan desiran angin laut jelas terasa dari jendela dan pintu kamar yang aku tempati.

Setiap orang bermukim di dalam kamar secara mandiri. Kamarnya amat luas, mungkin memiliki ukuran panjang x leber seluas 85 meteran. Luasa bukan untuk ukuran satu kamar…..Di depannya ada teras, sehingga aku bisa melihat deguran ombak dan pasangnya air hingga seakan ingin menyentuh pelataran bangunan kamar. Aku mendapat kamar di posisi ujung sebelah kanan bila dilihat dari depan. Persisnya, ia berada di pojok yang sebelah kiriku adalah tanah kosong. Kalau malam menjelang, suasana di situ sepi dan gelap sekali. Kosong dan hampa sekali rasanya bila malam menjelang saat itu.

Bisa dibayangkan bagaimana senyapnya suasana kamarku dan sekelilingnya. Saat kubuka pintu dan jendela kamar kala sore menjelang malam, suara deru ombak mendramatisir susana itu. Aku baru merasa ternyata saat hari mulai malam dan suara mulai hening, hantaman ombak makin keras dan menyeramkan. Saat itu, rombonganku tinggal di hotel itu, ternyata menjadi penghuni tunggal. Hotel yang begitu besar dan luas bagai bangunan kosong tanpa suara manusia yang biasa terjadi di hotel yang memilik banyak ruang meeting untuk mendiskusikan urusan kantor. Memang harus diakui susananya cocok untuk meeting dan mendiskusikan secara serius beberapa point penting demi kamajuan urusan lembaga, kantor atau organisasi. Pesertanya pun bisa konsntrasi untuk mendiskusikan temanya. Peserta tidak bisa lari dan berhamburan ke tampat lain, karena memang jauh dan terkonsentrasi di bibir pantai. Bila suasana bosan atau menemui “kebuntuan” dalam mendebatkan persoalan dalam meeting, peserta bisa rehat sejenak dengan memandang jauh ke ombak yang bekerjaran hingga ke tepi daratan.

Dalam konteks ini, aku telah merasakannya (manfaatnya). Sejumlah agenda yang aku rencanakan sebelum tiba di sana, Alhamdulillah bisa menjadi kenyataan. Pertama, di hari pertama inggal di situ, tulisanku yang setengah jadi utuk sebuah laporan, kelar di kamar pojoku malam itu. Kedua, perencanaan projekku yang menjadi topic utama dalam “retret” selama tiga hari, selesai juga meski dengan pemaksaan diri. Alhamdulillah. Lega rasa hati ini.

Sore itu, selepas buka puasa di restoran di bibir pantai di bawah ruang meeting, aku balik ke kamar. Langit pun beranjak gelap karena malam hadir menggantikan siang. Udara Kegelapan laut yang semilir juga mengiringi langkahku ke kamar. Sunyi dan sepi sekali kala itu. Begitu kamar aku buka, bunyi “krek” terasa jelas di telinga, karena memang aku sendirian di pojok bangunan itu. Lampu kamar masih belum menyala. Susana kamar menjadi sedikit ngeri (hatiku bilang jangan-jangan ada bayangan mahkluk lain di sini…ih..seram). Saat aku menyalakan semua lampu kamar biar tidak terasa sendirian, aku dikejutkan dengan suasana ngeri lain. “….dooor…door… “. “Suara apa itu ?”, teriak hatiku. 

Aku mencari dalam kesendirian suara keras itu. Kuperhatikan setiap sudut sisi yang ada di dalam kamar itu. Hingga saat kuperhatikan pintu jendela di depan kamar yang menghubungkan ke bibir pantai, ternyata suara itu makin keras dan jelas. Uh…..ternyata itu adalah suara ombak yang datang dari sela-sela jendela yang makin tertiup angin hingga makin lebar selanya. Otomatis, suara ombak itu makin menderu dan menghentak telingaku di tengah kesendirian.

Kengerian yang paling akstriim adalah saat aku bangun di pagi buta untuk sahur. Deru ombak yang sudah membuat bulu kuduku selalu berdiri melalui jendela yang terkuak sedikit-sedikit, bercampur dengan derasnya hujan. Petir dan lebatnya hujan yang turun membuat suasana pagi bertambah hening, dan sepi sekali. Deru ombak yang besar sesekali diselingi dengan kilatan petir, serta hebatnya hujan membuat pagi itu terasa tidak ramah kesendirianku. Untungnnya, hidangan makan saur telah diantar pegawai hotel (mungkin karena hanya kami yang nginap disitu jadi bisa diantar) sehingga aku tidak pergi ke restoran yg berjarak 10 meter dari kamar. “Uh…mencekam banget ini kondisi….sendirian lagi aku di sini. Jangan-jangan ada bayangan yang tak kuinginkan,” keluhku dalam kesendririan saat menyantap sahur.

Untuk menghilangkan kesepian, aku menyalakan tivi dengan volume rada keras untuk menemani sahurku. Bunyi tivi itulah yang akhirnya menemaniku untuk tidur kembali setelah sahur dan sholat subuh tanpa terasa. Alhamdulillah, tak terasa aku terbangun di jam 08.00 pagi. Suasana sepi pun sedikit terkurangi karena terang dari pantai mulai terkuak.
Suasana puasa di minggu kedua mugkin bukan saat yg tepat untuk menikmati pantai. Di hatiku berujar ”aku akan dating saat nanti puasa selesai dan di hari yg tepat”….semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar