Udara musim summer yang sejatinya panas tak terasa di badanku, ketika saya bersama teman tiba di museum Dachau, Munchen, Jerman Barat, akhir Juni 2011. Dachau menjadi saksi bisu kekejaman Hitler terhadap bangsa Yahudi era 1933-1945. Awalnya sih, saya tidak mau tulis cerita perjalanan ini, namun bayangan apa yang terjadi di museum Dachau melalui foto-foto, bangunan asli peninggalan, gading tongkat pemukul, dan aura bangunan, serta bau kekajaman manusia terus terbayang, membuat niatku untuk berbagi timbul. Semoga cuplikan cerita ini bermanfaat….
Dari stasiun Hauptbanhhof, Munich, perjalanan kereta api mengawaliku bersama kawan. Dari situ, kami naik bus bersama pengunjung lain hingga tiba di museum Dachau, jam 10.00 pagi. Hutan lebat dengan rimbunan pohon menyambut kedatangan pengunjung disertai rintik hujan. Jalan menuju ke areal museum dipenuhi kerikil putih kecil yang menuntun pengunjung ke gedung karantina bekas penyiksaan Hitler terhadap warga Yahudi. Bangunan itu terkesan original, tanpa polesan. Retakan tembok masih tergambar jelas di sana-sini.
Setelah 5 menit perjalanan dari halte bus, kami disambut pintu gerbang yang lagi-lagi masih asli dengan dikelilingi tembok megah. Ia terbuat dari besi tua nan kokoh. Begitu masuk ke dalam lokasi, bangunan tua asli yang berjejer dan tembok-tembok penyiksaan yang tampak original terhampar di depan mata pengunjung. Areal bekas penyiksanaan terbentang luas di tengah hutan yang dikelilingi pepohonan. Tanpa terduga udara dingin mendesir layaknya angin puncak merambat kulit tubuhku. Dingin sekali, namun terasa lembab. Hal ini dikarenakan kencangnya tiupan angin dari arah tanah lapang, dan rimbunan pohon besar di hutan tanpa penghuni.
Kami masuk ke dalam bangunan pertama yang berdiri persis di sebelah pintu gerbang. Tanpa diduga, bagunan itu menyambung dengan gedung lain yang bersebelahan hingga ke ujung bangunan. Aura bau “darah” dan “jeritan” manusia disiksa seperti membayang di antara kesaksianku terhadap foto-foto kekajaman Hitler kepada Yahudi. Selain foto-foto, terpampang pula tempat penyiksaan berupa papan dan golok serta alat pecut. Sementara di sudut lain, terlihat bangku dan meja untuk memenggal kepala manusia dengan cara yang primitif. Temanku yang punya perasaan tajam, dengan kepala menunduk, tidak kuat melihat foto dan sketsa kekajaman dengan beraneka model terhadap manusia.
Sebetulnya, saya tidak tahan melihat pemandangan begitu “keji” kelakuan manusia terhadap manusia lain dengan alasan apapun. Dalam batinku berucap “kok ada manusia jenis seperti ini dalam sejarah, yang tega memperlakukan saudara manusia lainnya”. Beberapa menit kemudian, saya putuskan keluar di tengah safari, melalui pintu di antara bangunan yang sebetulnya masih panjang. Setelah keluar, ternyata kudapati bangunan kecil yang terpampang dengan tiang berjejer di depannya yang merupakan alat untuk menggantung kepala manusia. Dan disudut lainnya, ada satu batu bersegi empat yang ternyata juga lokasi pemenggalan kepala manusia. Wah…perutku makin mules membayangkan kejadian itu….(untungnya ngga sampai muntah sih...).
Terakhir, sebelum saya istirahat untuk meredakan emosi, terlihat satu tulisan yang menggugah pengunjung, “Never Again” dengan berbagai bahasa. Maksudnya mungkin adalah “sudah cukup sekali” dan “tidak boleh terjadi lagi”. Dalam hatiku berkata, “Saya setuju dengan tulisan itu. Sudahlah wahai manusia, cukup sekali dalam sejarah dan jangan terjadi lagi…..”.
Di akhir perjalanan itu, batinku merasa salut kepada mansyarakat Jerman Barat yang menerima itu sebagai sejarah masa lalunya, meski kelam. Dan kemudian mereka menjadikannya pelajaran dan mengatakan, “ Stop dan jangan terjadi lagi”. Ini terbukti dengan mereka mau menjadikannya sebagai museum yang indah dan terperlihara dengan baik, dimana semua manusia bisa menyaksikannya gratis. Meski perih, mereka tetap mau dijadikan pelajaran bangsa lain. Bagaimana dengan sejarah bangsa kita? Apakah peristiwa perih kita mau dijadikan museum dimana kita bisa belajar untuk merenung dan kemudian bangkit, serta mengatakan “stop” jangan terjadi lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar