Meski baru pukul 09.0 pagi, panas menyengat. Dengan tata letak yang melintas garis katulistiwa, kota Palu, Sulawesi Tengah diselimuti panas sedari pagi. Hari ini Rabu, 11 Desember 2013, saya berencana melancong
ke desa Limboro, kab. Donggala, guna bertemu penenun sarung khas Donggala (lain waktu, saya ceritakan kisah dibalik
kain khas Sulteng itu..). Kali ini, saya bercerita hikayat perjalanan sepanjang
bibir pantai kota Palu hingga kab. Donggala. Dijami deh, pembaca terkaget2 dengannya – mungkin ada yang geleng-geleng kepala saat
membacanya. Bagi pembaca yang sudah mengalaminya, mudah-mudahan sudut pandang
laporan ini berbeda.
Di kota Palu, hari Rabu merupakan pembukaan peringatan Hari Nusantara (harnus)
2013. Menurut media, even itu dihadiri tokoh penting nasional,
seperti; Wapres Budiono dan istri, Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif Mari Elka Pangestu,
Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo, Menteri Perhubungan EE
Mangindaan, dan Menristek Gusti Muhammad Hatta. Kepala daerah lain pun hadir seperti; Gubernur Sulut Sinyo H Sarundajang, dan Gubernur Jatim Soekarwo,
Bupati Morowali dan Bupati Kulon Progo, dan
Gubernur Sulteng sendiri Longki
Djanggola (suara pembaharuan, 17
Desember 2013). Belum lagi, sejumlah kabupaten di provinsi itu unjuk kekayaan alam di galeri pameran.
Kontan saja, jalanan ibu kota provinsi Sulawesi Tengah – atau yang
mengarah kepadanya -- macet. Jalan utama ditutup – tanpa pemberitahuan – oleh
pemda, karena rombongan tamu VVIP (very very important person) hendak
melewatinya. Guna mengindari kemacetan, saya dan rombongan yang ke Donggala,
mencari jalan lain. Yaitu jalan raya yang membelah pantai dan pegunungan sepanjang
kota Palu dan kab. Donggala.
Saya tiba di kota Palu, sehari sebelumnya, 10 Desember 2013, sekitar
jam 11 an siang WIT, dari kota Makasar. Karena penuhnya penginapan di Palu –
mungkin karena harnus --, saya di menginap di hotel yang rada jauh dari kota,
yaitu di desa Silae Palu. Setengah hari itulah saya nikmati keindahan
pantai pinggiran kota itu. Hotel yang saya tempati, pas di pinggir laut.
Bahkan salah satu tiang pancangnya melebur hingga ke dasar pantai. Bahkan kamarku
persis berada di atas air laut. Ia bagai berdampar di atas lautan. Sehingga terkadang
saya tidak menyadari, bila kamarku seolah bergoyang bagai gempa bumi sedang
mengguncang. Padahal itu hanya fantasi kosongku. Air laut yang
mengirimkan ombak kecillah yang bergoyang. Swiss-Belhotel Hotel, yang
terletak di pinggiran kota Palu, layak menjadi alternative singgah (bukan promosi loh ya….ha..ha…).
Besoknya, sesaat setelah bangun tidur pagi hari, saya – tanpa sengaja
-- membuka jendela. Up.. desiran ombak dan angin laut serasa nyata menerpa seisi
kamar melalui jendela. Begitupula saat sore menjelang – bila tugas lapangan
selesai sebelum senja – saya menikmati tenggelam sang surya dari balik jendela
itu. Nikmat sekali pemandangan ini. Rasa penat seharian di lapangan tak terasa.
“Sendainya saya memiliki rumah dengan kontur
dan pemandangan seindah ini”, ayalku tiba-tiba dalam benak.
Perjalanan kami bermula dari pinggiran pantai di jl. Malonda No 12, Silae Palu. Meski waktu baru
menunjukan pukul 09.30, panas makin meranggas.
Untungnya, udara pantai mereduksi sengatannya. Angin pun meniup wajah dan
rambutku sepoi-poi. Hembusannya yang kencang dari pantai menyegarkan udara daratan.
Setelah teman-temanku siap, mobil meluncur ke arah kab. Donggala. Saya
sudah bersiap-siap dengan harapan akan disuguhi pemandangan eksotis di sisi kanan – air laut
nan jernih karena terkelilingi dataran pegunungan sehingga seperti membentuk
teluk. Ajaib, gundukan pegunungan itu seolah menyaring air laut hingga jernih. Sementara
di sisi kiri jalan raya, perjalanan saya akan terlindungi dan terteduhi pegunungan
dengan aneka macam pepohonan nan rindang. “Uh…perpaduan
manis hasil karya ilahi. Dan so pasti, angin pun membisikan keteduhannya. Panas
terik akan terkurangi otomatis”, bayangku sesaat. Itulah sekilas gambaran Rahma,
teman rombongan dengan antusias.
Pas mobil berjalan memasuki bibir jalan raya yang membelah pantai dan
pegunungan sepanjang kota Palu hingga Donggala, penasaranku terjawab. Sayang,
jawabannya justru sebaliknya. Bayangan keindahan yang sedari tadi hinggap di
pikiran, berangsur hilang dalam benak. Kala itu, saya malah melihat
remang-remang dari jauh dek kapal buatan yang berdiri kokoh terdampar di sisi
dekat pinggiran pantai. Makin dekat mobil melaju, dek itu makin jelas. Dek itu terbuat
dari besi tebal nan kokoh yang sudah mulai karatan – kuduga usianya telah
menua. Itu pertanda bahwa ia singgah di salah satu sudut bibir pantai puluhan
bulan tanpa ada yang mengusirnya.
Setelah mobil meluncur dekat dengan pemandangan itu, benar saja,
gumpalan besi kokoh itu adalah dek buatan. Ia menjadi jalan untuk kapal laut
bersandar di sisi pantai. Sementara di seberang jalannya, pegunungan indah yang
mulai terkoak. Ia bagai batok kepala yang rambutnya mulai menipis di beberapa
bagian sudutnya. Bila dilihat dari dekat, mungkin pemandangan pegunungan itu
tidak separah yang diduga. Namun bila sudut pandangnya dari atas – saat
memandangnya dari jendela pesawat – maka bopeng-bopeng permukaan pegunungan terasa
parah dan bagai lukisan tanpa struktur. Abstrak dan ancur…
Saat penglihatanku berpindah dari dek dermaga buatan ke pegunungan yang
berangsur gundul, saya tertegun. “Oh…miris
sekali nasib pegunungan ini. Gundukan tanah dan batunya terkeruk hingga
menipis. Bongkahan tanah dan batu makin hari makin jelas terkuras. Ketinggian
pegungungan yang – mungkin dari awalnya – menjulang, kini beberapa titiknya
hampir serupa dengan dataran tanah di samping jalan raya”. Saat rombongan
melewati pas depan pegunungan, ternyata ia dirampas habis oleh manusia yang
mengaku sebagai pengusaha. Kasihan. Menyedihkan…
Saat saya terpana dengan kondisi itu, teman-teman rombongan menimpali
sehingga menjadi diskusi kecil cukup seru. Menurutnya hasil yang diambil dari
pegungungan dan juga pantai adalah pasir dan batu atau dikenal “sirtu”. Menurut
penuturan Jems, perempuan Bugis yang besar di Palu, pasir dan batu dari pegunungan
dan pantai Palu merupakan salah satu sirtu terbaik di pulau Sulawesi. Oleh
karenanya pengusaha berbondong-bondong untuk mengeruknya sebanyak-banyaknya.
Pengusaha mengirim sirtu ke daerah
Kalimantan. Spontan, bayanganku melanglang jauh. Bagaimana bisa pengusaha
penduduk Kalimantan mengekploitasi sirtu di pulau Sulawesi? Berapa hari, mereka
habiskan untuk mengirim barang-barang itu melalui kapal laut ke Kalimantan? Apakah
di Kalimantan tidak ada sirtu untuk pembangunan daerahnya ? Kelihatannya, duit
telah berbicara.
Saya menyaksikan dengan sedih pemandangan truk-truk bergantian
mengangkut sirtu dari pegunungan dan pantai kepada tanah lapang di pinggiran
laut yang sengaja dibangun pengusaha. Mereka membuat tanah lapang itu – di
pinggiran pantai -- bagai gudang tanpa pagar. Setelah pasir dan batu dikeruk
dan diangkut truk, mereka kumpulkan di pinggiran pantai. Pasir dan batunya
memang terlihat berkualitas tinggi. Saya terbayang dengan pasir putih yang
pernah dipakai untuk membangun rumahku. Saat saya tanya tukang yang membangun,
ia menjawab bahwa harga pasir jenis itu mahal. Ia memang berbeda dengan pasir
biasa yang berwarna hitam.
Terik sinar panas siang makin meranggas dengan hamparan pasir di sisi
kanan jalan. Angin siang yang tertiup dari laut membawa debu bercampur pasir
yang datang dari tumpukan di tanah samping laut. “Aduh.. mataku kelilipan nih. Pasir-pasir itu menendang mata kiriku”,
keluh Ibrahim, pemuda berambut gondrong
yang duduk di belakang tiba-tiba. Pantas memang. Debu-debu yang bertumpukan
berterbangan karena diterpa angin laut. Sopir mobil rombongan sigap menutup
kaca jendela. Karena penasaran, saya tetap tidak mau menutup jendela kaca
mobil. Saya ingin menyaksikan dari dekat bagaimana manusia begitu rakus merampas
keindahan alam pemberian sang Mahakuasa.
Yang menyedihkan, tanah lapang yang dijadikan penumpukan pasir telah
merampas habitat flora yang hidup di samping jalan dan bibir pantai. Sedikit
demi sedikit pepohonan rindang hilang dan tumbang tergantikan pasir-pasir yang
berganti setiap beberapa hari. Hamparan bibir pantai yang sedianya indah dan eksotik
– ungkap Jems—kini berganti dengan hamparan tanah lapang yang dipenuhi pasir.
Panas pun terasa menyengat, saat orang melintas jalanan itu. Padahal bila
kerindangan pohon tumbuh di sepanjang jalan raya, dan pegunungan asri bersemayan
di seberangnya, ohhh akan indah alam yang terhampar di situ. Burung-burung dan
binatang pasti gemar singgah dan berkicau. (Bisakah
pemda mencari solusi terbaik atas kondisi itu? Sehingga mereka tidak hanya memikirkan
keuntungan bisnis).
Meski begitu, saat mobil rombongan berjalan beberapa meter – setelah view pasir dan batu membahana di kanan
jalan --, terbentang di hadapanku kapal besar milik TNI angkatan laut dari
kejauhan. Ia menyandarkan diri pelan-pelan di dermaga yang berada pas di depan
markaz angkatan laut bagian Sulawesi Tengah. Dijadwalkan kapal laut yang
berlayar dari Surabaya, akan mendarat di pantai Palu, sebagai bagian dari
rangkaian even Hari Nusantara 2013.
Mengagumkan. Itulah ungkapanku tak terduga. Pantai nan indah dengan kadar
kebeningan air laut yang luar biasa membentang panjang. Saya menyaksikan
sendiri ikan menari-nari di dalam air laut secara jelas dari permukaanya. Meski
orang-orang tak bertanggung jawab telah menghancurkan sebagian bagian pantai, namun
di sudut lain ia tetap menjadi magnet siapa pun yang memandangnya. Termasuk
saat ada agenda Hari Nusantara yang berlangusung, Kapal Induk TNI angkatan laut
ikut merayakannya dengan mendaratkannya di perairan teluk tersebut. Kami yang
melewatinya menyaksikan kegembiraan anak-anak, dan masyarakat kota Palu
menyambutnya. Mereka terkagum dengan kehadiran besi-baja besar berbentuk kapal
mengapung di laut dari dekat. Dengan beramai-rami, mereka menaiki dan menikmati
kemegahan kapal sembari berfoto. Dengan sangat terpaksa, kami tidak ikutan
menjelajahi kapal megah tersebut, karena harus buru-buru nyampe di kampung tenun,
Donggala.
Kami melanjutkan perjalanan. Keterkejutan kami berlanjut lagi,
khususnya saat mobil menyusuri pantai dan pegunungan berikutnya. Saya berharap
ada perubahan pemandangan setelah disuguhi hamparan pasir dan bongkahan gunung
yang terkeruk hingga persis daratan. Sayang, harapanku tinggal pepesan kosong.
Perjalanku selanjutnya ternyata dihadapkan pemandangan pegunungan yang beranjak
gundul. Miris. Namun yang berbeda, kini yang dikeruk manusia adalah batu-batu
putih dan batu gunung nan mahal harganya. Batu-batu kecil itu yang nantinya
akan dipecah menjadi koral – untuk pembangunan gedung dan rumah – menumpuk dipinggiran
pantai bagai gunung-gunung kecil. Saya ternganga memandang fenomena itu
pelan-pelan dari mobil. Sementara kapal pengangkut terlihat sudah menunggu di
pinggir pantai.
Setelah pandangan membosankan, saya sedikit terhibur dengan pamandangan
pantai – tanpa tumpukan pasir dank oral di sampingnya -- sebelum nyampai di
Donggala. Pantai itu indah sekali. Pinggirannya elok dan bersahaja. Ia memiliki
air yang halus dan bening sekali. Meski hanya dari dalam mobil, saya bangga
bisa menyaksikannya. Walaupun panas kian mengganas, namun saya tidak merasakannya.
Angin laut yang asri telah menyejukan badanku. Dalam hatiku berujar,”Jangan-jangan semua pantai yang membentang
dari Palu hingga Donggala, dahulunya bermotif seperti ini”. Ia indah,
sejuk, dan ramah bagi kehidupan. Di depannya pegunungan yang anggun. Ia menjaga
kelokan air laut yang menjorok ke darat hingga membentuk teluk. Alangkah
bahagianya penduduk Sulawesi Tenggah yang memiliki pemandangan seindah ini?
Pegunungan dan keindahan pantai menyatu menjadi alunan nada nan indah.
Daratannya tidak mungkin kekurangan air. Karena ia terpagari pegunungan
yang anggun dan melindungi. Mereka juga kaya akan sumber daya laut yang sejauh
mata memdang, pasti terhampar ikan. Sunggguh anugerah yang tiada tara. Keindahan
pantai itu, saya saksikan lagi setelah berkunjung dari Donggala, dengan mampir
sebentar ke pantai Tanjung Karang. “Wah,
betul-betul indah itu pantai”, decak kagumku seketika.
Saat mataku memandang jauh keindahan Tanjung Karang, hatiku berguman, “Bila dikelola dengan serius, hamparan pantai
sepanjang Palu hingga Donggala, jangan-jangan sejatinya mirip pantai Tanjung
Karang?” Semua pengunjung (wisatawan) yang melihat air di Tanjung karang,
terhipnotis ingin menyeburkan diri. Asli, air pantainya bening sekali. Pasirnya
juga putih bercahaya. Indah sekali Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar