Senin, 04 Desember 2017

Saat Besi Menyatu Daging




“……Wuh, sakit sekali. Sungguh sakit. Saya sampai lupa, seberapa sakit dan bagaimana rasanya kala itu,” kenang ibu Marsiem (bukan nama sebenarnya), perempuan tua berumur 60 an warga kelurahan Jatinegara Kaum, kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur, DKI Jakarta kepada sesama anggota SP (sekolah perempuan) saat berbincang seputar organ reproduksi. Marsiem bercerita bahwa begitu melahirkan anak 20 tahunan silam, ia memasang KB (yaitu Spiral atau “Lippes Loupes”), bantuan cuma-cuma pemerintah. Spiral merupakan satu alat kontraspesi jenis IUD (Intra Uterine Device) yang dimasukan ke dalam rahim perempuan. Liflet BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) menyatakan bahwa masa kerja IUD beragam, antara 5 (lima) hingga 10 (sepuluh) tahun. Bila masa kerjanya habis -- sesuai aturan -- maka IUD harus diangkat secepat mungkin. Resikonya bila tidak dilakukan, ia melengket ke dinding rahim.  

Pada masa pemerintahan Orde Baru, program Keluarga Berencana (KB) dijalankan dengan melibatkan dukungan militer, birokrasi pemerintah pusat hingga daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat secara massif. Hasilnya, rakyat berbondong-bondong mengikuti program tersebut tanpa reserve. Meski begitu, studi Infid (1991) menyatakan bahwa penggunaan kotrasepsi terkesan dipaksakan pemerintah terhadap perempuan, sehingga melanggar prinsip persetujuan berdasarkan pengetahuan (informed concent). Bisa dibayangkan, ada berapa perempuan yang terpaksa memasang alat kontrasepsi “cuma-cuma” dari negara tanpa pilihan. Kini Orde Baru berlalu, pertanyaanya, bagaimana nasib perempuan yang “terpaksa” mengikuti program KB ? Apakah pernah ada program pemeriksaan ulang setelah sekian tahun ?

Senin, 11 September 2017

Keaksaraan dan Sifat Kritis


Bulan September – khususnya tanggal 8 --, masyarakat selalu memperingatinya dengan hari keaksaraan. Sayang, tingkat keaksaraan warga kini “dihujat” habis-habisan. Semua masyarakat menuntut bahwa “manusia ber-aksara” merupakan makhluk cerdas yang menjadi sumber kedamaian, pendobrak kebodohan, pembersih “kesimpang-siuran” berita mejadi penjernih khabar. Artinya, makna “keaksaraan” kini tidak sekedar “baca dan tulis”. Dikenal “calistung”. Karena, keaksaraan calistung tidak cukup mampu “memfilter” aneka HOAK dan ujaran kebencian lainnya.

Kementrian Pendidikan Nasional RI bangga dengan penurunan angka buta aksara setiap tahun. Setiap 8 September, penurunan angka keaksaraan menjadi berita keberhasilan. Data Kemendikas menyebutkan tahun 2014, jumlah buta aksara sebesar 5,9 juta penduduk, tahun 2015 turun menjadi sebesar 5,7 juta, dan tahun 2016 juga diperkirakan terus berkurang. Sayang, penurunan ini kelihatannya masih di keaksaran calistung. Sementara level keaksaraan yang lebih tinggi, masih menjadi cita-cita warga Indonesia.

Selasa, 11 Juli 2017

Koperasi dan Ketimpangan


Tanggal 12 Juli selalu diperingati sebagai hari koperasi. Sudah dua hari ini, Senin (10 Juli 2017) dan Selasa (11 Juli 2017) HU Kompas menurunkan headline tentang Koperasi. Hari koperasi tahun 2017, berdampingan dengan pelaksanaan KTT G-20, di Hamburge, Jerman. Salah satu seruan Presiden Joko Widodo dalam pidato di KTT adalah tingginya ketimpangan antara kelompok “the have” dan “the have not”. Di sinilah letak “relevansi” pembicaraan dua topic tersebut. Sejatinya model koperasi menjadi “opsi” pengurai ketimpangan. Sayang, topic itu tidak menjadi focus pembicaraan KTT.      

Padahal, realitasnya koperasi makin signifikan terhadap kondisi perekonomian dunia. Penulis teringat hasil diskusi tentang “koperasi sebagai tulang punggung ekonomi bekelanjutan” (cooperative for sustainable future), 17 juli 2016, di auditorium Magister Management UI Salemba, Jakarta, yang digagas Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (FEB Universitas Indoensia).

Rabu, 08 Februari 2017

Tafsir “Kepapaan” Film “Istiratlah Kata Kata”


Saya bukan insan film, dan juga bukan actor, apalagi alumni mahasiswa sematografi atau yg berhubungan dengan film. Detail dunia perfilman, praktis saya buta total. Namun, saya penikmat habis film. Khususnya film bernuansa “sejarah”.

Menonton film “Istirahatlah Kata Kata” (IKK), Jum’at, 19 Januari 2017, di XXI TIM, serasa saya sedang “sinau” dan “bersekolah”. Melalui film IKK, saya terasa terlecut untuk menggali, “mereka-reka” pesan sutradara (Yosef Anggi Noen) melalui adegan, gambar, gerak filmnya. Ada banyak pilihan peristiwa, cerita, gambar dan laku sang tokoh yang bisa diketengahkan sutradara. Wahyu Susilo, adik Widji Tukhul (WT), menuturkan kepada penulis  -- saat sebelum pemutarannya di sudut kafe -- bahwa penggalian cerita film TKK memakan waktu dua tahun. Semua aktor dan peristiwa berhubungan dengan WT tak luput dari wawancara dan penggalian tim kreatif. So pasti, sutradara dan timnya berkuasa penuh atas pilihan adegannya.

Kamis, 26 Januari 2017

Akar Kekerasan dalam Pendidikan



Sedih. Marah dan geram. Hati ini serasa bergelora begitu membaca kekerasan pendidikan terjadi lagi. Lagi dan Lagi. Muhammad Fadhili (20), Syaits Asyam (19), dan Ilham Listia Adi (20), tiga mahasiswa UII (universitas Islam Indonesia), Yogyakarta, meninggal dunia setelah mengikuti pendidikan dasar organisasi pencita alam, 13 -20 Januari 2017. Mereka mengikuti almarhum Amirullah Adityas Putra, siswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, yang dianiaya seniornya, Rabu, 11/1/17, serta Dimas Khilmi, Kamis (12/1/17), santri pondok Modern Slamat, Kendal, wafat akibat dianiaya temannya. Dalam sebulan ini sudah 5 nyawa hilang akibat kekerasan dalam pendidikan. Sebagai orang tua – yang mempunyai anak --, asli, saya takut dan was-was dengan nasib anak yang sedang berlajar di lingkup pendidikan. Nasib anak di pendidikan laksana sedang menjadi “daftar tunggu” (list) korban berikutnya. Tragis….

Yang tak habis pikir di benak kami sebagai warga adalah tindakan anak didik yang melakukan kekerasan terhadap teman atau yuniornya. “Asupan” gizi pendidikan model apa mereka terima? Sehingga mereka bersikap “sadis” terhadap teman didiknya?

Kamis, 12 Januari 2017

Terdampar di Hutan Sawit Sekadau



Gemuruh kecil sayu-sayup kudengar bersautan dengan bunyi mobil travel. Meski itu berarti bertanda hujan, namun awan di langit masih cerah-pucat. Hari itu, 14 November 2016, aku hendak berkunjung ke desa Sapuak, kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Guna mempersingkat waktu perjalanan, mobil travelku melewati jalan yang tidak biasa atau jalan pintas. Ini karena, keberangkatanku sudah terlambat. Pukul 09.30 pagi, kami baru dijemput dari hotel Santika oleh driver travel Pontinak-Sekadau. Seperti diketahui, perjalanan Pontianak ke Sekadau memakan waktu seharian penuh (kalau tidak salah, kayak perjalanan Jakarta – Yogyakarta….). Jadi normalnya, bila berangkat dari Pontianak jam 07.00 pagi, maka aku sampai di Sapuak, Sekadau, sekitar pukul 16.00 sorean.

Berbekal jalan pintas itulah, saya dan penumpang mobil travel beserta sopirnya optimis akan sampai di lokasi tujuan tepat waktu. “Kira-kira pukul 16.30 an sore lah. Mentok-mentoknya, kita sampai ke tempat penginapan, daerah tujuan, sekitar pukul 16.00 sore. Pas matahari terbenam,” ungkap sang sopir optimis.  Dan biasanya, hujan turun selepas sore hari atau Magrib. Dengan begitu, ini berarti, saya nyampe ke sana diharapkan sebelum turun hujan. Sang supir menyemangati kami bahwa sesuai pengalamannya, mukjizat selalu hadir mengiringi perjalanannya. Hujan akan hadir selepas kedatangan. Semoga.