Jumat, 29 November 2013

Tenggelam di Cicatih, Sukabumi



Pernah merasakan tenggelam di sungai? Mudah-mudahan pembaca belum pernah. Namun bagi yang pernah, pasti akan bilang bahwa itu harus sekali saja terjadi dalam hidup. Meski begitu, perasaan itu mengasyikan. Karena air, sejatinya adalah sumber kehidupan. Pantaslah bila kita mesti bersahabat dengannya. Inilah pengalaman pertamaku tenggelam di arus sungai.

Suasana Minggu pagi 1 Mei 2011, cerah dan segar. Setelah dua hari, energyku terkuras di ruang meeting hotel Taman Sari, Sukabumi, kini saatnya berolahraga air. Orang sering menyebutnya “arung jeram”. Asli, ini pengalaman pertama saya berarung jeram. Padahal sudah kepingin dari dulu.
Tepat pukul 08.30, saya bersama teman bertolak menuju sungai Cicatih, Sukabumi. Sang penunjuk jalan (dari PT. SARANA RIAM JERAM) bersepeda motor berada di depan mobil rombongan kami. Hampir 20 menit waktu yang digunakan untuk sampai ke selter pemberhentian pertama. Di situ para peserta arum jeram berkumpul. Begitu turun dari mobil, pengelola mengkomando kami untuk naik ke atas lokasi yang berjarak beberapa meter dari tempat parkir di sampng jalan besar. Sebelum petugas mengecek nama peserta, kami dicegat deretan penjual sandal gunung. Mereka menawarkan rp 50 ribu setiap sandal. Guna menjaga keselamatan kaki, saya membelinya. (Yah..itung-itung kenang-kenangan, bahwa saya pernah berarum jeram di Cicatih).

Kami diantar menggunakan angkot ke sungai start. Berbagai pepohonan tumbuh di samping kiri dan kanan sepanjang perjalanan menuju ke sana. Jalanannya sempit. Ia hanya cukup dua mobil dengan beralaskan tanah. Sehingga terkadang perjalanan kami bergoyang-goyang. Suasana kampung terasa sekali. Untungnya, saat itu suasana cerah, dengan diiringi angin semilir.



Pukul 09.00 pagi, kami sampai di start sungai Cicatih. Terlihat rombongan besar telah bersiap-siap dengan melakukan pemanasan, ditemani instruktur. Mereka membagi diri dengan kelompok kecil. Pelampung sudah dikenakan dilehernya. Suara-suara penyemangat dikumandangkan. Pertanda mereka usai pemanasan dan bergegas terjun kesungai. Kini, giliran kelompok kami.

Dilalah, jumlah kami 12 orang. Sehingga ia bisa dibagi dua kelompok. Masing-masing perahu bersisi 6 orang dengan satu orang instruktur. Pemanasan beberapa menit ditunaikan. Masing-masing peserta memakai pelampung dan helm, serta kayu pengayuh di tangan. Sebelum menuju ke bibir sungai, semua peralatan elektronik dititipkan ke petugas. Saat yang dinanti tiba. Huh….

Kami bergegas menuju tepian sungai. Saat mendekat dan melihat sungai, kami tertegun. “Wuih, deras juga ya…arus sungai Cicatih”, gumanku di hati (yang lain pun memiliki perasaan sama). Air sungai mengalir dengan sedang. Ia bersih dan tidak terlihat sampah menggenang. Sungai yang berasal dari aliran dua sumber, yaitu Gunung Salak dan Gunung Gede Pangranggo terasa “menggundang”. Bulan Mei, sepertnya pas buat berarum jeram, khususnya bagi pemula. Sebab, kadar air tidak membludak tiba-tiba (seperti terjadi di musim hujan) atau berkurang saat musim kemarau. Pepohonan tumbuh liar di samping sungai. Mungkin berbagai flora hidup di sepanjang sungai. Selang beberapa menit, perahu karet yang berjejer di bibir sungai telah didekatkan ke rombongan. Setiap rombongan didampingi instruktur.

Start berarung jeram dimulai. Masing-masing kelompok diatas perahu karetnya, berteriak keras-keras. Pertanda kalau mereka akan kompak sepanjang sungai Cicatih. Pelan-pelan perahu kami berlayar ke tengah aliran sungai. Masing-masing peserta mengayuhkan tongkatnya ke air. Sang instruktur memberi aba-aba untuk mengayuhkan tongkat secara benar sesuai posisi duduknya (seperti instruksi yg diajarkan). Saat berlayar, saya lihat pemandangan indah di sekitar sungai. Sepi namun berisik oleh air. Suara-suara burung yang biasa terdengar di hutan, kini jelas kicauannya. Kami bagai berada di tengah pedalaman sungai, di antara semak berlukar (mungkin kayak sungai-singai di pedalaman Kalimantan ya…). Desiran angin terasa kuat menampar kulit kami yang sudah basah terciprat air.

Air bergemercik kecil sudah memukul-mukul perahu. Sepertinya ini baru tahap ombak permulaan. Dalam hal ini, kami masih bisa mengendalikannya. Meski rintangan jeramnya kecil, cukup bisa menggoyang perahu kami yang oleng ke kiri. Sepertinya ini pertanda bahwa jeram awal terbentang di depan, dan akan menyusul berikutnya.

Sementara itu, perahu group yang satu telah menjauh. Lambat laun, goyangan perahu mengecil di hadapan kami. Kondisi itu membuat perahu group kami bersemangat untuk mengejarnya. Atas instruksi instruktur, kami mempercepat tongkat pengayuh sekuat tenaga guna mengejar kelompok di depannya. Guna menyemangati, kami bersuara kencang. “Satu, dua, tiga,….hayo mana semangat dan kekompakanmu!” teriak instruktur mengagetkan. Bagai terlecut, semangat kami menggelora dan perahu karet makin mendekat. Saat tinggal 4 meter, kami saling mengejek dan bermain air. Suasana sungai yang dari tadi sepi dan sunyi, kini ramai dengan candaan di siang bolong. Saat mendekat, salah seorang anggota rombongan di perahu yang satu menyatakan bahwa ada anggotanya yang terlempar jatuh saat melewati “jeram pertama”. Namun kini ia (teman itu) telah kembali di perahunya. Sontak saja, teman yang jatuh menjadi bahan ejekan kawan lain, khususnya kelompok perahu yang lain. “Katanya berbadan kekar, dan berjenggot lebat, kok tersenggol ombak langsung jatuh”, oceh seorang dari kelompok kami. Kawan yang jatuh, diam seribu bahasa. Namun ia tersenyum sedikit kemudian, meski malu. Kawan satu perahunya menimpali membelanya, “Bukan. Itu baru perkenalan dengan air sungai..ha..ha…”.

Perjalanan mengarungi sungai dilanjutkan. Tantangan jeram satu sebagai pembuka telah terlampau. Ombak sungai setelahnya landai alias tenang. Nyanyian perjuangan terdengar dari dua kelompok di atas perahunya. Saat itu, kami betul-betul merasakan aliran ombak yang nyaman. Suasana sepi sekitar sungai yang ditumbuhi aneka flora dan fauna serasa nikmat. Sinar matahari siang – meski terik seperti biasanya – tak terasa menyengat. Mungkin karena kami terkonsentrasi kepada deburan ombak di sepanjang sungai. Desir angin menerpa kulit dan rambut yang basah terciprat air. Segar dan sejuk sekali. Batu-batuan terlihat bersebaran di antara pinggiran kanan dan kiri sungai.

10 menit kami berlayar di zona nyaman ombak. Tiba-tiba instruktur berteriak kalau di depan terbentang rintangan jeram kedua. Gundukan obak terlihat dari jarak 20 meter. Waspada dan hati-hati, kami bersiap. Ombak pun makin meninggi parahu mulai mendekat. Kami disuruh konstrasi, dan duduk dengan memegang kayu gayuh secara benar. Pelan-pelan perahu mendekat lokasi jeram 2. Kulihat instruktur sekuat tenaga mengarahkan perahu guna bisa melintas rintangan dengan sempurna. “Ayo, terus kayuh perahu sekuat tenaga. Mana suaramu kawan! Jangan menyerah”, teriak instruktur berkali-kali. Dengan full tenaga, kami mengarahkan perahu untuk mencari celah yang ombaknya rendah, diantara gempuran berbatuan. Saat melintas areal itu, sontak suara kawan-kawan bergelora, “Wowwwww…. Dan yes”. Dengan cipratan air sungai ke muka dan sebagaian tubuh kami, perahu pun melintas dengan sedikit bergoyang ke kiri, sehingga menimbulkan desir hati seolah-olah perahu akan membalik. Namun itu hanya beberapa detik. Perahu kembali normal melaju di atas aliran sungai. Andrenalin seperti itu yang kunikmati kala itu. Meski dag-dig juga sih, takut kalau perahuku membalik. Kulihat wajah-wajah pucat tergambar dari muka teman-teman satu perahu. Selang beberapa detik, canda dan tawa pecah setelah sukses melampau jeram 2.

Suasana rilek tercipta otomatis. Semua berdendang sendiri-sendiri, membunuh kesepian di tengah sungai. Setelah mengayuh parahu beberapa meter, terlihat di depan keramain orang berpelampung dengan perahunya disandarkan di tepi sungai. Ternyata, mereka adalah peserta arum jeram namun dari kelompok lain yang sedang beristirahat di shelter pemberhentian sementara (kelihatannya tempat ini sengaja dibuat penyelenggara untuk pemberhentian sementara). Mereka sedang beristirahat di pinggir sungai. Perahu-perahu berjejaran di bibir sungai, tidak jauh dari areal istirahat. Beberapa orang buru-buru ke toilet yang tersedia di pojok. Sekelompok lain bersenda gurau, menceritakan pengalaman saat melampau jeram 1 dan 2. Perahu karet kami disandarkan di salah satu sudut pinggir sungai. Instruktur menyuruh Kami mentas dari perahu dan bergegas ke shelter. Disana tersedia kelapa muda dan aneka makanan kecil. “Gleg…gleg. Seger banget kelapa mudanya. Kuenya juga enak, iseng-iseng  buat mengisi perut kosong”, ungkap teman kami sambil meneguk kelapa muda (kayaknya sih karena lapar. Jadi makanan apa saja yg tersedia, pasti enak. Lagian disitu kan tidak ada makan selain yang disediakan penitia…ha..ha…).

Perut telah terisi. Badan pun segar kembali. Tanpa terasa, waktu telah menunjukan pukul 11.00 siang. Semua penumpang yang bersandar di seter sudah beranjak ke perahunya masing-masing. Kelompok kami ikut beranjak ke perahu yang ditambat di sudut tepi sungai. Bagai dikomando, semua orang siap untuk mengarungi sungai bersama-sama. “Asyik nih. Kita pergi berbarengan dengan kawan-kawan pengikut arum jeram yang lain”, kataku kepada kawan satu kelompok.  Secara beriringan, kami berlayar sambil menyanyikan lagu-lagu penyemangat. Setelah beberapa kilometer, perahu disuruh berhenti sejenak. Perisis, di belakang perahu karet kelompok lain yang mengantri didepannya. Dari jauh terlihat bahwa rintangan ombak di depan mata, ternyata jauh lebih tinggi di banding jeram sebelumnya. instruktur kelompok kami bilang bahwa kini kita telah memasuki rintangan jeram ke 3. Tantangan di level ini lebih tinggi di banding sebelumnya. 

Saat perahu makin mendekat, saya melihat gundukan ombak lebih tinggi dari sebelumnya. Aliran air meninggi karena memang ada berbatuan menghalangi alirannya. Kotan saja, perahu karet yang melewatinya harus bisa bermanuver guna selamat dari kejatuhan. Satu persatu, perahu karet melintasi jeram ke 3. Para penumpang yang sedang melintasi, berteriak saat berada di atas aliran ombak yang tinggi. Saya yang melihat adegan itu, sedikit merinding. Dalam hatiku berkata,” kelompok saya bisa tidak ya…melampaui jeram itu. Atau jangan-jangan ada anggota yang terlepas”. Saya fikir, teman-teman satu kelompok perahu juga berpendapat sama di hatinya. Saat hati kami cemas, sang instruktur meyakinkan bahwa semua tingangan pasti bisa dilalui. Asal, kita semua taat dengan apa yang diajarkan. Terus memegang kuat tali yg ada di perahu. Dan duduknya juga harus benar. Tidak boleh berganti-ganti posisi. Spontan, semangat teman-teman timbul. Dan bersama-sama berteriak, “Kita pasti bisa, huh”.


Perahu makin mendekat jeram 3. Kini giliran kelompok kami. Seorang petugas yang berdiri diatas batu besar disamping arus ombak, memberi tanda dengan meniup suling. Pertanda perahu karet kami segera mendekat. Pelan-pelan perahu melaju. Kayuh kayu dari setiap tangan kami terhadap air makin kencang. Sang intruktur terlihat sekuat tenaga mengarahkan perahu ke arah yang diinginkan. Wajah kami terlihat serius dan tegang. Kami sekuat tenaga mengarahkan tongkat kayu sesuai dengan arahan instruktur. “Terus, kayuh. Arahan ke kanan. Terus kanan”, perintahnya dengan nada tinggi. Saat perahu menempel gelombang ombak, badan kami secara otomatis bergoyang miring. Bahkan hampir jatuh. Secara kompak, tangan kami memegang kuat-kuat alat pegang di perahu karet. Sekuat tenaga, kami saling menyeimbangkan perahu di tengah terpaan deru ombak yang makin keras. “Crat. Aduh, muncrat deh nih air ke mukaku”, teriak salah seorang dari kami. “hore…hore…kita berhasil melaluinya”, sorak kami serempak. Kami tos bareng-bareng.

Meski muka kami basah tertampar air sungai, namun tetap tersenyum berseri-seri. Ini karena dengan mulus, perahu melaju di atas gelombang ombak grade jeram 3. Ahamdulillah. Ritangan berat telah terlampau. Kini, kami harus berkosentrasi di tantangan terakhir, jeram 4.
Waktu kira-kira sudah mendekati jam 12.00 siang. Perahu terus melaju dengan nyaman di atas ombak-kecil. Kami merasa seperti habis lepas dari rintangan super berat. Kayuh tongkat di tangan pelan menempel air guna menghemat tenaga. Sebab, jeram 4 menunggu di lintasan terakhir. Kami saling bercerita dan bercanda tentang situasi saat melintasi jeram 3. Ada yang berkata bahwa dia hampir jatuh digulung ombak, namun berkat pegangan kuat perahu, akhirnya bisa bertahan. Sementara teman lain berujar bahwa ia bisa lolos karena ikutan memegang badan temannya (ha..ha….seru juga ya, cerita mereka).

Hampir 15 menit kami menikmati perjalanan mengarungi sungai tanpa rintangan berarti. Tidak memakan waktu lama, ternyata tingangan jeram 4 menunggu di depan. Persis seperti rintangan jeram 3, rombongan perahu kami harus mengantri menunggu giliran. Sambil menuggu, kami melihat dari jauh dan tertegun, “Wuh…tinggi banget ombaknya. Turunan ombanknya pun tajam diapit dua batu besar”. Hatiku agak ciut melihat rintangan jeram terakhir di hadapan jauh. Saya yakin di hati temanku yang lain juga berfikiran sama. Pelan-pelan, satu persatu perahu dihadapan kami melaju ke arah jeram 4. Petugas bersiaga di setiap sudut pinggiran sungai. Bahkan terlihat juga beberapa petugas berdiri di atas batu besar yang mengapit ombak besar. Sementara petugas lain, berjaga-jaga dengan perahu karet kosong guna menyelamatkan penumpang yang terjebur di sungai.

Burrr…., tolong..tolong,” teriak kelompok perahu karet di depan kami (mungkin 7 kelompok di depan kami) yang terbalik. Mereka tidak bisa mengendalikan perahu karet yang diterpa hantaman ombak deras. Kontan, nyali kami menciut saat menyakisakan peristiwa tergulingnya perahu di depan mata. Meski begitu, kami tetap saling mengkuatkan bahwa pasti bisa bila berusaha mengendalikannya. Tanpa sadar, kami berucap doa dalam diam. Terlihat disana banyak perahu karet yang lolos sempurna dari rintangan jeram 4. Kami termotivasi dengan kesuksesan kelompok perahu itu. Sekuat tenaga, kami menghilangkan bayangan ketertenggelaman perahu yang lalu.


Sedikit sedikit perahu mendekat. Saat perahu mencium gelombang ombak, pelan-pelan badan kami bergoyang. Sekuat tenaga instruktur mengarahkan perahu mencari celah, guna bisa lolos dari jebakan ombak. Sekuat tenaga, kami semua juga mengarahkan perahu dengan tongkat kayu sesuai arahan instrukur di tengah deru ombak. Terpaan ombak itu serasa kuat sekali menendang perahu kami. Tanpa sadar, perahu kami tiba-tiba oleng. Sayup-sayup suara instruktur terdengar. Kami diminta untuk tetap tenang dan focus kepada kayuhan. Tanganku tiba-tiba lepas dari pegangan perahu karet. Kayu-kayuh yang ada tangan kiri, saya lepaskan guna memegang perahu. Kini, saya hanya mengandalakan satu tangan memegang perahu karet. Saat saya sedang sibuk dengan memegang parahu , tanpa sadar, tiba-tba perahu membentur batu besar di sampingnya. “Brurrrr…..tolong…tolong….”, teriak kami kala itu. Perahu kami terblik begitu menabrak batu besar disamping. Saya masih ingat betul, saat itu saya berada pas di bawah perahu. Remang-remang saya melihat teman saya di depan “gelagepan” di dalam air. Saya termegap-megap. Nafas pun sulit untuk kuhirup. Pelan-pelan kugerakkan tangan dan kaki dengan gaya renang sebisaku.

Meski saya pandai berenang, namun aliran ombak yang deras menyulitkanku untuk berenang secara normal. Saya terengah-engah di antara aliran deras air. Tanpa sadar, badan saya sudah terbawa ombak sejauh kita-kira 15 meter dari TKP. Perahu petugas pun secara cepat melakukan pertolongan. Mereka mendekatkan perahu kepada para korban yang  terbawa ombak. Satu persatu saya dan temanku diangkat ke parahu petugas. Wajah kami pucat semua. Saya melihat teman yang berasal dari jogya, sampai tidak bisa berkata-kata lagi (mungkin ia sok kali ya….). ia tetap diam saat saya Tanya. Pelan-pelan, dia berkata lirih, ”Untuk sementara, saya tidak akan berajum jeram dulu”. Tanpa disadarinya, sandal bagusnya berharga mahal hilang bersama ombak. Dalam hal itu, saya masih untung, karena memakai sandal khusus (hingga kini sandal itu masih saya simpan sebagai kenang-kenangan …ha…ha…). 

Merasakan tenggelam di air menyimpan sarat makna. Hidup serasa hanya mampir (numpang ngombe, bahasa jawanya). Oleh karenanya hiduplah yang berarti. Olah raga arum jeram, ternyata penuh pelajaran hidup. Meski sempat jatuh, proses recovery dan perjuangan untuk bangkit merupakan pengalaman mahal. Mudah-mudahan saya bisa kembali suatu saat ke Cicatih, atau sungai yang lain. Semoga.

2 komentar:

  1. setelah arung jeram selesai biasanya makan dua piring masih kurang haha. salam kenal dulu ya, kunjungan pertama

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah makasih ya mas antown. salam kenal juga. iya benar...waktu itu serasa lapar, kayak habis macul...ha...ha....

      Hapus