Senin, 17 Mei 2021

Hinako, Pulau Eksotik dan Warganya Yang Ramah


Hinako adalah nama pulau di Kepulauan Nias, provinsi Sumatera Utara. Ia menyimpan kekayaan luar biasa, dan keramahan penduduk khas kepulauan yang hangat, bak saudara, peduli, dsb. Berikut ceritaku singgah sehari disana.

Hujan turun selebat-lebatnya Selasa 16 Februari 2021. Ia bagai mengamuk tak henti. Jam dinding menunjukan pukul 03.30 pagi. Gelap tak berbintang. Kotamadya Gunung Sitoli pagi itu bagai menengadah pasrah atas kehadiran air hujan. Patut dimaklumi, karena beberapa hari terakhir pulau ini kering kerontang. Panas terik tak henti-henti menyengat penduduk dan seisinya.

Jam 10.00 pagi saya bersama rombongan CU Pesada (Credit Union Perkumpulan Sada Ahmo) pergi pulau Hinako, di kec. Nias Barat. Untuk menuju ke sana, kami harus naik mobil dari Gunung Sitoli ke ujung daratan Sirombu di kab. Nias Barat. Sirombu merupakan kecamatan bagi desa yang berada di darat dan pulau kecil sekitarnya, termasuk Hinako. Kecamatan ini terletak di pesisir barat Pulau Nias berbatasan dengan Samudra Hindia. Selain pulau Hinako, ada pulau Asu, pulau Lang, Hinako Island. 

Sabtu, 16 Juni 2018

Lebaran Di Tengah Musim Dingin

Malam kian larut. Mendung mengiringi pergantian hari di akhir Ramadhan tahun 2018. Musim dingin di Adelaide makin menambah syahdu akhir Ramadhan. Udara terasa membekukan badan hari ini (14 juni 2018) sebagai akhir puasa. Sebagai pelajar yang baru merasakan lebaran jauh dari tanah air dan keluarga, momen emosional di setiap lebaran terasa menyayat relung hati. Begitu waktu berbuka hadir, yang bertanda takbir dikumandangkan, perasaan melo muncul tanpa sadar. Bibirku mengalun takbir perlahan, meski lirih dan sendirian. Sambil meneguk teh panas dan pisang untuk berbuka puasa, sisi pengalaman emosionalku muncul remang-remang. Tidak ada alunan takbir petang itu dari corong masjid sebelah rumah. Tidak ada tatanan kue tar berjejer di meja tamu. Tidak ada deretan plastik beras untuk zakat fitrah. ohh….

Jumat, 08 Juni 2018

Ramadhan di Port Elliot, Australia Selatan


photo by Ika S
Kini sudah tanggal 25 Mei 2018. Artinya bulan Ramadhan berlalu 10 hari kujalani di bumi Kangguru Selatan. Ramadhan di Australia, kini beriringan dengan kehadiran awal musim dingin. Di setiap pagi, suhu dingin berangsur turun meski perlahan. Bila malam menjelang, suhunya merendah drastis, hingga 8 derajat celsius. Pernah satu kali, saya berdiri di teras apartemen untuk melihat kondisi, ternyata kaki bagai menginjak balok es. Dingin. Mak cess.. Jemari tanganku membeku dan mengkerut tanpa kusadari. Malam pun sepi. Sunyi bagai tak berpenduduk. Kota Adeladie laksana kota “mati”, bila malam menjelang. Sesekali bila suhu tak begitu dingin, dan itu pas Jum’at malam, warga berhamburan di kota. Kafe, restaurant, dan kedai makanan yang berjejer di “central market” dipenuhi warga kota sehabis kerja. Riuh tawa dan senyum warga memenuhi pojok-pojok kota. Malam pun berseri….

Balik ke suasana awal musim dingin. Karena akan memasuki musim dingin, badan pun tidak gampang lelah. Tidak mudah pula hausan. Ramadhan di sini mengasyikkkan, meski tidak terasa “aura” puasanya – seperti di Indonesia. Tak ada suara adzan. Suara ramai anak-anak dgn berbagai tabuhan untuk membangunkan saur. Pun Sholawat sebelum adzan subuh. 

Rabu, 25 April 2018

Sunset di Pantai Glenelg, Adelaide


24 April 2018 pagi, kota Adelaide, Australia, hujan rintik. Tiupan angin pagi mulai “mendinginkan” badanku. Hujan ini sepertinya menjadi pertanda bahwa musim dingin segera bermula di bumi Kangguru Selatan. Saya bergegas keluar dari apartemen menuju kampus berlokasi dekat victoria park. Hari ini merupakan awal kuliah di kampus Flinders, Adelaide kota. Terlihat kerumunan manusia bergegas berlarian ke perkantoran menghindari hujan. Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Saya bersama penduduk kota lainnya menepi. Sesaat kemudian, hujan berhenti dan menyisakan rintik kecil. Saya bersama kawan berjalan di pinggir jalan utama yang lebar.

Siang hari beranjak cepat. Panas matahari muncul menggantikan hujan. Kota Adelaide meriah kembali seperti biasa. Kota berpenduduk 1 juta ini, meski ramai namun tetap nyaman. Tidak ada kemacetan – seperti di Jakarta. Lampu merah menyebar di setiap pojok perempatan. Penduduk kota teratur antri menunggu di traffic light untuk menyeberang. Pejalan kaki pun dimanjakan dengan trotoarnya yang lebar. Angin musim dingin serasa lembab pelan-pelan menerpa wajahku siang itu. Meski panas, berkat terpaan angin lembab, badanku malah hangat. Segar bahkan. Siang itu, awal kuliah selesai lebih cepat. Setelah santap siang di dapur kampus, saya bergegas balik ke apartemen.

Jumat, 12 Januari 2018

Menikmati Surga Dunia Di Labuan Bajo


Pantai di sekitar Labuan Bajo laksana surga belum “terjamah”. Labuan Bajo adalah ibu kota kab Manggarai Barat, kepulauan Flores, NTT – di mana binatang Komodo hidup di beberapa pulaunya. Kenanganku selama disana tak mudah sirna dari bayangan. Meski sudah tiga dalam setahun ini, namun hasratku ingin, ingin dan ingin kembali. Bayangan akan gugusan pulau indah nan eksotik, berjejer yang dikelilingi pasir putih, teramat membekas. Air lautnya putih, sebening kolam renang hotel berbintang. Saking beningnya, ikan-ikan kecil, batu dan kerikil terlihat jelas di dasar laut. Bagai kolam renang raksasa yang disediakan sang pencipta bagi manusia. Di sana, wisatawan tak henti-hentinya berenang, menyelam, dan bermain air sebebas-bebasnya. Hebatnya, spot-spot untuk berenang menyebar di antara gugusan pulau yang berjejer di banyak lokasi. “Hidden paradise” (syurga tersembunyi) di ujung timur Indonesia. Istilah yang pas untuknya.
Sayangnya, mirip dengan lokasi wisata “tersembunyi” Indonesia lainnya yang indah, support akses infrastruktur masih minim. Sudah minim, mahal pula. Makanya tidak setiap orang Indonesia bisa menikmatinya. Bagi yang berhasrat menikmati pantai dan melihat komodo di pulau sekitar Labuan Bajo, namun berbudget terbatas, berikut tip saya. Semoga bermanfaat.

Senin, 04 Desember 2017

Saat Besi Menyatu Daging




“……Wuh, sakit sekali. Sungguh sakit. Saya sampai lupa, seberapa sakit dan bagaimana rasanya kala itu,” kenang ibu Marsiem (bukan nama sebenarnya), perempuan tua berumur 60 an warga kelurahan Jatinegara Kaum, kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur, DKI Jakarta kepada sesama anggota SP (sekolah perempuan) saat berbincang seputar organ reproduksi. Marsiem bercerita bahwa begitu melahirkan anak 20 tahunan silam, ia memasang KB (yaitu Spiral atau “Lippes Loupes”), bantuan cuma-cuma pemerintah. Spiral merupakan satu alat kontraspesi jenis IUD (Intra Uterine Device) yang dimasukan ke dalam rahim perempuan. Liflet BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) menyatakan bahwa masa kerja IUD beragam, antara 5 (lima) hingga 10 (sepuluh) tahun. Bila masa kerjanya habis -- sesuai aturan -- maka IUD harus diangkat secepat mungkin. Resikonya bila tidak dilakukan, ia melengket ke dinding rahim.  

Pada masa pemerintahan Orde Baru, program Keluarga Berencana (KB) dijalankan dengan melibatkan dukungan militer, birokrasi pemerintah pusat hingga daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat secara massif. Hasilnya, rakyat berbondong-bondong mengikuti program tersebut tanpa reserve. Meski begitu, studi Infid (1991) menyatakan bahwa penggunaan kotrasepsi terkesan dipaksakan pemerintah terhadap perempuan, sehingga melanggar prinsip persetujuan berdasarkan pengetahuan (informed concent). Bisa dibayangkan, ada berapa perempuan yang terpaksa memasang alat kontrasepsi “cuma-cuma” dari negara tanpa pilihan. Kini Orde Baru berlalu, pertanyaanya, bagaimana nasib perempuan yang “terpaksa” mengikuti program KB ? Apakah pernah ada program pemeriksaan ulang setelah sekian tahun ?

Senin, 11 September 2017

Keaksaraan dan Sifat Kritis


Bulan September – khususnya tanggal 8 --, masyarakat selalu memperingatinya dengan hari keaksaraan. Sayang, tingkat keaksaraan warga kini “dihujat” habis-habisan. Semua masyarakat menuntut bahwa “manusia ber-aksara” merupakan makhluk cerdas yang menjadi sumber kedamaian, pendobrak kebodohan, pembersih “kesimpang-siuran” berita mejadi penjernih khabar. Artinya, makna “keaksaraan” kini tidak sekedar “baca dan tulis”. Dikenal “calistung”. Karena, keaksaraan calistung tidak cukup mampu “memfilter” aneka HOAK dan ujaran kebencian lainnya.

Kementrian Pendidikan Nasional RI bangga dengan penurunan angka buta aksara setiap tahun. Setiap 8 September, penurunan angka keaksaraan menjadi berita keberhasilan. Data Kemendikas menyebutkan tahun 2014, jumlah buta aksara sebesar 5,9 juta penduduk, tahun 2015 turun menjadi sebesar 5,7 juta, dan tahun 2016 juga diperkirakan terus berkurang. Sayang, penurunan ini kelihatannya masih di keaksaran calistung. Sementara level keaksaraan yang lebih tinggi, masih menjadi cita-cita warga Indonesia.