Jumat, 15 November 2013

“Dag Dig Dug” di Bus Malam Hungaria - Munich

Kamis, 23 Juni 2011, langit Budapest, Hungaria cenderung putih pucat. Jum’at besok merupakan hari libur, dan sesi hari Sabtu bebas untuk diikuti mahasiswa short course di CEU (Central European University). Semenjak Rabu, saya bersama 4 teman Indonesia sudah ribut dalam penentuan akan pergi kemana dua hari itu. Yang satu berkeinginan ke Vina, kota yang dekat dengan Hungaria. Yang lain ingin ke Munich, daerah dari Jerman Barat yang tidak jauh dari Budapest bila dilihat di peta. Setelah berdebat seru, akhirnya kita memutuskan ke Munich atau Munchen. Kebetulan, seorang kawanku mampu berbahasa Jerman karena ia bekerja di Berlin selama 2 tahun. Kami pun menimbang-nimbang moda transportasi untuk menuju ke Munich. Pilihannya; Kereta api (euro trans) yang nyaman dan bisa memenikmati perjalanan tapi berbiaya sebesar 123 euro sekali jalan (klu dirupiahin mungkin 1 jutaan), atau bis malam dengan harga ekonomis sebesar 112 euro PP.
 
Karena kecekakan kantong, bis malam jadi pilihan. Temanku yang memiliki kartu kredit, memesan bis dan hotel super murah dekat terminal bis Munich, malam kamis melalui internet. Temanku bilang, “Wah mataku ampe jileng nich, mempelototin hotel murah di Munich. Satu-persatu aku cek, ternyata  penuh semua. Ya... akhirnya aku pesen dua kamar yang harganya tidak terlalu murah, namun juga ga mahal-mahal amat”. Malam kamis itu tiket bis dipesan untuk 5 orang dan hotel oleh temanku. Oh ya, aku belum cerita siapa saja 5 orang itu. 2 perempuan, yang satu kerja di USAID (ini yang punya kartu kredit), dan yang satu lagi bekerja di Partnership for Govermance Reform. Sementara 3 orang laki-laki; satu orang dosen Universitas Paramadina, satunya dosen Universitas Negri di Padang, dan saya sendiri, traveler amatir (ha..ha…ha…).

Dengan kebulatan tekad dan tiket di tangan, Kamis siang saat istirahat kami berlima bertemu untuk saling menguatkan tekad. Saat kami sedang asyik berdiskusi persiapan di depan kantin CUE, dua orang teman Indonesia berniat ikut sebagai cadangan. Sejatinya kami sudah menawarkan rencana itu kemarin, namun mereka ragu-ragu.

Karena perasaan sesama Indonesia, dengan lugu, kami menerimnya. Layaknya bepergian dengan bus di Indonesia, maka para penumpang berangkat dari terminal untuk menemui armadanya dan sekalian langsung membeli tiket di loket yang berjejer seperti terlihat di terminal Polu Gadung atau Rawamangun. Kontras, ini berbeda dengan terminal bus di Budapest (dan mungkin di negri eropa pada umumnya), yang tidak menjual tiket perjalan di loket terminal bus. Makanya terminal di sana tidak seramai yang ada di Indonesia. Terminal layaknya tempat berkumpul lainya. Cafe dan toko kecil penjual makanan masih terlihat, namun para penumpang tidak “berjubel” dan duduk-duduk di depan jendela loket (apalagi kalau menjelang mudik, wah....berkeringat deh...).

Untungnya, dua orang teman Indonesiaku tidak jadi ikutan dengan menyusul ke terminal tanpa pembelian tiket online sebelumnya. Penumpang tanpa tiket online, tidak diizinkan masuk terminal bis malam. Lag-lagi ini memang lain dengan terminal bus Indonesia yang bisa membeli di loket dan terkadang langsung tembak di atas bus malam. Hati-hati ya, pembaca yang baru pertama kali traveling secara murah  ke Eropa (mudah-mudahan sih sudah ngerti).

Meski mendung, udara lembab terasa semilir menerpa kulit tubuhku. Tepat pukul 20.00 pm, kami bergegas ke terminal bus Budapest dengan taksi, untuk menghemat waktu. Bila disamakan dengan waktu Indonesia bagian barat, mungkin telah memasuki jam 17.00 sore di Indonesia, dimana cahaya matahari masih menyembul diufuk sungai yang membelah wilyah Budha dan Pest, di Hongaria. Suasananya tidak sebising terminal di Indonesa. Ia nyaman, aman (tidak merasa takut), dan tak tampak calo terminal yang biasa menjadi penjemput awal di pintu gerbang. Jam keberangkatan tiba, kami mengantri di depan pintu bus bertulis “EURO Train”. Sementara, dua orang supir yang terkadang bergantian menjadi kondektur dan supir, menunggu di depan pintu bus meminta tanda pembayaran secara online. Ia tidak mau menerima uang tunai, tapi secarik kertas dengan kode booking, seperti tiket pesawat online yang kini lagi marak. Salah seorang darinya ternyata perempuan yang menjadi sopir di perjalanan malam itu. Sebelum berangkat, seorang laki-laki tinggi (aku duga dari Jerman) menghitung penumpang di atas kursi duduknya secara cermat. Bahkan ia – aku kira – menghitungnya hingga berulang-ulang guna timbul keyakinan di dirinya.

Setelah semunya oke, supir perempuan memulai mengendarai Bus dengan meyakinkan. Inilah perjalanan darat yang mungkin – sejatinya – telah ditulis dalam buku-buku baku tentang kelayakan bus dan jalan rayanya. Jalan dan bis yang kami naiki serasa mulus, dan sepertinya kami tidak merasakan lobang di jalan, sehingga badan kami harus bergerak ke kiri dan ke kanan, sebagaiman biasa kami alami saat naik metro mini di Jakarta…ha…ha..ha. Perjalanan sepertinya akan mulus dan nyaman, karena pemandangan di kiri dan kanan adalah hamparan ladang gandum yang rapi dan jalanan mulus seperti tol jagorawi yang memiliki dimana kwalitas aspal nomor wahid.  

Kalau secara teknis perjalanan (khususnya infra struktur jalan dan kemacetat) tidak menemui kendala berarti. Aman terkendali. Namun saat kami sedang menikmati perjalanan dengan sedikit rasa kantuk, kami dikejutkan dengan “grundelan” temanku dari belakang tempat duduk kami. Ceritanya begini.

Karena kami berlima, maka ada seorang kawan yang mesti duduk sendirian, karena posisi tempat duduk penumpang berjejer dua-dua. Teman yang duduk sendirian, ternyata berdampingan dengan bule muda (kami tidak tahu persis dari mana ia, Hongaria, Phraha atau Jerman Barat). Posisi duduk dan kesendiriannya ternyata menjadi masalah baginya. Menurutnya – ia bercerita saat turun dari bis di terminal Munich –, ia tertudur dengan mulut terbuka dan ngorok. Suaranya membuat ia tidak bisa tenang. Yang parah – menurutnya --  adalah bau mulutnya yang tidak bisa digambarkan – mungkin karena saking baunya tuh mulut jadi sulit dicari padanannya…ha…ha…. “serius, aku ga bisa tidur sepanjang perjalanan. Selain suara ngoroknya yang keras, bau mulutnya juga membuat kepalaku pusing kaya terserang vertigo. Baunya sulit untuk didiskripsikan, karena saking jeleknya itu bau”, ungkap kawanku yg dosen desain universitas Paramadina, sesaat mendarat di terminal Munich.

Jam menunjukan pukul 01.00 tengah malam. Semua penunmpang terjaga karena ternyata bus berhenti di pemberhentian. Kami tidak tahu daerah mana tempat itu. Kami merasa asing dengan lokasi tersebut. Sang upir bilang berkata kalau kita akan berhenti di sini untuk mengisi bahan bakar sejenak. Bila diantara penumpang ada yang berniat untuk ke toilet dan keperluan lainnya dipersilahkan. Kami pun pergi keluar dan menujua ke kamar kecil. Udara segar menghampiri tubuhku sesat pintu bus terbuka. Dingin namun segar. Berderet cafe dan restoran kecil berdiri disamping tempat pemberhentian yang ternyata pom bensin. Kopi dan minum segar hangat pantas menemani kami dan penumpang lain tengah malam itu. Kira-kira 20 – 30 menit waktu temakan untuk istirahat, perjalanan pun dilanjutkan kembali. Punumpang pun siap-siap untuk melelapkan diri kembali. Suasana dingin malam itu mempermudah rasa kantuku berbuah menjadi tidur lelep di atas kursi bus malam. Diiringi sedikit percakapan dengan teman di sebelah tanpa terasa tidur mengantarku tanpa terasa.

Sekitar pukul 03.00 an pagi, tiba-tiba kami dibangunkan secara paksa oleh kondektur dan dua orang berpakain militer. Dari raut muka dan perawakannya, dua orang militer tersebut berasal dari Ceko (dulu sih negara itu bernama Cekoslwakia). Mereka ternyata membawa mobil yang ditaruh disamping Bus. Tampa basa-basi, mereka meminta semua penumpang untuk mengeluarkan pasport masing-masing. Kami baru sadar, bahwa ternyata kini kami sudah berada di negara lain (bukan Hongaria lagi), tapi di negara Ceko yang mungkin masuk dalam perbatasan antara Eropa Barat dan Timur. Dengan dingin satu polisi berdiri di pintu bus, dan yang lain di depannya. Wajahnya tak berekpresi. Badannya tinggi tagap, mungkin sekitar 2 meteran. Ia memerintahkan sang kenek bus (yang laki-laki) untuk mengambil pasport penumpang. Posport pun diperiksan satu-persatu olehnya.

Pagi itu, aku merasa hatiku bergetar keras sekali. Sebab kala itu, setelah menunggu 15 menit, hampir semua penumpang telah menerima passport melalui supirnya, kecuali aku sendiri. Aku terdiam pasif di tempat dudukku. Teman sebelahku mencoba menenangkanku, tapi raut mukaku yang gemetaran tidak bisa dibohongi. Sempat terlintas di hatiku, berkata, “….wah, jangan-jangan pasporku di tahan nich, karena problem namaku yang rada kearab-araban. Asli, hatiku ngga tenang kala itu. Siapa coba yang akan menolong di tengah-tengah ladang gandum, bila bis dan penumpangnya pergi.” Kenanganku melayang saat aku digeledah habis-habisan oleh Polisi Philipina di Bandara Aquino, Manila, November 2009 lalu. Kala itu aku sendirian ke Manila untuk sebuah event. Kebetulan tahun-tahun itu US dan negara-negara sekutunya sedang ramai-ramainya menelisik orang yang diduga “teroris”. Meski sempat dibawa ke ruang khusus di Badasara selama 1 jam an, namun akhirnya aku dilepaskan pula, karena aku menggertak petugas imigrasi dengan meminta dipanggilkan duta besar Indonesia di Manila dan panitia yang mengudangku ke eventnya.

Dudukku pun tidak tenang dan posisiku berubah-ubah. Terkadang mataku menengok ke depan, sesat kemudian melongok kekiri. Pikiranku membersitkan kalau tanah eropa jangan-jangan tidak ramah bagi kehadiranku. Udara dingin pagi itu ikut juga mendramatisir keadaanku. Namun di tengah-tengah keresahan, mungkin ada sekitar 20 an menit kami menunggu, munculah sang supir dengan menyebut namaku dan memberikan pasportku dengan senyum. “Alhamdulilah, hatiku berbunga dan bayangan akan disandera sendirian di tengah-tengah lembah gandum oleh polisi Ceko hilang seketika”, batinku berucap.

Perjalanan dilanjutkan dan rasa kantuk penumpang yang terganggu pemeriksaan militer Ceko, kini dilanjutkan hingga akhirnya kami terjaga saat pukul 5.30 pagi waktu Munich. Sementara aku, mataku tidak bida dipejamkan lagi. Bayangan kejadian tadi tidak bisa hilang seketika. Saat aku bayangku sedang mengelana ke sana ke mari, tiba-tiba sang Kondektur bus memberi tahu bahwa tujuanku (kota Munich) telah sampai. Suasana sepi namun terasa aman, menghampiri kami di terminal Munich. Terminal dua lantai yang berdampingan dengan stasiun kereta dalam kota, seperti telah berderap hari Jum’at itu. Kami sedikit haru, karena ternyata bisa juga nyampe ke Jerman Barat, meski baru di Munich. Rasa ingin tahu terhadap terminal pun muncul. Kami pergi ke lantai atas sambil mencari toilet untuk membuang hajat kecil yang dari tadi ditahan. Untuk masuk ke toilet, kami harus memasukan uang euro di mesin yang tersedia. Bila kita tidak mempunyai koin, maka sudah tersedia mesin penukar uang kertas di sampingnya. Betul-betul mesin yang bekerja. Sampai wc pun dijalankan mesin. Ini berbeda  dengan WC di Indonesia, dimana yang menjaga manusia sambil ngantuk-ngantuk lagi…ha…ha… WC di terminal itu pun bersih dan harum, sehingga pengunjung merasa nyaman untuk membasuh muka, mandi, gosok gigi, bahkan membuang air besar. Namun kami sekedarnya saja dalam melakukan aktifitas di tolit untuk menghemat waktu.  

Dasar orang Indonesia, pukul 07,00 pagi perut sudah meminta untuk diisi. Kami berjalan di lantai atas di mana pertokoan dan restoran ternyata tersedia, namun masih tutup. Hanya kedai kopi, teh, roti dan Humberger terselip di ujung lantai II terminal bis, yang ternyata menjadi jalan penghubung untuk menuju jalan raya Munich dengan jembatan besi yang indah nan artistic. Saat kami sedang berfoto, eh ada orang Munich mendekat dan meminta kameraku untuk dia membantu mengambilkan gambar bersama temanku. Mungkin dia tahu kalau kami ini turis yang baru nyampe dan sedang terkesima dengan keindahan kota Munich…ha..ha…. Segelas kopi susu menghangatkan badanku, dan 1 potong roti keju membuat semangat kami timbul untuk menelusuri kota Munich, sambil mencari hotel murah kami yang sudah dipesan.

Hampir setengah jam, kami telusuri jalan dan lorong kota Munich, sampai akhirnya menemukan hotel kecil di depan jalan yang sedang diperbaiki. Lokasinya nyempil di antara bangunan yang kami duga adalah apartemen atau kos-kosan, dan di depan sedikit terdapat jalan raya besar yang sedang diperbaiki. Mungkin 10 meter dari hotel itu, terdapat halte trem dalam kota di tengah jalan raya. Merebahkan badan di kamar menjadi solusi pertama setelah bercakap sebentar dengan resepsionis, yang ternyata pemilik hotel dan sudah sepuh. Menurut pengakuannya ia bersama suami mengelola hotel kala pensiun (wah sungguh nikmat ya…). Semoga cerita bermanfaat.

(Cerita berfoto ada di kompasiana: wisata.kompasiana.com/.../dag-dig-dug-di-bus-malam-hungaria-munich- 574518.html)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar