Kamis, 23 Juni 2011, langit Budapest,
Hungaria cenderung putih pucat. Jum’at besok merupakan hari libur, dan sesi
hari Sabtu bebas untuk diikuti mahasiswa short
course di CEU (Central European University). Semenjak Rabu, saya bersama 4
teman Indonesia sudah ribut dalam penentuan akan pergi kemana dua hari itu.
Yang satu berkeinginan ke Vina, kota yang dekat dengan Hungaria. Yang lain
ingin ke Munich, daerah dari Jerman Barat yang tidak jauh dari Budapest bila dilihat
di peta. Setelah berdebat seru, akhirnya kita memutuskan ke Munich atau Munchen.
Kebetulan, seorang kawanku mampu berbahasa Jerman karena ia bekerja di Berlin
selama 2 tahun. Kami pun menimbang-nimbang moda transportasi untuk menuju ke
Munich. Pilihannya; Kereta api (euro
trans) yang nyaman dan bisa memenikmati perjalanan tapi berbiaya sebesar 123
euro sekali jalan
(klu dirupiahin mungkin 1 jutaan), atau bis malam dengan harga ekonomis sebesar
112 euro PP.
Karena kecekakan kantong, bis malam jadi
pilihan. Temanku yang memiliki kartu kredit, memesan bis dan hotel super murah dekat
terminal bis Munich, malam kamis melalui internet. Temanku bilang, “Wah
mataku ampe jileng nich, mempelototin hotel murah di Munich. Satu-persatu aku
cek, ternyata penuh semua. Ya...
akhirnya aku pesen dua kamar yang harganya tidak terlalu murah, namun juga ga
mahal-mahal amat”. Malam kamis itu tiket bis dipesan untuk 5 orang
dan hotel oleh temanku. Oh ya, aku belum cerita siapa saja 5 orang itu. 2
perempuan, yang satu kerja di USAID (ini yang punya kartu kredit), dan yang
satu lagi bekerja di Partnership for Govermance Reform. Sementara 3 orang
laki-laki; satu orang dosen Universitas Paramadina, satunya dosen Universitas Negri
di Padang, dan saya sendiri, traveler amatir (ha..ha…ha…).
Dengan kebulatan tekad dan tiket di
tangan, Kamis siang saat istirahat kami berlima bertemu untuk saling menguatkan
tekad. Saat kami sedang asyik berdiskusi persiapan di depan kantin CUE, dua
orang teman Indonesia berniat ikut sebagai cadangan. Sejatinya kami sudah
menawarkan rencana itu kemarin, namun mereka ragu-ragu.
Karena perasaan sesama Indonesia, dengan
lugu, kami menerimnya. Layaknya bepergian dengan bus di Indonesia, maka para
penumpang berangkat dari terminal untuk menemui armadanya dan sekalian langsung
membeli tiket di loket yang berjejer seperti terlihat di terminal Polu Gadung
atau Rawamangun. Kontras, ini berbeda dengan terminal bus di Budapest (dan
mungkin di negri eropa pada umumnya), yang tidak menjual tiket perjalan di
loket terminal bus. Makanya terminal di sana tidak seramai yang ada di
Indonesia. Terminal layaknya tempat berkumpul lainya. Cafe dan toko kecil
penjual makanan masih terlihat, namun para penumpang tidak “berjubel” dan
duduk-duduk di depan jendela loket (apalagi kalau menjelang mudik,
wah....berkeringat deh...).
Untungnya, dua orang teman Indonesiaku
tidak jadi ikutan dengan menyusul ke terminal tanpa pembelian tiket online
sebelumnya. Penumpang tanpa tiket online, tidak diizinkan masuk terminal bis
malam. Lag-lagi ini memang lain dengan terminal bus Indonesia yang bisa membeli
di loket dan terkadang langsung tembak di atas bus malam. Hati-hati ya, pembaca
yang baru pertama kali traveling secara murah ke Eropa (mudah-mudahan sih sudah ngerti).
Meski mendung, udara lembab terasa
semilir menerpa kulit tubuhku. Tepat pukul 20.00 pm, kami bergegas ke terminal
bus Budapest dengan taksi, untuk menghemat waktu. Bila disamakan dengan waktu
Indonesia bagian barat, mungkin telah memasuki jam 17.00 sore di Indonesia,
dimana cahaya matahari masih menyembul diufuk sungai yang membelah wilyah Budha
dan Pest, di Hongaria. Suasananya tidak sebising terminal di Indonesa. Ia
nyaman, aman (tidak merasa takut), dan tak tampak calo terminal yang biasa
menjadi penjemput awal di pintu gerbang. Jam keberangkatan tiba, kami mengantri
di depan pintu bus bertulis “EURO Train”. Sementara, dua orang supir yang
terkadang bergantian menjadi kondektur dan supir, menunggu di depan pintu bus
meminta tanda pembayaran secara online. Ia tidak mau menerima uang tunai, tapi
secarik kertas dengan kode booking, seperti tiket pesawat online yang kini lagi
marak. Salah seorang darinya ternyata perempuan yang menjadi sopir di
perjalanan malam itu. Sebelum berangkat, seorang laki-laki tinggi (aku duga
dari Jerman) menghitung penumpang di atas kursi duduknya secara cermat. Bahkan
ia – aku kira – menghitungnya hingga berulang-ulang guna timbul keyakinan di
dirinya.
Setelah semunya oke, supir perempuan
memulai mengendarai Bus dengan meyakinkan. Inilah perjalanan darat yang mungkin
– sejatinya – telah ditulis dalam buku-buku baku tentang kelayakan bus dan
jalan rayanya. Jalan dan bis yang kami naiki serasa mulus, dan sepertinya kami
tidak merasakan lobang di jalan, sehingga badan kami harus bergerak ke kiri dan
ke kanan, sebagaiman biasa kami alami saat naik metro mini di
Jakarta…ha…ha..ha. Perjalanan sepertinya akan mulus dan nyaman, karena
pemandangan di kiri dan kanan adalah hamparan ladang gandum yang rapi dan jalanan
mulus seperti tol jagorawi yang memiliki dimana kwalitas aspal nomor
wahid.
Kalau secara teknis perjalanan
(khususnya infra struktur jalan dan kemacetat) tidak menemui kendala berarti.
Aman terkendali. Namun saat kami sedang menikmati perjalanan dengan sedikit
rasa kantuk, kami dikejutkan dengan “grundelan” temanku dari belakang tempat
duduk kami. Ceritanya begini.
Karena kami berlima, maka ada seorang
kawan yang mesti duduk sendirian, karena posisi tempat duduk penumpang berjejer
dua-dua. Teman yang duduk sendirian, ternyata berdampingan dengan bule muda
(kami tidak tahu persis dari mana ia, Hongaria, Phraha atau Jerman Barat).
Posisi duduk dan kesendiriannya ternyata menjadi masalah baginya. Menurutnya –
ia bercerita saat turun dari bis di terminal Munich –, ia tertudur dengan mulut
terbuka dan ngorok. Suaranya membuat ia tidak bisa tenang. Yang parah –
menurutnya -- adalah bau mulutnya yang
tidak bisa digambarkan – mungkin karena saking baunya tuh mulut jadi sulit
dicari padanannya…ha…ha…. “serius, aku ga bisa tidur sepanjang
perjalanan. Selain suara ngoroknya yang keras, bau mulutnya juga membuat
kepalaku pusing kaya terserang vertigo. Baunya sulit untuk didiskripsikan,
karena saking jeleknya itu bau”, ungkap kawanku yg dosen desain universitas
Paramadina, sesaat mendarat di terminal Munich.
Jam menunjukan pukul 01.00 tengah malam.
Semua penunmpang terjaga karena ternyata bus berhenti di pemberhentian. Kami
tidak tahu daerah mana tempat itu. Kami merasa asing dengan lokasi tersebut.
Sang upir bilang berkata kalau kita akan berhenti di sini untuk mengisi bahan
bakar sejenak. Bila diantara penumpang ada yang berniat untuk ke toilet dan
keperluan lainnya dipersilahkan. Kami pun pergi keluar dan menujua ke kamar
kecil. Udara segar menghampiri tubuhku sesat pintu bus terbuka. Dingin namun
segar. Berderet cafe dan restoran kecil berdiri disamping tempat pemberhentian
yang ternyata pom bensin. Kopi dan minum segar hangat pantas menemani kami dan
penumpang lain tengah malam itu. Kira-kira 20 – 30 menit waktu temakan untuk
istirahat, perjalanan pun dilanjutkan kembali. Punumpang pun siap-siap untuk
melelapkan diri kembali. Suasana dingin malam itu mempermudah rasa kantuku
berbuah menjadi tidur lelep di atas kursi bus malam. Diiringi sedikit
percakapan dengan teman di sebelah tanpa terasa tidur mengantarku tanpa terasa.
Sekitar pukul 03.00 an pagi, tiba-tiba
kami dibangunkan secara paksa oleh kondektur dan dua orang berpakain militer.
Dari raut muka dan perawakannya, dua orang militer tersebut berasal dari Ceko
(dulu sih negara itu bernama Cekoslwakia). Mereka ternyata membawa mobil yang
ditaruh disamping Bus. Tampa basa-basi, mereka meminta semua penumpang untuk
mengeluarkan pasport masing-masing. Kami baru sadar, bahwa ternyata kini kami
sudah berada di negara lain (bukan Hongaria lagi), tapi di negara Ceko yang
mungkin masuk dalam perbatasan antara Eropa Barat dan Timur. Dengan dingin satu
polisi berdiri di pintu bus, dan yang lain di depannya. Wajahnya tak
berekpresi. Badannya tinggi tagap, mungkin sekitar 2 meteran. Ia memerintahkan
sang kenek bus (yang laki-laki) untuk mengambil pasport penumpang. Posport pun
diperiksan satu-persatu olehnya.
Pagi itu, aku merasa hatiku bergetar
keras sekali. Sebab kala itu, setelah menunggu 15 menit, hampir semua penumpang
telah menerima passport melalui supirnya, kecuali aku sendiri. Aku terdiam
pasif di tempat dudukku. Teman sebelahku mencoba menenangkanku, tapi raut
mukaku yang gemetaran tidak bisa dibohongi. Sempat terlintas di hatiku,
berkata, “….wah, jangan-jangan pasporku di tahan nich,
karena problem namaku yang rada kearab-araban. Asli, hatiku ngga tenang kala
itu. Siapa coba yang akan menolong di tengah-tengah ladang gandum, bila bis dan
penumpangnya pergi.” Kenanganku melayang saat aku digeledah
habis-habisan oleh Polisi Philipina di Bandara Aquino, Manila, November 2009 lalu.
Kala itu aku sendirian ke Manila untuk sebuah event. Kebetulan tahun-tahun itu
US dan negara-negara sekutunya sedang ramai-ramainya menelisik orang yang
diduga “teroris”. Meski sempat dibawa ke ruang khusus di Badasara selama 1 jam
an, namun akhirnya aku dilepaskan pula, karena aku menggertak petugas imigrasi
dengan meminta dipanggilkan duta besar Indonesia di Manila dan panitia yang
mengudangku ke eventnya.
Dudukku pun tidak tenang dan posisiku berubah-ubah.
Terkadang mataku menengok ke depan, sesat kemudian melongok kekiri. Pikiranku
membersitkan kalau tanah eropa jangan-jangan tidak ramah bagi kehadiranku.
Udara dingin pagi itu ikut juga mendramatisir keadaanku. Namun di tengah-tengah
keresahan, mungkin ada sekitar 20 an menit kami menunggu, munculah sang supir
dengan menyebut namaku dan memberikan pasportku dengan senyum. “Alhamdulilah,
hatiku berbunga dan bayangan akan disandera sendirian di tengah-tengah lembah
gandum oleh polisi Ceko hilang seketika”, batinku berucap.
Perjalanan dilanjutkan dan rasa kantuk
penumpang yang terganggu pemeriksaan militer Ceko, kini dilanjutkan hingga
akhirnya kami terjaga saat pukul 5.30 pagi waktu Munich. Sementara aku, mataku
tidak bida dipejamkan lagi. Bayangan kejadian tadi tidak bisa hilang seketika.
Saat aku bayangku sedang mengelana ke sana ke mari, tiba-tiba sang Kondektur bus
memberi tahu bahwa tujuanku (kota Munich) telah sampai. Suasana sepi namun
terasa aman, menghampiri kami di terminal Munich. Terminal dua lantai yang
berdampingan dengan stasiun kereta dalam kota, seperti telah berderap hari
Jum’at itu. Kami sedikit haru, karena ternyata bisa juga nyampe ke Jerman
Barat, meski baru di Munich. Rasa ingin tahu terhadap terminal pun muncul. Kami
pergi ke lantai atas sambil mencari toilet untuk membuang hajat kecil yang dari
tadi ditahan. Untuk masuk ke toilet, kami harus memasukan uang euro di mesin
yang tersedia. Bila kita tidak mempunyai koin, maka sudah tersedia mesin
penukar uang kertas di sampingnya. Betul-betul mesin yang bekerja. Sampai wc
pun dijalankan mesin. Ini berbeda dengan
WC di Indonesia, dimana yang menjaga manusia sambil ngantuk-ngantuk lagi…ha…ha…
WC di terminal itu pun bersih dan harum, sehingga pengunjung merasa nyaman
untuk membasuh muka, mandi, gosok gigi, bahkan membuang air besar. Namun kami
sekedarnya saja dalam melakukan aktifitas di tolit untuk menghemat waktu.
Dasar orang Indonesia, pukul 07,00 pagi
perut sudah meminta untuk diisi. Kami berjalan di lantai atas di mana pertokoan
dan restoran ternyata tersedia, namun masih tutup. Hanya kedai kopi, teh, roti
dan Humberger terselip di ujung lantai II terminal bis, yang ternyata menjadi
jalan penghubung untuk menuju jalan raya Munich dengan jembatan besi yang indah
nan artistic. Saat kami sedang berfoto, eh ada orang Munich mendekat dan
meminta kameraku untuk dia membantu mengambilkan gambar bersama temanku.
Mungkin dia tahu kalau kami ini turis yang baru nyampe dan sedang terkesima
dengan keindahan kota Munich…ha..ha…. Segelas kopi susu menghangatkan badanku,
dan 1 potong roti keju membuat semangat kami timbul untuk menelusuri kota
Munich, sambil mencari hotel murah kami yang sudah dipesan.
Hampir setengah jam, kami telusuri jalan
dan lorong kota Munich, sampai akhirnya menemukan hotel kecil di depan jalan
yang sedang diperbaiki. Lokasinya nyempil di antara bangunan yang kami duga
adalah apartemen atau kos-kosan, dan di depan sedikit terdapat jalan raya besar
yang sedang diperbaiki. Mungkin 10 meter dari hotel itu, terdapat halte trem
dalam kota di tengah jalan raya. Merebahkan badan di kamar menjadi solusi pertama setelah
bercakap sebentar dengan resepsionis, yang ternyata pemilik hotel dan sudah sepuh. Menurut
pengakuannya ia bersama suami mengelola hotel kala pensiun (wah sungguh nikmat ya…). Semoga
cerita bermanfaat.
(Cerita
berfoto ada di kompasiana: wisata.kompasiana.com/.../dag-dig-dug-di-bus-malam-hungaria-munich-
574518.html)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar