Sebagai penggemar bola, rasanya tidak syah bila nyampe Munchen, namun
saya tidak ke stadion Allianz Arena. Gedung lapangan sepak bola yang
mengkilap bagai terlapisi emas saat malam, dan berbentuk kubus – bagai
belahan ketupat — dengan guratan indah di dinding luarnya. Ia merupakan basecamp
klub kenamaan Jerman, Bayer Munchen. Karena seringnya menjadi juara
Bundesliga (liga utama Jerman), dan dihuni pemain terbaik yang berasal
berbagai negara, ia sering dijuliki FC Hollywood.
Juni sejatinya bukan waktu pas ke Allianz Arena. Karena klub Eropa sedang beristirahat setelah kompentisi sepanjang tahun. Begitu pula Bayer Munchen, mereka sedang off. Stadion pun lenggang dari jadwal pertandingan, baik untuk liga domistik maupun penyisihan liga champion. Sehingga stadion – di bulan Juni — menjadi tempat wisata turis yang berkunjung ke kota Munchen. Saya bersama empat orang teman yang sedang di Munchen sejak 24 Juni 2011, berkesimpulan untuk singgah ke stadion kebanggaan penggila bola kota Munchen.
Kok
aku tidak yakin ya, kalau ini jalan yang tadi diinformasikan petugas di
stasiun. Menurut petugas, habis ini kita mesti naik bus ke arah stadion”, ungkapnya kepada kita semua. Saya yang berdiri persis dihadapannya, juga serba salah. Dalam hatiku, aku berkata,”Apalagi saya. Wong dia saja yang pinter bahasa Jerman bingung”.
Setelah berdiskusi sejenak antar kami, temanku yang lain meyakinkan
kalau kita sudah pada jalan yang benar. Menurutnya kalau kita sudah
yakin, ya sudah kita lanjutkan saja.
Tak terasa kami nyampe di stasiun pemberhentian (saya lupa apa nama daerahnya), seperti yang petugas informasi sampaikan. Temanku yang pandai berbicara Jerman berhenti sebentar di depan stasiun. Ia kelihatan bingung. Itu terlihat dari matanya yang menengok ke kiri dan kanan. “
Tidak tahu kenapa, hatiku berkata bahwa ini sepertinya bukan stadion
markas Bayer Munchen yang dimaksud. Namun suara hati itu, saya tepis
jauh-jauh. Pikirku, ini perasaanku yang belum melihat bentuk stadion
dari dekat. Ternyata benar. Saat kami sampai di depan stadion, ternyata
bukan gedung lapangan sepok bola yang saya maksud. Dari bentuknya saja
berbeda. Stadion lapangan bola milik Bayer Munchen berupa gedung bulat
seperti belah ketupat yang dilapisi emas (itu yang saya baca dan lihat
di siaran liga champion and koran bola). Ini berbeda dengan stadion yang
berada di depanku. Memang sih ia megah, namun bentuknya kayak GBK
(Gelora Bung Karno). Ia memiliki model gedung lapangan sepak bola pada
umumnya.
Benar saja. Saat kereta telah berhenti di stasiun kecil (pemberhentian)
bertuliskan Allianz Arena, terasa sekali “terisolirnya” dari kota
Munchen. Tempat pemberhentian ini nyaman dan bersih. Kala itu lenggang,
karena sedang libur kompetisi. Sesaat keluar dari kereta, kami langsung
berjalan menuju stadion mengikuti petunjuk di stasiun kecil. Jarak
antara stasiun kecil dengan stadion cukup jauh. Mungkin ada setengah
kilo meter. Meski begitu, infra struktur jalannya bagus dan tertata
rapi, serta memiliki pemandangan indah.
Nyampai deh. Itulah kata pertama terucap mulutku saat tiba. “Wuih megah sekali bangunan stadion itu. Artistic dan futuristic. Aku bagai kehilangan kata-kata untuk menggambarkan keindahan stadion itu”,
decaku terkagum. Terlihat dengan jelas bagaimana kerak bagian luar
stadion menampilkan 1056 panel berbentuk belah ketupat, yang
masing-masing dapat diterangi. Dari informasi yang kudapat, bila malam
menjelang bagian luar stadion bisa berwarna merah, biru, dan putih
keemasan. Sehingga pas sekali mirip seperti pola yang bergerak (lihat
deh, profil Allianz Arena di Wikipedia. Saya juga melihatnya saat
menyaksikan pertandingan liga champion bila Bayer Munchen menjadi tuan
rumah).
Karena tidak tahan dengan auranya, saya mendekat pintu masuk ke lapangan
hijau. Ternyata terkunci. Saat saya bertanya kepada pengunjung lain
yang berdiri di depan pintu, saya diwajibkan untuk membayar Rp 15 UERO
untuk bisa berpiknik keliling plus ditemani pemandu. Saat itu, saya
menyaksikan rombongan berkeliling di antara tempat duduk di samping
lapangan rumput. Saya hanya terdiam dan termangu, melihat rombongan
duduk, berdiri dan bertanya dengan leluasa kepada pemandunya. Mereka
merasakan kursi yang biasa diduduki petinggi Bayer Munchen; Karl Hans
Rummannike, Frans Beckenbauer, dsb.
(sumber: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/11/07/lika-liku-ke-allianz-arena-munchen-608434.htm)
Juni sejatinya bukan waktu pas ke Allianz Arena. Karena klub Eropa sedang beristirahat setelah kompentisi sepanjang tahun. Begitu pula Bayer Munchen, mereka sedang off. Stadion pun lenggang dari jadwal pertandingan, baik untuk liga domistik maupun penyisihan liga champion. Sehingga stadion – di bulan Juni — menjadi tempat wisata turis yang berkunjung ke kota Munchen. Saya bersama empat orang teman yang sedang di Munchen sejak 24 Juni 2011, berkesimpulan untuk singgah ke stadion kebanggaan penggila bola kota Munchen.
Meski begitu, walau kami telah berada di
Munchen, bukan perkara mudah untuk menggapainya. Faktanya, kami harus
berjuang menemukan stadion super-modern itu. Mungkin karena kami
mencarinya dengan transportasi umum, seperti; kereta cepat – mungkin
disini KRL – dan disambung bus umum. Walaupun ditunjang dengan seorang
dari kami yang mampu berbahasa Jerman, tetap saja kami berusaha keras
mencarinya. Bahkan beberapa kali, kami nyasar (jadi dapet pengalaman berharga nih..hi…hi…). Begini ceritanya.
Sinar matahari pagi 25 Juni 2011 yang menerpa
badan kami, serasa segar. Kira-kira jam 08.30, setelah sarapan pagi
minimalis di penginapan milik sepasang manula Jerman, kami berjalan
menuju stasiun kereta Munchen Hauptbahnhof (atau biasa disebut Munich Main Station).
Letak stasium kereta dari penginapan bisa ditepuh dengan berjalan kaki.
Kira-kira ada 500 an meter. Karena teras jalan yang lebar, dan berbagai
pertokoan memenuhi kiri-kanan jalan, perjalanan kami menuju stasiun tak
terasa. Bahkan aktiftas jalan pagi itu begitu menyehatkan badan.
Sesampai di sana, kami mengecek arah stadion
sepak bola milik Bayer Munchen. Stasiun terlihat ramai. Karena memang ia
merupakan salah satu stasiun besar di Jerman yang mensupport layanan regional dan internasional. Ia juga dekat dengan lokasi pusat perbelanjaan “Marienplatz” (kapan-kapan nanti kuceritakan daerah ini….).
Perlahan penumpang berdatangan ke stasiun. Mereka menyemut di depan papan jadwal dan arah tujuan kereta. Saya mengecek papan dengan teliti. Beberapa arah tujuan ke stadion sepak
bola, saya pelototi. Sayang, kok tidak kudapat arah tersebut. Satu per
satu tujuan itu saya cek ulang guna meyakinkan diri. Tetap saja, saya
tidak mendapatkan arah – ataupun kira-kira yang saya duga – ke stadion
Bayer Munchen. “Masa stadion klub ternama di kota Munchen, tidak tertera di papan tujuan kereta. Huh..?” protesku dalam hati.
Karena tidak yakin dengan pengamatan sendiri,
kawanku yang mampu berbahasa Jerman, pergi ke “information center”. Di
situ, pengunjung sudah ngantri untuk meminta penjelasan tambahan.
Giliran kawanku bertanya kepada petugas layanan informasi. Sekitar 5
menit, mereka habiskan untuk bertanya arah menuju stadion Bayer Munchen.
Saya tidak mengikuti temanku saat berdiskusi dengan petugas, sehinggat
tidak tahu apa yang dibicarakan. Hingga akhirnya ia bilang, “Oke. Saya sudah tahu arahnya. Mari kita naik kereta listrik, terus sambung lagi dengan bus kota menuju Olympiapark”.
Bersama empat teman lain, saya bergegas ke
samping kereta yang tiba setiap lima belas menit. Kereta listrik melaju
cepat sekali. Pemandangan kiri dan kanan disuguhi bangunan rumah
perkampungan khas eropa, namun terkadang tembok penghalang rel
bawah-tanah. Kereta listrik yang kami tumpangi bersih dan nyaman.
Kursi-kursi penumpang terasa nyaman. Saya sering tak sadar, dan tertidur
dalam dudukku, padahal kereta sedang melaju cepat. Kereta di pagi hari
sedikit sesak, namun tidak seperti KRL jebodetabek di waktu itu, dimana
manusia kayak ikan ditumpuk-tumpuk dalam gerbong (ya…itung-itung pengalaman probadi saat bolak-balik Cawang-Depok).
Tak terasa kami nyampe di stasiun pemberhentian (saya lupa apa nama daerahnya), seperti yang petugas informasi sampaikan. Temanku yang pandai berbicara Jerman berhenti sebentar di depan stasiun. Ia kelihatan bingung. Itu terlihat dari matanya yang menengok ke kiri dan kanan. “
Sesuai petunjuk – dari teman berbahasa Jerman
–, kami harus keluar dari stasiun. Dari situ, kami menyeberang jalan
melalui under pas (atau trowongan jalan yang berada di bawah jalan
raya). Nah, tempat pemberhentian bus berada pas di sebelahnya. Dari situ
kami naik bus menuju ke Olympiapark, Munchen. Begitu kami
memasuki komplek areal stadion, terasa sekali kerindangan pohonan. Di
sebalah kiri dan kanan berbagai halaman rumput dan pohon tumbuh bebas
dan indah. Sementara di sudut lain, danau kecil melengkapi keindahan
areal stadion. Bus berhenti di selter di dalam areal komplek stadion.
Dengan sedikit bertanya, kami ditunjukan stadion bola yang berada
kira-kira 15 meter di depan kami.
Setelah bertanya kepada pengunjung sekitar,
ternyata benar. Bahwa bangunan yang kami singgahi adalah stadion yang
pernah menjadi perhelatan Olimpiade di tahun 1972 dengan kapasitas
sebesar 69.250. Memang sih, pada zaman dulu stadion ini merupakan
kandang FC Bayer Munchen dan TSV 1860 Munchen hingga 30 Mei 2005. Namun
semenjak 2005, Bayer Munchen berpindah kepada stadion baru yang
dinamakan “Alianz Arena” (ini nama stadion yang kumaksud). Stadion ini
berada dalam satu komplek olahraga bernama Olympiapark München. Menurut
catatan sejarah, olimpiade ke 20 yang berlangsung musim panas itu
dinodai dengan “tragedy Munchen”. Dimana tgl 5 September 1972,
sekelompok teroris terdiri dari orang Palestina menyandera dan membunuh
11 atlet Israel. Peritiwa ini, dengan sangat apik diangkat Steven
Spielberg dalam film berjudul “Munich” (tahun 2005). Akibatnya seluruh
acara alimpiade ditunda satu hari. Ihh..ngeri ya…
Temanku terlihat kecapaian. Mereka pasrah. “Sudah lah kita ngga usah ke stadion Allianz Arena”,
begitu keluhnya. Yang lain terlihat mengamini. Namun begitu, saya tetap
bersikeras untuk tetap mencari stadion markaz Bayer Munchen. Mumpung
kita sudah nyampe kota Munchen, begitu penegasanku. Menurutku petugas
informasi di statsiun Hauptbahnhof tidak salah. Ia menujukan stadion
sepak bola dimana klub Bayer Munchen pernah bermarkaz. Namun itu dahulu
sebelum tahun 2005. Kini stadion sepak bolanya sudah berpindah. Dan
sepengetahuanku, stadion Allianz Arena (milik Bayer Munchen) merupakan
salah satu stadion yang bernilai artistik dan futuristic dengan ornament
lapisan emas yang indah. Dengan bayangan seperti itu, saya tetap ngotot
ke sana. Artinya, kita mesti balik ke statsiun Hauptbahnhof dimana awal
berangkat.
Sedikit kecewa terlihat dari raut muka kawan-kawan. Cepek. Lelah. Mungkin hanya saya yang masih menyemangati diri untuk mencari asa. Sesampai di stasiun Hauptbahnhof, alamat yang
harus dituju adalah Allianz Arena, untuk menghindari kesalahpahaman
dengan stadion lain. Makanya, kami tidak mau bertanya lagi ke bagian
information center. Saat sedang bingung – karena tidak tahu kemana harus
bertanya –, kami mendapati pemuda yang kelihatannya – dalam padangan
kami – suka sepak bola. Dalam pikiran kami, sudah pasti orang ini
mengetahui markaz Bayer Munchen. Setelah kami menjelaskan panjang lebar –
diikuti dengan berbagai mimic dan gerakan bola ha..ha…–, Alhamdulillah,
pemuda itu menunjukan plang kecil di papan nama arah tujuan. Tertera di
situ tujuan “Allianz Arena”. Itu tok tulisannya (simple amat ya….).
Pemuda itu mencoba menjelaskan kepada kami dengan bahasa campuran;
Inggris dan Jerman. Ia berkta, “Apakah tulisan itu yang anda maksudkan?”. Begitu melihatnya, kami serentak menjwab ,”Yes. Itu yang kami cari!!”.
Saat itu waktu menunjukan jam 15.00 sore. Udara
panas yang sedari tadi menyengat badan, kini telah bercampur mendung.
Sehingga panas namun lembab. Untunglah, semilir angin turut memompa
semangat kami – berkat informasi seorang pemuda. Wajah sumringah, mata
berbinar, mengiringi langkah kami menuju tempat pemberhentian kereta
guna menuju Allianz Arena. Ada sekitar 25 menit kami tempuh dari stasiun
Hauptbahnhof, menuju distrik Fröttmaning (daerah Allianz Arena stadion
berada), terletak di sebelah utara kota Munchen. Begitu kereta keluar
kota Munchen, terasa suasana pedesaan yang kental. Pepohonan terlihat di
kiri dan kanan. Sawah dengan tanaman gandum terhampar luas di hadapan
laju kereta. Jarak permukiman rumah penduduk antara satu dgn yang lain
longgar. Kelihatannya, Allianz Arena terletak jauh dari perkotaan
Munchen. Buktinya, dengan kecapatan KRL hampir 50 km per jam, kami
menempuhnya dengan waktu 30 menit.
Saat kami keluar dari bangunan stasiun kecil,
terhampar tanah lapang luas sekali. Itulah areal yang menghubungkan
antara stasiun dan Allianz Arena. Kulihat suasananya lenggang, dan tidak
ada bangunan lain selain Allianz Arena yang berdiri gagah jauh dari
hadapanku. Terlihat disudut lain, kincir angin (seperti kipas angin
raksasa) yang memutar dengan kencang, karena diterpa hembusan angin
kencang. Mungkin itu teknologi tenaga lestrik dari angina buat
penerangan.
Tak terasa, saat langkahku berada di tengah
jalan, tiupan angin menerpa pipi dan badan kencang sekali. Rambutku ikut
bergoyang meski kecil (karena rambutku kan rada ikal…ha..ha….). Udara
panas yang belum berkurang sengatannya, sedikit berkurang karena terpaan
angin. Meski Allianz Arena terletak jauh dari stasiun pemberhentian,
kami tetap semangat menggapainya. Terlihat beberapa orang pengunjung
yang sama dengan kita. Mereka juga berjalan kelelahan. Nafas kami
“ngos-ngos”an sore itu. Namun begitu bangunan Allianz Arena makin jelas
terlihat, semangat membumbung tinggi kembali. Tampak di hadapan gedung,
arena parkir kendaraan tersedia rapi, baik yang di baseman maupun di
atasnya.
Saya memotretnya dengan berbagai sudut. Karena
waktu dah sore, pengunjung stadion menyisakan beberapa pengunjung. Toko
sovenir yang berada di depan stadion namun menyatu dengannya,
meninggalkan dua toko yang masih terbuka. Karena takut tutup, kami
menuju ke sana. Terpampang ornament bola; gelas, slayer, jersey, asbak,
dsb. Saat kulihat uang uero di dompet, ternyata hanya menyisakan
beberapa lembar. Untuk menghemat, saya membeli gelas kecil bertulis “TSV
1860 Munchen” sebagai kenang-kenangan. Sementara slayer lipat bola
bertulis Bayer Munchen – seperti biasa dipakai Arjen Roben (pemain bayer
munchen) – berharga 15 UERO. “Wah mahal banget”, gumanku dalam hati. Kuputuskan tidak membelinya. “Nanti saja, pas nyampe pertokoan di Marienplatz, saya akan membelinya. Yang penting kan sudah ke stadionnya ha..ha”,
pikirku. Sementara dua orang temanku membelinya. Berbekal slayer
pinjeman teman, saya bergaya di dalam foto (bergaya sedikit lah meski
dengan slayer pinjaman…ha…ha…).
Tidak mau berlama-lama di toko sovernir, saya
beranjak ke dalam stadion — tapi tidak pas di kursi samping lapangan.
Saya berkeliling di samping tempat duduk yang berjejer rapi sakali dan
bersih nan cantik. Melihat dengan mata dari dekat, ternyata jarak antara
tempat duduk dengan lapangan hijau, terasa dekat sekali. Mungkin tidak
ada 5 meteran. Saya tertegun melihat rumput hijau nan rapi, begitu
cantik dan mempesona. Saya terhipnotis. Seolah-olah di depan
saya sedang berlari pemain Bayer Munchen mengejar bola. Aura sorak-sorai
penonton begitu terasa di dalam stadion.
Karena tidak diperkenankan masuk lapangan,
akhirnya saya pergi keluar menikmati keindahan stadion. Stadion yang
dibangun dengan arsitek Herzog dan de Meoron dari Swiss, berada di atas
hamparan tanah lapang yang luas sekali. Bangunan indah ini menjadi
satu-satunya gedung di tengah-tengah hamparan lapangan. Sayangnya,
pepohonan tidak banyak menghiasi sekitar stadion Allianz Arena, tidak
kayak di GBK yang mirip hutan tropis menjadi pagar betisnya.
Suasana gelap beranjak turun pelan-pelan.
Pertanda senja hendak menjemput malam. Setelah puas mengeksplorasi
keindahan dan kemegahan serta kegagahan stadion, saya berjalan pulang
menuju stasiun kecil. Dalam perjalanan pulang – yang melelahkan karena
lumayan jauh – kumerenung sambil-lalu. Bila dipikir-pikir klub Bayer
Munchen sangat memperhatikan fansnya. Semua sisi yang akan menuju ke
arah stadion dibuat nyaman dan easy-acces. Sarana public
transportasi seperti kereta, tramp, bus, dsb, seolah menyatu guna
menyokong Allianz Arena. Jadi, meski jauh dari kota Munchen (yaitu di
sebelah utara kota), tetap saja setiap pertandingan dipenuhi penonton.
Penonton dari berbagai kalangan dengan mudah menjangkau stadion.
Berbagai fasilitas pun terpenuhi di areal komplek stadion.
Mudah-mudahan stadion sepak bola di Indonesia
akan menuju ke arah sana. Stadion tidak mesti berada di tangah kota –
seperti GBK, nanti malah membuat macet. Bahkan, ia lebih baik jauh dari
perkotaan, sehingga perekonomian wilayah itu bisa menggeliat. Namun
infrastruktur penunjangnya harus saling mendukung. Kapan ya itu…..? Tanya saja pada rumput yang bergoyang…ha..ha…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar