Suntuk juga selama 8 hari (dari 10 hari perencanaan) di
Budapest, Hungary, saya tidak ke mana-mana. Setiap hari, saya mendekam antara
kampus CEU (Central European University) dan penginapan. Saya tinggal di
penginapan – namun dilabeli hotel – bernama hotel “Mendoz”. Ia terletak di
sela-sela bangunan apartemen-tinggal bagi warga Hongaria yang berjarak
kira-kira 300 meter menuju CEU. Bagusnya, penginapan ini dimiliki organisasi
buruh negri itu.
Suasana kota Budapest sangat indah dan syahdu, sayangnya
saya lewati begitu saja. Seperti suasana pagi hari, saat matahari mulai
bersinar di ufuk timur, saya pandangi selintas sambil lalu seiring perjalananku
menuju kampus untuk kuliah pagi. Sementara saat sore menjelang, saya juga mengabaikan
keindahan bangunan tua eksotis (termasuk aula teater yang megah) di sepanjang
jalan raya Budapest, castil yang
menjulang tinggi – yang terletak beberapa meter dari kampus --, untuk langsung
bergegas pulang ke penginapan dengan berjalan kaki.
Panorama sunset
(matahari tenggelam) di ufuk barat, yang sejatinya nampak indah bila dilihat
dari tepian sungai Donau (atau Danube) – dan baru disadari saat saya akan
kembali ke Indonesia – dianggurkan begitu saja. Saya menganggap fenomena itu biasa
saja, seperti ketenggelamnnya juga di kampungku di Jawa. Dimana terbit dan terbenamnya
matahari merupakan hukum alam yang biasa terjadi. Sempat juga sih, terfikir
olehku bahwa sungai yang terbentang di Budapest merupakan salah satu pemadangan
terindah di antara sungai-sungai di dunia. Teman satu kelas, Falak, perempuan bergerudung dari
Yordania, pernah bilang bahwa pemandangan sekitar sungai Donau merupakan karya
ilahi yang indah. Kala itu, saya menanggapinya biasa-biasa saja. “it is very romantic river, exactly”, begitu ia ungkapkan meyakinkan.
Hingga akhirnya ujung waktu short course (kurus singkat) di CEU tiba. Tgl 18 Juni 2011,
merupakan hari akhir saya masuk kelas. Sore setelah kuliah selesai, para
pengajar tiba-tiba mengajak mahasiswa
untuk bersama-sama pergi ke sungai Donau. Ia berjarak kira-kira 30 meter
dari kampus. “Hore!!! akhirnya kita bersama-sama
bisa menikmati sungai yang romatis, “ teriak mahasiswa serentak. Saya kaget,
kok semua mahasiswa bersorak setelah sesi sore itu. Saat saya tanya perihal
kegirangan mahasiswa, salah seorang menjawab bahwa para dosen mengajak
menikmati senja di sungai Donau. Wajahku biasa saja, karena memang saya masih
mengaggap sungai Donau layaknya sunga-sungai lain. Yang menarik hasratku untuk
bergabung adalah adanya “small party”
diatas kapal-sedang yang berlayar di atas sungai tersebut.
Hanya 10 menit, waktu tempuh menuju sungai Donau. Saat saya
mendekat sungai beberapa meter itulah kekagumanku muncul. “Wuih, cantik sekali sungai ini. ia memang memiliki pemandangan yang berbeda
dengan sungai lain,” kataku membatin. Sungai tersebut memilki panjang labar
yang luas (saya lupa berapa luasnya) dan
mempunyai aliran air yang tenang. Kalem menghanyutkan (buktinya tidak ada
manusia yang berenang). Tata letaknya yang begitu indah dan – kelihatannya – pemerintah
Hongaria sengaja membangunnya secara terstruktur, sehingga terlihat menyatu dengan
berbagai infrastruktur sekitarnya. Jalan raya (baik untuk kendaraan umum dan
bus), rell besi untuk tramp, serta teras pejalan kaki, menyatu dalam tatanan
aristektur yang rapi. Sehingga pemerintah kota Budapest dengan luas 525,16 km² dan berpenduduk
1.695.000 jiwa (di tahun 2005) dengan dibagi menjadi 23 distrik, sangat spesial
perhatiannya terhadap sungai Donau.
Perhatian besar pemerintah terhadap tata letak sungai, karena
memang ia menjadi pembelah dua kota bersebelahan antara Obuda (sisi barat) dan Pest (sisi timur) sejak tahun
1873. Dua daerah itu disambung dengan jembatan besi yang artistic
menghubungkannya. Maka tak heran, bila foto-foto Budapest terkadang
mengandalkan ornamen jembatan besi nan indah sebagai background nya. Selain jalur transportasi yang menyatu, panorama di
sekitar sungai bagai menyihir manusia dan makhluk lainnya menjadi sangat
romatis (hi..hi...mungkin enak untuk membikin
lagu dan puisi kali ya...). Dengan keeksotikan bangunan tua dan bersejarah
yang berada di Budapest, terus dipadu dengan tektur sungai Donau, maka tak
heran bila sejak 1987, kota Budapest ditahbiskan UNESCO sebagai warisan dunia
yang harus dilindungi.
Saat saya berdiri persis di bibir sungai, aroma keromantisnya
tercium. Air sungai tenang. Angin di sekitar sungai semilir sepoi-sepoi
menampar halus pipi dan kulit tanganku. Sejuk sekali sore itu. Pandangan bibir
sungai yang terhiasi dan dipenuhi kursi beraneka model menambah syahdu suasana.
Parkir kendaraan di samping sungai tertata rapi. Sudut padang matahari yang
bergerak untuk tenggelam terlihat jelas dari kursi di samping sungai. “Aduh..romantis banget sore ini”, seru Jhone, teman satu kelas dari Somalia (dalam bahasa Inggris logat
Afrika). Muda-mudi penduduk Hongaria pun memanfaatkan sore itu dengan duduk
santai di kursi yang tersedia. Bahkan salah seorang dari mereka tidak malu-malu
mengungkapkan rasa sayang kepada pasangannya dengan kecupan romantis. So sweet.
Wuih…indahnya dunia ini (ha..ha…kita yang melihat jadi iri nih…).
Kapal-kapal indah berukuran sedang sudah bersiap di tepi
sungai. Mereka telah berhias guna menunggu penyewa di tepi sungai. Untungnya, pihak
kampus sudah memesan kapal yang sesuai dengan jumlah peserta yang ikut party. Saya melangkah ke dalam kapal
melalui jalan-kecil dari besi yang mengubungkan antara tepi-daratan dengan
kapal. Mungkin seperti dermaga kecil bagi kapal-kapal persewaan. Setelah semua
penumpang berada di kapal, sang nahkoda menjalankannya pelan-pelan menjauh ke
tengah sungai.
Sekitar 10 menit berlayar, suasana riuh renyah bergelora di
kapal yang tersusun dua tingkat. Penumpang asyik saling berbincang antara
sesama. Ada yang duduk di atas kursi yang tersusun cantik, ada pula yang
langsung ke dek atas kapal di lantai dua. Semua pemandangan di atas kapal, baik
yang di lantai I dan II memiliki keindahannya sendiri. Suasana begitu hangat
dan kekeluargaan. Semua penumpang berceria dan tertawa sesuai topic
pembicaraannya. Minuman dan makanan kecil muncul dibawa pelayan kapal, seriing
dengan perjalanan kapal makin menjauh.
Sinar matahari yang kian meredup, menyisakan pelan-pelan
bayangan diujung barat yang masuk melalui jembatan yang membelah dua kota. Sinar matahari yang semu
kemerah-merahan muda (karena sudah sore) menyisir jendela kapal dimana kepala para
penumpang sedang menyender. Suasana di dalam kapal masih terlihat terang meski
lampu-lampu belum dinyalakan. Namun lama kelamaan petugas kapal memencet tombol
salah satu lampu di sebelah kiri meja minuman karena redup mulai muncul.
Setelah
puas dengan obrolan bersama kawan dari Armenia, saya menuju ke atas dek kapal
di lantai dua. Saya sengaja pergi karena setelah diperhatikan, ia sepertinya
sedang berkawan dekat dengan perempuan muda sesama negaranya. 9 hari di
Budapest membuatnya semakin dekat. Bulir-bulir asmara –kelihatannya-- secara
otomatis tumbuh di antaranya. Itu terlihat jelas dari pandangan sang perempuan
kepada si pria -- yang memang tampan – dengan aroma cinta (sok tahu ya
saya..ha..ha…). Mereka duduk dalam jarak yang dekat, bahkan saling menempel.
Untuk merahasiakan obrolannya, mereka terkadang berbicara dengan bahasa
negaranya, sehingga saya tidak memahaminya. Namun gesturnya tidak bisa
dibohongi. Sebodo amat, pikirku. “It is
not my bussiness”, gumanku lirih.
Serasa
seperti di film “Tetanic”, saat saya sudah berada di atas dek kapal. Indah
sekali pemandanganya. Angin yang menerpa wajah dan rambuktu begitu lembut
terasa. Untung sekali, saya bisa menyaksikan peristiwa tenggelamnya matahari secara
pelan di ujung Barat arah sungai. Eksotis. Romantis. Alam sekitarnya terlihat
seksi sekali. Sambil menenggak minuman segar, saya meneruskan ngobrol ringan
dengan kawan Polandia. Dia bercerita tentang kondisi negaranya yang baru lepas
dari perang saudara. Kini, negaranya sedang berbenah untuk mencari tatanan yang
mumpuni guna menyejahterakan rakyat.
Berbagai
pemandangan saya saksikan dari atas dek itu. Bangunan-bangunan megah nan
bersejarah berjejeran di tepi sungai Donau. Salah satunya, kantor parlemen yang
kokoh berdiri pas di sudut depan kapal kami yang sedang berlayar pelan. Gagah
sekali dan beraroma magis. Ia begitu kokoh dengan arsitektur klasik (mungkin
khas eropa tengah) yang disinari lampu-lampu indah saat petang datang.
Pikiranku berujar, “ Wah kalau posisi
kantor parlemen berada di tepi sungai, maka rakyat bila akan berdemo pasti kesulitan.
Mereka harus berlayar dengan kapal kali ya…”.
Jembatan
yang membelah dua daerah itu pun terlihat macho. Saya merasakan saat melihatnya
dari kapal kala melintas persis di bawah jembatan. Ia terbuat dari besi dengan
arsitektur klasik nan artistic. Seolah aroma peninggalan masa lalu dari suku
Hun – dalam sejarah termaktub bahwa masyarakatnya berasal dari suku Hun – masih
terasa hingga sekarang.
Hingga
akhir pelayaran senja itu, saya tersuguhi keeksotikan pemandangan dan tata
laksana bangunan yang indah nan cantik. Negara Hongaria (atau Hungary)
betul-betul memandang sungai Donau sebagai aset. Pemerintah setempat selalu
merawat dan memeliharanya dengan mengintegrasikan berbagai elemen yang berada
di sekitarnya. Sehingga bangunan dan infrasturktur sekelilingnya saling
mendukung. Buah karya yang tercipta dari kecintaan terhadap sungai, adalah
suasana “romantis” dan aura “kedamaian” terhadap manusia yang memandangnya.
(Pernah dimuat di http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/10/28/senja-di-sungai-donau-budapest-605501.html)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar