Jumat, 08 November 2013

Senja di Sungai Donau, Budapest


Suntuk juga selama 8 hari (dari 10 hari perencanaan) di Budapest, Hungary, saya tidak ke mana-mana. Setiap hari, saya mendekam antara kampus CEU (Central European University) dan penginapan. Saya tinggal di penginapan – namun dilabeli hotel – bernama hotel “Mendoz”. Ia terletak di sela-sela bangunan apartemen-tinggal bagi warga Hongaria yang berjarak kira-kira 300 meter menuju CEU. Bagusnya, penginapan ini dimiliki organisasi buruh negri itu.
Suasana kota Budapest sangat indah dan syahdu, sayangnya saya lewati begitu saja. Seperti suasana pagi hari, saat matahari mulai bersinar di ufuk timur, saya pandangi selintas sambil lalu seiring perjalananku menuju kampus untuk kuliah pagi. Sementara saat sore menjelang, saya juga mengabaikan keindahan bangunan tua eksotis (termasuk aula teater yang megah) di sepanjang jalan raya Budapest, castil yang menjulang tinggi – yang terletak beberapa meter dari kampus --, untuk langsung bergegas pulang ke penginapan dengan berjalan kaki.

Panorama sunset (matahari tenggelam) di ufuk barat, yang sejatinya nampak indah bila dilihat dari tepian sungai Donau (atau Danube) – dan baru disadari saat saya akan kembali ke Indonesia – dianggurkan begitu saja. Saya menganggap fenomena itu biasa saja, seperti ketenggelamnnya juga di kampungku di Jawa. Dimana terbit dan terbenamnya matahari merupakan hukum alam yang biasa terjadi. Sempat juga sih, terfikir olehku bahwa sungai yang terbentang di Budapest merupakan salah satu pemadangan terindah di antara sungai-sungai di dunia. Teman satu kelas, Falak, perempuan bergerudung dari Yordania, pernah bilang bahwa pemandangan sekitar sungai Donau merupakan karya ilahi yang indah. Kala itu, saya menanggapinya biasa-biasa saja. “it is very romantic river, exactly”, begitu ia ungkapkan meyakinkan.

Hingga akhirnya ujung waktu short course (kurus singkat) di CEU tiba. Tgl 18 Juni 2011, merupakan hari akhir saya masuk kelas. Sore setelah kuliah selesai, para pengajar tiba-tiba mengajak mahasiswa  untuk bersama-sama pergi ke sungai Donau. Ia berjarak kira-kira 30 meter dari kampus. “Hore!!! akhirnya kita bersama-sama bisa menikmati sungai yang romatis, “ teriak mahasiswa serentak. Saya kaget, kok semua mahasiswa bersorak setelah sesi sore itu. Saat saya tanya perihal kegirangan mahasiswa, salah seorang menjawab bahwa para dosen mengajak menikmati senja di sungai Donau. Wajahku biasa saja, karena memang saya masih mengaggap sungai Donau layaknya sunga-sungai lain. Yang menarik hasratku untuk bergabung adalah adanya “small party” diatas kapal-sedang yang berlayar di atas sungai tersebut.

Hanya 10 menit, waktu tempuh menuju sungai Donau. Saat saya mendekat sungai beberapa meter itulah kekagumanku muncul. “Wuih, cantik sekali sungai ini. ia memang memiliki pemandangan yang berbeda dengan sungai lain,” kataku membatin. Sungai tersebut memilki panjang labar yang luas (saya lupa berapa luasnya)  dan mempunyai aliran air yang tenang. Kalem menghanyutkan (buktinya tidak ada manusia yang berenang). Tata letaknya yang begitu indah dan – kelihatannya – pemerintah Hongaria sengaja membangunnya secara terstruktur, sehingga terlihat menyatu dengan berbagai infrastruktur sekitarnya. Jalan raya (baik untuk kendaraan umum dan bus), rell besi untuk tramp, serta teras pejalan kaki, menyatu dalam tatanan aristektur yang rapi. Sehingga pemerintah kota Budapest dengan luas 525,16 km² dan berpenduduk 1.695.000 jiwa (di tahun 2005) dengan dibagi menjadi 23 distrik, sangat spesial perhatiannya terhadap sungai Donau.

Perhatian besar pemerintah terhadap tata letak sungai, karena memang ia menjadi pembelah dua kota bersebelahan antara Obuda (sisi barat) dan Pest (sisi timur) sejak tahun 1873. Dua daerah itu disambung dengan jembatan besi yang artistic menghubungkannya. Maka tak heran, bila foto-foto Budapest terkadang mengandalkan ornamen jembatan besi nan indah sebagai background nya. Selain jalur transportasi yang menyatu, panorama di sekitar sungai bagai menyihir manusia dan makhluk lainnya menjadi sangat romatis (hi..hi...mungkin enak untuk membikin lagu dan puisi kali ya...). Dengan keeksotikan bangunan tua dan bersejarah yang berada di Budapest, terus dipadu dengan tektur sungai Donau, maka tak heran bila sejak 1987, kota Budapest ditahbiskan UNESCO sebagai warisan dunia yang harus dilindungi.

Saat saya berdiri persis di bibir sungai, aroma keromantisnya tercium. Air sungai tenang. Angin di sekitar sungai semilir sepoi-sepoi menampar halus pipi dan kulit tanganku. Sejuk sekali sore itu. Pandangan bibir sungai yang terhiasi dan dipenuhi kursi beraneka model menambah syahdu suasana. Parkir kendaraan di samping sungai tertata rapi. Sudut padang matahari yang bergerak untuk tenggelam terlihat jelas dari kursi  di samping sungai. “Aduh..romantis banget sore ini”, seru Jhone, teman satu kelas dari Somalia (dalam bahasa Inggris logat Afrika). Muda-mudi penduduk Hongaria pun memanfaatkan sore itu dengan duduk santai di kursi yang tersedia. Bahkan salah seorang dari mereka tidak malu-malu mengungkapkan rasa sayang kepada pasangannya dengan kecupan romantis. So sweet. Wuih…indahnya dunia ini (ha..ha…kita yang melihat jadi iri nih…).

Kapal-kapal indah berukuran sedang sudah bersiap di tepi sungai. Mereka telah berhias guna menunggu penyewa di tepi sungai. Untungnya, pihak kampus sudah memesan kapal yang sesuai dengan jumlah peserta yang ikut party. Saya melangkah ke dalam kapal melalui jalan-kecil dari besi yang mengubungkan antara tepi-daratan dengan kapal. Mungkin seperti dermaga kecil bagi kapal-kapal persewaan. Setelah semua penumpang berada di kapal, sang nahkoda menjalankannya pelan-pelan menjauh ke tengah sungai.

Sekitar 10 menit berlayar, suasana riuh renyah bergelora di kapal yang tersusun dua tingkat. Penumpang asyik saling berbincang antara sesama. Ada yang duduk di atas kursi yang tersusun cantik, ada pula yang langsung ke dek atas kapal di lantai dua. Semua pemandangan di atas kapal, baik yang di lantai I dan II memiliki keindahannya sendiri. Suasana begitu hangat dan kekeluargaan. Semua penumpang berceria dan tertawa sesuai topic pembicaraannya. Minuman dan makanan kecil muncul dibawa pelayan kapal, seriing dengan perjalanan kapal makin menjauh.

Sinar matahari yang kian meredup, menyisakan pelan-pelan bayangan diujung barat yang masuk melalui jembatan yang membelah dua kota. Sinar matahari yang semu kemerah-merahan muda (karena sudah sore) menyisir jendela kapal dimana kepala para penumpang sedang menyender. Suasana di dalam kapal masih terlihat terang meski lampu-lampu belum dinyalakan. Namun lama kelamaan petugas kapal memencet tombol salah satu lampu di sebelah kiri meja minuman karena redup mulai muncul.

Setelah puas dengan obrolan bersama kawan dari Armenia, saya menuju ke atas dek kapal di lantai dua. Saya sengaja pergi karena setelah diperhatikan, ia sepertinya sedang berkawan dekat dengan perempuan muda sesama negaranya. 9 hari di Budapest membuatnya semakin dekat. Bulir-bulir asmara –kelihatannya-- secara otomatis tumbuh di antaranya. Itu terlihat jelas dari pandangan sang perempuan kepada si pria -- yang memang tampan – dengan aroma cinta (sok tahu ya saya..ha..ha…). Mereka duduk dalam jarak yang dekat, bahkan saling menempel. Untuk merahasiakan obrolannya, mereka terkadang berbicara dengan bahasa negaranya, sehingga saya tidak memahaminya. Namun gesturnya tidak bisa dibohongi. Sebodo amat, pikirku. “It is not my bussiness”, gumanku lirih.

Serasa seperti di film “Tetanic”, saat saya sudah berada di atas dek kapal. Indah sekali pemandanganya. Angin yang menerpa wajah dan rambuktu begitu lembut terasa. Untung sekali, saya bisa menyaksikan peristiwa tenggelamnya matahari secara pelan di ujung Barat arah sungai. Eksotis. Romantis. Alam sekitarnya terlihat seksi sekali. Sambil menenggak minuman segar, saya meneruskan ngobrol ringan dengan kawan Polandia. Dia bercerita tentang kondisi negaranya yang baru lepas dari perang saudara. Kini, negaranya sedang berbenah untuk mencari tatanan yang mumpuni guna menyejahterakan rakyat.

Berbagai pemandangan saya saksikan dari atas dek itu. Bangunan-bangunan megah nan bersejarah berjejeran di tepi sungai Donau. Salah satunya, kantor parlemen yang kokoh berdiri pas di sudut depan kapal kami yang sedang berlayar pelan. Gagah sekali dan beraroma magis. Ia begitu kokoh dengan arsitektur klasik (mungkin khas eropa tengah) yang disinari lampu-lampu indah saat petang datang. Pikiranku berujar, “ Wah kalau posisi kantor parlemen berada di tepi sungai, maka rakyat bila akan berdemo pasti kesulitan. Mereka harus berlayar dengan kapal kali ya…”.

Jembatan yang membelah dua daerah itu pun terlihat macho. Saya merasakan saat melihatnya dari kapal kala melintas persis di bawah jembatan. Ia terbuat dari besi dengan arsitektur klasik nan artistic. Seolah aroma peninggalan masa lalu dari suku Hun – dalam sejarah termaktub bahwa masyarakatnya berasal dari suku Hun – masih terasa hingga sekarang.

Hingga akhir pelayaran senja itu, saya tersuguhi keeksotikan pemandangan dan tata laksana bangunan yang indah nan cantik. Negara Hongaria (atau Hungary) betul-betul memandang sungai Donau sebagai aset. Pemerintah setempat selalu merawat dan memeliharanya dengan mengintegrasikan berbagai elemen yang berada di sekitarnya. Sehingga bangunan dan infrasturktur sekelilingnya saling mendukung. Buah karya yang tercipta dari kecintaan terhadap sungai, adalah suasana “romantis” dan aura “kedamaian” terhadap manusia yang memandangnya.

Pertanyaan nakalku, “kapan Negara kita menganggap sungai yang mengalir ke  berbagai kota, dianggap sebagai asset?”.

(Pernah dimuat di http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/10/28/senja-di-sungai-donau-budapest-605501.html)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar