Rabu, 13 November 2013

Menanti Lonceng di “Marienplatz”, Munich



Selepas perjalanan shooping dari folk market 24 juni 2011 lalu, saya tiba di stasiun Hauptbahnhof, Munich, Jerman. Keluar darinya saya berjumpa dengan puluhan anak-anak muda berkumpul pas disamping stasiun. Stasiun itu nyambung dengan pertokoan terkenal di Munich, Marienplatz. Nah, diantara sambungan itu, yaitu persisis pas keluar dari bawah stasiun, ada tempat lapang yang menjadi titik ujung pertekoan. Ia seperti seperti tanah lapang berlantai semen dengan dikelilingi bangunan tua. Gedung-gedung artistic – meski tua namun eksotik – seolah memagari tanah lapang itu. Di salah satu sudut, ada bangunan sentral yang menjadi focus mata pengunjung. Ia adalah menara gagah menjulang tinggi dan langsing. Persis seperti menara yang biasa berdiri melengkapi bangunan masjid. Di ujung menara itu terpancang lonceng – terlihat samar-samar karena saking tingginya -- lonceng bergaya eropa zaman pertengahan. Setelah kutanya pejalan kaki yang berada di sebelah kiri-kanan, ternyata pemuda-pemudi sedang menunggu bunyi lonceng yang menutup senja hari itu.
Suasana sore itu syahdu nan romantis. Angin semilir menghembus pelan-pelan. Awan berganti-ganti warna di udara. Terkadang putih pucat, namun juga putih kegelapan hingga terlihat buram. Makanya sekali-kali rintik hujan membasahi kepala pengunjung. Namun beberapa menit kemudian, ia terhenti tanpa komando. Suasana pun pas sekali dengan gairah muda-mudi yang sedang kasmaran. Mereka duduk dengan pasangannya dan terkadang saling memandang, bahkan ada yang saling membelai rambut pasanganya. Di sudut jalan lain, anak-anak berlarian dibawah pengawasan orang tuanya.

Pas sejajar dengan bangunan menara, café-café tenda berdiri berjejeran menyebar dengan rapi. Pengunjung yang bosan berdiri, mamanfaatkan kedai kopi itu untuk duduk-duduk di kursinya yang sengaja ditata persis dengan sudut pandang menghadap lonceng dan menara. Canda dan tawa mengiringi derai obrolan pengunjung saling bersautan. Beberapa sudut tempat duduk – di café jalann -- telah dikuasai rombongan anak muda. Sementara pojok lain telah diduduki sepasang anak mudalain. Café-cafe mini penuh dengan pengunjung sore itu. Meski puluhan manusia berkumpul, namun saya tidak menyaksikan keributan antara mereka. Semua saling menjaga perasaan dan privasi masing-masing.

Senja yang dinanti pelan-pelan hadir. Sinar metahari yang dari tadi timbul tenggelam oleh awan, kini benar-benar mulai pudar. Merah kemudaan mengganti sengatan putih tajam. Matahari juga perlahan berganti tugas dengan sinar bulan. Sayang,  hari itu tidak ada pandangan sunset (ketenggalaman) matahari di sana. Sebab mendung berarak hadir menggantikannya. Tiba-tiba rintik hujan turun lagi sejenak. Pengunjung mentas dari tempat duduknya. Kami yang dari tadi terpaku dengan kondisi itu, menepi di salah satu bangunan yang  ternyata butik pakaian.

Namun tidak lama berselang, -- mungkin hanya 10 menitan -- gerimis yang dari tadi turun, kini menghilang perlahan. Bahkan sama sekali berhenti. Tempat duduk café yang dari tadi kosng karena ditinggal pengujug untuk menepi, kini ramai kembali. Kopi, teh, guyura wine, dan bir mulai terasa aroma dari café. Langit kelihatannya mendukung harapan muda-mudi yang menunggu bunyi lonceng pertanda pergantian hari.

Saya pun turun ke tanah lapang . Kami juga ingin menjadi saksi dan bagian pengunjung yang menikmati kebahagiaan saat lonceng berbunyi. Berteduh sambil duduk-duduk di salah satu sudut café menjadi solusi. Secangkir kopir hangat memunculkan gairah baru di tubuh kami yang mulai membeku karena gerimis. Sudut-sudut café jalanan mulai menggeliat kembali. Saat yang dinanti tiba.

Detik-detik lonceng berbunyi segera tiba. Orang-orang yang berada di sekitar pertokoan Marienplatz mendekat ke tanah lapang di sekitar menara. Bagai tersihir waktu yang disepakati bersama puluhan periode, aneh semua orang pelan-pelan menyemut di satu hamparan. Mereka bersama-sama menunggu lonceng. Saat senja tenggelam, pertanda petang menjelang, lonceng berbunyi dengan keras. Ia berbunyi berkali-kali. Sorak-sorai pengunjung membahana di sana sini dari berbagai sudut café. Tepuk tangan mengiringi suasana. Muda-mudi yang sedang kasmaran tidak lupa mendaratkan kecupan mesra di pipi pasangannya. Huhh…romatis banget huey… Suasana romantis dirayakan bersama muda-mudi Munich dalam hidangan penutup senja hari itu. Semua bergembira. (Hati kecilku berucap,”Mudah-mudahan di salah satu sudut daerah Indonesia, ada yang memiliki tradisi perayaan kasih sayang bersama..”)

Dentuman bel telah berhenti. Gelap turun pelan-pelan, hingga memberi warna kemerah-merahan muda bagi jalan yang membelah pertokoan Marienplatz. Seolah ada yang mengkomando, pengunjung bubar jalan dengan sendirinya. Kami ikut cabut dari keramain itu, dan menyusuri jalan pertokoan yang beranjak sepi. Saat hendak sampai di depan pigura pertokoan yang gagah, kami dapati sekelompok musik “klasik” jalanan berpentas. Bagai tampil di panggung pertunjukan, pemusik mempertontonkan kebolehannya secara apik di depan pejalan kaki yang menepi. Saya mendekat. “Wiuh, keren sekali music jalanan ini. Meski mereka berada di jalan, namun penampilannya laksana berpentas di atas panggung konser. Serius banget”, decakku. Hampir 15 an menit kuhabiskan untuk menikmati keindahan liukan music gratis. Tanpa kusadari, ternyata berdiri disampingku deretan pengunjung mendengarkan alunan musik. Sejumlah koin saya taruh di tempat yang disediakan, sebagai penghargaan atas penampilannya.

Senja beranjak pergi. Saya bergegas keluar pertokoan melalui pintu gerbang depan. Saat menginjak gapura Marienplatz, puluhan orang berkumpul dengan membawa spanduk bertulis “huruf arab”. Salah seorang darinya berpidato dengan nada keras di tengah-tengahnya. Setelah kuperhatikan dari dekat, ternyata mereka merupakan demonstran yang melakukan aksi di depan pertokoan ramai di Munich. Topiknya adalah pembebasan rakyat Palestina dari kekejaman Israel. Itu terlihat dari tutup kepala yang dipakai dan bendera yang dikibarkan bertulis dan warna bendera Palestina.Memang sih, lokasi itu strategis untuk dijadikan tempat unjuk rasa. Saya menduga, lokasi ini sering untuk berbagai unjuk rasa dengan beragam issue. Mungkin kalau di Jakarta, seperti tugu Proklamasi. Namun bedanya, di depan patung Soekarno-Hatta tidak ada pertokoan seperti di Marienplatz.

Guna menghindari bahaya yang tidak dikehendaki – seperti dituduh makar oleh polisi setempat – saya tinggalkan sekumpuan demonstran. Tanpa disadari, perut kami lapar. Guna menghindari keluar malam saat nyampe di penginapan – karena takut kejahatan malam hari –, kami makan malam  saat itu pula. Restoren China menjadi pilihan. Alasanya sederhana, karena ia menyediakan nasi dan berharga murah. Paling-paling harga beberapa item di menu makanan -- termasuk “nasi goreng” -- seharga 4 EURO (mungkin sekitar 50 ribuan kali ya…). Malam makin mendekat. Gelap pun mewanai jalan raya kota Munich. Selesai makan malam di restoran China, kami baru sadar bahwa waktu telah menunjukan jam 22.00 malam. Bayangan kasur empuk menjadikan jalan kaki kami serasa cepat. Satu hari di Munich ditutup dengan mempi indah setelah nyampe di penginapan. Kesimpulannya, bila pembaca berkunjung ke kota Munich, mampir deh ke Marienplatz ya, dijamin maknyus…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar