Selepas
perjalanan shooping dari folk market 24 juni 2011 lalu, saya tiba
di stasiun Hauptbahnhof, Munich, Jerman. Keluar darinya saya
berjumpa dengan puluhan anak-anak muda berkumpul pas disamping stasiun. Stasiun
itu nyambung dengan pertokoan terkenal di Munich, Marienplatz. Nah, diantara
sambungan itu, yaitu persisis pas keluar dari bawah stasiun, ada tempat lapang
yang menjadi titik ujung pertekoan. Ia seperti seperti tanah lapang berlantai
semen dengan dikelilingi bangunan tua. Gedung-gedung artistic – meski tua namun
eksotik – seolah memagari tanah lapang itu. Di salah satu sudut, ada bangunan
sentral yang menjadi focus mata pengunjung. Ia adalah menara gagah menjulang
tinggi dan langsing. Persis seperti menara yang biasa berdiri melengkapi
bangunan masjid. Di ujung menara itu terpancang lonceng – terlihat samar-samar
karena saking tingginya -- lonceng
bergaya eropa zaman pertengahan. Setelah kutanya pejalan kaki yang berada di sebelah kiri-kanan, ternyata
pemuda-pemudi sedang menunggu bunyi lonceng yang
menutup senja hari itu.
Suasana sore itu syahdu nan romantis. Angin semilir
menghembus pelan-pelan. Awan berganti-ganti warna di udara. Terkadang putih
pucat, namun juga putih kegelapan hingga terlihat buram. Makanya sekali-kali rintik hujan membasahi kepala pengunjung.
Namun beberapa menit kemudian, ia terhenti tanpa komando. Suasana pun pas
sekali dengan gairah muda-mudi yang sedang kasmaran. Mereka duduk dengan pasangannya dan terkadang saling memandang, bahkan ada yang saling membelai rambut pasanganya. Di sudut jalan
lain, anak-anak berlarian dibawah pengawasan orang tuanya.
Pas sejajar dengan bangunan menara,
café-café tenda berdiri berjejeran menyebar dengan rapi. Pengunjung yang bosan
berdiri, mamanfaatkan kedai kopi itu untuk duduk-duduk di kursinya yang sengaja
ditata persis dengan sudut pandang menghadap lonceng dan menara. Canda dan tawa mengiringi derai obrolan pengunjung saling
bersautan.
Beberapa sudut tempat duduk – di café jalann -- telah dikuasai rombongan anak muda.
Sementara pojok lain telah diduduki sepasang anak mudalain. Café-cafe mini penuh dengan pengunjung sore itu. Meski puluhan
manusia berkumpul, namun saya tidak menyaksikan keributan antara
mereka. Semua saling menjaga perasaan dan privasi masing-masing.
Senja yang
dinanti pelan-pelan hadir. Sinar metahari yang dari tadi timbul tenggelam oleh awan, kini benar-benar mulai pudar. Merah kemudaan mengganti sengatan putih tajam. Matahari juga perlahan berganti tugas dengan sinar bulan. Sayang, hari itu tidak ada pandangan sunset (ketenggalaman) matahari di sana. Sebab mendung berarak hadir menggantikannya. Tiba-tiba
rintik hujan
turun lagi sejenak. Pengunjung mentas dari
tempat duduknya. Kami yang dari tadi terpaku dengan kondisi itu, menepi di
salah satu bangunan yang ternyata butik
pakaian.
Namun tidak lama berselang, -- mungkin
hanya 10 menitan -- gerimis yang dari tadi turun, kini menghilang perlahan. Bahkan sama
sekali berhenti. Tempat duduk café yang dari tadi kosng karena ditinggal
pengujug untuk menepi, kini ramai kembali. Kopi, teh, guyura wine, dan bir mulai terasa aroma dari café. Langit kelihatannya mendukung harapan muda-mudi yang menunggu bunyi lonceng pertanda pergantian hari.
Saya pun turun ke tanah lapang . Kami juga ingin menjadi saksi dan bagian pengunjung yang menikmati
kebahagiaan saat lonceng berbunyi. Berteduh sambil duduk-duduk di salah satu sudut
café menjadi solusi. Secangkir kopir hangat memunculkan
gairah baru di tubuh kami yang mulai membeku
karena gerimis. Sudut-sudut café jalanan mulai menggeliat kembali. Saat yang dinanti
tiba.
Detik-detik lonceng berbunyi segera tiba. Orang-orang yang
berada di sekitar pertokoan Marienplatz mendekat ke tanah lapang di sekitar menara.
Bagai tersihir waktu yang disepakati bersama puluhan periode, aneh semua orang
pelan-pelan menyemut di satu hamparan.
Mereka bersama-sama menunggu lonceng. Saat senja tenggelam, pertanda petang
menjelang, lonceng berbunyi dengan keras. Ia berbunyi berkali-kali. Sorak-sorai
pengunjung membahana di sana sini dari berbagai sudut café. Tepuk tangan
mengiringi suasana. Muda-mudi yang sedang kasmaran tidak lupa mendaratkan
kecupan mesra di pipi pasangannya. Huhh…romatis
banget huey… Suasana romantis dirayakan bersama muda-mudi
Munich dalam hidangan penutup senja hari itu. Semua bergembira. (Hati kecilku berucap,”Mudah-mudahan di salah satu sudut daerah Indonesia, ada yang memiliki
tradisi perayaan kasih sayang bersama..”)
Dentuman
bel telah berhenti. Gelap turun pelan-pelan, hingga memberi warna
kemerah-merahan muda bagi jalan yang
membelah pertokoan Marienplatz. Seolah ada yang mengkomando, pengunjung bubar jalan dengan
sendirinya. Kami ikut cabut dari keramain itu, dan menyusuri
jalan pertokoan yang beranjak sepi. Saat hendak sampai di depan pigura pertokoan yang gagah, kami dapati sekelompok musik “klasik” jalanan berpentas. Bagai tampil di panggung pertunjukan,
pemusik mempertontonkan kebolehannya secara apik di depan pejalan kaki
yang menepi. Saya mendekat. “Wiuh, keren
sekali music jalanan ini. Meski mereka berada di jalan, namun penampilannya laksana berpentas di atas panggung konser. Serius banget”, decakku. Hampir 15 an
menit kuhabiskan untuk menikmati keindahan liukan music gratis. Tanpa kusadari,
ternyata berdiri disampingku deretan pengunjung mendengarkan alunan musik. Sejumlah koin saya taruh di tempat yang disediakan, sebagai penghargaan atas penampilannya.
Senja
beranjak pergi. Saya bergegas keluar pertokoan melalui pintu gerbang depan.
Saat menginjak gapura Marienplatz, puluhan orang
berkumpul dengan membawa spanduk bertulis “huruf arab”. Salah seorang darinya
berpidato dengan nada keras di
tengah-tengahnya. Setelah kuperhatikan dari dekat, ternyata mereka merupakan demonstran yang melakukan aksi di
depan pertokoan ramai di Munich. Topiknya adalah pembebasan rakyat Palestina dari kekejaman Israel. Itu terlihat dari tutup
kepala yang dipakai dan bendera yang dikibarkan bertulis dan warna bendera
Palestina.Memang sih, lokasi itu strategis untuk dijadikan tempat unjuk rasa.
Saya menduga, lokasi ini sering untuk berbagai unjuk rasa dengan beragam issue. Mungkin kalau di Jakarta, seperti tugu
Proklamasi. Namun bedanya, di depan patung Soekarno-Hatta tidak ada pertokoan seperti di Marienplatz.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar