Bagaimana cara menyatukan antara aktifitas “kerja” dan “jalan-jalan”
dalam waktu yang super-mepet? Jawabannya sulit. Kalau pun mampu mendapatkannya,
pasti setengah-setengah. Atau bisa pakai cara turis China – ini kata temanku saat
ngobrol santai di sela-sela berlibur ke Nepal. Menurutnya, turis-turis dari negara
yang sedang tumbuh ekonominya, sangat menghemat waktu dalam setiap berkunjung
ke tempat wisata. Mungkin hanya 10 sampai 15 menit untuk setiap satu tempat
wisata, hanya berhenti untuk sekedar berfoto-foto. Yang penting ada dokumentasi
dirinya di setiap lokasi wisata. Yang penting mereka mendapatkan banyak lokasi
wisata dalam waktu yang sempit (Yah…itung-itung bisa ngirit waktu dan biaya
kali ya…). Saya jadi teringat film “Monte Carlo” yang dibintangi Selena Gomes.
Dimana ia dengan dua orang temannya berpiknik ke Prancis melalui rombongan tur
yang ada guiednya. Namun acara kunjungan ke sejumlah venue nya ngirit banget.
Sehingga mereka bertiga tidak bisa untuk sekedar menikmati dan berfoto-foto.
Itu yang saya fikirkan bersama 6 orang teman – salah satunya
bule dari Amerika -- saat berkunjung ke Klaten, 9 Oktober 2013 lalu, guna monitoring
kegiatan berlokasi di Jatinom km 3, Kwaren, Ngawen – tugas luar daerah dari
kantor. Kegiatan di Klaten berakhir di pukul 14.00 siang. Sementara jadwal pesawat
balik kami dari Yogyakarta ke Jakarta jam 18.30. Jam 17.00 para penumpang sudah
harus tiba di Bandara Adisutjiptio, Yogyakarta. Jadi, kami memiliki spare waktu kira-kita 3 jam an, sebelum
tiba di Bandhara Adisutjipto, pukul 17.00 untuk check-in. Dalam rombongan yang
berjumlah 6 (enam) orang, ada 2 orang dari kedutaan besar Amerika Serikat (yang
satu bule dan lainnya orang Indonesia).
Sedari awal – sebelum rembuk dimulai -- si Bule sih sudah
berpendapat bahwa sebaiknya kita nyampe ke bandara secepat mungkin akan lebih
baik. Saya setuju dengan jalan pikirannya. Pobiaku akan ketinggalan pesawat
dari Jakara-Yogya tahun 2010, masih terngiang. Namun, teman lain – dalam
rombongan – berfikir bahwa sebaiknya kita mampir sebentar ke candi Prambanan
guna mengambil beberapa momen foto kenang-kenangan. Memang sih, secara alur
jalan, candi Prambadan terletak di jalan yang menuju antara Klaten dan bandara
Yogyakarta.
Begitu mendengar kata candi Prambanan, si Bule berubah
pikiran dan langsung ikut dengan rombongan ke lokasi yang terkenal dengan
sebutan seribu candi itu. Namun ia tetap berpesan untuk tidak mengalokasikan
waktu terlalu lama di Prambanan. Kami sepakat untuk tidak mengambil waktu
terlalu lama di candi Prambanan. Takut akan ketinggalan pesawat. Kalau itu
terjadi, maka sulit mendapatkan jadwal pesawat selanjutnya. Padahal besok sudah
ada agenda lain di Jakarta. Kompak, suara bulat kami sepakati bersama.
Pukul 14.45.
Terik siang mengganas. Panas sekali suasananya. Mobil Toyota
Avansa yang membawa rombangan kami, tiba di pelataran candi Prambanan. Parkiran
lenggang, tidak seperti hari Sabtu dan Minggu, atau hari libur nasional lainnya,
yang dipadati kendaraan pengunjung. Sang Bule melihat waktu di jam tangannya,
dan begitu pula saya yang tetap pobia atas pengalaman ketinggalan pesawat beberap
tahun silam. Kami sepakat untuk hanya mengalokasikan 30 menit di Prambanan.
Silahkan waktu mepet itu digunakan untuk melihat-lihat bangunan candi dan berfoto
ria di sekitarnya. Itulah janji kami sesaat sebelum turun dari mobil.
Biasalah, saat sampe di depan bangunan candi yang sedikit berantakan -- akibat sisa-sisa
gempa Yogya 2006 dan semburan merapi tahun 2010 --, kami terkagum-kagum. Apalagi
sang Bule, yang terheran dengan besarnya bangunan yang terbuat dari batu-batu
dengan berbagai ukuran. Apalagi tektur bangunan candi terlihat rapi dan tertata
baik oleh manusia beragam Hindu saat itu, di mana teknologi belum secanggih
sekarang. “Ceprat, cepret…klik..klik…”
suara khas jepretan kamera terdengar nyaring dari tustel temanku dan si Bule. Spontan,
semua anggota rombongan mengeluarkan kamarenya.
Satu persatu memfoto bangunan candi dari sudut masing-masing.
Meski tidak terlalu ramai dengan turis – baik local dan
asing – tetap saja, candi Prambadan dipenuhi puluhan manusia. Teriknya panas
tidak mengurangi pengunjung untuk berkeliling bangunan candi, dan masuk ke
dalam melalui pintu sempit yang cukup bagi satu orang. Saya – secara pribadi --
juga sudah lama sekali tidak berkunjung ke areal candi yang mempunyai tipografi
menjulang ke atas – ini kekhasan candi Hindu dibanding candi Budha yang melebar
ke samping --, meski sering bolak-balik ke Klaten atau Solo melalui Yogyakarta.
Biasaya sih, saya hanya melihat dari jalan raya, memandang bangunan megah karya
umat Hindu tersebut.
Di depan pintu Candi paling depan, terdapat informasi gambaran
candi Prambanan sebelum gempa dan setelahnya. Paska gempa, batu-batu yang
menyanggah dinding candi terlihat retak. Ada juga sih, bagian bangunan candi
yang roboh dan kini sedang dalam pembangunan ulang. Batu-batu alami sebagai
bahan untuk pembangunnaya masih berserakan di sekitarnya. Saat saya naik
melalui tangga untuk menuju Candi yang berderet, dan salah satu yang terbesar bernama
“Brahma” disamping bangunan candi Shiwa, terpampang tulisan “building is under
construction”. Kelihatannya bangunan candi “Shiwa” yang paling parah terkena
dampak gempa. Khusus untuk candi Shiwa, pengunjung diwajibkan untuk memakai helm
bangunan, karena ia sedang dalam pembenahan.
Pukul 15.45
Tanda sadar, waktu telah berlalu dan kini menuju sore. Si
bule – yang kebetulan berdiri di sampingku -- menujukan jam tangan kepada saya
dan teman rombongan lain untuk ingat waktu yang telah melampau batas kesepakatan.
“Eh…jangan dulu pergi dong. Saya kan baru
mejeng di depan candi depan, dan belum berkeliling ke candi Brahma dan Shiwa”,
teriak Yohanna, salah seorang teman rombongan dari bawah. Saya baru sadar, sedari
tadi ternyata teman rombongan masih focus di depan pintu tangga candi yang
menuju pelataran areal candi-candi besar berderetan. Mereka asyik berfoto di
bangunan candi kecil di depan tangga pelataran candi Brahma dan Shiwa. “Aduh..gubarak”, cetukku. Pantesan dari
tadi saya tidak melihat mereka di pelataran areal candi yang banyak dikunjungi
turis. Saya melirik si bule yang terlihat kesal dengan pelanggaran batas waktu.
Mungkin di hatinya berguman, “Nah, ini
dari tadi kemana saja sih, nek? Jadi kita butuh berapa jam lagi nih ?”.
Secara diam-diam, kami bersepakat alamiah untuk menambah
waktu guna berkeliling bangunan candi Prambanan. Sementara itu, si bule terus
memandang waktu melalui jam tangannya. Saya sebenarnya ikutan ketar-ketir
dengan spare waktu yang makin mepet. Mereka – teman-teman rombongan -- berasalasan
bahwa terlambat sedikit ke bandara tidak apa-apa, karena sudah check in melalui
on line. “Namun saya kan belum check in,”
protesku dalam hati.
15 menit waktu tambahan digunakan teman-teman rombongan
untuk berkeliling di antara bangunan candi-candi Prambanan. Meksi janjinya akan
berkeliling dan melihat-lihat saja, tapi pengambilan gambar menggunakan camare
tetap saja mereka lakukan. Maklumlah. Berfoto ria bersama atau sendiri-sendiri
di depan bangunan candi nan eksotis dan bersejarah ternyata membutuhkan waktu
lama. Tanpa terasa, hari makin sore dan terik sinar matahari berkurang kepanasannya.
Pukul 16.15.
Hingga akhrinya tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu. Si bule
pun dengan wajah “memelas”, meminta teman-teman yang masih diatas – di pelataran
candi – untuk turun dan segera bergegas menuju areal parkir guna berangkat ke arah
bandara. Di sela-sela turun, sambil berjalan ia berkomentar kepadaku dalam
bahasa Inggris yang artinya begini, “Saya
mengkhatirkan dengan jadwal pesawatmu Idos dan temanmu. Tapi kok mereka tidak
berasa ya.. ?” Saya tersenyum dan berterima kasih atas toleransinya. Aku
mencoba menebak apa yang ada dalam fikiran si Bule. Mungkin ia berfikii, kok malah
saya yang merasa was-was dengan waktu penerbangan pesawat yang mepet. Namun
pelaku yang memiki tiket pesawat di jam itu, malah nyaman-nyaman aja.
Spontan, saya dan si Bule bergegas menuju areal parkir guna
buru-buru pergi. Lama-lama, saya juga ikutan resah dengan waktu. Saya tidak mau
ketinggalan pesawat untuk kesekian laki. Pengalaman ketinggalan pesawat cukup satu
kali di tahun 2008, saat tertinggal pesawat dari Jakarta menuju Jogya, karena
ketiduran. Tanpa terasa saya dan si Bule berjalan jauh meninggalkan kawan-kawan
rombongan yang masih berada di areal sekitar candi Prambanan. Memang sih di
depannya ada lapangan yang dikenal dengan “peace
park” atau lapangan perdamaian, dimana pemandangan ke arah bangunan candi
Prambanan sangat indah. Sehingga pasti menggoda turis untuk mengabadikan
pemandangan lapangan dengan berlatar belakang candi Prambadan. Ternyata, teman-teman
rombongan juga asyik berfoto di lokasi itu. Waduh…tambah lama deh.
Saat saya berhenti di dekat pintu keluar candi – yang itu
berjauhan dengan lokasi teman-teman rombongan yang masih di lapangan perdamaian
--, kulihat wajah sang bule penuh dengan “kegeraman”. Mungkin ia menahan gemas
atas kawan-kawan rombongan yang berjalan
laksana keong. Mereka asyik berfoto dengan teman yang lain tanpa merasa harus
cepat-cepat bergegas dari situ. Saya dan si bule melihatnya dari kejauhan
gregetan. Setelah saya memanggil teman-teman dari kejauhan sambil menujukan
waktu di jam tanganku – setidaknya saya ikut-ikutan cemas sehingga si bule juga
ada temannya…ha..ha…--, kami bergegas menuju mobil di lapangan parkir.
Supraise, saat
saya dan si bule berjalan keluar candi menuju ke tempat parkir, ternyata kami
harus melalui jalan kecil yang disampung kiri dan kananya lapak pedagang.
Mereka berjualan souvenir, aneka batik, berbagai macam sovenir, dan makanan
kering dsb. Sejatinya, hatiku ingin sekali untuk sekedar bertanya dan melihat
produk yang diperdagangkan, namun karena waktu yang makin mepet, kuluruskan
jalan tanpa menengok kiri-kanan. Si Bule pun berkomentar atas fenomena itu, “wow..very entrepreneur”
(mungkin artinya, kok kreatif banget).
Praktis, berarti waktu yang tersedia hanya 45 menit untuk
menuju bandara Yogya. Makanya saya bergegas ke parkiran, dan alhamdulilah
lansung menemukan sang supir dan mobilnya.
Waktu berjalan tanpa mau berhenti. Saya langsung memanggil
supir untuk bersiap-siap berangkat. Satu-satu teman rombanganku berdatangan ke
mobil. Saya sempat khawatir dengan posisi lapak dagangan dijalan arah ke
parkiran tadi. “Jangan-jangan teman-teman
rombongan ada yang berlama-lama untuk membeli sesuatu disana ?”, khawatirku
dalam hati. Benar saja, setelah ditunggu beberapa menit, ada satu orang yang
belum kembali ke mobil. Tempat duduknya masih terlihat kosong. Saya tertegun
dalam diam. Yang lain pun mulai ikutan was-was dengan kondisi itu. Saat kami
mulai tak sabar, eh, orang itu muncul dengan lenggang-kangkung dengan santai.
Saya memanggilnya setengah panik untuk segera mendekat ke mobil. Temanku itu
beranggapan bahwa teman yang lain juga masih bersantai di lapak guna membeli
oleh-oleh.
Pukul 16.30
Mobil meluncur dengan cepat dari komplek parkiran candi
Prambanan. Saat kami sedang meminta buru-buru untuk menuju bandara, eh seorang
teman masih meminta sopir untuk mampir di toko oleh-oleh di jalan solo – jalan
arah ke bandara -- guna membeli buah tangan bagi orang rumah. Saya mengalah dan
berharap supaya pesawat delay.
Beberapa menit kami berhenti untuk membeli bakpia
patok – makan khas Jogja – dan gudek Yu
Jum yang berdekatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar