Selasa, 12 November 2013

Was-Was Si Bule di Prambanan



Bagaimana cara menyatukan antara aktifitas “kerja” dan “jalan-jalan” dalam waktu yang super-mepet? Jawabannya sulit. Kalau pun mampu mendapatkannya, pasti setengah-setengah. Atau bisa pakai cara turis China – ini kata temanku saat ngobrol santai di sela-sela berlibur ke Nepal. Menurutnya, turis-turis dari negara yang sedang tumbuh ekonominya, sangat menghemat waktu dalam setiap berkunjung ke tempat wisata. Mungkin hanya 10 sampai 15 menit untuk setiap satu tempat wisata, hanya berhenti untuk sekedar berfoto-foto. Yang penting ada dokumentasi dirinya di setiap lokasi wisata. Yang penting mereka mendapatkan banyak lokasi wisata dalam waktu yang sempit (Yah…itung-itung bisa ngirit waktu dan biaya kali ya…). Saya jadi teringat film “Monte Carlo” yang dibintangi Selena Gomes. Dimana ia dengan dua orang temannya berpiknik ke Prancis melalui rombongan tur yang ada guiednya. Namun acara kunjungan ke sejumlah venue nya ngirit banget. Sehingga mereka bertiga tidak bisa untuk sekedar menikmati dan berfoto-foto.
Itu yang saya fikirkan bersama 6 orang teman – salah satunya bule dari Amerika -- saat berkunjung ke Klaten, 9 Oktober 2013 lalu, guna monitoring kegiatan berlokasi di Jatinom km 3, Kwaren, Ngawen – tugas luar daerah dari kantor. Kegiatan di Klaten berakhir di pukul 14.00 siang. Sementara jadwal pesawat balik kami dari Yogyakarta ke Jakarta jam 18.30. Jam 17.00 para penumpang sudah harus tiba di Bandara Adisutjiptio, Yogyakarta. Jadi, kami memiliki spare waktu kira-kita 3 jam an, sebelum tiba di Bandhara Adisutjipto, pukul 17.00 untuk check-in. Dalam rombongan yang berjumlah 6 (enam) orang, ada 2 orang dari kedutaan besar Amerika Serikat (yang satu bule dan lainnya orang Indonesia).

Sedari awal – sebelum rembuk dimulai -- si Bule sih sudah berpendapat bahwa sebaiknya kita nyampe ke bandara secepat mungkin akan lebih baik. Saya setuju dengan jalan pikirannya. Pobiaku akan ketinggalan pesawat dari Jakara-Yogya tahun 2010, masih terngiang. Namun, teman lain – dalam rombongan – berfikir bahwa sebaiknya kita mampir sebentar ke candi Prambanan guna mengambil beberapa momen foto kenang-kenangan. Memang sih, secara alur jalan, candi Prambadan terletak di jalan yang menuju antara Klaten dan bandara Yogyakarta.

Begitu mendengar kata candi Prambanan, si Bule berubah pikiran dan langsung ikut dengan rombongan ke lokasi yang terkenal dengan sebutan seribu candi itu. Namun ia tetap berpesan untuk tidak mengalokasikan waktu terlalu lama di Prambanan. Kami sepakat untuk tidak mengambil waktu terlalu lama di candi Prambanan. Takut akan ketinggalan pesawat. Kalau itu terjadi, maka sulit mendapatkan jadwal pesawat selanjutnya. Padahal besok sudah ada agenda lain di Jakarta. Kompak, suara bulat kami sepakati bersama.

Pukul 14.45.
Terik siang mengganas. Panas sekali suasananya. Mobil Toyota Avansa yang membawa rombangan kami, tiba di pelataran candi Prambanan. Parkiran lenggang, tidak seperti hari Sabtu dan Minggu, atau hari libur nasional lainnya, yang dipadati kendaraan pengunjung. Sang Bule melihat waktu di jam tangannya, dan begitu pula saya yang tetap pobia atas pengalaman ketinggalan pesawat beberap tahun silam. Kami sepakat untuk hanya mengalokasikan 30 menit di Prambanan. Silahkan waktu mepet itu digunakan untuk melihat-lihat bangunan candi dan berfoto ria di sekitarnya. Itulah janji kami sesaat sebelum turun dari mobil.

Biasalah, saat sampe di depan bangunan  candi yang sedikit berantakan -- akibat sisa-sisa gempa Yogya 2006 dan semburan merapi tahun 2010 --, kami terkagum-kagum. Apalagi sang Bule, yang terheran dengan besarnya bangunan yang terbuat dari batu-batu dengan berbagai ukuran. Apalagi tektur bangunan candi terlihat rapi dan tertata baik oleh manusia beragam Hindu saat itu, di mana teknologi belum secanggih sekarang. “Ceprat, cepret…klik..klik…” suara khas jepretan kamera terdengar nyaring dari tustel temanku dan si Bule. Spontan, semua anggota rombongan mengeluarkan kamarenya.  Satu persatu memfoto bangunan candi dari sudut masing-masing.

Meski tidak terlalu ramai dengan turis – baik local dan asing – tetap saja, candi Prambadan dipenuhi puluhan manusia. Teriknya panas tidak mengurangi pengunjung untuk berkeliling bangunan candi, dan masuk ke dalam melalui pintu sempit yang cukup bagi satu orang. Saya – secara pribadi -- juga sudah lama sekali tidak berkunjung ke areal candi yang mempunyai tipografi menjulang ke atas – ini kekhasan candi Hindu dibanding candi Budha yang melebar ke samping --, meski sering bolak-balik ke Klaten atau Solo melalui Yogyakarta. Biasaya sih, saya hanya melihat dari jalan raya, memandang bangunan megah karya umat Hindu tersebut.

Di depan pintu Candi paling depan, terdapat informasi gambaran candi Prambanan sebelum gempa dan setelahnya. Paska gempa, batu-batu yang menyanggah dinding candi terlihat retak. Ada juga sih, bagian bangunan candi yang roboh dan kini sedang dalam pembangunan ulang. Batu-batu alami sebagai bahan untuk pembangunnaya masih berserakan di sekitarnya. Saat saya naik melalui tangga untuk menuju Candi yang berderet, dan salah satu yang terbesar bernama “Brahma” disamping bangunan candi Shiwa, terpampang tulisan “building is under construction”. Kelihatannya bangunan candi “Shiwa” yang paling parah terkena dampak gempa. Khusus untuk candi Shiwa, pengunjung diwajibkan untuk memakai helm bangunan, karena ia sedang dalam pembenahan.

Pukul 15.45
Tanda sadar, waktu telah berlalu dan kini menuju sore. Si bule – yang kebetulan berdiri di sampingku -- menujukan jam tangan kepada saya dan teman rombongan lain untuk ingat waktu yang telah melampau batas kesepakatan. “Eh…jangan dulu pergi dong. Saya kan baru mejeng di depan candi depan, dan belum berkeliling ke candi Brahma dan Shiwa”, teriak Yohanna, salah seorang teman rombongan dari bawah. Saya baru sadar, sedari tadi ternyata teman rombongan masih focus di depan pintu tangga candi yang menuju pelataran areal candi-candi besar berderetan. Mereka asyik berfoto di bangunan candi kecil di depan tangga pelataran candi Brahma dan Shiwa. “Aduh..gubarak”, cetukku. Pantesan dari tadi saya tidak melihat mereka di pelataran areal candi yang banyak dikunjungi turis. Saya melirik si bule yang terlihat kesal dengan pelanggaran batas waktu. Mungkin di hatinya berguman, “Nah, ini dari tadi kemana saja sih, nek? Jadi kita butuh berapa jam lagi nih ?”.

Secara diam-diam, kami bersepakat alamiah untuk menambah waktu guna berkeliling bangunan candi Prambanan. Sementara itu, si bule terus memandang waktu melalui jam tangannya. Saya sebenarnya ikutan ketar-ketir dengan spare waktu yang makin mepet. Mereka – teman-teman rombongan -- berasalasan bahwa terlambat sedikit ke bandara tidak apa-apa, karena sudah check in melalui on line. “Namun saya kan belum check in,” protesku dalam hati.

15 menit waktu tambahan digunakan teman-teman rombongan untuk berkeliling di antara bangunan candi-candi Prambanan. Meksi janjinya akan berkeliling dan melihat-lihat saja, tapi pengambilan gambar menggunakan camare tetap saja mereka lakukan. Maklumlah. Berfoto ria bersama atau sendiri-sendiri di depan bangunan candi nan eksotis dan bersejarah ternyata membutuhkan waktu lama. Tanpa terasa, hari makin sore dan terik sinar matahari berkurang kepanasannya.

Pukul 16.15.
Hingga akhrinya tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu. Si bule pun dengan wajah “memelas”, meminta teman-teman yang masih diatas – di pelataran candi – untuk turun dan segera bergegas menuju areal parkir guna berangkat ke arah bandara. Di sela-sela turun, sambil berjalan ia berkomentar kepadaku dalam bahasa Inggris yang artinya begini, “Saya mengkhatirkan dengan jadwal pesawatmu Idos dan temanmu. Tapi kok mereka tidak berasa ya.. ?” Saya tersenyum dan berterima kasih atas toleransinya. Aku mencoba menebak apa yang ada dalam fikiran si Bule. Mungkin ia berfikii, kok malah saya yang merasa was-was dengan waktu penerbangan pesawat yang mepet. Namun pelaku yang memiki tiket pesawat di jam itu, malah nyaman-nyaman aja.

Spontan, saya dan si Bule bergegas menuju areal parkir guna buru-buru pergi. Lama-lama, saya juga ikutan resah dengan waktu. Saya tidak mau ketinggalan pesawat untuk kesekian laki. Pengalaman ketinggalan pesawat cukup satu kali di tahun 2008, saat tertinggal pesawat dari Jakarta menuju Jogya, karena ketiduran. Tanpa terasa saya dan si Bule berjalan jauh meninggalkan kawan-kawan rombongan yang masih berada di areal sekitar candi Prambanan. Memang sih di depannya ada lapangan yang dikenal dengan “peace park” atau lapangan perdamaian, dimana pemandangan ke arah bangunan candi Prambanan sangat indah. Sehingga pasti menggoda turis untuk mengabadikan pemandangan lapangan dengan berlatar belakang candi Prambadan. Ternyata, teman-teman rombongan juga asyik berfoto di lokasi itu. Waduh…tambah lama deh.

Saat saya berhenti di dekat pintu keluar candi – yang itu berjauhan dengan lokasi teman-teman rombongan yang masih di lapangan perdamaian --, kulihat wajah sang bule penuh dengan “kegeraman”. Mungkin ia menahan gemas atas kawan-kawan  rombongan yang berjalan laksana keong. Mereka asyik berfoto dengan teman yang lain tanpa merasa harus cepat-cepat bergegas dari situ. Saya dan si bule melihatnya dari kejauhan gregetan. Setelah saya memanggil teman-teman dari kejauhan sambil menujukan waktu di jam tanganku – setidaknya saya ikut-ikutan cemas sehingga si bule juga ada temannya…ha..ha…--, kami bergegas menuju mobil di lapangan parkir.

Supraise, saat saya dan si bule berjalan keluar candi menuju ke tempat parkir, ternyata kami harus melalui jalan kecil yang disampung kiri dan kananya lapak pedagang. Mereka berjualan souvenir, aneka batik, berbagai macam sovenir, dan makanan kering dsb. Sejatinya, hatiku ingin sekali untuk sekedar bertanya dan melihat produk yang diperdagangkan, namun karena waktu yang makin mepet, kuluruskan jalan tanpa menengok kiri-kanan. Si Bule pun berkomentar atas fenomena itu, “wow..very entrepreneur” (mungkin artinya, kok kreatif banget).

Praktis, berarti waktu yang tersedia hanya 45 menit untuk menuju bandara Yogya. Makanya saya bergegas ke parkiran, dan alhamdulilah lansung menemukan sang supir dan mobilnya.

Waktu berjalan tanpa mau berhenti. Saya langsung memanggil supir untuk bersiap-siap berangkat. Satu-satu teman rombanganku berdatangan ke mobil. Saya sempat khawatir dengan posisi lapak dagangan dijalan arah ke parkiran tadi. “Jangan-jangan teman-teman rombongan ada yang berlama-lama untuk membeli sesuatu disana ?”, khawatirku dalam hati. Benar saja, setelah ditunggu beberapa menit, ada satu orang yang belum kembali ke mobil. Tempat duduknya masih terlihat kosong. Saya tertegun dalam diam. Yang lain pun mulai ikutan was-was dengan kondisi itu. Saat kami mulai tak sabar, eh, orang itu muncul dengan lenggang-kangkung dengan santai. Saya memanggilnya setengah panik untuk segera mendekat ke mobil. Temanku itu beranggapan bahwa teman yang lain juga masih bersantai di lapak guna membeli oleh-oleh.

Pukul 16.30
Mobil meluncur dengan cepat dari komplek parkiran candi Prambanan. Saat kami sedang meminta buru-buru untuk menuju bandara, eh seorang teman masih meminta sopir untuk mampir di toko oleh-oleh di jalan solo – jalan arah ke bandara -- guna membeli buah tangan bagi orang rumah. Saya mengalah dan berharap supaya pesawat delay. Beberapa menit kami berhenti untuk membeli bakpia patok – makan khas Jogja – dan gudek Yu Jum yang berdekatan.

Sesampai di Bandara sudah hampir jam 17.00 sore. Saat aku bersegra check in di counter pesawat arah Jakarta, kudapati sepi dari antrian penumpang. Saya beranggapan, jangan-jangan check in sudah ditutup dan saya telah ketinggalan pesawat. Eh, malah petugas counter bilang, kalau pesawat yang menuju Jakarta ternyata didelay beberapa menit. Siiiir…lega akhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar