Udara Jum’at tgl 23 Agustus 2013 terasa cerah nan
segar. Pagi menjelang penuh optimisme, meski baru semalam aku tiba di
rumah dari Kupang, NTT. Rute hari ini, aku mesti pergi ke tempat di
sudut Bogor yang sering mendengarnya, namun belum pernah mengunjunginya.
Bagi pembaca yang concern terhadap masalah lingkungan dan
kehutanan, mungkin tempat tersebut tidak asing. Berikut pengalamanku
selama menginap di tempat tersebut.
Sebelum berangkat, aku teliti seksama rute jalan
menuju ke aranya. Melalui tol jalan lingkar luar di Jatiasih, aku
mengarahkan mobil ke Jagorawi, Bogor. Sesuai denah, pas di
pintu keluar tol Sentul City, aku harus keluar. Dari situ, aku
membelokan mobil ke arah kanan hingga ke tol lingkar luar Bogor
yang belum sepenuhunya selesai. Setelah berbagai belokan aku turuti,
akhirnya kutemukan nama akhir jalan yang dituju, tertulis di plang, “anda sedang menuju ke kampus CIFOR (Center for International Forestry Research)”.
Dari jalan besar di Jl. KH Abdullah bin Nuh,
kubelokan mobil ke arah kanan dan lurus menuju perkampungan CIFOR.
Suasana sunyi terasa dalam perjalan itu. Di sebelah kanan dan kiriku
terlihat pepohonan rindang dan tinggi besar. Sepi dan tidak tampak orang
berjualan sebagaimana layaknya jalanan umum. Kira-kira sekitar 10 menit
dari belokan jalan besar, aku tiba di perkampungan itu. Seketika, aku
betul-betul merasakan suasana hutan nan rindang yang diiringi
kensenyapan alam di sekitarnya menyergapku.
Saat aku sedang memandang kensenyapan suasana
sekeliling, aku dikejutkan palang pintu penjagaan yang kokoh di depanku.
Tanpa terasa, telah berdiri 4 (empat) orang satpam di depan palang
pintu yang berlapis. Salah seorang menghampiriku dan bertanya, “Bapak hendak ke mana ?”. Spontan aku menjawabnya, “Saya peserta dari rombongan kantor dari Jakarta”.
Setelah aku jelaskan dengan sedikit panjang lebar, satpam di sebelehnya
mulai memahami jawabanku. Mereka memintaku untuk memberhentikan mobil
di pinggir jalan di depan palang pintu. Lalu mereka memintaku untuk
menulis biodata di dalam buku tamu. Sesuai aturan, aku harus
meninggalkan KTP (kartu tanda penduduk) di pos satpam. Sebagai gantinya,
mereka memberiku kartu identitas tamu yang harus di tempel di saku
bajuku. KTP akan dikembalikan bila aku keluar dari kampus itu dengan
menukar identitas tamu yang ditempel di saku baju.
“Cukup ketat dan tegas”, gumanku dalam
hati. Ini seperti bila kita bertamu ke gedung perkantoran di daerah
Tamrin dan Kuningan. Namun perbedaannya di sini, meski aku tinggal
selama dua hari di dalam kampus itu, KTP tetap di sita. Aku bagai “state less”
(tanpa identitas warga negara…ha..ha…), di dalam perkampungan itu,
karena identitasku dicabut dan diganti dengan nametag “tamu” selama
berada di sana.
Saat berbelok menuju ke arah dalam perkampungan kampus, aku sudah menduga-duga bahwa lokasi ini memang didesain untuk retreat (penenangan diri) para
pengunjungnya. Ia sepi dan menenangkan. Pas saja, setelah urusan dengan
satpam selesai, aku menyetir mobilku menuju ke lokasi penginapan dan
ruang meeting di perkampungan itu berbekal sedikit intruksi sang satpam.
Spontan saat itu aku kebingungan, harus menuju ke mana arah mobilku.
Sepi dan tak banyak orang yang lalu lalang, sehingga aku tidak bisa
bertanya. Setelah aku perhatikan petunjuk jalan yang berada di setiap
belokan jalan, secara pelan aku menyopir mobilku dengan menduga-duga.
Kanan kiriku pepohonan rindang. Aku bagai berada di tengah-tengah hutan
tropis. Suara-suara binatang yang biasanya terdengar di hutan, kini
terasa nyaring aku simak. Sinar matahari pagi itu membantu menerangkan
jalan di tengah rimbunan pohon-pohon besar.
Kalau Ustad-ustad di Indonesia ada yang penyuka sesama jenis ngga ya…?”. Semua terdiam dengan seloroh temanku itu. Sepertinya semua temanku menyimpan jawabannya sendiri-sendiri. Jam di dinding ruang makan telah menunjukan 23.00 malam. Kantuk pun menghampiri mata semua temanku, hingga akhirnya mereka meminta izin untuk masuk ke kamarnya.
Jam telah menujukan pukul 21.00 malam. Teman-temanku yang merasa lelah, dengan senang hati pergi ke kamar tidur masing-masing. Sementara kelompok temanku yang belum mengantuk melanjutkan pembicaraan ke ruang terbuka di antara ruang makan dan kamar tidur. Di situ terdapat meja dan kursi santai bagi penginap untuk bersantai di ruang terbuka. Pembicaraan kami bermula dari sebuah artikel di halaman terakhir koran The Jakarta Post yang memuat berita Pendeta yang memiliki orentasi seksual sesama jenis. Setiap temanku masing-masing memiliki pendapat dengan argumentasinya. Tanpa sadar temanku menyela ,”
Aku pun langsung masuk kamar, dan langsung
menjatuhan diri di atas kasur. Saking mengantuk mataku, aku tidak sempat
menggosok gigi dan mengganti pakaian dengan baju tidur sebagaimana
biasa.
Posisi kamarku yang berada di lantai dua dan dikelilingi pepohonan nan rindang bagai bangunan guesthouse berdiri di tengah hutan belantara. Persis kayak di film horor hollywood dimana sang gedung dikelilingi pohon besar yang berada di sekitarnya. Aku memperhatikan pohon-pohon besar di kebun – atau hutan – sekeliling kamarku. Suara hewan yang biasa bersuara di malam hari, nyaring sekali kedengarannya. Jangkrik dan burung hantu – kalau tidak salah – mengaum dengan bebas. Tanpa terasa, udara malam itu semilir menerpa wajahku dari balik jendela. Makin lama kurasa udara itu makin mendinginkan badanku dan ikut mendramatisir situasi yang seram.
Tiba-tiba kilatan lampu itu mengalihkan
pandanganku yang sedang tararah ke hutan. Aku perhatikan kilatan lampu
itu sekali lagi pelan-pelan. Setelah lama aku perhatikan, ternyata lampu
itu berasal dari seseorang di tengah malam yang berlari-lari di
sekeliling rimbunan pohon dan di depan kamarku. Dari model pakaiannya,
kelihatannya ia seorang satpam kampus. Dengan sigap, ia berlari-lari
sambil mengarahkan lampu senter ke arah hutan dan juga tembok yang
dilapisi ruji-ruji rantai yang menjadi pembatas antara komplek kampus
dengan masyarakat terluar. Sesekali ia mengeluarkan suara yang aku tidak
memahami apa maksudnya sambil menyalakan senternya.
Besoknya setelah aku bangun dan bertanya kepada
temanku, hal itu sudah menjadi prosedur keamanan komplek kampus.
Keamanan merupakan hal utama di perkampungan itu. Dengan luas kira-kira
40 hektar yang sebagian besar adalah hutan tropis, penjagaan menjadi
point penting bagi komplek perkampungan itu. Diharapkan maling, pencuri
dan orang tidak dikenal lainnya akan sulit menembus masuk ke komplek
guna berbuat tidak jahat.
Karena penasaran dengan keluasan komplek kampus
itu, setelah bangun di jam 05.30, aku bergegas untuk berlari pagi.
Dengan sepatu olah raga yang kusiapkan di mobil, aku berlari
mengelilingi komplek kampus. Banyak venue yang kunjumpai saat berlari.
Diantaranya; lapangan sepak bola, arena jim, kolam renang, arena tenis
lapangan, gedung perpustakaan, gedung kantin yang menyatu dengan
perkantoran NGO international, gedung ruang meeting dan area ruang
parkir, dsb. Gedung-gedung itu terpisah dengan taman yang luas dan jalan
yang menghubungkannya. Kelihatannya sarana dan prasaran dalam kampus
cukup lenkap.
Setelah kira-kira 15 menit aku mengelilingi hutan tropis sendirian, akhirnya aku keluar melalui pintu yang aku tidak duga sebelumnya. Begitu keluar hutan, aku melihat beberapa pekerja sedang membersihkan pinggiran hutan tropis yang tadi aku lalui. Sambil berjalan kaki santai, aku bertanya padanya tentang kondisi hutan tropis. Mereka menjawab bahwa binatang-binatang itu juga masih ada hingga kini, namun tidak ganas. Dan hutan tropis itu, bila terus ditelusuri akan menyambung dengan pusat penangkaran rusa di hutan sebelahnya. Namun sepertinya ada kawat – atau apapun — pembatas yang membedakan antara hutan tropis di komplek kampus dengan lokasi hutan di luarnya.
Untuk menutup olahraga pagi itu, aku bergegas
ke ruang makan yang sudah disediakan menu pagi, termasuk jus segar.
Dengan terampil aku memasukan berbagai buah seperti; wortel dan
belimbing di dalam alat juser untuk menghasilkan adonan yang pas dan
segar. Kuteguk segelas jus. “Huhh…Nikmat sekali pagi ini”, ungkapku lirih. Badanku pun terasa segar. Mudah-mudahan lain waktu, aku bisa berkunjung lagi ke kampus tengah hutan. Semoga.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar