Jumat, 22 November 2013

Serasa Nginep di Hutan….

Udara Jum’at tgl 23 Agustus 2013 terasa cerah nan segar. Pagi menjelang penuh optimisme, meski baru semalam aku tiba di rumah dari Kupang, NTT. Rute hari ini, aku mesti pergi ke tempat di sudut Bogor yang sering mendengarnya, namun belum pernah mengunjunginya. Bagi pembaca yang concern terhadap masalah lingkungan dan kehutanan, mungkin tempat tersebut tidak asing. Berikut pengalamanku selama menginap di tempat tersebut.

Sebelum berangkat, aku teliti seksama rute jalan menuju ke aranya. Melalui tol jalan lingkar luar di Jatiasih, aku mengarahkan mobil ke Jagorawi, Bogor. Sesuai denah, pas di pintu keluar tol Sentul City,  aku harus keluar. Dari situ, aku membelokan mobil ke arah kanan hingga ke tol lingkar luar Bogor yang belum sepenuhunya selesai. Setelah berbagai belokan aku turuti, akhirnya kutemukan nama akhir jalan yang dituju, tertulis di plang, “anda sedang menuju ke kampus CIFOR (Center for International Forestry Research)”.


Dari jalan besar di Jl. KH Abdullah bin Nuh, kubelokan mobil ke arah kanan dan lurus menuju perkampungan CIFOR. Suasana sunyi terasa dalam perjalan itu. Di sebelah kanan dan kiriku terlihat pepohonan rindang dan tinggi besar. Sepi dan tidak tampak orang berjualan sebagaimana layaknya jalanan umum. Kira-kira sekitar 10 menit dari belokan jalan besar, aku tiba di perkampungan itu. Seketika, aku betul-betul merasakan suasana hutan nan rindang yang diiringi kensenyapan alam di sekitarnya menyergapku.

Saat aku sedang memandang kensenyapan suasana sekeliling, aku dikejutkan palang pintu penjagaan yang kokoh di depanku. Tanpa terasa, telah berdiri 4 (empat) orang satpam di depan palang pintu yang berlapis. Salah seorang menghampiriku dan bertanya, “Bapak hendak ke mana ?”. Spontan aku menjawabnya, “Saya peserta dari rombongan kantor dari Jakarta”. Setelah aku jelaskan dengan sedikit panjang lebar, satpam di sebelehnya mulai memahami jawabanku. Mereka memintaku untuk memberhentikan mobil di pinggir jalan di depan palang pintu. Lalu mereka memintaku untuk  menulis biodata di dalam buku tamu. Sesuai aturan, aku harus meninggalkan KTP (kartu tanda penduduk) di pos satpam. Sebagai gantinya, mereka memberiku kartu identitas tamu yang harus di tempel di saku bajuku. KTP akan dikembalikan bila aku keluar dari kampus itu dengan menukar identitas tamu yang ditempel di saku baju.

Cukup ketat dan tegas”, gumanku dalam hati. Ini seperti bila kita bertamu ke gedung perkantoran di daerah Tamrin dan Kuningan. Namun perbedaannya di sini, meski aku tinggal selama dua hari di dalam kampus itu, KTP tetap di sita. Aku bagai “state less” (tanpa identitas warga negara…ha..ha…), di dalam perkampungan itu, karena identitasku dicabut dan diganti dengan nametag “tamu” selama berada di sana.

Saat berbelok menuju ke arah dalam perkampungan kampus, aku sudah menduga-duga bahwa lokasi ini memang didesain untuk retreat (penenangan diri) para pengunjungnya. Ia sepi dan menenangkan. Pas saja, setelah urusan dengan satpam selesai, aku menyetir mobilku menuju ke lokasi penginapan dan ruang meeting di perkampungan itu berbekal sedikit intruksi sang satpam. Spontan saat itu aku kebingungan, harus menuju ke mana arah mobilku. Sepi dan tak banyak orang yang lalu lalang, sehingga aku tidak bisa bertanya. Setelah aku perhatikan petunjuk jalan yang berada di setiap belokan jalan, secara pelan aku menyopir mobilku dengan menduga-duga. Kanan kiriku pepohonan rindang. Aku bagai berada di tengah-tengah hutan tropis. Suara-suara binatang yang biasanya terdengar di hutan, kini terasa nyaring aku simak. Sinar matahari pagi itu membantu menerangkan jalan di tengah rimbunan pohon-pohon besar.

Setelah menyusuri jalanan sepi, aku tiba di lokasi penginapan yang berbentuk “guesthouse”. Mungkin sekitar 25 meter, jarak dari pos satpam ke lokasi penginapan. Penginapan itu berdiri dengan dua lantai. Ia bermodel minimalis dengan sekitar 14 kamar di dalamnya. Di depan deretan kamar ada ruang kosong yang air hujan bisa menembusnya. Di ruang kosong itu, berbagai tanaman anggrek mengisinya untuk menyegarkan suasana. Sementara di depan ruang kosong – namun masih dalam satu gedung – ada tempat untuk santap pagi dan malam, serta diujungnya merupakan ruang santai untuk membaca, menonton tv, dan berkaroke. Di ruang ini ada penjaga guesthaouse yang merangkap koki masakan. Penjaga itu dengan ramah akan meninformasikan para tamu tentang menu apa nanti malam dan pagi harinya. Dengan senang hati pula, ia akan menerima permintaan dan masukan para tamu. Dan ini yang aku tidak lupa, di setiap sarapan pagi sang koki selalu menyiapkan buah-buahan segar untuk dijadikan jus. Sementara alat jusernya tersedia di meja lauk-pauk. Konsep “family style”, itulah yang mungkin diterapkan guesthouse ini.

Saat kami berkendak untuk makan malam, sang koki telah menyediakan piring dan sendoknya di meja makan.  Di situ ada dua meja makan, yang satu besar dan lainnya kecil. Malam itu, selain rombongan kami ada beberapa orang bule yang menginap di situ. Kami pun duduk dalam satu meja dengan tamu lain (termasuk bule itu) saat makan malam. Teman satu rombonganku memulai pembicaraan dengan salah seorang bule, untuk memecah suasana di meja makan. Dari sini, pembicaraan pun mengalir dengan berbagai topic. Makan malam serasa menjadi sesi diskusi lain setelah seharian meeting di ruang rapat. Tidak terasa, kami menghabiskan 2 jam lebih untuk bersendau gurau di meja makan.

Kalau Ustad-ustad di Indonesia ada yang penyuka sesama jenis ngga ya…?”. Semua terdiam dengan seloroh temanku itu. Sepertinya semua temanku menyimpan jawabannya sendiri-sendiri. Jam di dinding ruang makan telah menunjukan 23.00 malam. Kantuk pun menghampiri mata semua temanku, hingga akhirnya mereka meminta izin untuk masuk ke kamarnya.
Jam telah menujukan pukul 21.00 malam. Teman-temanku yang merasa lelah, dengan senang hati pergi ke kamar tidur masing-masing. Sementara kelompok temanku yang belum mengantuk melanjutkan pembicaraan ke ruang terbuka di antara ruang makan dan kamar tidur. Di situ terdapat meja dan kursi santai bagi penginap untuk bersantai di ruang terbuka. Pembicaraan kami bermula dari sebuah artikel di halaman terakhir koran The Jakarta Post yang memuat berita Pendeta yang memiliki orentasi seksual sesama jenis. Setiap temanku masing-masing memiliki pendapat dengan argumentasinya. Tanpa sadar temanku menyela ,”

Aku pun langsung masuk kamar, dan langsung menjatuhan diri di atas kasur. Saking mengantuk mataku, aku tidak sempat menggosok gigi dan mengganti pakaian dengan baju tidur sebagaimana biasa.

Tanpa terasa, saat jam tanganku menunjukan sekitar pukul 02.30 malam aku terjaga karena kilatan lampu yang menerpa kamarku dari balik jendela. Aku baru menyadari kalau lampu di kamarku telah dimatikan teman satu kamarku, sehingga terasa gelap gulita. Aku duduk pelan-pelan disamping kasur. Lalu aku berdiri mencari tahu dari mana kilatan lampu yang mencul tiba-tiba, kemudian menghilang. Aku perhatikan kondisi sekeliling kamarku. Perlahan, aku membuka jendela kamarku. “Wouw…gelap sekali kondisi sekitar kamarku malam ini. Loh kok, pori-pori di tanganku mulai berdiri pelan-pelan…”, gumanku dalam hati
Posisi kamarku yang berada di lantai dua dan dikelilingi pepohonan nan rindang bagai bangunan guesthouse berdiri di tengah hutan belantara. Persis kayak di film horor hollywood dimana sang gedung dikelilingi pohon besar yang berada di sekitarnya. Aku memperhatikan pohon-pohon besar di kebun – atau hutan – sekeliling kamarku. Suara hewan yang biasa bersuara di malam hari, nyaring sekali kedengarannya. Jangkrik dan burung hantu – kalau tidak salah – mengaum dengan bebas. Tanpa terasa, udara malam itu semilir menerpa wajahku dari balik jendela. Makin lama kurasa udara itu makin mendinginkan badanku dan ikut mendramatisir situasi yang seram.

Tiba-tiba kilatan lampu itu mengalihkan pandanganku yang sedang tararah ke hutan. Aku perhatikan kilatan lampu itu sekali lagi pelan-pelan. Setelah lama aku perhatikan, ternyata lampu itu berasal dari seseorang di tengah malam yang berlari-lari di sekeliling rimbunan pohon dan di depan kamarku. Dari model pakaiannya, kelihatannya ia seorang satpam kampus. Dengan  sigap, ia berlari-lari sambil mengarahkan lampu senter ke arah hutan dan juga tembok yang dilapisi ruji-ruji rantai yang menjadi pembatas antara komplek kampus dengan masyarakat terluar. Sesekali ia mengeluarkan suara yang aku tidak memahami apa maksudnya sambil menyalakan senternya.

Besoknya setelah aku bangun dan bertanya kepada temanku, hal itu sudah menjadi prosedur keamanan komplek kampus. Keamanan merupakan hal utama di perkampungan itu. Dengan luas kira-kira 40 hektar yang sebagian besar adalah hutan tropis, penjagaan menjadi point penting bagi komplek perkampungan itu. Diharapkan maling, pencuri dan orang tidak dikenal lainnya akan sulit menembus masuk ke komplek guna berbuat tidak jahat.

Karena penasaran dengan keluasan komplek kampus itu, setelah bangun di jam 05.30, aku bergegas untuk berlari pagi. Dengan sepatu olah raga yang kusiapkan di mobil, aku berlari mengelilingi komplek kampus. Banyak venue yang kunjumpai saat berlari. Diantaranya; lapangan sepak bola, arena jim, kolam renang, arena tenis lapangan, gedung perpustakaan, gedung kantin yang menyatu dengan perkantoran NGO international, gedung ruang meeting dan area ruang parkir, dsb. Gedung-gedung itu terpisah dengan taman yang luas dan jalan yang menghubungkannya. Kelihatannya sarana dan prasaran dalam kampus cukup lenkap.

Setelah 15 menit berlari joging, aku melihat areal lokasi seperti kebun di samping jalan yang tidak jauh dari kamarku. Setelah kuperhatikan sejenak, ternyata lokasi itu adalah kawasan hutan tropis yang cukup luas. Di hutan itu tersedia beberapa pintu masuk mungil yang dihubungkan dengan jalan kecil berupa batu-batu komblok. Karena penasaran, aku memberanikan diri untuk masuk ke hutan itu. Setelah berada di dalamnya, aku betul-betul merasa berada di tengah-tengah hutan tropis. Aku serasa dikelilingi pepohonan dan semak belukar serta suara-suara binatang yang biasa di berada hutan. Aku berjalan menyusuri jalan-jalan kecil yang sengaja dibuat pemilik kampus untuk jalur trek jogging para pelari. Jalan-jalan yang kulalui ternyata telah disedikan aliran parit kecil yang mengiringi sebelah kiri dan kanan untuk aliran air saat hujan. Binatang kaki seribu tiba-tiba lewat di depan langkahku saat berlari kecil. Hatiku kecilku pun bertanya, “jangan-jangan hutan ini juga masih menyimpan binatang ular dan lainnya”.  Aku terus berlari tanpa memikirkan bayang-banyan seram yang belum tentu terjadi. “Yang namanya hutan ya, pasti akan dihuni dengan berbagai makhluk binatang”, gumanku lirih.

Setelah kira-kira 15 menit aku mengelilingi hutan tropis sendirian, akhirnya aku keluar melalui pintu yang aku tidak duga sebelumnya. Begitu keluar hutan, aku melihat beberapa pekerja sedang membersihkan pinggiran hutan tropis yang tadi aku lalui. Sambil berjalan kaki santai, aku bertanya padanya tentang kondisi hutan tropis. Mereka menjawab bahwa binatang-binatang itu juga masih ada hingga kini, namun tidak ganas. Dan hutan tropis itu, bila terus ditelusuri akan menyambung dengan pusat penangkaran rusa di hutan sebelahnya. Namun sepertinya ada kawat – atau apapun — pembatas yang membedakan antara hutan tropis di komplek kampus dengan lokasi hutan di luarnya.

Untuk menutup olahraga pagi itu, aku bergegas ke ruang makan yang sudah disediakan menu pagi, termasuk jus segar. Dengan terampil aku memasukan berbagai buah seperti; wortel dan belimbing di dalam alat juser untuk menghasilkan adonan yang pas dan segar. Kuteguk segelas jus. “Huhh…Nikmat sekali pagi ini”, ungkapku lirih. Badanku pun terasa segar. Mudah-mudahan lain waktu, aku bisa berkunjung lagi ke kampus tengah hutan. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar